Ya Allah, jadikanlah hati-hati kami, hati yang selalu bersandar kepada-Mu.
Jadikanlah hati kami, hati yang selalu bergantung kepada-Mu.
Bimbinglah kami ya Rabb, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.
Alisa U Zemlji Chuda

No title available
No title available
No title available
Misplaced Lens Cap
RMH

祝日 / Permanent Vacation

Andulka
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
we're not kids anymore.
Sweet Seals For You, Always

Product Placement

PR's Tumblrdome
Keni

Kaledo Art
NASA

pixel skylines

roma★
trying on a metaphor
will byers stan first human second
seen from France
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Bangladesh

seen from France
seen from Brazil
seen from France
seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Portugal
seen from Canada
seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
@123beruntung
Ya Allah, jadikanlah hati-hati kami, hati yang selalu bersandar kepada-Mu.
Jadikanlah hati kami, hati yang selalu bergantung kepada-Mu.
Bimbinglah kami ya Rabb, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.
Salah 1 hal yang aku pelajari dari pak wira adalah : banyak sekali kebaikan yang bisa kita lakukan tanpa harus orang lain tau.
Entah sejak kapan doi mulai menepi, saya lupa persisnya. “Dulu aku suka sekali pamer,” katanya. Setiap pencapaian apa, aku posting. Setiap jurnal baru publish, aku posting. Mungkin salah 1 niatnya baik, biar orang lain bisa baca tulisanku juga. Tapi sekarang aku jadi mikir, buat apa ya? Kalau memang dia perlu, ya tinggal cari.
Sekarang pak wira menutup IGnya, fokus dengan kebaikan-kebaikan yang bisa dia lakukan tanpa harus orang lain tau. Dan kucoba untuk mengikutinya, ternyata rasanya lebih damai ya :’) mengurangi faktor distraksi dan menjadikan kita lebih banyak berkontemplasi dan menemukan diri sendiri. Walau belum sepenuhnya bisa tutup medsos, tapi setidaknya mengurangi postingan yang kurang berfaedah dan ya, baik-baik saja ternyata :)
Anakku sayang, suatu saat kita akan pulang, ke negeri keabadian, kekal kita disana. Sudahkah kita menyiapkan bekal terbaik?
Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Menjalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya lalu menambahnya dengan ibadah sunnah. Mempelajari Al-Quran, mengamalkan isinya, dan mengajarkannya. Mencintai dan meneladani Rasulullah. Memastikan makanan yang kita makan halal, rezeki yang kita perjuangkan halal. Berbuat baik, menolong orang lain, dan menjadi manusia yang bermanfaat, biidznillah.
PULANG
Suatu saat kita akan pulang, entah esok, nanti, atau bisa jadi sedetik lagi. Tidak ada yang tau kapan pastinya, tapi yang pasti kita akan pulang, hanya Allah yang tahu kapan.
…
Tadi, ketika makan di sebuah kedai, aku melihat dari kejauhan, seorang ayah dan 2 anaknya, laki2 dan perempuan. Aku sempat bertanya dalam hati, ibunya kemana ya?
Tapi lama2 aku sadar, sepertinya aku mengenalnya. Seorang gadis yang dahuluu ketika aku masih berstatus mahasiswa, ia masih berusia 2 tahunan. Aku ingat sosok abinya yang tidak lain adalah suami dari ustadzahku tercinta, almarhumah Ustadzah Ayu yang meninggal beberapa bulan lalu. Beliau adalah guru Quran pertama yang mengajarkanku Matan Al-Jazary di Asrama Qur’an Al-Ikhlas Kota Malang. Sosok ustadzah yang “selalu terjaga dalam ketaatan”, lembut, dan penuh kasih sayang, serta keteladanan.
Seketika itu juga aku menangis. Membayangkan 2 anak yang pasti akan sangat merindukan uminya. Membayangkan seorang ayah yang mengurus 2 anaknya sendirian.
Aku menangis membayangkan bagaimana jika anakku dan suamiku yang ada di posisi mereka. Tapi, suatu saat kita pasti akan pulang.
Maka sekarang, selama Allah masih memberikan kesempatan bersama, aku ingin memberikan yang terbaik untuk suami dan anakku. Berusaha menjadi istri dan ibu yang hadir sepenuh hati, melaksanakan peran dengan penuh ketulusan, kesetiaan, dan cinta.
Dear suamiku sayang, aku akan berusaha untuk menjadi lebih lembut, menerima dan ridho dgn apa pun dan berapa pun pemberianmu, selalu mendoakan kebaikan untukmu, menjadi istri yang penyayang, menjaga kehormatan, dan selalu taat padamu.
Dear anakku sayang, selama kita masih bisa bersama, ibu ingin mencintaimu dengan sangat tulus, mengenalkanmu pada Allah, pada Rasulullah, dan para sahabat. Ibu ingin membersamaimu dengan tulus, menemanimu bermain, belajar, dan membuatmu bahagia.
Semoga kita semua diberikan kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat 💕
Tidak Saling Menunggu
Pukul 03.11, setelah faqih tertidur aku segera bangun menyiapkan sahur. Memanaskan lauk ketika berbuka, masak sayur bayam, dan menggoreng ayam. Setelah siap semuanya, kubangunkan paksu untuk sahur.
Pukul 7 lewat sekian, aku masih menyusui, paksu berangkat kerja. “Yang, aku berangkat ya, nanti tinggal dipanasin air untuk mandiin faqih.” Dan kuterharu, panci berisi air di atas kompor sudah siap. Bak mandi, sabun, baby bather, dingklik, sudah beliau siapkan :’
Kurasa begitu, kehadiran anak membuat kami mengerjakan apa yang bisa dikerjakan tanpa harus saling menunggu. Apa yang bisa paksu kerjakan, ia kerjakan saat itu juga. Pun begitu sebaliknya. Alhamdulillah bini’matihi tathimmushsholihat..
Cinta Tak Mesti Bersama – Parenting Nabawiyyah
[Feb 14, 2021 at 12:55]
Wasiat Syaikh Muhammad Asy-Syinqithi Kepada Para Penghafal Al-Qur'an
Tidak ada yang lebih agung dan lebih mulia daripada Kitabullaah ‘azza wa jalla. Termasuk nikmat dari Allaah kepada Ahlul Qur'an adalah ketika ia bisa menghafalkan kitab-Nya, berilmu dengannya, beramal dengannya dan berdakwah untuk Al-Qur'an. Sesungguhnya Allaah memberi dunia kepada orang yang Allaah cintai dan Allaah benci, akan tetapi Allaah tidak akan memberi pemahaman agama kecuali pada orang yang dicintai-Nya saja.
Jika telah sempurna cinta Allaah kepada hamba-Nya, maka akan jelaslah bekas cinta tersebut. Dan diantara bekas terbesar yang tampak pada seorang Ahlul Qur'an adalah ketika Allaah menjadikan Al-Qur'an itu hidup dalam hatinya, terlihat dari anggota badan dan amalannya. Saat kamu melihatnya, kamu akan teringat kalamullaah dan ketika kamu mendengar perkataannya, maka kamu akan teringat firman Allaah.
Hal pertama yang aku wasiatkan bagi seseorang yang ingin menghafal Al-Qur'an atau bergabung di halaqah Al-Qur'an, hendaknya ia mengetahui bahwa ia bergabung karena Allah, ikhlas mengharapkan apa yang ada disisi-Nya.
Janganlah menghafal Al-Qur'an karena riya’, janganlah tilawah dan beramal dengannya karena sum’ah, jangan juga berharap dengan Al-Qur'an ini untuk bisa mendapatkan penghargaan, kompetisi dan perlombaan. Janganlah agar terlihat oleh si fulan dan ‘allan, untuk terkenal di hadapan manusia dan jangan pula supaya dipersilahkan maju ke mihrob untuk mengimami jama'ah. Melainkan, dengan Al-Qur'an kamu berharap agar bisa bertemu dengan Rabbmu dalam keadaan Allaah ridha terhadapmu.
Hendaknya ia mengetahui bahwa Al-Qur'an ini perdagangan akhirat, Al-Qur'an bukan untuk diperjualbelikan, maka jangan perdagangkan Al-Qur'an kecuali karena Allaah. Tilawahlah dengan sebenar-benar tilawah, tadabburi, beramallah dengannya, berdakwah dengannya dan jangan inginkan sesuatu selain mengharap wajah Allaah.
Ketika seorang penghafal atau pengajar Al-Qur'an pergi ke majelis ilmu, hendaknya ia bertanya pada dirinya, “Siapa yang ada di dalam hatiku?” Hendaknya ia menjadikan tujuan di hatinya adalah Allaah. Seorang muslim janganlah jenuh seumur hidupnya untuk mengingatkan dirinya agar senantiasa ikhlas dalam setiap waktu dan setiap kedipan matanya, karena ikhlas adalah pokok dari segala kebaikan. Wahai Para pengajar, Jika Allaah memberi rezeki padamu berupa niat yang ikhlas dalam hatimu, hendaknya bersungguh sungguhlah dalam membantu murid-muridmu agar ikhlas dan hendaknya kau mendoakan keikhlasan untuk mereka.
Hendaknya ia mengetahui bahwa Al-Qur'an ini tanggungjawab yang besar. Ia perlu memberikan hak-hak Al-Qur'an dan bersungguh-sungguhlah dalam meluangkan waktu untuk menghafal dan muroja’ah. Demi Allaah sungguh aku mengetahui ada kaum terfaqir tapi layaknya orang terkaya, karena kekayaan mereka itulah dengan Al-Qur'an yang ada pada diri mereka. Barangsiapa yang mengisi jiwanya dengan Al-Qur'an, maka Allaah lah yang akan mencukupi kebutuhan dunia dan akhiratnya.
Demi Allaah aku mengetahui seorang yang bertahajud dengan kitabullaah sebelum shalat fajar dan setelah shalat fajar ia duduk untuk menuntut ilmu, menghafal Al-Qur'an, muroja’ah Al-Qur'an sampai mendekati pertengahan malam dan ia tidak merasa jenuh dengan kitabullaah.
Penghafal Al-Qur'an pasti mencintai Al-Qur'an dan diantara tanda jujurnya adalah ketika kecintaan tersebut bertambah dari hari ke hari. Jika sudah seperti ini, maka terbukalah pintu-pintu kebahagiaan. Jika pintu godaan dibuka maka ia tidak akan berbelok kepadanya karena ia telah tersibukkan dengan hal yang lebih agung dan lebih mulia yaitu Al-Qur'an.
Adapun orang yang merugi, ketika ia menghafal Al-Qur'an, lalu diberi kemudahan baginya dalam menghafal, kemudian ia tertipu dengan dirinya dan memandang rendah orang selainnya. Sebagian dari mereka paling bersegera mengikuti perlombaan Al-Qur'an dan yang diinginkan adalah perbendaharaan dunia dan berlomba-lomba untuk terkenal di hadapan manusia. Ia memang dipandang tinggi di mata manusia, namun sejatinya ia manusia paling rendah di sisi Allaah.
[Feb 14, 2021 at 12:55]
Jika jin saja bisa terkagum-kagum dengan Al-Qur'an dan iman masuk kedalam hati mereka setelah mendengar ayat Al-Qur'an, maka bagaimana mungkin kamu tidak kagum sedangkan kamu hidup dimana Al-Qur'an dibacakan di sekitarmu?
Wahai penghafal Al-Qur'an apa lagi yang kamu minta? Nikmat apa lagi yang kamu harapkan? Kebahagiaan sejati adalah bersama kalamullaah. Diantara bukti jujur cinta kepada Al-Qur'an adalah saat duduk di halaqah Al-Qur'an kamu berharap bahwa halaqah ini tidak berlalu dengan cepat dan kamu berharap agar tidak berhenti membacanya. Jika kamu jujur dalam mencintai Al-Qur'an maka kamu akan menyibukkan diri dengannya.
Sebagian orang ada yang setelah shalat isya berdiri untuk tahajjud dengan membaca kitabullaah dan ia tidak berhenti kecuali ketika mendengar adzan subuh karena saking merasakan nikmatnya bersama Al-Qur'an. Barangsiapa yang Allaah sibukkan dirinya dengan Al-Qur'an, sungguh ia telah beruntung dan selamat, tidaklah kamu dapati dari Al-Qur'an kecuali kebaikan yang banyak.
Wasiatku, hendaknya kamu senantiasa mengikhlaskan niat untuk Allaah, bersungguh-sungguhlah dalam menghafal dan menguatkan hafalan. Ketika jalan ke majelis ilmu, jangan berjalan layaknya orang yang lalai dan sombong, namun berjalanlah sebagaimana yang Allaah sebutkan dalam kitab-Nya tentang hamba-Nya yang bertakwa, yaitu mereka yang saat berjalan tenang dan rendah hati. Ingatlah disana tempat malaikat berkumpul, duduklah dengan adab dan berharaplah apa yang ada di sisi Allaah. Jangan berbicara, melihat dan menyibukkan diri kecuali terhadap apa yang Allaah ridhai. Duduklah dalam keadaan sempurna dan terbaik, karena kamu akan bersama dengan sebuah pesan yang mulia, Al-Qur'an. Tidaklah seseorang memuliakan Al-Qur'an, kecuali Allaah akan muliakan ia di dunia dan di akhirat.
Aku mengetahui ada orang yang duduk di Masjid Nabawi, kemudian ia membaca Al-Qur'an sambil muhasabah dirinya bahkan sampai ketika ia keluar dari masjid, ia berjalan layaknya orang yang benar-benar membawa Al-Qur'an, dirinya merasa berada dalam pengawasan Allaah.
Ketika menghafal, hendaknya kamu sadar bahwa ini amanah yang ada pada lehermu dan kelak Allaah akan tanyakan hal ini. Bersemangatlah dalam menghafal dan menguatkan hafalan Al-Qur'an mu.
والله أعلم بالصواب
–Diterjemahkan secara makna
https://youtu.be/fercDoierLY
Rezeki suamik yang dari semalem bantuin istrinya yang sakit dengan sangat telaten.
Dari semalem pijitin kepala dan rela ninggalin kerjaannya, panasin air buat mandi, rebusin telur, dibawain ke kasur, bangun2 disuapin. Gorengin ikan, tahu, tempe, dibangunin dan tinggal sarapan. Siang masak sendiri lagi, potong2 daging, tahu, tempe, kupas bamer baput, dan bumbu2 yang lain. Semua alat dapur diberesin sendiri. Tadi terakhir buang sampah dan ada plastik sampah yang bocor hingga airnya netes ke lantai. Abis tu dia siram sedapur pakai air kemudian dipel. :’
Setelah selesai ngepel dan jemur sapu, tetiba abang gojek dtg. “Permisi Mas, ini dari Mas Arif.” MasyaAllah... 💕
-Yougurt yang Diencerkan-
Waktu beli salah 1 produk yougurt suami bilang, “aku gak terlalu suka merk yang itu, rasanya terlalu keras.” | aku suka kok.
Terus aku cobain, eh kok kecut dan berasa bgt ya. “Ternyata bener yang, perasanya kuat bgt.” Entah baru sadar atau karena tersugesti suami. Doi bilang, “diencerin yang pakai air.”
Aku jadi ingat di Arab bareng Anna waktu umroh Ramadhan tahun lalu. Menjelang berbuka sangat banyak muhsinin yang bagi2 makanan. Waktu kami dapet yougurt dan orang2 di sekitar kami dapet “kayak” susu segar di gelas2 plastik putih. Aku dan Anna saling lirik, seolah mengatakan hal yang sama, “mereka dapat susu segar dimana yaa?” Wkwk. Akhirnya memberanikan diri bertanya pada orang di samping kami, “what is that?” Malu euy kalau nginget ini 😅 terus dijawab, “ini yougurt dicampur air zam-zam,” tentunya pakai bhs isyarat 😁 oooh begituu, akhirnya kami tau triknya untuk menghabiskan yougurt Arab yang kecut bgt. Lumayan, jadi gak mubarzir dibuang karena gak habis 👍🏻
Random Thought
Aku memang kehilangan ruang belajar dan berlatih yang lebih luas, namun bagiku saat ini, asrama adalah ruang belajar dan berlatih yang masif. Membersamai mereka di setiap satuan terkecil waktu, hingga menemukan hikmah di balik amanah. Darisana aku menyadari, bagaimana ibu bisa menyampingkan kebutuhan pribadinya, namun selalu ada waktu untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Betapa ibu bisa menyembunyikan sakitnya, namun akan berada di garda terdepan melakukan yang terbaik ketika anaknya ada yang sakit. Cinta dan hormatku untukmu ibuku tersayang, Baiq Aminah 💕
Terharu
Pada hal-hal kecil yang kamu usahakan, yang tidak terpikir oleh orang lain, aku terharuu :’(
Kamu melihatku masuk kamar mandi membawa seember cucian. Aku melihat ember cucianmu yang tinggal dijemur. Lalu setelah mencuci, aku turun untuk menjemur. Kamu menyediakan tempat jemuran yang sangat mudah untukku jangkau. Sedang kamu meraih yang paling belakang dan paling bawah :’( aku tertegun seketika, menangis dalam hati. Sampai kesana pikiranmu? T_T
Sungguh baik dan tulus hatimu. Semoga Allah mudahkan segala urusanmu, senantiasa menjagamu, dan merahmatimu.
Dan di atas kebaikan segala makhluk, di atas kemudahan yang aku terima. Bapak gojek yang mengantarkan hpku yang jatuh, kamu yang selalu memudahkan urusanku, adalah atas kehendak Allah Yang Mahabaik :’ Alhamdulillahilladzi bini’matihi tathimushsholiha..
“Nanti setelah ini perjuanganmu akan semakin berat. Menjadi ketua kemarin baru permulaan,” kata ustadzah Farida.
Sejak bulan pertama mengabdi sudah mulai terasa, bagaimana harus lebih banyak berkorban, lebih banyak mendengar keluh kesah anak-anak, lebih banyak bergerak.
Dan pelajaran penting malam ini, ketika ada 2 santri yg sedari pagi pergi berobat dan belum pulang sampai pukul 22.00, dan tidak bisa dihubungi. Terpaksa sy keluar, sebenarnya ga jelas mau mencari kemana, ke klinik THT yang mana, tapi hanya utk mengurangi rasa khawatir berlebih, sy bergerak. Menulusuri malam, bertanya klinik THT atau rumah sakit terdekat di pedagang2 kaki lima.
Fix, begini yang dirasa ibu ketika sy dalam perjalanan, mlg-dpk, mlg-jogja, dpk-bdg. Dan waktu itu sy cuek aja krn merasa aman. Setelah malam ini, nggak akan cuek lagi, ibuuu :(
Mimpi bertemu seseorang yang sangat ingin kamu temui dan dianya tetiba cuek, ga mau ngeliat, itu bangun rasanya seperti abis mimpi buruk :(
Setiap pengabulan do’a itu cepat. Cepat menurut ukuran yang sudah ditakar oleh Allah. Hanya saja manusia memiliki sifat tergesa-gesa.
Random Thought
Semalem nelpon emak dan langsung diintrogasi terkait kiriman paket. “Yang ini harganya berapa? Terus ini berapa?” | yah mak, tanyain manfaatnya kek, cara pakenya kek. Kan aku mau ngasi suprise gitu 😂
Etapi ada pelajaran berharganya, beliau dikasi sesuatu sm anaknya (especially aku yg bungsu) itu kadang ditanyain detailnya gmn. Nah si anak saking seringnya dikasi jadi kadang ga berasa gitu ya :(
Terus telponnya semalem sering reconnect, entah knp. Tapi beliau nelpon lagi dan lagi, penasaran kali ya ni anak gajinya ga seberapa tapi nekat aja. Wkwk. Ingat kisah Aisyah yg berasnya ga habis-habis? Iya, aku ngambil pelajaran disitu. Beliau ga pernah perhitungan dgn beras yang dimasaknya, pokoknya masak weh, ada fulanah dtg dikasi, si ini dtg dikasi, ga pernah dihitung. Terus suatu hari beliau heran, kok berasnya ga habis2 ya? Nah mulai saat itu beliau hitung, ilustrinya spt ini kali ya, “Nih skrg gw masak sekian gelas. Ntar lagi masak ditotalin brp gelas. Fulanah dtg gw kasi sekian gelas.” Tau ga jadinya? Habis itu beras.
Maksudku begini, emak gw perhitungan itu bukti beliau perhatian sm anaknya. Nah kita yang ngasi, sebaiknya jgn perhitungan. Rezeki kita benar-benar sudah diatur, bukan krn berbagi lalu rezeki kita berkurang. Bukan. Jadi gaji besar atau kecil itu bukanlah alasan utk kita berbagi. Kita bisa kok berbagi dgn sebutir kurma saja. Kecil tapi rutin itu lebih baik daripada nunggu yang besar tapi ga jadi2. Kecil dan besar ttp aja beda ya, utk pembiasaan gpp, ntar lama2 siapa tau sampai pada tahap berbagi adalah kebutuhan dan kebahagiaan :)
Refleksi Postpartum
“istri-istri kamu adalah ladang/tempat kamu bercocok tanam” QS Al Baqarah: 223
Pagi ini saya membaca kembali buku Quraish Shihab yang berjudul Pengantin Al-Quran. Mungkin dulu saat pertama kali membuka lembar demi lembarnya, saya belum terkoneksi dengan baik karena seingat saya, saya membacanya di awal usia dua puluh tahun, atau bahkan belasan?
Kini ketika beberapa bagian dibuka kembali, menelusur tiap katanya, jadi ada internalisasi yang cukup terlebih setelah mengalami sepotong demi sepotong kisah berumahtangga.
Adalah kejadian pascamelahirkan yang begitu saya ingat saat Quraish Shihab menuliskan pembahasan ayat yang tersebut di atas.
Beliau memaparkan, “Ayat ini tidak hanya berbicara tentang hubungan seks dan perintah untuk melakukannya, atau sekadar mengisyaratkan bahwa jenis kelamin anak ditentukan oleh sperma bapak, sebagaimana petani menentukan jenis buah dari beih yang ditanamnya, Tetapi yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa bapak harus mampu berfungsi sebagai petani, merawat tanah garapannya (istrinya), bahkan benih yang ditanamnya (anak) sampai benih itu tumbuh, membesar, dan siap untuk dimanfaatkan.”
Lalu ingatan terbang saat detik-detik setelah melahirkan. Saya merasa menjadi seorang yang kuat sekaligus lemah dalam satu tubuh dan jiwa. Saya merasa begitu rapuh sekaligus terpenuhi dalam satu waktu. Dan saya menjadi seperti induk singa sekaligus anak burung yang ditinggal ibunya sebentar di sangkarnya dalam satu kelindan.
Saat itu secara fisik belum pulih total, secara batin senang sekaligus berkecamuk, kadang cemas, takut kehilangan, merasa bersalah, dan resah datang tidak pakai aba-aba. Misalnya ketika menggendong bayi, takut sekali rasanya tulang-tulangnya patah, “betul tidak ya caraku? dia menangis, apakah aku salah menggendongnya? berkali-kali aku mengangkatnya dari lengan terlebih dahulu, apa tidak masalah?” dan pertanyaan-pertanyaan konyol lainnya jika dikenang, padahal dulunya sangat amat krusial bagiku. Saat itu saya butuh kejelasan, benarkah cara saya? Cukup becuskah saya menjadi ibu? Itu baru urusan menggendong. Belum terkait ASI, jahitan yang tidak kunjung kering, nifas yang berkepanjangan, merasa insecure karena perbedaan pola asuh, stress jam tidur yang berantakan, dan banyak hal lainnya sebagai ibu baru dan perempuan yang bertambah peranannya.
Dan saya begitu tertolong karena salah satu nikmat yang Allah beri yaitu suami, yang saya tahu tidak sempurna dalam perjalanannya, tapi berusaha menunaikan ayat tersebut. Berusaha menjadi sebaik-baiknya petani.
Masih saya ingat sampai sekarang betapa sebalnya saya saat kontraksi datang dan saya buru-buru mengajaknya ke Rumah Sakit karena merasa sudah tidak tahan lagi, beliau masih saja mengurusi soal halaman belakang rumah yang belum jadi. Beliau mengontak tukang untuk menggarapnya agar saat saya pulang dari Rumah Sakit, sudah terpasang kanopi sesuai rencananya. Alih-alih mengelus punggung saya atau mengingatkan saya mengatur nafas, beliau sibuk dengan sesuatu yang harus berjalan dengan matang itu: memasang kanopi untuk anak istri.
Rasanya saat itu jika saya boleh marah-marah kepada suami, bapak dari anak yang akan saya lahirkan ini, saya akan marah semarah-marahnya. Tapi saya tahan. Waktu itu seperti tidak ada daya untuk marah saking sakitnya kontraksi yang datang. Sepulang dari Rumah Sakit, saya mensyukuri ketidak marahan saya pada waktu itu, dan memaafkan diri saya sendiri yang memaki suami habis-habisan dalam hati. Alhamdulillah kanopi belakang sudah jadi, saat hujan datang, kami tetap bisa menjemur baju anak, saat pagi dan matahari sudah naik saya bisa menggendong anak saya untuk berjemur tanpa terlalu kepanasan, saat siang saya bisa memasak tanpa harus terlalu takut angin bisa mematikan kompor seperti sebelum-sebelumnya. Dia berusaha maksimal sebagai petani.
Pun saat kebutuhan kami menjadi dua kali lipat. Aku tahu setiap anak akan ada rezekinya sendiri, tapi juga perlu diikhtiarkan. Dan suamiku begitu gigih berjuang demi popok-popok, kelancaran ASIku, dan benda-benda stimulasi tumbuh kembang anak yang lainnya seperti buku, mainan, kursi, gendongan, dsb. Beliau memutar otak membuka keran-keran rezeki yang lainnya mengingat bertambahnya kebutuhan kami.
Beliau juga menjadi teman terbaik saat aku nyaris terkena baby blues. Meskipun saat itu hanya kata “sabar” yang keluar dari mulutnya, tapi tangannya tiap malam memijat punggungku, kehadirannya utuh membelaku saat mertua, orangtua, keluarga, dan kerabat meremehkanku atau pola asuhku. Dia menjadi benteng yang kokoh sekaligus pintu keluar masuknya unek-unek maupun kata-kataku yang terlontar kurang pantas mungkin saat itu. Kalian tahu, kadang ibu habis melahirkan seberapi-api itu, yang jika tanpa support bagai orang kesetanan.
Saya jadi paham mengapa para praktisi parenting begitu getol mengajak Ayah untuk kembali dan maksimal dalam perannya di keluarga. Mengapa mereka begitu galak dalam bersuara Ayah harus ikut mengasuh. Karena keluarga yang fatherless memang serapuh itu. Begitu dekat dengan kekerasan, kehampaan, kemiskinan, dan menurunnya kualitas kehidupan.
Itulah mengapa ayat ini semestinya menjadi bahan renungan kita bersama, tidak semata soal seks dan betapa suami berhak atas istrinya dimana saja, kapan saja, tapi juga berkewajiban atas istri dan keluarganya dimana saja dan kapan saja.
Para suami, kembalilah pulang, peluk, dukung, dan upayakanlah terus keluargamu…sebagaimana kamu mengupayakan impian dan ambisimu.
Para suami, temanilah istri-istrimu, bercocok tanam dan perhatikan garapanmu meski itu saat hujan, badai, kemarau, maupun pancaroba. Jangan hanya berharap cuaca bersahabat setiap saat.
Para suami, para ayah, para lelaki, saya menuliskannya sebagai perempuan yang merasa bahwa saya tumbuh sampai detik ini, juga atas jasa petani saya bercocok tanam meski kadang dia juga kurang betul dalam menyirami, kadang lupa memberi pupuk, pernah juga kepanasan dan agak layu, tapi tak mengapa, dia tengah berupaya. Tak henti doa saya, supaya petani saya senantiasa ada dan berkarya maksimal di ladang garapannya.
Semangat berjuang petaniku, dan untuk benih-benihnya semoga tumbuh kuat mengakar, juga kian merunduk ketika kian berisi, bagai padi,
Sepertinya luka di hati, perih, itu bisa mengubah kita menjadi lebih dingin ya?
Coba deh renungin, pernah ngalamin nggak? | jadi macam ah bodo amat, ah iya sih emang sakit tapi ya udah lah, ah mau gimana juga tetap perih biarin aja ntr juga ilang sendiri, dan seterusnya dan seterusnya.