Saya rasa, kalau di kehidupan sebelum ini saya adalah sebuah tanaman, sepertinya tanaman (atau diri saya) itu diciptakan dari benih tanaman lain yang hampir mati karena kesepian. Lalu ditumbuhkan dengan air hujan dari langit yang sedang tersedu-sedu, di tengah-tengah padang pasir yang luas; yang tentu saja tidak ada tanaman lain, alias sepi sendiri.
Hal ini tercermin dari kehidupan saya sekarang yang selalu merasa seperti pendatang asing dimanapun berada. Seperti, apa ya, seperti seharusnya saya tinggal di suatu dunia lain.
Tenang, saya tidak percaya reinkarnasi (iya iya iya saya seorang Muslim), ini semua hanya imajinasi saya.
Kembali ke topik dunia lain. Dunia lain yang saya maksud bukanlah dunia gaib seperti yang ditayangkan di televisi-televisi. Dunia yang saya maksud adalah dunia yang... membuat saya merasa seperti di rumah. Entah kenapa dunia yang saya tinggali ini tidak menyediakan hal itu. Dimana alat time jumper, atau kisah putri-pangeran yang hidup bahagia selama-lamanya, atau pohon baobab yang bisa bicara dan suka menyimpan rahasia? Dimana karpet terbang, dimana kebaikan besar yang luhur dan sejati (kebalikannya, dunia ini selalu menyediakan konspirasi jahat dan keluhuran yang hanya sebatas topeng), dimana juga raja yang bersifat arif, adil, pemberani dan ksatria yang menjadi pemimpin di daerah yang sejahtera? Terakhir dan yang paling penting, dimana kebahagiaan yang sempurna?
Dunia ini menyediakan penyakit ebola yang kemungkinan sembuhnya 0%, menyediakan Amerika Serikat yang gila tetapi sok pahlawan, menyediakan Hitler yang berdarah dingin, menyediakan darah yang ditumpahkan dengan sia-sia, menyediakan kebohongan, konspirasi jahat dibalik rakyat jelata yang awam, orang-orang rakus dan masalah-masalah yang tak henti-hentinya datang dan pergi.
Hahaha, saya sudah biasa dikatakan sebagai orang yang delusional dan pengkhayal. Tidak usah ragu lagi, berjuta kali saya mengikuti tes kepribadian, berjuta kali pula saya mendapati bahwa diri saya memang demikian.
Dibalik penderitaan-penderitaan yang dunia ini sediakan, memang, masih juga terdapat hal yang membahagiakan. Tetapi kebahagiaan itu tidak pernah sempurna... dan hal demikian membuat saya bertanya-tanya, kenapa kebahagiaan tidak diciptakan sempurna? Ya, tentu saja, sebagai Muslim saya mendapatkan jawabannya... "Yaitu agar manusia senantiasa beribadah dan mendapatkan surga, disanalah tempatnya kebahagiaan yang sempurna". Saya tak hendak membantah. Tetapi izinkan saya kali ini saja menulis sesuatu yang secara natural mengalir dari gudang imajinasi saya, yang agaknya terlepas dari aspek-aspek agama yang realistis (hm, realistis adalah hal yang SANGAT saya hindari dalam menulis post ini).
Berikan saya ruang untuk menghela napas sejenak.
Okay. Sejak lahir saya adalah pendatang asing, dan selama ini saya memang selalu merasa begitu. Saya merasa terjebak didalam tubuh manusia, dan saya berpikir sepertinya saya ini pohon. Jiwa saya adalah jiwa pohon, yang masuk ke dalam tubuh manusia. Lalu menjalani hidup sebagai manusia. Padahal, hal-hal yang saya sukai adalah hal-hal yang pohon sukai:
Sejak dulu saya menyukai hujan dan sinar matahari. Saya penyendiri dan tidak terlalu suka bicara (tetapi jika diperlukan... saya bisa saja berbicara dengan baik. Walaupun itu menguras energi). Saya sangat statis, tidak suka perubahan, ketika ada perubahan mendadak biasanya saya sensitif dan cepat layu. Ketika terpaut dengan sesuatu yang sesuai dengan jati diri saya, saya dapat menjamin bahwa saya akan menjadi sangat setia, seperti pohon yang setia sekali berdiri di tanah yang telah menumbuhkannya. Ya, secara keseluruhan, saya yakin sekali bahwa saya ini adalah pohon yang terjebak di tubuh manusia.
Lalu kenapa saya bilang bahwa di kehidupan sebelumnya, saya adalah tanaman (atau pohon) yang diciptakan dari benih tanaman lain yang hampir mati karena kesepian. Lalu ditumbuhkan dengan air hujan dari langit yang sedang tersedu-sedu, di tengah-tengah padang pasir yang luas?
Alasannya, selain karena saya selalu merasa sebagai pendatang asing, saya juga secara natural selalu menemukan melankolia dibalik segala sesuatu.
Bukan, bukan berarti saya menjadi penikmat kesedihan. Tetapi entah kenapa, saya selalu berusaha mencari (setidaknya kalau tidak menemukan) hakikat dari sesuatu. Hakikat dari segala hal, hampir segala hal. Hakikat dari kursi, meja, langit, kemarahan, sepeda, tangisan, hakikat dari apapun itu. Dengan selalu memikirkan hakikat-hakikat ini, saya selalu merasa tersentuh; terkadang saya jadi terharu, atau sedih, atau malah bersemangat. Tapi dibalik hal-hal yang saya cari dan temukan itu, selalu terdapat melankolia didalamnya.
Dengan demikian, saya menghabiskan kebanyakan waktu saya untuk berpikir dan tenggelam dalam melankolia.
Dan dengan demikian, saya selalu merasa menjadi pemikir yang kurang aksi. Sungguh tak cocok dengan kehidupan manusia.
Dan dengan demikian yang lainnya, saya merasa semakin yakin bahwa saya ini adalah jiwa pohon berasal dari negeri utopia.
Selain itu, efek dari perasaan-sebagai-pendatang-asing tadi, saya selalu merasa sepi. Bukan apa-apa, saya selalu merasa tidak akan ada manusia lain yang siap untuk menerima saya apa adanya; saya yang begini, saya yang menganggap diri sendiri sebagai pohon dari negeri utopia ini.
Dan ketika saya menemukan seseorang itu, saya jadi berlebihan sekali. Posesif. Pohon yang posesif. Menjalarkan akar-akarnya ke seluruh tubuh orang itu hingga sesak napas, seolah ingin saya miliki. Saya jadi bertanya-tanya sendiri, saya ini monster yang egois atau pohon yang sedang jatuh cinta?
Pasti itu cinta, karena saya ingin melihatnya hidup, bukannya mati dicengkeram.
Wah... "Cinta"? Lumayan manusiawi ya? Belum. Karena cinta yang saya pahami ini, entah kenapa selalu bersifat transendental (atau dia selalu bilang, trans-alam). Pemikiran saya yang selalu mencari tentang hakikat, membentuk pemahaman saya akan cinta yang terlalu dalam, melintasi batas-batas alam, dimensi, dan membumbung tinggi jauh... jauh... sekali. Hingga akhirnya menjadi tidak manusiawi lagi.
Barangkali orang-orang realistis akan mencela saya sebagai orang yang gila, delusional dan lebay. Tidak salah juga. Oh... atau orang yang introvert dan penyendiri? Tidak salah juga. Bahkan dalam berkomunikasi, saya lebih suka menulis karena selalu memberikan saya kesempatan untuk berpikir. Ketika berbicara, saya sering kehabisan kata-kata... bahkan sering sekali di tengah sedang adu argumen dengan pacar saya, saya diam sejenak dan berkata "Sebentar, aku lagi menyusun kata-kata". Memang benar, kepala saya selalu penuh dengan kata-kata yang ingin saya keluarkan tetapi berantakan dan tak tersusun. Sehingga kebanyakan saya memilih diam.
Fakta lain yang mendukung pendapat saya bahwa saya ini adalah pohon yang berasal dari negeri utopia adalah, saya tidak terlalu tertarik mengejar hal-hal yang bersifat manusia. Seperti uang yang melimpah ruah, atau kekuasaan. Kebanyakan hal yang membuat saya tergila-gila adalah waktu, dan kedalaman makna dan perasaan. Itulah kenapa saya menyukai puisi, dan saya tidak mengharapkan apapun dari orang-orang yang saya cintai kecuali waktu dan perasaan mereka.
Walaupun saya tidak tertarik dengan hal-hal yang bersifat manusia, bukan berarti saya hidup bertapa di gua dengan telanjang, tidak makan, tidak mengenyam pendidikan dan hanya berkhayal sepanjang waktu.
Saya sekarang menjalani hidup sebagai seorang perempuan usia 19 tahun, menjadi mahasiswa hukum, berkuliah setiap hari, punya pacar (dan segelintir teman), dan sesekali menikmati kebahagiaan yang disediakan oleh dunia seperti makanan enak dan musik.
Hanya saja, kebanyakan hal yang saya lakukan adalah hal yang dibutuhkan untuk menjadi manusia, tetapi sekaligus mencari hakikat dari sesuatu yang saya lakukan itu. Seperti... saya berkuliah karena semua manusia membutuhkan gelar pendidikan untuk kehidupan yang layak sebagai manusia, tetapi di samping itu, saya berkuliah juga untuk hakikat dari berkuliah itu, yaitu berusaha menjadi sebuah wadah yang terisi penuh dengan ilmu-ilmu yang suatu saat akan menolong diri saya dan orang-orang lain.
Jauh didalam diri saya, saya sedang bertapa. Merenung. Saya selalu merenung.
Terakhir, kebanyakan pembicaraan yang saya lontarkan tidak dimengerti oleh kebanyakan manusia. Contohnya, tulisan ini.
Dengan demikian semakin kuatlah dugaan saya, saya ini sesungguhnya adalah pohon yang menjelma jadi manusia pemimpi, pencari hakikat, dan perenung luar biasa.