Catatan si Bungsu
Kadang, menjadi bungsu itu menyebalkan
Usia yang dihabiskan tidak dipungkiri lebih sedikit, begitu pula dengan usia yang dihabiskan dengan orangtua. Maka memori-memori itu juga lebih sedikit. Cerita-cerita bersejarah itu hanya terdengar, minim disaksikan secara langsung.
Saya lahir, bapak sudah menjadi anggota dewan, rumah sudah berada di komplek dinas. Belum selesai sekolah dasar, bapak sudah pensiun. Berselang dua tahun, ketika bapak lebih sering berada di rumah, saya masuk pondok. Hingga melanjutkan ke sekolah berasrama selanjutnya, bapak masih menyempatkan sesekali menjenguk sebentar. Sekitar kelas sebelas, bapak sudah tidak pernah menjenguk. Penyakit sudah memaksanya untuk menghabiskan sebagian besar waktu beristirahat. Ketika bapak sudah tinggal berbaring, saya justru masih penuh dengan mimpi, menggebu mengejar pendidikan di tempat lain. Namun dalam beberapa keputusan penting, bapak masih memainkan peranan dalam perjalanan saya, SMP, SMA hingga kuliah.
Kadang menjadi bungsu itu menyebalkan,
Apalagi ketika kamu berasal dari keluarga dengan saudara yang banyak, atau jarak usia yang terpaut jauh
Orangtua semakin menua, kakak-kakak mulai mapan, dan kamu masih belajar.
Kesempatanmu untuk membanggakan orangtua lebih sedikit, jika kesempatan itu sebanding dengan rentang usia. Kamu yang paling belum dewasa, ketika kedewasaan dijelaskan dengan pengalaman yang seiring dengan waktu.
Maka ketika dibutuhkan, kamu yang paling belum bisa melakukan apa-apa. Hal terbaik yang bisa kamu lakukan hanyalah belajar sebaik mungkin, karena itu masamu, dan kamu tahu itulah yang kemudian akan membanggakan semua orang.
Bertemu dan mengambil pelajaran dari generasi tua menjadi sangat berharga. Kadang,bungsu bahkan berpotensi tidak bertemu dengan kakek dan nenek, warisan nilai itu didapatkan secara tidak langsung. Jarak generasi yang paling jauh, kadangkala menyebabkan jarak yang lain; bahasa, komunikasi, zaman, pendekatan.
Untuk kalian, anak-anak dengan rentang usia yang lebih dekat,
Bersyukurlah, kalian punya cerita lebih banyak untuk diwariskan.
Jika merasa tidak demikian akibat kondisi dan situasi, maka manfaatkanlah dengan baik kesempatan yang ada
Untuk kalian para bungsu,
Maksimalkanlah sebaik mungkin kesempatan yang lebih sedikit itu
Jika merasa sudah cukup maksimal, bersyukurlah dan jangan bosan
Iya, memang semua hal ini kondisional, tidak bisa digeneralisir, kondisi setiap keluarga berbeda, kondisi setiap anak berbeda.
Tapi izinkan untuk sekarang kami (saya dan siapapun yang mungkin merasa senasib) mengasihani diri. Akan ada masa kami bersyukur dengan sangat
Pada akhirnya, penghiburan terbaik bagi seorang anak yang ditinggal orangtuanya Tidak lain adalah amal baik dari dirinya sendiri
*****
Banyak cerita beredar tentang keluarga kami, bagaimana bapak dikenang sebagai ayah dari 10 bersaudara
Tapi itu hanya sekelumit cerita tentang bapak,
Bapak punya puluhan tahun cerita penuh teladan dibaliknya, yang mungkin minim orangtahu. Apalagi generasi muda seperti saya, yang jauh dari sejarah perjuangan masa lalu.
Banyak yang baru terungkap setelah bapak pergi; kezuhudannya, kesederhanaannya, ketegasannya, pemikiranny dan segudang teladan lain. Kisah-kisah penuh nasihat untuk generasi muda seperti saya; yang sering terlalaikan oleh ambisi dunia, penuh idealisme dan cita-cita namun sedang duduk diam karena realita, mahasiswa yang masih berada di anak tangga awal perjuangan kehidupan.
Semoga kita bisa sama-sama mempelajari dan meneruskan semangat kebaikannya
*****
“Kalo Himmah pindah sekolah, komitmen sama Qurannya gimana?” yang mengantarkan saya untuk giat mengikuti rumah tahfidz ketika liburan pada masa SMA. Padahal sekolah tujuan merupakan sekolah dambaan banyak orangtua, namun ia masih enggan karena khawatir hafalan Quran saya kurang terjamin. Hingga saya berhasil menyelesaikan hafalan quran sebelum lulus. Harapannya untuk anak-anaknya, karena ia tahu memasuki masa kuliah akan sangat sulit untuk fokus kepada Quran.
“Duduknya yang tegak, biar badannya ga bongkok”
“makannya dijaga, biar kesehatannya terjaga pas tua”
“Jangan baca komik terus! Udah murojaah belum?” ketika masa kecil saya dihabiskan untuk membaca novel. Teringat ada novel saya yang dirobeknya karena ketahuan membaca sehabis maghrib, waktu yang seharusnya dipakai untuk membaca quran.
“udah, ke Undip aja” jawaban singkatnya ketika beberapa pilihan hadir di depan mata untuk meneruskan pendidikan. Alhasil disinilah saya, satu-satunya anak yang meneruskan jejak di almamaternya dulu. Sayangnya, ia tidak sempat untuk melihat saya lulus darinya
“Bangunlah ketika orang lain masih tidur, berjalan ketika orang lain masih bersiap, dan larilah ketika orang lain masih berjalan”
Dan selanjutnya, yang membantu untuk kembali berdiri lagi adalah warisan dan kenangan terbesar bersama bapak, Quran.
*foto-foto kenangan bapak kurang lebih; lagi ngemong anak, ngaji, silaturahim
Allahummarhamhu
Allahummagfirlahu war hamhu wa’afihii wa’fu’anhu
Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani shagiira





















