ELEGI 1985 : DIORAMA UNTUK ANDREAS GRUENTZIG
Sang ayah merupakan meteorologis dan sukarelawan tentara Jerman yang hilang sesaat sebelum perang dunia kedua berakhir. Meninggalkan dirinya dengan ibu dan satu kakak laki-laki, Johannes. Pada 1950 keluarga kecil tersebut pergi ke Argentina untuk tinggal dengan kerabat mereka di sana. Charlotte, nama ibunya yang berlatar belakang seorang guru, membawa kedua anak laki-laki itu kembali ke Leipzig, saat itu Jerman Timur, karena bersikeras bahwa kedua anaknya harus menempuh pendidikan dengan fasilitas yang paling baik. Johannes dan adiknya masuk di sekolah publik tertua di Jerman yang sudah berdiri sejak 1212, Thomasschule zu Leipzig. Sekolah yang menghasilkan banyak tokoh prominen di Jerman, misalnya saja Johann-Sebastian Bach. Pada 1958 setelah lulus dari Thomasschule, sesaat sebelum pemerintah komunis DDR menguasai Jerman Timur dan menutup perbatasan, ia kabur meninggalkan negara tersebut untuk berkuliah di Universitas Heidelberg. Anak dari Charlotte dan ayah yang menjadi korban PD II, adik dari Johannes, anak belasan tahun yang dua kali mengarungi samudera Atlantik untuk berpindah dari Jerman ke Argentina lalu kembali ke Jerman, pemuda yang kabur dari pemerintahan komunis Jerman Timur untuk berkuliah itu adalah Andreas Gruentzig.
Gruentzig menjalani pendidikan kedokteran pada periode dimana ilmu endovaskular sedang melejit. Werner Forssmann dianugerahi Nobel bidang kedokteran pada tahun 1956. Forssman dianggap meletakkan dasar prosedur kateterisasi jantung setelah pada tahun 1929, dia memasukkan kateter urin ke dalam vena dan masuk ke bilik kanan jantungnya sendiri. Dua tahun setelah anugerah nobel untuk Forssman, Mason Sones di Klinik Cleveland berhasil melakukan angiografi arteri koronarius kanan pada seorang laki-laki umur 26 tahun. Pada 1963, Charles T Dotter sudah rutin melakukan abdominal aortogram pada pasien dengan stenosis arteri renalis. Dalam pengaruh itu, Gruentzig memilih Gotthard Schettler, seorang ilmuwan ternama di Jerman dalam bilang aterosklerosis, sebagai pembimbing tesisnya. Ketertarikan Gruentzig pada dunia vaskuler didokumentasikan oleh Robert Hagglin, mentornya saat menjalani program fellowship, ketika Hagglin mewawancarainya dan menanyakan rencana karirnya ke depan, Gruentzig menjawab "I have dedicated my life to vascular disease".
Studi Andreas Gruentzig mengenai penyakit koroner dapat ditelusur pada 1972 di mana ia bersama dengan Paul R Lichten, seorang kardiolog di Swiss mempublikasikan penelitian berbahasa Jerman dengan judul Die Treffsicherheit einer Fragebogendiagnose bei coronarer Herzkrankheit mit der selektiven Coronarangiographie als Referenztest, studi tentang akurasi diagnostik angiografi koroner. Sanad keilmuan Paul R Lichten tentang angiografi koroner berasal langsung dari Mason Sones yang ia dapat ketika fellowshipdi John Hopkins.
Gruentzig menjajal ilmunya di Amerika Serikat untuk pertama kali pada acara ilmiah tahunan American Heart Associationke-49 di Miami pada November 1976. Lichten yang berada di acara itu sedang bergurau dengan Spencer B King, seorang pionir kardiologi intervensi dari Universitas Emory. Lichten menyampaikan kepada Spencer King "kamu harus melihat eksebisi yang ditunjukkan oleh pemuda dari Zurich di aula sebelah". Gruentzig mendemonstrasikan balon yang dikembangkan di dalam arteri koroner seekor anjing. Balon tersebut berhasil menghancurkan jahitan benang sutra yang diikatkan di sekitar pembuluh darah tersebut. Eksebisi tersebut menunjukkan bahwa aliran darah koroner yang mengalami obstruksi dapat dikembalikan. Segelintir opini dari orang yang menyaksikan eksebisi itu, seperti dituliskan oleh Spencer B King sendiri dalam memoarnya
"hal ini tidak dapat dilakukan pada arteri koroner manusia"
" Plak arteri koroner tidak seperti ligasi benang, ia akan pecah dan malah membuat emboli"
"Hanya akan membuat gumpalan apada arteri!"
Dengan pengalaman pertama menjelajah Amerika dan mendapat respon semacam itu, menyerah lantas melanjutkan riset pada bidang yang lebih "masuk akal" akan menjadi respon yang normal. Andreas Gruentzig bukanlah orang normal. Setahun kemudian dia melakukan PTCA pertama pada manusia! Meskipun dengan kesuksesannya, institusi tempat Andreas Gruentzig bekerja tidak memberikan dukungan, suatu hal yang ditangkap oleh Spencer B King yang telah menyaksikan eksebisinya di Miami pada 1976 lalu sebagai suatu kesempatan dengan menawari Gruentzig pindah ke Emory, Amerika Serikat.
Sebelum meninggalkan Zurich pada 1980, Gruentzig sempat mengadakan forum ilmiah dengan mengundang pakar-pakar kedokteran kardiologi untuk menyampaikan dan mendemonstrasikan temuannya. Mason Sones, Charles Dotter dan Melvin Judkins hadir dalam acara tersebut. Kepada tiga tokoh yang telah membuatkan jalan bagi temuannya, Gruentzig memberikan jamuan khusus setelah sesi berakhir. Pada malam tersebut mereka menaiki bukit kecil di pinggiran kota Zurich, menyalakan api unggun, makan spageti dan meminum wine bersama. Setelah selesai berbincang, mereka menuruni bukit bersama-sama dengan penerangan api obor yang dinyalakan menggunakan api unggun yang dibuat oleh Andreas. Selanjutnya selama 5 tahun (1980-1985) di Emory, Gruentzing mengorganisasi 10 kali kursus dengan peserta tokoh kardiologi itervensi dari seluruh dunia berkumpul di sana.
Apa yang menjadi kesamaan antara Mason Sones, Charles Dotter, Melvin Judkins dan Andreas Gruentzig bukan hanya mereka menjadi pionir di bidang kardiologi intervensi, atau sekedar pernah menaiki bukit dan minum wine bersama. Mereka berempat meninggal dunia pada tahun yang sama, tahun 1985. Mason Sones (67 th), Charles Dotter (64 th), Melvin Judkins (63th) saat mereka meninggal, kepergian Gruentzig terasa mengejutkan karena baru berusia 46 tahun. Gruentzig dan istrinya meninggal setalah mengalami kecelakaan pesawat yang dia sendiri menjadi pilotnya. Spencer B King bergurau bahwa dipanggilnya 4 tokoh pionir kardiologi intervensi di tahun yang sama sebagai : Tahun di mana Tuhan sedang membangun Cath Labdi surga.
Hidup Andreas Gruentzig seperti komet, melesat cepat meski dihambat oleh lapisan atmosfir, lalu bersinar untuk periode yang relatif singkat, Namun sebagaimana komet, cahayanya yang singkat telah menginspirasi seluruh dunia dan mengubah wajah kardiologi. Semua tindakan untuk mengatasi obstruksi aliran koroner disandarkan pada fondasi yang telah ia letakkan. Cahaya yang ia pancarkan adalah tanggung jawab kita kardiolog-kardiolog masa depan untuk terus mempertahankan pancarannya atau bahkan membuat alirannya lebih terang.
Atas dasar cerita di atas, selama 3 bulan stase invasif kami menamai grup whats app kecil kami dengan nama Gruentzig in the Making, meski tentu, jauh panggang dari api dedikasi, keilmuan dan perjuangan kami (atau paling tidak saya sendiri) mendekati dengan apa yang telah Andreas Gruentzig lakukan.













