Cerita dari Sumatera Utara
Perjalanan pertama ke pulau sumatera yang terkenal keindahan dan kekayaan alamnya.
Dalam rangka sebuah project, kami bertujuh akan menjelajahi sumatera utara. Karena saat itu saya sedang di Jakarta sementara 6 rekan lainnya di Jogjakarta, maka kami mengatur penerbangan yang sama, sehingga bertemu di Jakarta lalu bersama-sama ke sumatera utara.
7 Maret 2018.
Drama dimulai dengan delay pesawat teman-teman di jogja, sejam. Kami yang di Jakarta menunggu sejam di dalam pesawat. Teman-teman yang dari jogja lalu hanya landing di bandara halim lalu langsung masuk pesawat menuju kuala namu, tanpa boarding di dalam gedung. Belum lagi saya yang pada akhirnya terpisah seat, duduk lumayan jauh sama teman-teman. Di belakang seat ada anak umur setahun 8 bulan (begitu terdengar bapaknya bilang) yang nangis selama flight, sementara seorang nenek di sebelah seat yang menghabiskan setengah botol minyak kayu putih ukuran besar karena mual. Mencoba berdamai dengan keadaan yang tidak bisa diajak kompromi ini dengan mulai membaca beberapa buku yang dibawa.
Kami seharunya landing di kualanamu jam 10.40, pada akhirnya kami baru landing sekitar jam setengah 12 siang. Langsung ngurus barang, lalu ngisi perut yang gajah-gajah di dalamnya udah mulai demo besar-besaran. Sekitar jam setengah 1, kami dijemput menuju hotel di Berastagi. Perjalanannya mirip perjalanan Gorontalo-Manado. jalan berliku-liku, sering ketemu jalan yang kanan jurang, kiri gunung. Sering juga ketemu rumah warga yang sibuk dengan aktifitasnnya. Banyak gereja yang berdampingan. Ada pula beberapa masjid. Menyenangkan. Tapi kebanyakannya waktu hampir 4 jam di jalan itu, kami habiskan dengan membuat mimpi (re:tidur). Tiap kaget kebangun, lah masih di jalan. Hahaha.
Setelah misahin barang dan meninggalkan sebagian besar barang di hotel yang ada di berastagi, sementara kami hanya membawa baju untuk nginap semalam. Jam 5 kami bertujuh dijemput bang Dede dengan mobil Xenia nya (yang bangku bagian belakangnya dicopot untuk ngangkut barang), menuju Tongging, sebuah daerah di pinggiran Danau Toba. Duduknya dempet-dempetan berempat di tengah, kayak sarden dalam kaleng. Ada pula yang duduk bersila di belakang diantara barang-barang. Mampir sebentar, beberapa teman makan BPK (babi panggang karo) sementara kami yang muslim makan nasi padang. Lalu perjalanan sebenarnya baru dimulai. 8 orang dalam mobil ini ketawa terus selama 2 jam perjalanan menuju Tongging. Sejak matahari masih bersinar sampai gelap malam. Bahasannya macam-macam. Gregi yang salah manggil kak Sam jadinya Melati. Gregi dengan Nyong A (Aqua) nya, Raha si Pecel Lele yang sakit waktu event di Semarang, bahasan sinetron tahun 90an sampe 200an awal, jokes-jokes garing yang bikin orang ketawa bukan karena jokesnya tapi karena garingnya, lomok-lomok, driver-driver angkot di sumatera utara yang kece badai, liatin rumahr-rumah yang masih pada pake parabola, nyenterin orang ‘pacaran’ di becak motor sampai lelucon bang Dede sama mas Narimo yang “disini kan beda”. Hahahaha. Diinget lagi aja masih bikin ketawa-ketawa sendiri sampai saat ini. Kami sampai di Tongging sekitar pukul setengah 8 malam. Nyewa satu rumah adat di penginapan Roman Sinasi (semoga bener tulisannya), yang tepat di pinggiran danau Toba.
Malam itu gelap, sinyal juga susah banget. Cuma sinyal telkomsel yang lumayan bagus. Pada akhirnya mas Bayu haru tethering ke Niko supaya tetep bisa komunikasi sama Bebebnya. Bang Dede gak ikut nginep karena ada kerjaan. Kami beberes sebentar, terus gak bisa nahan buat liat langsung danau Toba yang melegenda itu. Langsung ke pendopo di pinggir danau (berenam aja, gregi masih mangkal di toilet), bahkan dalam gelap gak ada lampu, keliatan banget danau ini LUAS BANGEEEEEETTTTTT, kayak di pinggir laut bedanya Cuma gak ada ombak. Karena malam itu mulai gerimis,kami memutuskan balik ke kamar. Ngobrol di teras rumah, sambil cari sinyal. Lalu beberapa teman naik ke atas untuk makan BPK yang tadi dibungkus juga, saya memilih tidur. Bangun tadi pagi jam 4 dan baru ketemu kasur lagi setelah duduk 12 jam, ditambah ketawa cekikan gak ada habisnya.
Malam itu tenang dan bahagia. Tenang banget. Suara cicak, jangkrik, kodok dan macem-macem binatang di sekitar, ramai bagai paduan suara. Anginnya adem. Lalu jam 10 pemilik penginapan bilang kalo air bakal dimatikan dan baru akan dihidupkan kembali besok pagi.
Keesokan paginya, kami si sunrise catcher ini melawan kantuk luar biasa untuk liat sunrise di pinggiran danau toba. Meskipun awalnya ngintip-ngintip di dari kamar, keliatannya masih gelap. Ternyata pas diliat beneran, yang kami liat itu gunung, langit di luar sana sudah mulai terang. Kami bergegas ke pendopo. Danau Toba pagi itu anggun sekali. Agak mendung tapi kecantikannya tidak terbantahkan. Pagi itu kami berenam kecuali Niko sudah duduk-duduk disitu. Mengagumi kesederhanaan dan keanggunanan tanah ini. Indonesia memang dibuat Tuhan untuk mengajarkan umatnya tentang cara bersyukur. Sesederhana ini cara manusia merasakan kenikmatan dan bahagia luar biasa. Pada alam yang tenang dan anggun memperlihatkan kecantikan luar biasanya. Perbukitan pegunungan disekitar tanah ini hijau memuaskan mata. Beberapa warga tampak beraktifitas di pinggiran danau, beberapa juga mendayung di atas perahu kecil, menjelajahi danau Toba yang luar biasa luasnya.
Lalu niko datang dalam keadaan rapi, sudah mandi dan bersepatu, karena sendalnya dipakai gregi yang gak bawa sendal. Hahahaha. Sampai matahari menyapa di baik pegunungan, kami tak henti-henti mengagumi danau Toba. Lalu mandi dan bersiap menjelajahi Tongging. Gak semuanya sih, secara kemana-mana jalan kaki, gak bakal kuat. Hahaha.
Kita mulai perjalanan ke bagian selatan, sepanjang jalan hanya ada 1 warung, beberapa rumah warga, kuburan yang terpisah-pisah hampir tiap 50 meter (katanya disini orang-orang dimakamin di tanahnya masing-masing). Kanan jalan pegunungan hijau nan cantik, sawah hijau jadi permadani, di ssebalah kiri jalan ada danauh toba yang cantiknya makin menjadi-jadi. Lalu terlihat sebuah air tejun nan cantik di pegunungan. Sesekali ada motor atau bis milik warga yang lewat. Tanah ini masih cukup asri, sejuk, indah dan seolah tak tersentuh. Cantiknya tak henti-henti kami kagumi. Sambil kami ngikutin mas Bayu yang iseng banget lempar-lemparin tanaman yang bisa nempel ke baju, ke arah bajunya mas Narimo. Lalu kami bertujuh saling melempar satu sama lain.
Berjalan hampir 1 kilometer, kami berhenti sebuah tempat yang secara entah bagaimana memperlihatkan cantiknya perbukitan, sawah hijau, dan anggunnya danau Toba secara bersamaan. Take photo, tertawa dan saling menertawakan. Kami berbalik arah ke area pusat nya Tongging, demi mencoba Arsik, sebuah menu khas di Tongging. Melewati penginapan beberapa ratus meter, beli mangga, melalui rumah warga beserta jemurannya, berhenti sejenak di pinggiran danau lalu mendarat di Vhi-Vhi Resto yang tepat berada di atas danau Toba. Setelah makan siang yang lahap usai perjalanan kaki yang lumayan itu, kak Sam dan mas Ndong tiduran lesehan di salah satu spot, mas Bayu di spot lainnya. Saya, Niko, Gregi dan mas Narimo masih di area meja makan. Tak tahan kantuk, dua kursi digabungkan pun jadi tempat tidur yang nyaman sekali siang itu, ditengah danau Toba yang cantik dan angin yang sejuk. Terbangun saat anak-anak kecil sekitar mulai loncat ke danau, bermain sambil berenang. Niko dan Gregi gak tidur, tapi ‘ibadah’. Nyebat. Sementara mas Sudah terlelap di kursi.
Hampir jam 1 siang, kami berjalan pulang ke penginapan, bersiap dijemput bang Dede untuk kembali ke Berastagi. Hampir setengah 2 sampai di penginapan, tidak mandi, kami bersiap, check out, lalu menunggu di ruang tunggu penginapan yang lebih mirip ruang makan keluarga dengan 3 meja makan berjejer, sebuah set sofa rotan, ssebuah meja makan besar dan sebuah sofa di depan TV yang sedang diperbaiki Abang tukang service yang sibuk memutar-mutar parabola. Terhitung jam 2 siang, sambil menunggu bang Dede, kami bercerita, main catur yang tersedia, main handphone, masak popmie, main congklak, sampai akhirnya main 7 scope demi killing time yang mulai membosankan. Bang Dede tak kunjung datang, kami yang baru check out beberapa jam yang lalu, memutuskan check in lagi, karena tidak memungkinkan balik ke berastagi di malam hari seperti ini. Sampai akhirnya bang Dede parkir mobil di depan penginapan sekitar pukul 10 malam, saat kami sedang serunya main 7 scope. Permainan penuh “penyumpahan” ditambah score mas narimo yang makin kesini makin banyak minusnya mencapai -79. Hahaha. Mas Ndong sempat tidak enak badan saat menjelang malam, namun segar kembali setelah duduk di meja 7 scope. Dicurigai mas Ndong sakit karena dikalahkan catur sama mas Bayu. Bang Dede dan Bang Andi temannya, ikut main 7 scope. Sebagai tuan rumah mereka menolak kalah. Hahaha. Jam 12, penjaga penginapan mulai menebarkan kode-kode berharap kami mengerti untuk segera beristirahat. Mulai memasukkan motor ke dalam rumah. Menutup pintu-pintu. Tapi 7 scope mengalihkan dunia di sekitar kami. Tahu bahwa kami cukup tak tahu diri, pemilik penginapan langsung menyampaikan bahwa sudah waktunya berstirahat. Kami balik ke kamar tapi tidak langsung tidur. Beberapa amsih bermain catur, mas Ndong masih berusaha dengan trick kartu yang katanya sulap, tapi ketahuan di bawah lampu terang. Hahaha. Kami tidur dengan baju yang sama seperti tadi pagi, karena hanya bawa baju untuk nginap semalam disini. Danau Toba memang terlalu indah untuk hanya dinikmati ssemalam saja.
Pagi itu, beberapa tak juga mandi, ada pula yang tidak sikat gigi. Kami bersembilan bersiap menuju berastagi. Selama perjalanan pulang, tak henti mengagumi tanah indah ini. Lalu berhenti sejenak di pinggir jalan, berfoto. Pemberhentian selanjutnya adalah air terjun sipiso-piso. Cantik sekali. Biasanya air terjun terembunyi di balik pegunungan, kali ini, kami bisa melihat langsung air terjun yang sangat tinggi dan cantik diantara pegunungan.
Lalu perjalanan dilanjutkan, kami mampir sebentar ke Pajak (pasar), membeli buah dan beberapa oleh-oleh. Selanjutnya beberapa teman mampir lagi ke BPK, kami yang lain makan padang. Kami melewati hotel tempat menginap, demi ke Taman Lumbini, sebuah pagoda indah di berastagi. Mengelilingi keindahan dan ketenangan tempat ini, berfoto, lalu kami pasrah kembali ke hotel, demi tujuan sebenarnya event di sumatera utara.
Hari itu kami persiapan event, banyak juga kejadian lucu. Termasuk kisah antara Niko dan bang Raimond yang menyayat hati, terjadi di depan mata, haha. Malamnya kami briefing lalu istirahat. Sabtu full event. Minggu, waktunya outbound. Kami bermain-main di taman belakang hotel yang hijau membentang. Pohon pinus membingkai sementara angina berhembus menyejukkan. Gunung sinabung malu-malu diselimuti awan dari balik pohon pinus.
Event selesai jam 2, kami langsung bersiap-siap kembali. Membereskan banyak sekali barang. Yah kebanyakan ini dilakukan dua orang hebat, mas Narimo dan mas Bayu. Duduk-duduk di gazebo sekitar taman belakang. Menikmati keindahan sumatera utara. Tepat jam 7, kami dijemput 2 driver, bersiap menempuh perjalanan Berastagi – Deli Serdang. Pesawat kami keesokan paginya menuju Jogjakarta. Kami harus menginap di sekitaran bandara, daripada harus perjalanan tengah malam dari berastagi.
Perjalanan baru dimulai. Terhitung jam 7 malam, mulai duduk manis dalam mobil. Sebelum pulang, gunung sinabung seolah menyampaikan salam perpisahan. Menampakkan diri dengan sangat anggun dan cantik. Kami mengaguminya dari balik kaca hotel. Jam 9 malam, kami sampai di Padang Bulan. Kami bertujuh menyerah pada keadaan. Semuanya mual, masuk angin. Bahagia, tapi tubuh memang ciptaan Tuhan paling jujur. Protes dia, tidak diberi istirahat cukup. Beberapa teman mampir makan di BPK Tessalonika yang terkenal. Kami yang lain menikmati mie aceh yang luar biasa enak dan luar biasa murah. 4 porsi mie aceh, seharga 40.000. Seporsi nasi goreng, 10.000. 1 telor dadar, 2000. 2 gelas teh manis hangat, 6000. Total kami berlima makan hanya 58.000.
Lalu perjalanan dilanjutkan menuju Deli Serdang. Sejam kemudian, jam 11 malam, kami tiba di sebuah penginapan dekat bandara. 5 jam kemudian, tanpa mandi, sementara kami terakhir mandi sore sebelumnya, kami sudah di mobil menuju bandara. Kak Sam dan mas Ndong berangkat duluan jam setengah 5. Sementara kami berlima berangkat jam setengah 8 pagi. Empat lelaki itu memilih memasuki ruang “ibadah” mereka, sementara saya bersih-bersih di toilet (gak mandi juga kok). Hampir jam 6, saya memilih duduk di depan gate 6. Ngabarin Niko kalo ada gerai yang jual Bolu Meranti yang melegenda itu. Kami berdua memang sejak kemarin pusing mikirin gimana bisa beli Bolu Meranti. Mereka yang akhirnya menyerah karena mata perih di ruangan itu, nyusul saya ke depan gate 6. Niko dan Gregi pergi, mau jalan-jalan katanya. Pulang nya malah beli Bolu Meranti duluan. (Aku tulis jelas nih kisahnya, Ko. Hahahaha). Jam 7 lebih sedikit kami boarding, menuju Pekanbaru.
Setelah Pekanbaru, kami lalu melanjutkan menuju Jogjakarta. Siang itu, setelah landing, dalam keadaan asem, karena mandi terakhir kemaren sore di Berastagi, kami langsung menuju kantor untuk ketemu teman-teman lain. Demi event berikutnya keesokan harinya. Datang dalam keadaan kucel, kurang tidur dan rada asem, duduk sebentar, lalu kami survey lokasi event di alun-alun kidul. Selesai survey, balik ke Kantor. Aku, Niko dan Gregi di briefing Raha untuk event Selasa pagi. Setelah selesai semua, setengah 6 sore baru ketemu kasur di kosan yang sudah 3 mingguan ditinggalkan.
Sejak jam 7 Malam di hari Minggu 11 Maret, 23 jam kami menjelajahi Berastagi-Padang Bulan-Deli Serdang-Pekanbaru-Yogyakarta. dan tidak mandi. itu yang paling penting.
Malam itu mau tidur takut-takut. Takut kebablasan. Karena event keesokan harinya jam setengah 6 pagi. Jam 5 pagi, menuju alun-alun kidul. Sementara beberapa teman yang takut kebablasan tidurnya, sudah tidur di kantor sejak semalam. Pagi itu diantara punggung yang kelelahan, bahagia luar biasa ketemu manusia-manusia luar biasa. Belajar dalam permainan sambil tertawa dan menertawakan. Itu yang kami lakukan.
Jam 2 siang, selesai event. Langsung balik kos, membiarkan kasur berlaku posesif. Tidur yang nikmat hingga pagi ini.
Tahu apa yang menyenangkan dalam perjalanan ini?
- Menikmati Indonesia yang luar biasa indahnya, hingga bibir tak berhenti bersyukur
- Ketemu manusia-manusia luar biasa yang saling belajar satu sama lain
- Belajar dari banyak hal di sekitar yang terjadi tanpa diduga
- Menghargai perbedaan yang justru membuat kita makin merasa Satu
- Melatih diri untuk tetap merendah hati, belajar dan professional
Banyak hal yang tidak dapat diungkapkan dalam tulisan ini, yang patut disyukuri. Perjalanan ini akan terkenang, selalu selamanya.
Yogyakarta, 14 Maret 2018 - 14:41
masih mangkal di Gyo Chon, makanan dan minumannya belum habis. mau bersiap pulang untuk packing ke Banjarmasin besok malam.














