di hari-hari sebelum kematianku
di hari-hari sebelum kematianku, aku membayangkan lidahku akan mengucap selamat tinggal dengan bahasa yang asing dan tak kukenali. tidur akan terasa lebih akrab daripada percakapan-percakapan kecil. tanganku akan lebih dingin. darahku akan pergi perlahan ke induknya.
lalu, aku tak lagi lapar akan banyak hal. tidak pada makanan. tidak pada pengalaman. tidak pada perjalanan. tidak pada apa-apa yang selalu berusaha kugenggam.
di hari-hari sebelum kematianku, mungkin waktu akan lebih banyak mengalir di bawah mataku, pada bukit-bukit di wajahku. sementara aku akan berjalan jauh ke dalam diriku sendiri. mungkin, mungkin, akan mencari tempat di mana kau masih hidup.
dan jika benar sebelum mati seluruh hidupku akan berkelebat di depan mata, aku berharap pada Yang Maha, aku tidak ingin melihat pencapaian, pun kegagalan. aku hanya ingin melihat satu sore yang biasa bersamamu. karena mungkin, mungkin, setelah seluruh hidup yang panjang ini, aku akan sadar. mungkin rumah bukan tempat aku kembali. mungkin rumah berubah bentuk menjadi seseorang yang tak bisa kubawa pergi.
di hari-hari sebelum kematianku, mari bertemu. mari ceritakan lagi tentang apa-apa yang tidak pernah kita alami. apa-apa yang tidak pernah benar terjadi. di kota yang tidak pernah kita kunjungi. di meja makan yang panjang dan sepi. di masa depan yang pernah kita bayangkan, lalu kita bunuh diam-diam. mari bertemu di sana.
karena aku ingin melihat sekali lagi, seperti apa hidup yang tak sempat kita jalani.
















