Ada kalanya doa itu terkabul disaat kita lupa pernah berdoa akan hal tersebut kepadaNya. Saat harapan sudah memudar, saat ikhtiar sudah berhenti untuk mengupayakan, saat sudah tidak tau lagi harus bersikap bagaimana.
Doa yang pernah kita pinta dengan begitu, Allaah kabulkan tidak seketika kita meminta saat itu juga. Allaah tahu waktu yang terbaik doa itu terwujud, Allaah tahu kesiapan kita saat hal itu tertunaikan. Allaah tahu, Maha Tahu.
Ada banyak momen dimana diri ini meminta kepada Allaah dengan sungguh-sungguh, ikhtiar dengan maksimal sangat maksimal. Namun manusia hanya bisa sebatas itu saja. Selebihnya Allaah penentu segalanya. Hingga akhirnya apa-apa yang pernah diminta, sudah tak ada lagi dalam barisan doa yang dilangitkan. Barangkali lelah adalah satu titik berhenti untuk mengupayakannya lagi.
Dan benarlah, saat kita berhenti berharap lebih pada apa-apa yang kita inginkan, kita upayakan. Justru doa itu terwujud di momen dimana kita tak lagi mengupayakannya. Bahkan ketika terkabul, kita tersenyum. Sebab, diri dibuat takjub atas apa-apa yang telah Allaah kehendaki. Hikmah akan kita dapatkan setelahnya, itu benar adanya.
Lalu saat ini Allaah, barangkali fisik dan mental ku sudah di titik lelahnya. aku tetap menjaga lentera harap itu agar tak meredup. Sebab aku tak ingin berputus asa dari Rahmat Engkau yang begitu luas ini.
Mungkin orang-orang di sekitarku menutup-nutupi keinginan mereka demi menjaga perasaanku agar aku tak bersedih. Namun sungguh Allaah, diri inipun sesungguhnya ingin sekali mewujudkan keinginan itu. Tapi sekali lagi, aku hanya manusia. Yang mana tugasku adalah meminta dengan sabar dan sholat. Sejauh apapun ikhtiar yang ku upayakan, bila Engkau belum berkehendak. Maka tak akan pernah terwujud hal itu.
Menuliskan ini dengan menahan diri agar tak menangis. Beberapa waktu lalu, melihat suami begitu lepas senyumnya saat menggendong seorang bayi. Perasaanku sebagai istrinya, sungguh terenyuh melihatnya. aku paham betul, suami ingin sekali memiliki anak. Namun sekali lagi Engkau mungkin belum menghendaki kami untuk memilikinya.
Suami selalu menenangkan diri ini yang begitu banyak khawatir dan gusarnya, katanya. Jalani saja peran kita sebagai hamba, sebab Allaah Maha Tahu mana yang terbaik untuk hambanya. Tidak ada yang salah pada sebuah takdir. Tidak ada kedzaliman dalam sebuah takdir. Tugas kita adalah bertaqwa kepadaNya.
Suami yang ngomong, akunya yang mewek. Dasar cengeng. Menuliskan ini sebagai catatan diri, bahwa perjalan diri ini sungguh sangatlah masih sangat jauh. Bekal apa yang sudah dibawa? Sudah sebanyak tulisan inikah bekal yang nanti akan dibawa? (Tanya pada diri sendiri).
aku selalu percaya, bahwa Allaah tidak pernah dzalim. Tidak pernah sekalipun. Teringat dengan tulisan MB Dea dalam tumblrnya kurang lebih seperti ini,
Engkau boleh mengabulkan doa kami ataupun tidak. Tapi jangan pernah tinggalkan kami sendirian dalam kondisi apapun.
Dalam banyak hal, diri ini hanya minta untuk dilembutkan hatinya untuk menerima nasihat dan kebenaran, kebaikan dalam beragama, keselamatan diri, dan kesabaran yang tiada batas..
Menuliskan ini sembari menunggu kedatanganmu, ku harap engkau tidak pernah membaca tulisan istrimu yang seperti ini ya mas.
Surabaya, 01 September 2021 || 22.29