"JANGAN DI BACA, INI MAH RAHASIA"
by Ademuir Prabu Sagawayah on Friday, 20 August 2010 at 23:01 "ooooh kakasih...mangapah manangis di gunuuuuuunnnggg...." (kang ibing - kang maman mencari anak anjing) Berawal di taun 80an awal, ketika saya masih TK atawa SD, umur sekitar 5 - 6 taunan, setiap ada yang bertanya; "ade, cita2nya mau jadi apah?" ato "kalo udah besar mau jadi apah?", saya selalu menjawab dengan yakin; "insinyur pertanian!", bari sebenernya teuing oge insinyur pertanian itu apah, ato pekerjaan na seperti apa. Cuman kok kayanya keren kalo jadi insinyur pertanian, dan pasti 150% akan bikin orang tua saya bangga. Kondisi itu bertahan sampai sekitar 2 - 3 taun berikutnya, sampai ketika suatu saat, saya menonton acara lawak di TVRI, yang menampilkan grup lawak dari Bandung "D'BODOR" yang terdiri dari (Alm.) Abah Us Us, (Alm.) Mang Uyan Asmi dan Mang Kusye. Di acara tersebut, ada adegan dimana Mang Uyan bernyanyi sambil main gitar, berduet dengan Abah dengan suara 2 nya yang merdu, mengiringi Mang Kusye (yang memang seniman tari) menari jaipongan, lagu yang dinyanyikan adalah "Bis Kota" (Frangky Sahilatua), "...berjalan dibawah lorong pertokoan, di Surabaya yang panassss...debu - debu ramai berterbangan, di hempas oleh bis kota" (begitu kalo ngga salah). Saya masih ingat bagaimana nikmatnya saya melihat mereka, terutama Mang Uyan, yang dengan piawai bernyanyi sambil memetik gitar. Tidak hanya sembarang menyanyi dan memetik gitar, tapi memang benar - benar menyanyi dan memetik gitar, meskipun dengan gitar akustik yang tidak terlalu bagus, suara yang "sok ngirung - ngirung kantri" dan sound TVRI yang oke banget deh... dan mulai saat itulah saya akhirnya bercita - cita untuk menjadi pemain gitar. Bukan pemain gitar muruluk seperti Eddie van Hallen (meskipun saya sekarang sangat menggilai Rafael Bittencourt, pemaen gitar muruluk dari grup metal Angra), tapi cukup pemain gitar seperti Mang Uyan. Pemain gitar dan penyanyi folk. Nikmat sekali mainnya. Saya juga masih ingat bagaimana saya tertawa ngakak guling - guling ketika saya menonton film lawak yang dimainkan (Alm.) S.Bagyo, Ateng dan kawan - kawan, saya lupa judulnya, tapi filem nya bercerita tentang "Angkin (sabuk) Kulit Naga & Seruling Tulang Rajawali", dimana di filem tersebut ada Abah Us Us yang kebagian peran kecil sebagai orang gila & pemabuk, tampil cuman sekilas tapi sangat - sangat nenggeul. Beliau keluar memakai pakaian serba merah andalannya, dan"panitih raksasa" kebanggannya, sembari gagaleongan, dan menyanyikan lagu "Hey Jude" -nya The Beatles dengan langgam Sunda, "hey juuuuuddd....don mekit beeddd..alaahhhhh...tek eu sed sooonnnggg eeuuuu...". Buat saya, pada saat itu, dan mungkin juga sekarang, bukan lah hal yang mudah untuk melakukan hal demikian, terutama dalam hal mendapatkan ide untuk menyanyi seperti itu. Buat saya, Abah Us Us dan Mang Uyan adalah pelawak yang brilian. Seniman. "..terdengar suara, ribut dijalan, deru mesin dan jerit kenalpottt..asap pengap mencekik, pernapasan..negeri ini, terserang polusi...." (lagu Mang Uyan di pertengahan 80an, teuing naon judulna) Adalah hal yang sulit bagi saya untuk menjelaskan kenapa dan kapan saya mulai menyukai Kang Ibing. Sebagai seorang keturunan asli Nyengseret yang lahir di Cihampelas besar di Bekasi ber-KTP Margacinta - Cijawura dan sekarang linggih di Pasar Antjol, saya dengan bangga akan mengatakan bahawa saya adalah orang Sunda asli yang sangat sangat sangat sangat sangat menikmati & menggilai seni lawak tatar Sunda. Walaupun saya juga menikmati seni lawak dari daerah lain, Warkop DKI, PSP, (Alm.) Bing Slamet, (Alm.) Bang Ben,(Alm.) S.Bagyo, Srimulat, Jojon, dll. Tapi buat saya, tidak ada yang bisa mempengaruhi saya dalam banyak hal, termasuk "mungkin" cara saya berinteraksi, iwal ti seni lawak Sunda. Mang Uyan, Abah Us Us, dan yang pasti: KANG IBING. Yang terkahir inilah yang akhirnya sangat berpengaruh terhadap saya. "d'Kabayan: Kang Maman Mencari Gadis Jujur" & "d'Kabayan: Kang Maman Mencari Anak Anjing", buat saya (dan banyak teman - teman saya), mendengarkan rekaman 2 album ini adalah hiburan yang tiada tandingannya. Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah ratusan kali kita mendengarkan rekaman - rekaman ini. Bahkan mungkin sudah hafal luar kepala bagaimana jalan cerita dari rekaman ini, termasuk juga cerita - cerita lain dan dongeng - dongeng solo Kang Ibing lainnya. "weuh kabosen siah nga bandungan eta!!", banyak yang komentar demikian. Yaah...kajeun lah. Belum lagi tulisan - tulisan beliau di berbagai media, salah satunya yang paling saya suka adalah tulisan - tulisan beliau di kolom "Ahleke" Koran Pikiran Rakyat saat perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan kemarin. "Tibathen du venalthen, kazen thuing gluth skalien!". Hahahahahaa....napel na sirah aing tulisan ieu brad!!! (silaken artiken sendiri yes...) Saya sendiri merasa sangat beruntung karena saya tinggal satu daerah / kompleks dengan Kang Ibing di daerah Margawangi - Margacinta, sehingga saya sempat beberapa kali bisa bertemu, bahkan ngobrol, kongkow dan ber-"ocon" ria dengan beliau. Saya sangat menggemari gaya lawakannya yang menurut saya "the only one" dan "moal aya deui". Cara bicara dan celetukan - celetukannya yang "kumaha karep" alias sekenanya, ide-idenya dalam mengarang atau menyadur cerita, ditambah gayanya yang khas dalam bercerita dan juga penampilannya. (Moal bireuk deui, kopeah butut miring, sarung nyengled, kaos cabe ladu, calana pangsi bau domba...sendal dempak lepek..kabayan pisan!). Tahun 90an sampai 2000an awal adalah masa - masa dimana saya hampir tidak pernah melewatkan siaran Kang Ibing, Kang Aom, Mang Asep Truna dkk di Radio Mara (selain juga acara Buka Pintu yang fenomenal ituh heheheuy...). Belum lagi, saya juga sangat beruntung ketika suatu saat di akhir tahun 90an, saya berkesempatan untuk ada dalam satu mobil dengan Kang Ibing, dimana Kang Ibing saat itu diminta untuk menjadi penceramah di acara silaturahmi keluarga besar bapak saya di Ciwidey. Perjalanan Bandung - Ciwidey yang sangat sangat menyenangkan. Bodor edan lah!! Mang Kohar : "Kang Ibing, akang teh pan pelawak, ai di imah sok ngalawak tara kang?" Kang Ibing : "Har, ai didinya padamelan naon? Tukang beca lin?" Mang Kohar : "Enya kang..." Kang Ibing : "Ai maneh di imah sok ngabeca tara?" Contoh diatas adalah salah satu dari obrolan gaya Kang Ibing yang selalu bikin saya tertawa. Dan mungkin juga banyak teman - teman saya. Sederhana, tapi mengena (buat yang tidak mengerti mohon ma'ap, bukannya tidak mau menterjemahkan, tapi haroream...pisss!). Bentuk - bentuk obrolan seperti itulah yang sangat saya nikmati dari beberapa rekaman Bodoran Kang Ibing dan d'Kabayan yang saya miliki sekarang. "Bodoran yang sederhana, tapi cerdas", dalam artian, melawak itu tidak harus dengan saling cela / hina / ledek, seperti yang banyak kita lihat di tilepisi akhir - akhir ini, "eh, bekicot!", "dasar taplak loh!", "elo tuh,muka aspal!". Atau bahkan, "plaakkk!!" ( main gaplok), "gubraaggg!!!" (mansur - main surung alias "ng-jorokin"). Apa memang jenis lawakan - lawakan seperti itu yang sekarang sudah menjadi benchmark buat seniman - seniman lawak (kalau memang pantas disebut seniman) generasi baru? Kemana lawakan - lawakan cerdas, yang tidak hanya mengandalkan vandalism, sarkasme dan bahkan slapstick? Di mata saya, Mang Sule mungkin adalah salah satu yang bisa diharapkan bisa menjadi generasi penerus untuk 3 seniornya sekaligus. Mang Uyan, Abah Us Us dan juga Kang Ibing. Hanya saja ada beberapa hal yang menurut saya masih harus dibenahi, terutama kalau Mang Sule memang diharapkan untuk menjadi salah satu "senjata andalan baru" dalam pelestarian seni lawak tatar Sunda. Di dalam pikiran saya, mungkin orang Sunda tidak menyesali kepergian para pelawak andalan ini. Yang disesali adalah, masih tidak adanya (ataua mereun moal aya?) generasi penerus buat mereka. Menyanyi, menari, melawak dan mungkin bermain alat musik. High Creativity. Karena, sekali lagi, "bagi saya", Mang Uyan, Abah Us Us dan Kang Ibing, mereka bukan sekedar pelawak, dan bukan pelawak sekedarnya. Mereka adalah seniman. SENIMAN. Saya sendiri bukan pelawak, and 've never at all considered meself as a "seniman". Saya cuma orang Sunda "nu resep bobodoran". Dan di tahun 2010 ini, saya kehilangan 3 orang seniman lawak paporit saya sekaligus. Akhir kata, mungkin ada yang beranggapan bahwa tulisan saya ini berlebihan dan ngga perlu. Lebay.Tapi,....KUMAKAREP LAH. YU IS YU. AY IS AY. PILELEUYAN KANG IBING. KEUN WEH URUSAN MILARIAN ETI SARENG KIRIK MAH SINA DI TERASKEUN BAE KU ABAH WIRANTA DAN TUAN ABDUL. WASSALAM. Ka sohibul duka: Bu Nike, Neng Anne, Mega & Dikdik, ngahaturkeun ngiring belasungkawa ti Keluarga Besar Margawangi Selatan IV / 194 & RumahMusik12. Mugia pun Bapak, Kang Ibing Kusmayatna, dipaparin tempat nupangsaena, Amin.







