Pertemuan
Dulu saya pernah mengeluh ketika dia menyuruh saya memeluknya di motor. Saya bilang, saya gabisa, saya tidak pernah memeluk lelaki manapun, motor seperti apapun, dan dalam keadaan apapun, kecuali ayah saya. Saya memegang erat bajunya adalah hal pertama yang saya lakukan. Karna motornya bukan motor yang biasa saya naiki. Duduk berjarak agar tidak secara langsung menyentuhnya sangat sulit saya lakukan di motor besarnya. Saya tahu, memeluknya adalah hal teraman yang biasa dilakukan di motor besar bukan? Namun, tetap tidak bisa saya lakukan.
Pertemuan kemarin, ntah .. pikiran positif saya hanya “ia mementingkan keselamatan penumpangnya”
Ia membawa tas punggung. Katanya, agar saya nyaman untuk memegangnya. Perjalanan malam itu, depok-bogor, tanpa sengaja, saya memeluknya. Saya bersembunyi dibelakang punggung lebarnya untuk menghindari angin malam.
Setiap ia mulai melambatkan motornya, setiap ia mulai melepas satu tangannya, setiap ia mulai membuka helmnya, dan setiap ia menyondongkan badannya agar bisa berbicara dengan saya, disaat itu pula kepingan hati saya mulai hangat. Ia menghargai penumpangnya. Saya tahu betul, hal sepele seperti ini memang biasa bagi yang sering dibonceng dengan motor besar. Tapi bagi saya, obrolan terbaik adalah saat perjalanan. Saya tidak peduli ntah itu di motor atau mobil, bis atau kereta, bagi saya, semua momen di perjalanan adalah yang terbaik.
Dulu saya pernah marah karna ia terlalu mengebut, saya sering protes dan sering menggengam erat bajunya. Katanya, kecepatan saat itu adalah yang biasa ia lakukan ngebonceng orang maupun tidak, bahkan bisa melebihi itu jika mengendarai di tempat sepi.
Malam itu, setidaknya saya hanya sadar satu kali saat ia mengebut, sepanjang perjalanan yang kita lakukan hanya mengobrol. Sempat menyasar karna saya salah membaca google map. Namun katanya “gapapa kan bisa muter lagi” dengan tenang, dengan santai. Ini pertama kalinya ada laki-laki yang tidak menyalahkan saya karna salah membaca peta.
Saya bilang, saya hanya ingin seorang yang bisa membuat saya aman, yang pikirannya sejalan karna kita akan hidup lama di dalam pikirannya, yang bisa diajak komunikasi. Begitu keluar dari cafe, dia bertanya apa yang menjadi tipe cowo ideal saya. Dia terheran-heran kenapa bisa ada orang yang baper sama saya padahal saya tidak secantik dan senormal perempuan lain.
Katanya, pilih cafe di depok adalah terbaik karena tengah-tengah, ia dari jakarta, saya dari Bogor. Katanya, kalo ke bogor terlalu jauh, capek, males. Nyatanya, ia mengantar saya sampai depan rumah. Saat saya bilang untuk turun di depan gang, dengan nyantainya ia bilang “yaudah gapaps sampe rumah aja, emang kenapa?”
Saya takut kalau ia kesulitan untuk menemukan jalan raya setelah mengantar saya hingga kerumah karna rumah saya terlalu mendalam, nyatanya, engga. Ia menghafal setiap patokan saat mengantar saya. Padahal banyak teman yang kesulitan dan mengeluh karna rumah saya terlalu jauh, benar-benar reaksi dia adalah yang pertama saya dengar. “engga, kan udah dihafal tadi pas nganterin, jadi pulangnya ga bingung” “ga jauh ko, biasa aja”. Ia bisa diandalkan. Saya kagum, ia membuat saya tidak perlu khawatir.
Satu momen yang paling saya kagum adalah saat ia menerima telefon.
Malam itu, dipertemuan itu, tiba-tiba ia mendapat telefon untuk urusan kampus. Ia tersenyum pada Saya.. Saya speechless. Sepanjang ia menelfon, ia tersenyum pada saya seakan akan ingin menyampaikan pesan “sebentar ya” Ia menatap saya dan tersenyum dengan lebarnya. Tidak menjauh untuk izin mengangkat telfon, tidak dengan suara bisik-bisik seakan rahasia. Ia berbicara seadanya. Saya melipat tangan, menunggunya selesai menelfon, sambil membalas senyumnya. Saya salah tingkah! Bisa bisanya momen itu masih saya pikirkan hingga hari saya menulis ini. Selesai menelfon, ia menjelaskan apa yang ia bicarakan.
Tuhan, saat saya meminta yang mirip dengan Y dan kebaikan ayah di kehidupan nyata, apakah dia orangnya? tiap tingkahnya membuat saya salah tingkah, tiap tingkahnya membuat hati saya kembali hangat. Tapi Tuhan, bukankah ini terlalu berlebihan untuk saya yang terlalu biasa saja?













