Sayangnya Anak-Anak Lahir Hanya untuk Menangis atau Ketawa
Saya tidak paham secara persis apa yang sedang saya pikirkan saat ini. Kira-kira jam setengah 12an yang lalu, saya hanya sedang ingin menghabiskan waktu sebelum tidur dengan duduk-duduk sebentar di Alfamart Point dekat rumah. Rencana awal hanya ingin membeli susu coklat dan baca buku kurang lebih 1 jam, sebagai bentuk pembiasaan diri saja setiap hari. Yang dibeli memang pada akhirnya bukan susu coklat, tetapi malah sekotak rokok (sayangnya). Tapi masalah yang mendrong tulisan ini dibuat bukan karena hal tersebut, terutama karena saya sendiri memang harus diakui sering gagal dalam menjaga komitmen untuk diri sendiri. Masalah ada ketika mendengar anak bayi yang menangis kencang, ketika anak yang tidak mengerti apa-apa ini hanya mengikuti orang dewasa yang sedang mengemis di luar pintu Alfamart benar-benar membuat saya tak nyaman. Waktu di jam menunjukkan sekitar di saat hampir tengah malam.
Sebenarnya saya sudah berusaha menajamkan panca indra saya ketika melihat pengemis ini ada depan pintu Alfamart. Pengemis ini terdiri seorang perempuan, anak bayi, dan anak kecil perempuan yang tidak bisa tenang untuk duduk, yang mungkin kakak dari si bayi. Saya sudah melihat mereka kemarin malam, tetapi tidak di depan Alfamart. Kemarin malam, saat sedang dari Alfamart lewat tengah malam, saya berjalan kaki melintasi mereka sedang menunggu angkot. Ketika saya melintas, tiba-tiba si kakak melanjutkan tangisannya. Secara refleks saya menoleh, tetapi segera melihat lurus ke arah jalan, tapi saya tajamkan telinga untuk mendengar. Maksud saya melakukan hal tersebut karena saya tak ingin terlihat memberi harapan bagi si perempuan ini. Persoalan memberikan suatu bantuan ke pengemis terlalu kompleks untuk diselesaikan dengan bersikap pahlawan kesiangan pada waktu itu juga. Kota-kota besar Indonesia, terutama Jakarta atau bahkan San Fransisco, kota yang kabarnya dengan standar peradaban saat ini tergolong sebagai kota maju di dunia, mungkin bisa membantu menjelaskan apa keputusan yang saya ambil.
Sayangnya, setelah berjalan beberapa jauh, ada pemandangan yang saya tak ngerti bagaimana menjelaskannya. Ketika saya mencoba menoleh sekilas ke belakang, perempuan ini tidak berusaha menenangkan anaknya, tetapi melihat saya cukup lama dengan tatapan yang cukup dalam. Saya yakin 90 persen, perempuan ini mulai melihat saya sejak saya secara refleks kepala saya menoleh melihat si kakak.
Dan tangisan anak bayi beberapa jam yang lalu benar-benar mengganggu saya tidak nyaman, bahkan hingga sekarang.
Saya tak mengerti, apakah harus jijik kepada si perempuan ini, atau perasaan bersalah ke anak-anak ini, atau bahkan saya benci. Saya benci dengan sebab muasabab dari keadaan ini. Banyak orang yang mungkin tidak ada pilihan, atau mungkin sebenarnya ada pilihan, tetapi ada banyak orang yang sudah terlalu sering dihancurkan dengan situasi dan keadaan, jadi sulit melihat secara jernih pilihan yang ada. Bahkan kemungkinan lain (yang paling saya benci), pilihan yang ada terlalu sering dengan cara âdisediakanâ, dalam arti kata tanpa berusaha lebih memahami orang-orang ini, sehingga di waktu lainnya kita dengan sombong dengan sok pahlawan datang berbicara ke mereka, bahwa pilihan ini adalah potensi yang bagus untuk hidup lebih baik. Kalau mereka ambil, itâs good. But if not, kita akan dengan secara sombong mengatakan bukan salah kita kalau mereka tidak mengambil peluang.
Retorika yang menjijikkan.
Saya tidak mengatakan kerja keras itu tidak penting. Apalah arti hidup tanpa kerja keras, apalagi ada suatu kenikmatan tersendiri ketika hal itu dilakukan. Tetapi ada banyak orang yang tanpa kerja keras bermegah-megahan dalam hidup. Dan ada juga yang sudah bekerja keras sekeras apapun, bathin orang-orang ini tidak pernah damai.
Dan siapakah yang paling menjadi korban dari semua ini? Anak-anak. Sialnya mereka belum bisa secara baik memahami tentang ketidakadilan. Cita-cita tentang kebebasan dari keadaan menyesakkan sekitarnya ketika lahir di muka bumi, hanyalah omongan penuh dusta dari orang yang merasa dewasa.