Udh lama ga nulis2 gajelas di tumblr. Rindoe<3
styofa doing anything
🪼
No title available

pixel skylines

Product Placement

if i look back, i am lost
tumblr dot com
i don't do bad sauce passes

#extradirty
Stranger Things

Janaina Medeiros
Cosimo Galluzzi
wallacepolsom
dirt enthusiast
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

ellievsbear
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
sheepfilms

Kaledo Art
will byers stan first human second

seen from Russia
seen from United States

seen from United States
seen from Australia

seen from United States

seen from Canada

seen from United States

seen from United States

seen from France

seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from South Korea
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Singapore
seen from Singapore
seen from Türkiye
@aisyjournal
Udh lama ga nulis2 gajelas di tumblr. Rindoe<3
Watch "Cervical Spondylosis (DJD) Exercises You Should Never Do (Correct Exercises) - Dr. Alan Mandell, DC" on YouTube
Gara-gara nonton video ini, jadi paham...
Smoga belum terlalu terlambat yaaa...
Kata dokter rehab medik ku, memang penyakit ini mulai banyak apalagi sejak pandemi... Jadi harus lebih aware terutama tentang postur saat bekerja..
Oh iya, exercise yang dibilang dalam video ini juga disarankan sama dokter rehab medik yang periksa aku...
Curhat
Setelah menikah jadi bener2 sadar bahwa, kita udah punya kewajiban baru. Salah satunya; memasak. Aku yg sedari single pgn banget memasak untuk keluarga ku nanti padahal aku dulu tu ngga bisa masak. Mungkin karna ibukku dulu walau dia kerja tp juga selalu memasak, walaupun riweuh dipagi2 hari. Pernah baca, istri itu adalah orang yang berpengaruh untuk gizi keluarganya. Aku langsung makdeg gitu... Karna pas jaman single ngga mikirin gizi, jajan manis2, goreng2 setiap hari bener2 setiap hari. Jadi takut, klo ak malah yg bikin keluarga kecilku tidak sehat :') Maka berangkat dari overthinking itu, aku jadi cari2 apaa sih yg harus dimakan dan dihindari. Dapetlah info terntang toxic cookware, probiotik, prebiotik, makanan yg thayib dan banya lainnya. Kadang jd overthinking soalnya kayak toxic cookware kadang masi pake alat masak yg mungkin ada pfoanya. Terus blm sepenuhnya bisa menghindari goreng2 atau manis2. Tapi Alhamdulillahnya Allah tu mempertemukan aku sama akun2 yg mungkin bisa buat belajar sedikit2. Walaupun belum sepenuhnya bener2 hidup sehat, seengaknya tau jadi punya rem gitu.. Jadi yaaa, sebisanya aja gitu. Kalo bisa masak ya masak, kalo ndak ya beli, demi menjaga kewarasaan hehe. Aku boleh banggaa ngga si sm diri sendiri, aku bisa melawan zona nyamanku, belajar masak, belajar untuk minum greensmoothies, belajar minum kunyit+jahe tiap pagi. Daaan aku seneng aja nglakuinnyaaa karna ak merasa ada andil untuk gizi keluargaku hihi Terimakasih diriku, semangat yaa untuk step2 selanjutnyaaa <3
huaaa sukak bgt <3
Katanya, Nanti Akan Ada Masanya
Saat aku masih menikmati masa lajangku, berada dalam penantian tentang seseorang yang akan hadir menemani perjalanan, aku diminta untuk tak tergesa. Santai saja, nanti akan ada masanya kamu justru merindukan momen di masa sendiri ini. Bebas dengan segala aktivitas dan produktivitas. Aku mengiyakan. Tentu, pasti akan ada masanya.
Saat aku akhirnya menikah selepas wisuda, hatiku membuncah dan lega. Aku sudah menemukannya. Orangtuaku sudah bebas tanggung jawab terhadapku. Namun sebentar saja, sebelum aku dihadapi realita selanjutnya: mau bekerja atau di rumah saja? Ah, pilihan yang jatuh pada tawaran pekerjaan saat itu menghampiriku. Katanya, nanti akan ada masanya, bekerja tidak akan sebebas ini jika sudah ada anak. Aku mengiyakan. Dan benar saja, pada bulan ke-6 bekerja, aku dikaruniai kehamilan dan akhirnya memutuskan berhenti dari pekerjaanku.
Transisi peran ini cukup membuatku terombang-ambing. Aku masih mengambil tawaran pekerjaan freelance pada saat itu. Aku dan suami juga memutuskan untuk memulai babak kehidupan sendiri--berpindah ke rumah kontrakan. Tapi tetap saja, tidak cukup untuk membuat diriku merasa utuh. Sampai akhirnya, aku melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan sempurna. Bagai baru bertemu setelah sekian lama, aku kebingungan, ada perasaan bahwa aku amat menyayangi makhluk kecil ini. Namun di satu sisi, ada bagian lain dalam diriku yang mempertanyakan, "Apakah aku sesayang itu padanya? Bagaimana jika aku tidak menjadi orangtua yang baik? Bagaimana jika..." disertai sederet pertanyaan lainnya. Lagi-lagi, aku percaya, nanti akan ada masanya, kamu merindukan anakmu tetap menjadi bayi mungil seperti ini. Mereka tumbuh dengan pesat dari waktu ke waktu. Ah, begitulah awal mula aku menjalani hari-hari dengan "biasa saja" dalam peran bernama ibu.
Benar saja, anak sulungku tumbuh dengan pesat. Dua tahun berlalu, kemudian aku melahirkan anak kedua. Tidak ada yang jauh berbeda. Ah, ya. Saat itu aku juga sedang merintis bisnis daring mainan edukatif anak. Saat anak keduaku lahir, aku tidak sanggup melanjutkannya. Jadilah bisnis ini vakum hingga setahun lamanya. Sempat aktif kembali saat pandemi, namun karena manajemenku yang kurang baik, belum juga aku berhasil fokus pada bisnis ini. It's okay, nanti akan ada masanya, anak-anak tumbuh besar, kamu bisa fokus pada apa yang ingin kamu lakukan. Untuk kesekian kali, aku menyerah pada mimpi. Tidak mengupayakannya dengan baik. Tidak memiliki supporting group yang memadai untuk memahami apa yang sedang kualami pada fase ini.
Kemudian, selama pandemi, pekerjaan suami juga sangat terdampak. Kami sempat berjualan masker, disinfektan, dan hand sanitizer. Awalnya hanya untuk menyambung hidup, namun alhamdulillah, setelah berjualan tiga bulan, omzet kami sudah mencapai tiga digit. Hasil keuntungan berjualan itu kemudian kami gunakan untuk berbisnis kembali, yaitu di bidang peternakan. Ya, suami memang memiliki hobi dan merasa terpanggil untuk serius di bidang peternakan. Jadilah kami berhijrah dari ibukota menuju sebuah "desa" di perbatasan Depok-Bogor.
Namun, belum selesai masa adaptasi, Allah memberiku hadiah berupa kehamilan anak ketiga. Qadarullah, kehamilan ini gugur pada jelang bulan keempat akibat pendarahan tiba-tiba yang membuatku hampir kehilangan nyawa. Alhamdulillah wa innalillaah. Pulang dari rumah sakit, kukira semua akan baik-baik saja. Memang awalnya demikian. Namun selang sebulan dua bulan sejak kejadian itu, aku memiliki ketakutan yang tidak bisa kujelaskan. Mulailah gejolak emosi yang tidak tervalidasi. Amarah kian meledak-ledak. Yang terburuk, aku kerap memikirkan untuk menyakiti diriku sendiri di dalam kegelapan.
Aku takut dihakimi bahwa aku adalah ibu yang buruk, bahwa aku manusia yang "lemah iman" karena emosiku ini. Namun, aku memberanikan diri untuk terbuka menceritakan semua kepada suamiku. Ia pula yang akhirnya menenangkanku dan menawarkan solusi untuk dijalankan bersama. Pada titik terendah ini, aku menyadari, bahwa Allah begitu Mahabaik dengan mengirimkan sosoknya menjadi imam sekaligus teman hidupku.
Alhamdulillah. Gejolak dan berbagai energi negatif perlahan menghilang dengan upaya kami bersama. Aku mulai bangkit dengan menulis journaling. Aku mulai kembali berani merancang mimpi, rencana ke depan, dan apa yang ingin kulakukan. Suami memfasilitasi dengan laptop dan juga biaya kelas daring yang ingin kuikuti. Aku mulai ikut dalam kelas Kaizen Writing yang diadakan oleh penulis panutanku, Dee Lestari. Setelahnya, aku memberanikan diri bergabung menjadi pengurus dalam sebuah komunitas pemberdayaan ibu yang digagas oleh ibu awardee LPDP. Peranku memang tidak seberapa, kontribusiku juga masih jauh dari sempurna, namun setidaknya, aku tidak berada dalam titik yang sama dengan hari-hari kemarin.
Small progress is still progress.
Hari ini, aku mulai mengenal diriku lebih jauh. Bahwa hidup dan mimpiku tidak akan berhenti meski peran kian bertambah. Bahkan, dengan peranku kini sebagai ibu, menjadi motivasi terbesarku untuk tidak boleh berhenti mengakselerasi diri. Anak-anakku harus tahu, bahwa ibunya masih tetap berjuang untuk mimpinya, untuk hal-hal baru yang ingin dipelajarinya. Tangan ini memang hanya dua, terlihat sama dengan jumlah anak-anakku saat ini. Namun dengan dukungan dari keluarga--khususnya suami--segalanya menjadi mungkin.
------
Sekian celoteh malam karena tadi sore sudah ketiduran dengan begitu lelap.
-------
Rumah, Juni 2022
Addicted to Book (for kids)
"Tidak tumbuhnya minat baca pada anak, sebagian disebabkan fakta bahwa literasi dini tidak ditumbuhkan pada 3 tahun kehidupan pertama anak"
—Rosie Setiawan
Untuk menumbuhkan & memulai kebiasaan membaca pada anak, maka ada sebuah program #1000bukusebelum5tahun yakni orangtua membacakan buku kepada anak sebanyak 1000 kali (sesi) sebelum anak berusia 5 tahun.
Keajaiban dibalik #1000bukusebelum5tahun
1. Kognitif
• Menurut beberapa penelitian, bahwa aktivitas rutin membaca buku yang dibiasakan sejak dini dapat meningkatkan perkembangan otak anak
• Membaca buku pada anak juga dapat meningkatkan rentang konsentrasi & melatih daya ingat
•Buku juga bisa merangsang otak anak untuk mampu membangun gambaran mental di benaknya (imajinasi)
2. Pondasi Akademik
3 skill dasar :
- Membaca
Kemampuan dasar dari membaca adalah memahami. Anak paham apa informasi yang dia dapatkan, baik lewat buku maupun perkataan orangtua nya.
-Membaca
Filosofi dasar dari menulis adalah anak mampu berkomunikasi. Menulis adalah cara anak untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya ke dalam bentuk tulisan.
-Berhitung
Filosofi dasar berhitung adalah bernalar. Anak bisa berpikir secara logis, mengurutkan informasi secara sistematis.
Ketiga hal tersebut (memahami, berkomunikasi, bernalar) difasilitasi dengan aktivitas membacakan buku sejak dini.
Saat membacakan buku pada anak, ibarat sedang mengisi kolam KOSAKATA anak. Apabila kolom kosakata dengar anak penuh, maka anak akan bisa bicara, membaca, dan menulis.
Proses yang terjadi pada otak anak melalui kegiatan Read Aloud
Orangtua membacakan cerita > Anak memperoleh kosakata dengar > kosakata dengar anak dipenuhi dengan berbagai huruf, fonem, rima, kata, dsb. > anak menggunakan kosakata dengarnyab sebagai modal dasar untuk bicara, membaca, dan menulis.
3. Keajaiban Karakter
Membacakan buku pada anak memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk karakter anak.
Karakter adalah hal yang berkaitan dengan dimensi psikologis (akal budi) dari seorang manusia, sehingga untuk membentuknya memerlukan cara yang abstrak pula. Maka apa media terbaik untuk bisa membentuk karakter anak?
BUKU
-tidak bertentangan dengan pperkembangan fisik dan psikologis anak
-berisi beragam ide yang bisa memantik akal budi anak
-relatif mudah di dappatkan
-menghadirkan beragam 'miniatur' situasi sosial
-tidak menggurui
4. Keajaiban Habit
Membacakan buku pada anak secara rutin merupakan pondasi dasar dari terbentuknya kebiasaan membaca.
Mengapa habit membaca penting dimiliki anak?
- memahami isi bacaan - menganalisis isi bacaan - mengkritisi isi bacaan - menyimpulkan isi bacaan - membandingkan satu bacaan dengan bacaan lainnya - menyukai aktivitas membaca.
—Rangkuman pembelajaran bersama kak Jayaning Hartami (Praktisi Home Schooling dan pegiat literasi)
|| 9. 6. 2022 ||
Choose wisely, not only for you but also for your child.
Later in marriage when you hit parenthood, you'll realize what you really wish for in your spouse is not big money or 'six-pack'. A pretty face and a good bank account are nice to have but at the end of the day, there's so much more you should be looking for.
At 3am when your child is crying, and your eyes are heavy and your body is weak for postpartum, it will not be how he looks or what he owns that will matter. It'll be the compassion in his heart and the love for you in his soul that push him out of the bed to attend the child immediately and tell you,
"Go back to sleep, love. I got this."
If I could tell the younger people what to consider in a companion, I would say marry the man who will be the best father for your children. The man who will put you and your little family first, above all else. The man who is as responsible as you are in raising family because you both are in it together. In short, marry the person who will set a standard for a spouse in your children.
Because in all of these, whenever you watch your partner with your child, you'll find yourself falling in love all over again.
Choose wisely, not only for you but also for your child.
- credits to the owner
Memanusiakan Manusia.
Adakalanya seseorang melakukan kesalahan bukan berarti dia buruk namun menandakan bahwa dirinya manusia.
Bukan berarti membenarkan kesalahannya, hal ini agar dirimu sebagai ‘orang lain’ tidak menyikapinya hingga melampaui batas.
“Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat dari kesalahannya.” (HR. At-Tarmidzi no. 2499, Hasan)
Tidak peduli memiliki gelar tinggi, status terpandang, dsb namun barangkali tersebab menjadi pusat perhatian, banyak orang yang melupakan bahwa mereka tetap manusia hingga kerap mendengar, “Eh beliau kan psikolog kok begitu?” atau “Si dia kan udah ngaji kok gitu sih?” lalu diikuti komentar “Akutu agamanya biasa-biasa aja tapi setidaknya aku ndak begitu.”
Lho? Kok jadi ujub? Dan merendahkan orang lain. Lantas tanyakan ke dirimu? Apakah kamu tidak pernah melakukan kesalahan? Hingga pantaskah kamu berkomentar demikian terhadap siapa pun?
Dijelaskan dalam buku, Kisah-Kisah dalam Alquran versi Tadabur.
“Dosa mungkin saja dilakukan oleh setiap muslim meski setinggi apa pun kedudukannya, sudah tua atau hatinya telah disinari iman, sebab dirinya tidak ma’shum. Ketika ada di antara mereka melakukan dosa, ia harus segera bangkit, bertobat kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan membantu saudara-saudaranya untuk bertobat. Bukan malah menyebarluaskan dosa dan kesalahan yang diperbuat olehnya atau merasa heran kepadanya.”
Dikatakan pula oleh Ibnul Qayyim al Jauzy rahimahullah,
“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)
Penjelasan dari Al-‘Urf Asy-Syadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi oleh Muhammad Anwar Syah Ibnu Mu’azhom Syah Al-Kasymiri sebab menjelek-jelekkan mengandung kesombongan (meremehkan orang lain) dan merasa diri telah bersih dari dosa.
Sehingga tidak perlu berkomentar bahkan hingga melampaui batas, melainkan perbanyaklah muhasabah terhadap diri sendiri.
Curhatan Ibu: tolong jangan hujat aku melulu
Awal2 hari saya menjadi Ibu, beberapa orang bilang,
"Kamu mah enak gak kerja (yg dimaksud kerja di kantoran atau sejenisnya), kalo anak tidur pasti kamu ikut tidur"
Saat itu, saya sakit hati dibilang seperti itu. Tapi beberapa pekan lalu saya merenungi kalimat tsb. Dan ya, saya menemukan jawaban jitunya (bukan untuk pembenaran diri atau membalas kalimat tajam kepada org2 itu).
Saya cuman mau bilang...
Alhamdulillah saya jadi Ibu yang di rumah aja, dengan sesekali bekerja dan sesekali bersantai. Dan ya beginilah jadi Ibu2 yang di rumah aja, kalo anak tidur ya sesekali ikut tidur sesekali santai dan sesekali nyicil pekerjaan kalo lagi ada kerjaan. Mungkin, Ibu2 yg bekerja kantoran ya hiburannya adalah ngobrol dg teman2 kantornya, dan saya yang di rumah aja ya hiburannya adalah tidur. Begitulah :)
Tidak ada yang perlu ditinggikan untuk menjadi unggul, toh semua sudah ada porsinya masing-masing.
Coba saya tulis ulang ya..
Jika kamu memiliki hiburan dan istirahat dengan berbincang dengan temanmu, hiburanku adalah tidur siang bersama anakkua
Jika saat malam kamu bisa menemani dan memeluk anakmu tidur, aku mengerjakan pekerjaanku yang lain
Ya,
Begitulah porsimu, dan beginilah porsiku.
Yuk kita saling do'akan dan bertemu di garis berjaya sama-sama ya! :)
Mentalitas
“Mas, klo misalnya kita udah punya target. Udah punya plan, tapi di tengah jalan kok ada yang ga sesuai gimana?”
Pertanyaan menarik sekaligus menyadarkan. Ya, bukankah hidup memang begitu? Apa yang kita rencanakan memang tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan harus terjadi, bisa jadi akan digantikan dengan yang lebih dari apa yang kita rencanakan.
Tapi klo begitu, kita hanya akan pasrah dengan takdir? Tidak, ada satu hal penting lagi, saat kita sudah berani merencanakan, saat kita sudah memiliki plan, adalah soal mentalitas.
Ya, mental. Satu persoalan yang akhirnya membedakan satu orang dengan yang lainnya.
Saat kita merencanakan, apakah mental kita siap menerima konsekuensinya, konsekuensi berhasil pun konsekuensi gagal. Saat kita membuat plan, apakah mental kita siap menghadapi resikonya, resiko menang bisa juga resiko kalah.
Mental menjadi pembeda. Akan menjadi percuma saat kita merencanakan atau membuat plan tapi tidak siap mental. Saat di tengah jalan ada hambatan, ada kendala, atau tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, manusia tanpa mentalitas yang tangguh akan memilih menyerah lebih dulu.
Ah, aku jadi teringat kisah Nabi Yusuf. Manusia dengan mental paling tangguh. Saat beliau memimpikan 11 bintang, disitulah rencana hidupnya diatur, dan beliau yakin soal itu. Tapi, sejarah mencatat, sebuah kisah agung yang bisa kita jadikan pelajaran.
Kisah Nabi Yusuf, sudah kita ketahui bersama. Dibuang oleh saudaranya sendiri ke dalam sumur, kemudian dijual sebagai budak, mengalami pelecehan seksual karena ketampanannya, berujung fitnah yang membuat beliau dipenjara. Tapi, apakah lantas beliau ragu dengan rencana hidupnya? Tidak! Karena dalam diri beliau sudah ada keyakinan yang akhirnya membentuk mentalitas untuk terus melanjutkan hidup.
Mungkin juga inilah, yang mengubah Bilal bin Rabah, budak hitam dari Habasyah yang sendalnya sudah terdengar lebih dulu di Syurga. Membuat pemuda tampan nan kaya, Mushab bin Umair, rela meninggalkan kenyamanan. Menggerakan Utsman bin Affan, membeli sumur yahudi kemudian mewakafkannya. Memunculkan keberanian dan ketangguhan pada Shalahuddin Al Ayyubi, pemuda yang awalnya enggan berangkat perang, malah kemudian tercatat namanya dalam sejarah dengan tinta emas.
Semua itu soal mental. Mental yang terbentuk karena keyakinan. Mentalitas tauhid. Dimana kita mendapatkannya? Jika mengacu pada pola pendidikan Rasulullah, ada pada lingkaran-lingkaran pembinaan yang terstruktur rapih dan tersistem.
dan semoga Ramadhan ini menjadi titik perbaikan hubungan antara kita dengan al qur'an, antara kita dengan sholat sholat yang terlalaikan , antara kita dengan ibadah yang dipandang remahan dan sering terlupakan, antara kita dengan sunnah sunnah yang kerap kali diremehkan, serta menjadi titik pertaubatan atas renganggangnya hubungan kita dengan Allah Sang Pencipta kehidupan 🍂
🤍
Puasa Day 1 Walaupun ngga dapet puasa day 1, tp mencoba puasa sosmed. Susah. Iya susah wkwkw, ya gmn yha kan tangan ini ketika buka hape patternya langsung buka ig. Demi biar ga merasa rugi lagi, inget2 lagi kalo Ramadhan bulan yg ibaratnya banyak banget pahala yg bisa diraih, yuk puasa ig dlu aku. yukk bisa yukkkkkkkk.
Bercerai
Setelah menikah, kemudian melihat bagaimana realita di lapangan. Perspektif saya terhadap perceraian juga berubah. Dulu, saya melihat bahwa perceraian itu adalah sebuah aib besar, sebuah bentuk kegagalan hebat dalam rumah tangga. Tapi, sekarang tidak. Saya bisa memahami mengapa “cerai” itu ada dan boleh, bahkan dalam agama yang saya imani, perceraian itu sama sekali tidak dilarang meski dibenci.
Cerai hadir sebagai solusi terakhir jika sebuah rumah tangga memang tidak bisa diselamatkan, terjadi hal-hal yang memang membuat sebuah rumah tangga kalau tetap dilanjutkan justru terjadi keburukan yang lebih besar. Misal KDRT, perselingkuhan, salah satu berubah akidah, dll.
Kemudian, setiap kali ada kata cerai. Dalam sudut pandangku, yang salah adalah selalu laki-laki. Entah karena laki-lakinya melakukan KDRT, selingkuh, atau hal-hal lainnya. Tapi ternyata hal itu tidak benar, setelah saya membaca banyak sekali data terkait putusan perceraian. Ada juga laki-laki yang menjadi korban KDRT, istrinya yang berselingkuh, dll. Ternyata, seluas itu pemahaman yang kudapatkan dan sebesar itu juga perubahan pemahaman yang kudapatkan dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan, ketika semua itu terjadi begitu dekat. Pada teman-teman seusiaku, bahkan saya hadir dalam hari pernikahan mereka. Tidak sampai dua tahun, rumah tangganya sudah tidak berlanjut. Bahkan beberapa di antara mereka sempat mengumbar kebahagiaan dan romantismenya di awal menikah, semua unggahan itu sudah hilang. Ada yang sesama aktivis, kami sempat bertemu selang beberapa hari mereka menikah, hari ini sudah berpisah. Bahkan saya hampir saja harus ikut turun tangan dalam rumah tangga yang benar-benar akan hancur, untung tidak jadi. Tidak jadi turun tangan. Tapi rumah tangganya sudah diputuskan bubar oleh pengadilan. Saya juga menjadi lebih terbuka dan realistis, sering berpesan kepada teman yang bertanya tentang pernikahan. Nasihat yang mungkin jarang didapatkan ditempat lain olehnya. Yang intinya, kalau rumah tangganya nanti ada di tahap ekstrem tidak bisa diselamatkan karena ada kekerasan, dan hal-hal yang benar-benar tidak bisa ditolerir dan setelah berbagai upaya tidak bisa diselamatkan. Jangan takut untuk memilih pilihan terakhir, cerai. Dengan segala risikonya. Tuhan hadirkan solusi itu bukan tanpa alasan, meski Dia sendiri membencinya. Tapi, Tuhan tahu bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa dipecahkan dengan solusi lainnya, selain bercerai. Pun perceraian itu tidak berarti kemudian kamu gagal menjalani rumah tangga. Kamu tetap memiliki kesempatan yang sama seperti orang lain, untuk membangun kembali rumah tangga dengan pasangan yang baru nanti. Dan kita, jangan pernah memandang sebelah mata atas rumah tangga orang yang berpisah. Kita mungkin tidak tahu siapa yang salah, apakah dia atau pasangannya. Kalau kita kebetulan tahu, siapa yang salah. Bantulah korbannya dengan menguatkannya.
Kalau rumah tangga kita, terjaga, harmonis, dan bisa utuh hingga saat ini. Bersyukurlah. Karena apa yang dimiliki ini, menjadi sesuatu yang mungkin sulit diperjuangkan oleh rumah tangga lainnya. Kalau kamu belum menikah dan mungkin nanti bertemu dengan seseorang yang kamu cintai dan ternyata “pernah menikah” terlebih dia pernah menjadi korban dalam pernikahan sebelumnya. Harapanku, kamu tidak melihat masa lalunya sebagai sebuah kecacatan yang mengerikan, dia pun tentu tidak menghendaki itu terjadi dalam hidupnya kan? Dan dia berhak memiliki kehidupan yang baik di kesempatan berikutnya. Kalau kemudian kamu mundur karena dia “pernah menikah”, jangan sakiti hatinya dengan menjadikan itu sebagai alasan utama kenapa kamu menghindarinya. Semakin dewasa, semakin banyak realita yang kutemukan. Pemahaman hidup ini semakin meluas, dan aku menjadi paham bahwa keutuhan rumah tangga itu memang perlu diperjuangkan oleh kedua belah pihak dalam rumah tangga tersebut, suami dan istri, tidak hanya salah satu. Dan kita perlu bantuan dari orang-orang terdekat kita, untuk membantu menjaga rumah tangga kita tetap dalam jalurnya. Semoga, anugerah berupa rumah tangga yang berjalan dengan baik tersebut tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari teman-teman kita yang lain, yang mungkin tidak beruntung karena rumah tangga mereka ternyata harus karam di usia semuda ini. Semoga, kita menjadi semakin bijak dalam hidup. Aamiin. 6 April 2021 | ©kurniawangunadi
berikhtiar untuk memilih pasangan yang seprinsip, sevalue, sepola pikir dan se-se lainnya tidak serta merta membuat sebuah pernikahan mulus bak jalan tol (jalan tol aja sekarang banyak lubangnya huhu).
the thing is, people change. people keep changing.
entah ada sebuah peristiwa menakutkan, entah ada godaan di persimpangan, entah lingkungan yang membutakan, entah itu ujian, entah itu azab.
apapun, kapanpun, seseorang bisa saja berpindah haluan. ada yang bisa segera sadar dan kembali, ada yang hilang dan enggan mencari.
tapi, pernikahan adalah tentang bersatunya kedua orang pemaaf.
mereka akan terus menjadi pemaaf sampai salah satu atau keduanya kehilangan rasa cinta di antara mereka.
cinta adalah bahan bakar perjuangan dalam pernikahan. kalau salah satu membuang bahan bakar itu, maka wajarlah bila yang lainnya mulai berhenti.
kembali lagi, pernikahan adalah bersatunya kedua orang pemaaf.
Pagi ini menemukan postingan Kak Lola yang bikin tiba-tiba kontemplasi
Suatu malam, Mamas pernah melontarkan satu pertanyaan -yang mungkin jadi pertanyaan yang bikin banyak laki-laki ragu untuk melangkah ke jenjang ini-.
"Kok kamu mau sih sama aku? Kehidupanku kayak gini. Aku belum punya rumah. Kita jadi harus ngontrak di rumah kecil untuk ngumpulin uang dulu. Maafin aku ya."
Saat itu aku hanya diam, menikmati kepalaku yang dielus-elus dengan nyamannya, tersenyum.
"Pasti sebelumnya yang mau sama kamu banyak, dan mereka orang-orang berada."
"Karena.."
"Karena?"
"Karena uang bisa dicari, bisa diikhtiarin."
"Sabar dulu yaa"
Memang benar, ada 4 hal yang perlu dipertimbangkan untuk memilih pasangan hidup. Dan benar pula, bahwa poin agama yang baik adalah poin yang harus jadi prioritas. Berumah tangga itu harus banyak ikhtiarnya, harus luas sabarnya, harus penuh syukurnya. Belajar untuk ngga membandingkan diri kita dengan orang lain. Belajar untuk lapang dengan apapun yang dimiliki dan sudah Allah kasih. Selama cukup. Karena mau seberada apapun, kalau tidak cukup ilmu untuk mensyukuri apa yang dipunya, tetap akan selalu merasa kurang.
Setiap ada momen yang bikin Mamas merasa kalah atau -merasa- hampir mengecewakanku dengan kondisi materiilnya sekarang, rasanya sedih. Sebab aku merasa tidak sedang kurang satupun. Aku diberi tempat tinggal, nafkah lahir dan batin. Dalam sehari aku masih bisa makan tiga kali. Sesekali diajaknya jalan-jalan menikmati kebun dan tanaman-tanaman di Biottrop atau pergi ke Cikabayan melihat rusa dan main bulu tangkis di lapangan terdekat. Buatku hari ini, hal itu sudah sangat cukup untuk membuatku lebih hidup dan tumbuh. Ditambah dengan momen-momen mahal yang seringnya dengan impulsif Mamas ciptakan ditengah leyeh-leyeh saat weekend,
"Kamu tau ga kenapa kita disuruh hafalin 10 ayat Surat Al-Kahfi?"
"Nabi Musa as itu namanya disebut hampir di banyak ayat di Al-Qur'an karena semua peristiwa terjadi di masa kenabian beliau."
"Kamu harus tau karena kamu tanggung jawabku."
Mamas mungkin hanya 1 laki-laki di antara banyak laki-laki lain yang bisa membimbing istrinya dengan cara terbaik. Kalau yang lain diberi Allah kelebihan materiil untuk bisa memfasilitasi istrinya pada kebaikan, pun Mamas punya knowledge, skill dan banyak experiences yg juga jadi bekalku menuju tempat terbaik. Dan pemahaman agama yang baik yang menjadi motornya, apakah semua kelebihan itu akan membawa pada kebaikan atau hanya akan menjadi kesia-siaan.
Perubahan Sudut Pandang
Saya ketika sebelum menikah dan setelah menikah, memiliki cara pandang yang berbeda terkait pernikahan. Sesuatu yang kemudian membuatku memberikan nasihat jika diminta, ke teman yang hendak menikah.
Lebih baik gagal di tengah-tengah proses daripada gagal di dalam pernikahan. Artinya, kalau kamu melihat ada potensi masalah yang besar antara kamu dan calon pasangan, lebih baik gak usah lanjut, dengan segala risikonya; batalin undangan meski udah kesebar, perkataan orang, dll. Membuat keputusan untuk membatalkan lamaran/pernikahan, konsekuensinya jauh lebih ringan daripada bercerai di tengah pernikahan. Karena cerai lebih ribet, tidak hanya urusan administrasinya yang melelahkan, belum lagi jika sudah ada anak dan berebut hak asuh, belum lagi dengan status sosial yang nanti akan dibawa (janda/duda), dll. Untuk teman-teman yang hendak menikah, jika memang belum siap. Lebih baik jangan. Jika kamu sudah siap dan belum menemukan yang menurutmu tepat untuk menjadi pasangan hidup, jangan mau menerima seadanya sekalipun mungkin usiamu bertambah tua. Jika kamu seorang muslim dan tahu kalau pernikahan itu bernilai setengah agama, jangan sampai yang setengah ini rusak karena kamu terlalu gegabah dan menggebu-gebu tapi tidak rasional ketika mau menikah. Sudah rusak setengah dan kita juga tidak bisa menjamin setengah agama lainnya juga baik. Jika kamu ingin menikah dengan seseorang, tanyakanlah segala sesuatu yang ingin kamu tanyakan sampai tak bersisa. Tak perlu sungkan untuk menanyakannya, tak perlu takut. Kalau kemudian dia merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutmu penting, berarti dia tidak menganggap penting apa yang bagimu penting. Dan jika dia tidak mau diajak duduk bersama membicarakannya, entah tentang finansial, keluarga, dan apapun yang menurutmu ingin diperjelas sebelum menikah, sementara dia tidak mau membicarakannya. Saranku, mending cari yang lain. Menikah dengan orang yang tidak bisa diajak berdiskusi dengan mudah itu akan jadi tantangan tersendiri. Kita tidak bisa menikah bermodal kepercayaan bahwa nanti dia akan berubah, itu mungkin untuk hal-hal yang tidak begitu krusial/prinsip. Tapi pada hal-hal yang prinsip, kita tidak bisa memakai cara pandang itu. Apalagi, sepanjang pernikahan nanti, kita akan membutuhkan banyak sekali diskusi. Saranku, pastikan pasanganmu adalah orang yang bisa diajak diskusi, bisa menerima masukan, terbuka terhadap kritik/saran, dan mau belajar. Dan pada akhirnya, kalau memang tidak siap. Lebih baik, gunakan energimu untuk bersiap. Kalau kamu masih memiliki ambisi yang ingin kamu dapatkan sebelum menikah, kejarlah. Kalau kamu ingin tetap menjadi dirimu sendiri ketika nanti sudah menikah, menikahlah dengan orang yang tepat. Tepat yang seperti apa? Kamu yang bisa merasakannya nanti. Nanti, ketika sudah ada orangnya yang akan menikah denganmu. Kita tidak bisa menuliskan ketetapan itu dalam barisan kriteria. Dan mungkin, tidak akan ada orang yang bisa memenuhi semua kriteria itu dalam satu waktu. Kalau sudah ada orangnya dengan segala kekurangannya. Kamu akan bisa merasakan, mana yang kiranya kamu bisa terima sebagai pasangan hidup dan mana yang tidak. 17 Maret 2021 | ©kurniawangunadi
Tempat Pelarian
Tidak semua yang kita ketahui sejatinya kita pahami, bukan? Ya, setidaknya inilah yang sebagian besar menjadi bahan-bahan tulisanku, tentang pemahaman terhadap sesuatu di sekeliling yang sejatinya sudah biasa terlihat dan terasa, tetapi maknanya seringkali tertinggal. Sebagaimana kalamullah yang setiap hari dilantunkan oleh lisan; yang betapa banyak sekali mata dan hati ini lalai untuk mencoba memaknainya, yang seharusnya dapat dilakukan lewat terjemahnya, bukan?
Baiklah, kali ini aku ingin menuliskan hasil berpikir tentang mengapa seseorang bisa menjadi tidak baik; berkata buruk, berperilaku buruk atau memiliki kebiasaan buruk.
Barangkali sudah maklum bagi aku, juga mungkin kalian, bahwasanya seseorang menjadi tidak baik biasanya terjadi sebab ia tumbuh dari lingkungan yang tidak baik; orang tua yang bercerai, broken home, lalu berakhir dengan pertemanan yang tak mengenal batas, yang mana disitulah ia mendapatkan kebebasannya. Dari dulu ini yang kupahami, termasuk saat beberapa waktu lalu mendapat tugas dari dosen fiqh untuk membuat bahts mengenai dampak thalaq bagi perempuan, anak-anak, keluarga, juga masyarakat muslim. Siklus di atas sudah terhafal, bahkan barangkali sejak SMP, saat belajar pelajaran PKn.
Lalu, pembahasan yang barangkali sering diangkat selanjutnya adalah bahwa penyebab orang tadi stres, lalu berperilaku buruk adalah lemah imannya; ia kurang dekat dengan Allah. Kupikir iya, ini memang suatu faktor yang tidak lah salah, tapi tak sepenuhnya tersebab faktor ini. Ada faktor-faktor lainnya yang membuat seseorang jauh dari Rabbnya, yang kemudian menjadi manusia yang tak baik tadi.
Sesuatu yang membuat nyaman, barangkali inilah yang biasanya menentukan seseorang -sebut saja- menjadi baik atau tidak. Sebab, setiap orang pasti mengalami ujian juga berbagai tekanan, maka menemukan 'tempat pelarian' agar merasakan kenyamanan adalah suatu hal yang pasti jadi pilihan insting semua manusia.
Anak yang maniak game, sampai melupakan belajarnya; mahasiswa yang kecanduan drama korea atau apapun sampai meninggalkan tugas-tugas kampus; pecandu minuman keras yang menelantarkan keluarganya: biasanya mereka adalah orang-orang yang memiliki berbagai tekanan dalam hidupnya. Sebab merasa tak kuat, mereka kemudian berlari, lalu menemukan pelarian berupa oase di tengah gurun. Mereka girang, meski sebenarnya di dalam hati terdalam mereka tahu bahwa tempat itu hanyalah sebuah fatamorgana.
Mereka berlari, meninggalkan kenyataan yang sayangnya tak akan pernah menjadi lebih baik, bahkan memburuk dengan pelariannya itu. Dan meski hanya semu dan sementara, mereka tetap menikmati tempat pelariannya, sebab di situlah 'kebahagiaan' dapat mereka rasakan.
Dan di sinilah perbedaannya, tentang seorang yang sama-sama memiliki tekanan hidup, tapi menemukan tempat pelarian yang tepat. Tempat berlari, mengadu, dan beruntungnya; mereka pun mendapat penguatan, kemudahan, bahkan solusi dan jalan keluar. Ialah mereka, yang hidup dalam tekanan, tapi punya kawan sholih yang mengingatkan pada Rabbnya. Sebab, dengan 'berlari' pada-Nya lah, kebahagiaan sesungguhnya akan tetap dapat lahir, meski dikungkung oleh berbagai kerasnya ujian.
Maka, memang sungguh kasihan, orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan ujian dan kesusahan, sedangkan tak memiliki tempat untuk menangis, mengadu dan bergantung. Sebab, apalah daya bergantung pada diri sendiri, atau orang lain yang sama-sama manusia, yang memang dasarnya lemah dan tak mampu berbuat banyak? Dan sungguh beruntung, orang-orang yang setiap napas hidupnya, ia bergantung pada Rabbnya yang Maha Kuasa.
Sebagaimana pernyataan yang sering aku temui saat melihat video para muallaf yang baru memeluk islam, sebagian besar mereka selalu berkata: andai kawan-kawanku yang lain mengetahui islam dan juga mengakui Allah sebagai Rabbnya. Hati mereka membuncah, dan dengan senang hati menjadi duta yang mengajak saudaranya untuk mencicipi kebahagiaan.
Terakhir, baik aku dan kamu, semoga kita sama-sama selalu berlari ke tempat pelarian yang tepat di atas berbagai tekanan dan ujian yang memang jadi pewarna kehidupan. Pun, semoga; dapat menjadi seseorang yang menunjukkan pada mereka yang kehausan untuk mengambil air di oase yang sesungguhnya. Wallahu a'lam.
(15/03/21)