Salah satu budaya dalam perkawinan orang Indonesia adalah adanya prosesi pemberian seserahan atau hantaran. Seserahan atau hantaran ini adalah berupa barang-barang yang diberikan pihak capeng laki-laki kepada pihak capeng perempuan agar dipergunakan oleh pihak capeng perempuan dalam kegiatannya sehari-hari. Di Indonesia, budaya seserahan atau hantaran ini seperti sudah menjadi kewajiban yang harus dipenuhi. Namun, di beberapa keluarga ada juga yang budanyanya saling memberikan seserahan. Jadi tidak hanya pihak capeng laki-laki yang memberikan seserahan atau hantaran, tapi juga pihak capeng perempuan memberikan seserahan atau hantaran kepada pihak capeng laki-laki. Tukar-tukaran saja gitu. Tapi memang tukar menukar itu bukan hal yang wajib dilakukan. Yang dinilai wajib adalah pihak capeng laki-laki memberikan seserahan ke pihak capeng perempuan.
Budaya tersebut tentunya memiliki makna. Maknanya adalah sebagai simbol bahwa capeng laki-laki siap atau mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari capeng perempuan. Oleh karenanya, isi seserahan atau hantaran biasanya berupa barang-barang kebutuhan sehari-hari si capeng perempuan seperti alat-alat ibadah, keperluan mandi, baju, tas, sepatu, dan lain-lainnya tergantung pada kebutuhan si capeng perempuan. Saat ini, isi seserahan atau hantaran juga beragam sekali seperti buku, perhiasan, dan barang-barang lain yang diminta si perempuan. Yap, seserahan atau hantaran ini bergantung pada permintaan si perempuan. Jadi si perempuan bebas menentukan jenis dan merk barang untuk seserahan. Oleh karena bergantung pada permintaan si perempuan, maka untuk membeli barang-barang tersebut, ada capeng yang belinya bareng-bareng, ada juga yang si perempuan hanya memberikan list barang untuk dibeli oleh si laki-laki.
Nah karena adanya budaya yang demikian, penting bagi si perempuan untuk memperhatikan kemampuan keuangan dari pihak si laki-laki. Sebagai capeng perempuan, banyak perempuan yang menginginkan agar seluruh barang impiannya bisa dipenuhi si laki-laki pada saat seserahan. Di titik ini, diperlukan kepekaan kita sebagai perempuan untuk melihat kemampuan pasangan kita dan keluarganya. Jangan sampai keinginan kita memberatkan mereka. Kepekaan ini bukan artinya kita merendahkan atau tidak mempercayai kemampuan pasangan kita. Saya yakin bahwa kita pasti yang paling memahami kemampuan pasangan kita sendiri. Harus diingat bahwa perkawinan kita tidak dinilai dari seberapa besar hantaran yang bisa diberikan pasangan. Jika ada pendapat yang mengatakan bahwa: kalau si laki-laki saja tidak mampu membelikanmu hantaran sesuai keinginanmu, apakah kamu bisa percaya kalau dia mampu memenuhi semua kebutuhanmu ketika sudah berkeluarga nanti? Kalau pertanyaan itu diajukan ke saya, maka jawaban saya adalah: saya percaya, sebab mindset saya tidak demikian. Pertama, barang keinginan saya tidak mesti dipenuhi ketika hantaran. Kedua, kita harus yakin bahwa laki-laki memberikan barang keinginan kita di hantaran bukan artinya kita tidak mampu membelinya sendiri. It’s just part of the ceremony.
Oleh karena saya dan pasangan sangat on budget (kami memang benar-benar ingin perkawinannya, bukan pesta dan seremoninya), maka saya tidak mau memberatkan kondisi kami dengan meminta partner saya untuk langsung memberikan semua barang impian saya di seserahan/hantaran. Menurut saya, barang impian saya bisa kok dia berikan di tengah-tengah perkawinan kami atau saya peroleh sendiri. Pada akhirnya, saya memaknai seserahan/hantaran dalam perkawinan kami dengan nilai saya sendiri.
Menurut saya, seserahan/hantaran sebagai simbol bahwa pasangan saya telah mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari saya sangat pria-sentris. Maksudnya adalah dalam makna tersebut seolah hanya pasangan saya yang mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari saya. Saya tidak melupakan adanya ajaran agama yang memang memberikan kewajiban pada laki-laki untuk menafkahi istrinya. Namun, saya tidak hendak melupakan juga kenyataan bahwa di masa saat ini, istri pun sudah banyak yang mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari, bahkan bisa bertukar peran dengan pasangannya sebagai pencari nafkah, demi kebutuhan hidup mereka. Oleh karenanya, saat ini makna itu sudah seharusnya bergeser. Saya sebenarnya sangat tertarik dengan prosesi tukar menukar seserahan, tidak hanya pihak laki-laki yang memberikan seserahan ke perempuan. Namun ketika itu, budaya di keluarga saya adalah pihak perempuan lah yang diberikan seserahan. Dan karena saya tidak bisa mengubah itu, maka saya membuat kesepakatan dengan partner saya. Hehe.
Kesepakatan itu adalah kami berdua yang mengumpulkan uang untuk membeli seserahan. Jadi, seserahan dibeli dengan menggunakan uang kami berdua, tidak hanya uang partner saya. Jadilah sejak bulan Agustus 2017 kami menabung untuk membeli seserahan. Pembelian seserahan pun secara bertahap sejak Agustus 2017 sampai Oktober 2017, seketemunya saja dengan barang yang saya anggap menarik dan bisa saya gunakan dalam sehari-hari. Makna yang saya ubah adalah bahwa saya dan partner saya berkomitmen untuk saling membantu, mengisi, dan berbagi rezeki satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Makna lainnya adalah bahwa partner saya mempercayai kekuatan saya sebagai partner perempuannya yang setara dengan dia dalam memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.
Namun saya ingin mempertahankan makna lain yang sederhana dari seserahan, yaitu untuk kebutuhan saya sehari-hari. Maka barang yang dibeli juga hanya kebutuhan dasar saya. Rinciannya adalah sebagai berikut:
This slideshow requires JavaScript.
Kotak 1: Isinya make up yang berupa lipstik, blush on, dan eyeshadow. Kenapa cuma sedikit? Karena saya sangat jarang menggunakan full make up. Sehari-hari saya hanya menggunakan foundation tipis, bedak, dan lipstik tipis. Bahkan saya tidak punya blush on dan eyeshadow (saking gak pernah full make up). Karena ke depannya saya pikir saya akan butuh dua hal tersebut, jadi saya dan partner membeli blush on dan eyeshadow.
Kotak 2: Pakaian dalam. Isinya berupa 2 bra dan 2 celana dalam. Semuanya dengan paduan warna coklat dan ungu (sengaja supaya cocok dengan warna tema yang saya pilih, yaitu hijau).
Kotak 3 dan 4: Peralatan mandi, berupa baju handuk, body scrub, body brush, body lotion, sandal Hello Kitty, berupa baju tidur dan shampoo+conditioner. Semuanya berwarna hijau karena sesuai dengan tema yang saya pilih. Sementara itu sandal Hello Kitty sesuai dengan kesukaan saya. Kebetulan saya memang sedang membutuhkan sandal jepit. Hehe.
Kotak 5: buku dan sepatu. Isi kotak ini adalah yang paling saya sukai karena berisikan hal-hal yang saya suka dan keduanya mempunyai fungsi yang sama, yaitu dapat ‘membawa’ saya ke mana saja. Pertama, sepatu. Bagi saya, sebagai alas kaki, sepatu menemani kita ke mana saja: bertemu kenalan baru dan berhadapan dengan pengalaman baru. Sementara itu, buku juga berfungsi demikian. Secara tidak langsung, buku bisa membawa pikiran kita ke tempat-tempat yang kita kira kita tidak bisa jangkau, ke imajinasi yang kita tidak tahu bisa kita bayangkan, ke pengetahuan baru yang sebelumnya kita tak tahu sama sekali. Oleh karenanya, saya sangat menyukai kotak ini.
Kotak 6: peralatan ibadah, seperti sajadah dan mukena yang juga bercorak cokelat-hijau.
Demikianlah sharing tentang seserahan dari saya. Mungkin banyak yang tidak satu suara dengan saya soal seserahan ini, tapi lagi-lagi, saya merekomendasikan untuk lakukanlah prosesi yang sesuai dengan nilai-nilaimu. Atau jika tidak bisa, maka sesuaikan prosesi yang akan dilakukan sesuai dengan nilai-nilaimu. Dengan demikian, kamu akan lebih enjoy dan happy dalam menjalaninya. Tapi jangan lupa diskusikan dengan pasangan, ya!
Catatan:
Gambar 1: https://goo.gl/images/xVT1Zr
POST: Tentang Seserahan atau Hantaran Salah satu budaya dalam perkawinan orang Indonesia adalah adanya prosesi pemberian seserahan atau hantaran. Seserahan atau hantaran ini adalah berupa barang-barang yang diberikan pihak capeng laki-laki kepada pihak capeng perempuan agar dipergunakan oleh pihak capeng perempuan dalam kegiatannya sehari-hari.