Hometown Cha-Cha-Cha, salah satu drama korea yang rilis pada tahun 2021. Bergenre komedi romantis, berlatar tempat di sebuah desa kecil bernama Gongjin.
Oke, aku memang tidak bisa disebut sebagai penggemar drakor. Karena bagaimanapun, pengalaman nonton drakorku mungkin bisa dihitung dengan sepuluh jari saja. Judul-judul drakor yang sempat melambung namanya beberapa tahun terakhir pun aku belum nonton. Jadi, tulisan ini hanya sebagai wadah curahan hatiku yang hari ini baru saja selesai nonton drakor ini. Sebuah tulisan dari seorang yang awam drakor. Berikut ini beberapa hal yang ingin kusampaikan setelah berhasil namatin drakor ini selama kurang lebih 3-4 hari:
1. Pemeran utama yang digambarkan sebagai sosok yang sempurna
Ini adalah hal yang sudah sangat wajar, dimana pemain utama dalam film bergenre romance selalu digambarkan sebagai sosok yang menarik. Tidak hanya secara fisik, namun juga dalam hal kepribadian dan karakter.
Kita lihat dalam drakor ini juga begitu, digambarkan pemeran utama perempuan kita yaitu Hye Jin adalah seorang dokter gigi. Tak hanya itu, ia juga seorang wanita yang berkarakter, pemberani, cerdas, mandiri, dan cantik pula. Tak heran bila ia menjadi rebutan dua pria, seperti biasa yang terjadi dalam drakor kebanyakan. Sampai-sampai dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan penonton menderita SLS atau Second Lead Syndrome.
Begitu juga dengan pemeran utama pria. Selain tampan, Du-sik juga serba bisa, berwawasan luas, pemberani, cerdas sudah pasti, dan memiliki jiwa penolong yang tinggi.
2. Agar tidak kecewa karna pemeran utama prianya seorang pengangguran, maka Du-sik digambarkan memiliki kelebihan sedemikian rupa
Ini adalah yang paling mengusikku. Du-sik adalah seorang yang bekerja serabutan, kadang membantu menjaga toko kelontong bora, mengantar makanan dari restoran Namsuk, menjaga cafe milik Cheon Jae, daan sebagainyaa, banyak banget. Tapi, supaya penonton tidak kecewa dengan pemeran utama yang statusnya pekerja serabutan itu, dibuatlah ia menjadi sosok yang cerdas, berwawasan luas, pintar taekwondo, penuh cinta kasih, pemberani, pokoknya ia adalah sosok yang serba bisa dan dapat diandalkan, poin plusnya lagi, ia ganteng. Siapa yang bisa nolak?
Mungkin dari sini kita sebagai penonton akan bertanya-tanya, mengapa pria dengan segala potensinya yang menakjubkan ini malah memilih tinggal di sebuah desa kecil mengerjakan pekerjaan paruh waktu? Aku sempat mengira alasan Du-sik melakukan ini karena ia adalah pria yang sangat baik hati yang mencintai kampung halamannya dan ingin membantu warga desa Gongjin :D.
3. Sempat pesimis dengan hubungan Du-sik dan Hye Jin
Sudah jelas bahwa pemeran utama pria dan wanita pada akhirnya pasti bersatu. Tapi tetap saja sepanjang menonton aku bertanya-tanya apa mereka benar-benar bisa menjalin hubungan spesial?
Begini, Hye jin adalah seseorang dengan gaya hidup mewah, sedangkan Du-sik sebaliknya. Aku kira kesenjangan sosial diantara mereka akan menjadi konflik besar untuk mereka di masa yang akan datang bila akhirnya mereka benar-benar bersama. Jadi, sepanjang episode drakor ini, aku menyangka (dan berharap) bahwa Du-sik akan kembali bekerja di Seoul atau paling nggak punya pekerjaan tetap di Gongjin. Tapi ternyata enggak hehe.
Padahal menurutku, seseorang seperti Du-sik bisa mencapai apapun yang ia inginkan, tapi ia memilih untuk tetap menjadi Du-sik yang seperti itu. Ya, Du-sik memang punya definisi sukses dan bahagia yang sederhana. Yang penting ia punya kasur empuk untuk tidur dan orang yang dicintainya ada di sisinya, katanya itu saja sudah cukup. Kurang lebih begitu kata Dusik di salah satu episode dalam drakor tersebut.
4. Du-sik punya hati yang lapang
Salah satu yang aku kagumi dari Du-sik. Ingat ketika ayah Hye jin melarang Hye jin berpacaran dengan Du-sik karena mengetahui bahwa Du-sik adalah yatim piatu? aku inget banget itu ada di episode ke sembilan. Saat itu mereka berpura-pura pacaran, eh di episode ke-10 mereka benar-benar pacaran :D.
Saat mendengar ayah Hye Jin berkata hal yang kasar tentang dirinya, Du-sik nggak marah, dan dengan hati yang lapang, ia mengajak ayah Hye Jin ngobrol. Bahkan setelah ngobrol, ayah Hye Jin jadi respek dengan Du-sik, buktinya beliau mengatakan bahwa mungkin saja Du-sik adalah orang yang tepat untuk Hye Jin.
Hal lain yang menunjukkan bahwa Du-sik bukan pria kaleng-kaleng adalah pada episode saat mereka sedang kencan di Seoul. Pada saat itu terlihat sekali kesenjangan perekonomian mereka. Setelah menonton episode itu, aku kira konflik mereka selanjutnya adalah Du-sik merasa tidak pantas bersanding dengan Hye Jin. Tapi ternyata enggak saudara-saudara :D.
Entah hanya aku saja yang terkejut atau orang lain juga ada yang sama denganku, bahwa ternyata Du-sik sama sekali gak rendah diri dengan posisinya. Ketika Hye Jin berterus terang pada Du-sik bahwa ia takut Du-sik merasa gak PD karena ia membeli kalung yang sangat mahal, Du-sik berkata bahwa Hye Jin berhak membeli apapun yang ia inginkan. Bahkan, yang luar biasa adalah, Du-sik ngasih Hye Jin kotak perhiasan cantik yang ia buat sendiri.
Ya, Du-sik memang bukan pria kaya raya yang bisa membelikan Hye Jin kalung seharga 5,5 juta won, tapi ia berusaha keras dengan segala yang ia punya dan bisa lakukan untuk membuat Hye Jin senang.
a. Warga desa Gongjin adalah orang-orang yang sangat tulus. Mereka peduli satu sama lain. Ikut senang kalau yang lain senang dan ikut sedih saat yang lain sedih. Seperti nggak ada rasa iri dengki antara satu dengan yang lain.
b. Baik Hye Jin dan Du-sik sebenarnya saling menyadari bahwa mereka berdua saling bertolak belakang, baik dalam hal karakter maupun kesenjangan ekonomi yang kusinggung tadi. Tapi meskipun begitu, mereka tetap memilih untuk bersama.
c. Salah satu drakor yang tidak membuatku mengalami SLS.
d. Pengungkapan alasan mengapa Du-sik memilih tetap tinggal di Gongjin menurutku lama banget, sampai aku mulai membuat beberapa dugaan, salah satunya adalah Du-sik menetap di Gongjin karena patah hati. Orang yang membuat ia patah hati adalah istri dari Park Jung Woo, kakak angkatnya sendiri.
Sekian dan terima kasih~ ^^