"Si Budi Kecil Pengadu Nasib"
Oleh : Budiono bin Munajab رحمه الله
Setelah lulus dari SD Negeri, Si Budi tetap bekerja mandiri. Dia melakukan pekerjaan mencari minyak sisa didalam tangki truk, dan kadang juga harus masuk kedalam tangki sambil membawa peralatan yg diperlukan untuk mendapatkan minyak tanah yg tersisa di dalam tangki. Kelanjutan sekolah berikutnya, Si Budi ditanya oleh Pak Guru yang menolongnya. Beliau bertanya, "akan sekolah kemana kamu Bud?" kemudian Si Budi menjawab, "saya akan sekolah ke STN 2", jawabnya. Ternyata Si Budi diterima juga sekolah di STN 2 di Jl. Danakarya. Dahulu ini adalah sekolah teknik yg terkenal. Dia lakukan sekolah sambil bekerja cari minyak dan sebagai pembantu bengkel servis sepeda motor. Sebagai anak keturunan orang Madura, Si Budi juga wajib ngaji dan sore juga harus sekolah di madarasah di daerah Trenggumung. Tiap sore harus berjalan melewati sawah - sawah dari sidotopo sampai trenggumung. Ya, pulang pergi kira - kira 8 km. Ini dilakukan sampai kelas 4 SD.
Dari waktu ke waktu akhirnya Si Budi lulus juga dari STN 2. Kemudian Si Budi berangan - angan ingin sekolah favorit kala itu, sekolah proyek pemerintah, yaitu STM Pembangunan selama empat tahun. Dari proses tes yang ketat, subhanallah Si Budi diterima juga di sekolah favorit STM pembangunan, dan alhamdulilah selama empat tahun Si Budi juga mendapat bea siswa sehingga tidak perlu bayar SPP. Si Budi lalui sekolah sambil bekerja setelah pulang sekolah. Jarang sekali Si Budi belajar, karena tak ada tempat yg layak. Tidur pun Si Budi sering di mushola bersama teman. Dulu, mushola terbuka 24 jam tidak tertutup. Si Budi lakukan rutin di mushola kegiatan yang ada seperti sholat, ngaji, mengajar ngaji, merawat mushola, dan sebagainya.
Lima tahun dilaluinya akhirnya alhamdulillah lulus juga dari STM pembangunan, dari angkatan ke-3 tahun '80. Setelah lulus, tetap rutinitas harian sebagai tukang servis sepeda motor dan tukang panggilan dari rumah ke rumah untuk perbaikan alat rumah. Karena kedekatan Si Budi dengan pelanggan baik, akhirnya Si Budi mendapatkan informasi dari Pak Haji seorang pelanggan, bahwa ada lowongan kerja di sebuah perguruan tinggi, yaitu ITS.
Ini adalah secuil kisah hidup dari salah satu anak Adam yang mungkin tidak seberapa apabila dibandingkan kisah hidup anak Adam yang lain. Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi dan semangat bagi yang membacanya agar senantiasa tetap berusaha dan bersyukur kepada Allah ﷻ dalam menjalani kehidupan yang singkat ini. Dan semoga tulisan ini dapat menjadi pemberat timbangan amal saleh saya kelak di Yaumul Hisab (Hari Perhitungan) ketika berjumpa dengan Allah ﷻ.
Dan yang terakhir, semoga Allah ﷻ senantiasa mengumpulkan kita semuanya yang istiqamah dalam beriman dan bertaqwa kepada-Nya agar dikumpulkan bersama - sama kelak di Jannah-Nya yang tertinggi, yakni Jannatul Firdaus. Aamiin.
Salam hangat, Si Budi kecil.
✍️ : Kisah ini merupakan catatan terakhir dari Bapak Budiono bin Munajab رحمه الله sebelum berpulang ke Rahmatullah dengan sedikit ubahan pada teks asli untuk penyesuaian tata bahasa serta penambahan pada judul dan dua paragraf terakhir oleh putra didikan Beliau رحمه الله. Semoga Allah ﷻ menerima segala amal ibadah serta amal saleh Beliau selama hidupnya, serta Allah ﷻ mudahkan urusan Beliau di alam kuburnya dan diberikan kenikmatan di dalamnya hingga datangnya hari dimana Allah ﷻ membangkitkan seluruh manusia kelak. آمين
📖 : Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak sholeh yang mendo'akannya” (HR. Muslim no. 1631)
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
25 Februari 2021 / ١٣ رجب ١٤٤٢
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia