Kamu dan Dirimu Sendiri
Hari ini, genap sebulan lebih dua hari saya menjalani peran baru di ‘kampus’ baru. Ada begitu banyak tantangan baru yang saya coba hadapi di sana, sesuatu yang sebagian besar bertolak belakang dengan ‘kampus’ lama saya.
‘Kampus’ baru saya bergerak di industri Logistics dan Supply Chain, sesuatu yang kata orang bertolak belakang dengan latar belakang pendidikan saya, Matematika. Tidak sepenuhnya salah, karena sebagian besar yang berkarya di sana merupakan lulusan Teknik Industri. Tapi, tidak sepenuhnya benar, karena sebagian besar hal yang saya lakukan masih berkaitan dengan data, logika, dan angka.
Di sana, saya mengambil peminatan Business Development dengan spesifikasi area automotive dan industrial & materials science atau biasa disebut kelompok Business Group 1 (BG-1). Ada dua peran utama yang saya lakukan: pertama, merancang feasible study (FS) untuk masalah transportasi dan/atau pergudangan; dan kedua, merancang proposal projek berdasarkan FS yang telah saya rancang. Kelihatannya sedikit, mungkin juga sederhana, tapi nyatanya cukup menguras kemampuan berpikir desain dan detail. Walaupun demikian, saya senang karena kemampuan saya dalam menganalisis data kian terasah. Perencanaan adalah kunci sebelum implementasi.
Konsep ruangan di sana mengadopsi model cozy office, berupaya menghadirkan kenyamanan di balik atmosfer kerja yang lumayan menguras tenaga. Mirip seperti kebanyakan ‘kampus’ start-up di tengah Ibu Kota sana.
Hal pertama yang menjadi tantangan buat saya adalah pola karya di sana. Berangkat dari latar belakang ‘kampus’ yang begitu fleksibel dan agak santai membuat saya agak kaget bertemu dengan pola yang baru. Baru di sini karena tidak ada lagi jam ‘istirahat’ di sela-sela jam kerja. Di ‘kampus’ baru saya, istirahat ya di jam istirahat. Tidak ada yang salah, memang seharusnya demikian. Saya yang kaget, karena di ‘kampus’ lama saya kadang tidak demikian, sebegitu fleksibelnya. Semua orang di ‘kampus’ baru saya benar-benar kerja, kerja, dan kerja (bukan kampanye ya, faktanya demikian).
Hal kedua yang menjadi tantangan buat saya adalah lingkungan di sana. Bukan karena orangnya jahat-jahat, tidak. Jangan bayangkan demikian. Semua orang di sana baik, bersahabat. Bedanya, semua benar-benar bekerja di jam kerja, hanya sedikit sekali kesempatan yang saya lihat mereka bercanda di jam-jam kerja. Selepas jam kerja, memang keadaan mencair. Lagi-lagi, di ‘kampus’ lama saya, kadang kita tetap bercanda di jam kerja. Mungkin karena sebagian besar orang-orang di ‘kampus’ lama saya, berada di bawah usia tiga puluh tahun. Berkebalikan dengan ‘kampus’ baru saya, yang sebagian besar diisi oleh orang-orang dewasa yang jauh berumur. Terus terang, perjuangan adaptasi saya ada di bagian ini. Mencoba membiasakan diri dengan lingkungan kerja yang benar-benar profesional.
Hal ketiga dan seterusnya ada, tapi tidak saya sampaikan karena nanti takut terlalu banyak membanding-bandingkan. Saya menulis ini bukan untuk itu. Saya hanya sedang mencoba beradaptasi dengan dua hal tersebut. Karena menurut saya, dua hal tersebut krusial menjaga kita tetap hidup di ‘kampus’.
Pada akhirnya saya belajar, untuk tidak berusaha mengandalkan orang lain. Kesulitan atau tantangan baru yang dihadapi adalah khusus untuk kamu dan dirimu sendiri. Dan penyelesaiannya juga bukan oleh siapa-siapa, tapi hanya oleh kamu dan dirimu sendiri.
Semangat menghadapi tantangan baru dalam hidupmu ya!
------
Jakarta, 9 Februari 2019
syahrilramadhan








