Untuk gadis kecil yang tumbuh tanpa ayahmu, hingga dewasa kini seberapa besar kau mengharap kasih sayang? Pelukan? Mendengar kalimat "tidak apa-apa, semua akan baik baik saja".. iya se-ingin itu...
d e v o n
EXPECTATIONS
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
No title available
Phantogram Three
art blog(derogatory)

Game Changer & Make Some Noise
YOU ARE THE REASON
I'd rather be in outer space 🛸
Lint Roller? I Barely Know Her

tannertan36

Love Begins

Product Placement

PR's Tumblrdome
KIROKAZE

@theartofmadeline

Origami Around

ellievsbear
No title available
Cosmic Funnies
seen from Azerbaijan

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Poland
seen from United States
seen from Pakistan

seen from Colombia
seen from Romania
seen from Uruguay

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Iraq
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@adreamlastnight
Untuk gadis kecil yang tumbuh tanpa ayahmu, hingga dewasa kini seberapa besar kau mengharap kasih sayang? Pelukan? Mendengar kalimat "tidak apa-apa, semua akan baik baik saja".. iya se-ingin itu...
Malaikat Kecilku
#31weekspregnant Haii sayangnya mommy, nggak berasa udah 31 minggu ya nak di rahim mommy. Alhamdulillah mommy bisa lewatin semua bareng kamu sampai saat ini dan mommy harap kita kompak terus yah nak! Jujur mommy belakangan punya rasa khawatir dan takut karna ini moment pertama bagi mommy nak, takut melahirkan tapi mommy tetep berharap melahirkan kamu secara normal. Mommy takut bukan karna ciut dengan rasa sakit yang mommy sendiri nggak tau sesakit apa seorang ibu melahirkan, mommy juga nggak tau penyebab takutnya karna setiap malam yang selalu mommy sampaikan ke daddy kamu "icha koq takut melahirkan uda" hampir belakangan setiap malam mommy ngomong gitu sama daddy.. Tapi kamu tau nak kemaren itu mommy USG liatin kamu, Ya Allah nggak berasa air mata mommy ngalir gitu aja terharu ngeliat kamu senyum manis berasa nyapa mommy. Pengen banget mommy langsung ketemu kamu nak dan rasa takut melahirkan itu hilang berganti ingin lekas melahirkan kamu nak. Malaikat kecilku sayang, sehat-sehat selalu yah nak. Kamu titipan berharga yang tak ternilai dari Tuhan, bantu mommy selalu bisa jagain kamu sayang. Love you so much malaikat cantikku..
Aku si menyedihkan yang tak berteman, setidaknya dapat bertukar fikiran
Mungkin benar, aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu. Bukan aku yang tak peduli pandangan orang tentang pilihan hidup, bukan aku yang sekarang lebih memendam rasa ketimbang meluapkannya pada mereka. Aku yang bukan lagi mudah tertawa, bukanlah aku yang senang bermanja. Sejauh itu perubahan yang terjadi dan sesaat tergelitik dengan secarik gambar berwarna, tak kusangka aku sudah berjalan jauh. Sangat jauh, akankah dapat kembali seperti dulu? Setidaknya untuk meraih senyum dan tawa yang mudah itu?
2021, kamu mengawalinya dengan air mata dalam keheningan malam.
Bukankah kamu satu satunya temanku untuk hal seperti ini. Akhirnya, awan itu datang. Aku masih berteman dengan sepi.
Untuk sebuah momen yg mahal,
Kamu terlalu jauh dari jangkauan. Ah aku tidak lebay! Hanya untuk secercah tawa ketika membakar batok kelapa menjadi arang. Kicauan kecil karena mata tersapu asap, hanya kita berdua! Dan kupun telah siapkan jagungnya. Ayo bakar, dan kunikmati denganmu. Tolonglah! Hidup ini bukan hanya seputar rutinitasku setiap hari sebagai ibu rumah tangga bukan? Kenapa sesulit itu??? Ini hanya setitik pengharap yang harusnya ku telah tau hasilnya. Tapi ku masih bodoh untuk mencoba.
.
.
Ya, terlalu mahal untuk sebuah momen yang menjadi harap. Tak apa, telah dibayar air mata.
Hey, Kamu!
Tulisan ini berisi banyak larangan untukmu yang gengsi mengaku lemah, yang selalu merasa gila sendirian, yang gemar berpura-pura.
Jangan cemas jika kamu kebingungan apa alasan di balik setiap kesedihanmu. Berhenti merasa aneh hanya karna kamu sering menangis di pojok kamar sampai matamu sembab, pipimu memerah, tangan gemetar, dan tisu yang penuh dengan ingus. Jangan putus asa lantaran patah hati yang berkepanjangan.
Aku dan kamu, kita sama. Hanya letak lukanya saja yang berbeda.
Berhenti berpura-pura dan akui bahwa terkadang kamu memang lemah. Semakin sering kamu berlindung di balik tawamu, semakin lama kamu mengasuh pilu, semakin dalam kamu tenggelam.
Setiap kita memiliki timbunan perih, dan seberapa sakitnya hanya kita yang mengerti. Jadi, jangan selalu merasa dirimu yang paling sakit sendiri.
Ingatlah bahwa langit saja tak selalu biru dan cerah, kehidupan pun tak pernah menjanjikan kebahagiaan yang kekal dan hari-hari yang selalu indah. Berhenti menyalahkan dirimu dan takdir yang katamu buruk itu. Berhenti bertanya; mengapa?.
Karna memang ada masanya bagi setiap makhluk yang berjiwa, tergores hatinya.
Terkadang, kita perlu melepaskan topeng dan berhenti bermain peran. Mengakui ketidakberdayaan dan menunjukkan pondasi yang memang sudah rapuh tidak membuatmu menjadi seorang pendosa.
Selepasnya, lebarkan kelopak mata untuk memahami dunia dan seisinya bahwa bukan hanya kamu yang hatinya selalu sesak, yang menangis sampai suaranya serak, yang hari-harinya dijalani dengan tatapan samar.
Terlalu sering menyalahkan diri sendiri membuatmu lupa bahwa sebenarnya Tuhan selalu memeluk dan menabahkanmu. Terlalu sibuk memelihara luka, perlahan mengaburkan keinginanmu untuk bangkit dan berhenti berharap mungkin esok kamu akan sembuh.
Hey, Kamu!
Menjadi tidak baik-baik saja bukan hal yang memalukan. Hidup memang tak selalu mudah, namun juga tidak melulu rumit. Jangan takut kamu tidak akan menemukan secercah cahaya lagi. Jangan terlalu kalut hingga tersirat niat untuk menyudahi segalanya. Pondasimu yang rapuh masih bisa diperbaiki seiring dengan berprosesnya dirimu.
Dunia ini tidak sepi. Ada banyak jiwa yang sama terlukanya sepertimu. Kamu tidak sendirian, ada aku dan mereka.
11:32 pm. Thursday, 17 December 2020.
😭
Hanya seorang budak
Ya Allah, jadikalah letihku pahala
Jika tak layak aku atas surgamu, setidaknya izinkan aku menghirup wanginya..
Aku hanya sekedar duduk disudut ruang, bersandar pada dinding yang terlihat apik dengan warna cat putih. Terlihat apik bagiku, mungkin biasa bagi kebanyakan orang. Itu hanya sebuah dinding dan memang rata-rata diberi cat putih bukan? Apa yang membuatnya istimewa hingga itu begitu apik.
Karena,
Didinding itulah aku selalu bersandar saat air mata ini mulai mengalir.
Kamu tahu, kalaupun kukatakan uang bukan segalanya, tapi itu yang kurang lebih melonggarkan tali-tali difikiranku tentang kebutuhan sehari-hari.
Tapi mungkin akan berbeda jika ada sedikit perhatian dan kehangatan.
Aku merindukan kedua orang tuaku, seandainya mereka ada disini apakah nasibku berbeda dari yang sekarang. Apakah aku akan mendapatkan kasih sayang lebih?
Dulu pernah terlintas dipikiranku, kenapa harus aku yang jadi anak yatim piatu? Kenapa Tuhan? Kenapa bisa aku yang terpilih. Lalu setelah itu menjalani hidup ini taklah mudah, penuh dengan isak tangis dibalik sebuah senyuman.
Dikala sudah berumah tanggapun aku masih sangat merindukan mereka, apa aku mersa kurang kasih sayang? Apakah mungkin begitu? Aku kedinginan disiang bolong nan terik Tuhanku.
Akupun bingung apa itu arti bahagia dan seperti apa bentuk kebahagiaan yang sebenarnya. Tolong jelaskan dan berikan contoh, karena saat ini cukup kelelahan.
Ada hal yang sangat harus aku syukuri dari apa yang dulu pernah ditegaskan mama. "Jaga sikapmu sebagai wanita yang patut untuk dihargai".
Hari ini aku bertemu banyak wanita a.k.a perempuan berbagai profesi. Dominan ibu rumah tangga, dan aku mengerti sungguh sangat mengerti dan menyadari apa yang sudah mama nasihatkan ketika itu.
Aku berteman pada malam, dengan kerinduan akan hampa. Aku berteman pada malam dengan syair-syair kesunyian. Aku berteman pada malam tergopoh meraba kepiluan. Aku berteman pada malam berharap ada setitik harapan.
Menanti sesuatu yang tak akan datang, menanti hangat yang dirindukan, menanti bayangan yang tak bisa kugenggam. Sematkan puing-puing di tepi harapan, kemana? Bagaimana dan seperti apa kini?
Aku berteman pada malam hanya untuk sebuah air mata.
Sepi yang kuciptakan adalah seramai-ramainya aku merayakan kehilangan, di dalam palung yang amat dalam. Keinginan untuk lupa itu seperti suara yang menggema, dan kembali masuk ke dalam kepala. Maka tidak menginginkan, adalah sebaik baiknya cara untuk terbiasa.
a-hap