“Aku berlindung kepada Allah atas ketidakpastian masa depan, dari keputusan yang keliru, dari perihnya kenyataan, pahitnya kekecewaan, dari hati yang berbolak balik, dari pengkhianatan manusia dan dari cinta yang salah.”
— :)
Mike Driver
Game of Thrones Daily
ojovivo
noise dept.

No title available
Cosmic Funnies
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
The Bright Sessions

Love Begins
NASA
KIROKAZE

if i look back, i am lost
🪼
Today's Document

shark vs the universe
hello vonnie

oozey mess

titsay
almost home

Origami Around
seen from United States

seen from Germany
seen from Russia

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from India
seen from Russia

seen from Moldova
seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Lebanon
@adnyusraa
“Aku berlindung kepada Allah atas ketidakpastian masa depan, dari keputusan yang keliru, dari perihnya kenyataan, pahitnya kekecewaan, dari hati yang berbolak balik, dari pengkhianatan manusia dan dari cinta yang salah.”
— :)
Ya Rabb, selamatkanlah aku dari kekhawatiran yang jauh lebih besar daripada mengimani kuasaMu atas segala sesuatu.
Maafkan aku yang mengaku beriman, namun masih abai bahwa Engkau yang mampu memberikan pertolongan.
Ampuni ya Rabb. Tak ada tempat berharap selain kepadaMu.
Perihal masa lalu, kita punya banyak hal untuk disesali.
Perihal masa depan, kita punya banyak rencana untuk dieksekusi.
Perihal hari ini, kita punya banyak waktu untuk dibuang percuma.
Setidaknya itulah penjelasan singkat mengapa di usia ini kita terasa seperti tak beranjak kemana-mana.
Taufik Aulia
“Tawakkal itu gak gampang, makanya Allah sering kasih ujian dan remidi berkali - kali agar kita terus memperdalam materi dan belajar menguatkan hati.”
—
“Do not say that every day you spend on this earth is a day closer to dying. Every day you spend on this earth is a day closer to finally living.”
— Yasmin Mogahed
[Surga Dunia]
@aviliaarmiani
“Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.” Demikian ujar Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala.
Dunia, di tanah yang kita pijak ini—suka dan duka jaraknya begitu dekat. Datang silih berganti seolah bergulir dari tegukan pertama, kedua, ketiga lalu disusul tegukan-tegukan berikutnya.
Maka berbahagialah mereka, yang mampu menemukan surga di dalam dunia yang kesenangannya hanya sekedipan mata. Mereka yang tidak hilang syukurnya meski musibah datang bertubi-tubi menimpa.
Jiwanya telah terlebih dahulu jatuh cinta kepada Allah, prasangkanya, lisannya…
“Surga dunia..” Terang Ibnul Qayyim rahimahullahu, “..adalah dengan engkau mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat Allah..”
“…merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat kepada-Nya. Menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut namun dibarengi pengharapan seutuhnya kepada-Nya. Senantiasa bertawakkal kepada-Nya, dan hanya menyerahkan segala urusan kepada-Nya.” Demikianlah, beliau rahimahullahu Ta’ala menjelaskan.
Maka… tersebutlah surga dunia.
…sudahkah kita memasukinya? Sudahkah kita saling mengingatkan untuk meraihnya? Diriku, terutama. Pahamilah, bahwa kedipan matamu itu tak akan pernah lebih lama jika dibandingkan dengan terpejamnya matamu, nantinya.
Hendaknya Kita Mengukur Diri
@edgarhamas
Abu Darda, sahabat besar itu pernah berkata, "tiga alamat orang bodoh; suka takjub dengan diri sendiri dan banyak hal, suka berpikir apa-apa yang sebenarnya tidak untuk dipikirkan, dan memerintah manusia tapi ia sendiri melanggarnya."
Ada lagi satu kata mutiara berujar, "siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya." Itu memang bukan hadits, tapi dikatakan oleh banyak ahli hikmah, di antaranya Yahya bin Muadz Ar Razi. Singkat, tapi begitulah Ulama di zaman dulu, selalu bisa meringkas makna dalam sebaris kalimat.
Dari keduanya, kita belajar untuk pandai mengukur siapa diri kita, tapi bukan dengan kalimat ini : "tau diri lah lu!" Karena itu bukan kalimat untuk mengukur diri, tapi merendahkan diri. Kalimat yang tepat adalah,
"apa yang telah aku lakukan untuk hidup, dan apa yang akan aku lakukan."
Tahun baru Hijriah 1441 ini cocok untuk membuat resolusi. Namun kali ini, hendaknya kita mengukur diri, bukan dengan memaki-maki keadaanmu yang sekarang, karena itu namanya menyalahkan takdir. Mengukur diri adalah: tahu, dimana lebihnya aku dan kurangnya aku. Yang lebih dilesatkan, yang kurang dibenahi.
Entah darimana kaidah ini, tapi saya setuju bahwa kita perlu menyediakan 3 porsi untuk mengukur diri kita. Kaidah itu, 70, 20, 10. 70 persen fokus kita hendaknya digunakan untuk melesatkan potensi kelebihan kita, 20 persen untuk membenahi kekurangan kita, dan 10 persen untuk mengeksplorasi potensi baru.
Hendaknya kita mengukur diri, sebagaimana Umar menasihati, "ukurlah dirimu sebelum kamu mengukur orang lain, dan dan hendaklah kamu menimbang dirimu sebelum kamu ditimbang", sebab "orang beriman lebih sering memuhasabah dirinya dibandingkan rekan kerja tamak yang selalu mengukur kinerjanya demi gajinya" kata Maimun bin Mahran.
Dengan kita tahu dimana posisi kita, kita akan lebih mudah menempatkan diri dalam manusia, dalam kerja-kerja besar untuk semesta.
Setidaknya kita tahu apa yang bisa kita perbuat untuk kebaikan umat ini, sebagai bentuk naik kelasnya kita dari memikirkan diri sendiri.
Hendaknya kita mengukur diri, sebagaimana memang Allah perintahkan kita. Dengan kamu tahu dirimu, kamu bisa memprediksi bagaimana masa depan berpihak padamu, atau berpaling, "Wahai orang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang sudah dia kerjakan di masa lalu untuk masa depan." (Al Hasyr 18)
Madinah, 1 September 2019
"Kamu tidak akan menjadi apa-apa bila kamu tak memiliki keberanian. Keberanian untuk memulai. Keberanian untuk bergerak. Keberanian untuk berjuang. Keberanian untuk tidak takut menghadapi apapun resiko yang akan datang kepadamu kelak.
Sebab, hal-hal besar yang ingin kamu capai, hal-hal besar yang kamu jadikan sebagai impianmu itu kebanyakan harus dilalui oleh sesuatu yang disebut proses."
- Quranads -
"Sederhananya begini, kecintaanmu kepada Allah seharusnya mampu meredakan segala hal yang tidak baik. Seharusnya mampu membuatmu meluruhkan benci, meredakan amarah dan kedengkianmu, mampu membuatmu terus menjaga prasangka baik, menumbuhkan rasa ikhlas, melapangkan syukur dan segala hal yang baik akan terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka berarti sebenarnya masih ada yang keliru dengan hatimu. Masih ada yang harus diperbaiki.
Maka sebenarnya masih ada yang harus dipertanyakan dalam-dalam kepada hatimu, "Sudah sedalam apa sebenarnya kamu mencintai-Nya?"
- Quranads -
Six ways to earn even after death
Give a copy of Qur’an to someone. Each time one reads from it, you gain.
Donate a wheelchair to a hospital. Each time sick person uses it, you gain.
Participate in building a masjid.
Place watercooler in a public place.
Plant a tree. You gain whenever a person or animal sits in its shade or eats from it.
And the easiest of all, share this message with people. Even 1 applies any of the above, you gain.
“Siapa tau perjalanan kita justru usai saat kita kita masih di pertengahan jalan. Saat kita belum sampai di tujuan. Saat kita belum menemukan secara utuh siapa diri kita. Saat kita belum mencapai cita-cita kita. Saat kita masih fokus terhadap urusan-urusan dunia. Bagaimana?”
— Quranads
“Semua orang yang hadir ataupun peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, sudah dipilihkan dan diizinkan Allah Ta'ala untuk membawa pelajaran yang kita butuhkan dengan nama lain ujian.
Jika kita merasa tidak mendapatkan pelajaran apapun, bukan berarti mereka ataupun peristiwanya datang tanpa arti. Kita lah yang sudah melewatkan pelajarannya.
Perlu disusul kembali orang-orangnya ataupun diulang kembali peristiwanya? Allah Ta'ala itu Ash Shabur, akan dikirim kembali orang-orangnya dengan membawa “pelajaran” yang terlewat, walaupun mungkin bukan orang ataupun dengan peristiwa yang sama.
Bukankah hidup itu ujian dan didalamnya ada proses belajar? Dan itu akan tetap terjadi sampai kita menutup mata, untuk menilai seberapa pantas diri kita menjadi penghuni surgaNya.
Walirabbika faashbir. Dan untuk memenuhi perintah Rabb-mu, bersabarlah.”
Bapak.
https://instagram.com/gsatria
Malu
Tawadhu yang sebenarnya adalah saat dimana kamu mampu merasakan dan menganggap setiap orang yang bertemu denganmu adalah orang yang lebih baik darimu, lebih dahulu masuk surga darimu, dan amalnya lebih banyak darimu. Hingga kamu malu jika harus merendahkannya, hingga kamu malu jika harus membicarakannya dari belakang, dan hingga kamu malu jika harus merasa bahwa kamu adalah orang yang lebih baik darinya, tersebab gelar yang tersemat padamu atau semua pencapaianmu.
Dan jika tawadhu itu ada padamu, seharusnya bisa menjadikanmu lebih bisa menjaga lisan dan hati dari prasangka buruk dan mudahnya merendahkan orang lain. Ampunanmu ya Rabb.
Setelah Ramadan ini, harusnya tawadhu itu ada padamu, padaku, dan pada setiap yang berjumpa dengan Ramadan.
Aku, yang ingin kembali fitri tanpa harus mengulang kesalahan yang sama lagi.
Menjaga istiqomah.
@jndmmsyhd
Source: wafer-uhti, via IslamicArtDB
Yang Memutus Kebahagiaanmu
Apakah kamu…
Pernah sedih sesedih-sedihnya?
Pernah nangis senangis-nagisnya?
Pernah sakit sesakit-sakitnya?
Pernah menjerit sekencang-kencangnya?
Pernah malang semalang-malangnya?
Mungkin kamu yang sekarang adalah kamu versi paling bahagia yang pernah ada. Barangkali postinganmu di Instagram cukup mampu membuat orang lain iri. Makanan yang enak. Keluarga yang harmonis. Tempat tinggal yang nyaman. Destinasi wisata yang bagus. Dan koleksi-koleksi yang unik.
Tapi pernah gak kamu terpikir tentang satu hal yang bisa menghapus semuanya, membuat semuanya tadi jadi gak berarti, atau malah membalikkan keadaannya dalam sekejap: KEMATIAN.
Pernah terpikir gak tentang kematianmu, bagaimana skenarionya dan bagaimana kesudahannya? Bagaimana tempat kembalimu, bagaimana kuburmu, siapa yang menemanimu, bagaimana sekelilingmu, dan bagaimana Munkar dan Nakir memperlakukanmu?
Pernah terpikir gak bahwa kematian bisa saja membalikkan keadaanmu secara drastis, dari yang sangat bahagia jadi malang semalang-malangnya, sedih sesedih-sedihnya, dan sakit sesakit-sakitnya?
Kalau disuruh menakar diri sendiri, seandainya kamu mati malam ini, kebayang gak gimana keadaanmu di alam kubur keesokan harinya?
Bayangkan bagaimana perihnya.
Bayangkan bagaimana raungannya.
Bayangkan bagaimana jeritannya.
Saat itu, jika kau cari pintu taubat, maka tak ada lagi satu pun yang terbuka.
Cileungsi | Taufik Aulia
Jika hatimu tak lagi dikuasai dunia dan akhirat lebih utama, maka perkataan dan perilaku orang sekasar apapun, atau ujian seberat apapun, tak lagi mampu menghancurkanmu. Sebab kamu mengerti bahwa menjadi ridha dengan apapun ketetapan-Nya adalah satu-satunya jalan menggapai ridha-Nya.
— Taufik Aulia
Waktumu begitu bernilai, maka jangan berikan ia kepada mereka yang tidak mampu untuk menghargainya.
Sebelum nanti kamu baru menyadari, jika waktu-waktu itu dapat kamu gunakan untuk melakukan lebih banyak hal yang jauh memberikan manfaat dan mendatangkan kebaikan.
Dan tetaplah mengingat, jika kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang saat ini kita miliki.