Dear Tuhan, kutahu, seharusnya kuyakini dengan mutlak beribu-ribu kali bahwa Engkaulah penulis skenario paling handal dan pengeksekusi takdir paling canggih.
Tak ada sedikitpun yang terlewat pada tiap-tiap potongan kejadian yang memang harus atau tidak terjadi. Tidak ada sedikitpun salah pada jawaban pilihan berganda yang Kau centang untuk setiap cerita kehidupan hamba-hambamu yang beriman maupun ingkar. Tidak ada satupun tanda baca yang luput Kau sertakan pada skenario yang Kau tuliskan, tidak tanda tanya, seru, koma, maupun titik yang alpa Kau goreskan. Tidak ada cacat dan tidak ada celah ketidaksempurnaan jika segalanya adalah berhubungan dengan Engkau. Mutlak sudah: sempurna.
Aku saja yang tak pandai menerjemahkan kode-kode yang Kau kirim melalui semesta. Aku saja yang alpa meneliti tiap hikmah dari banyak peristiwa. Aku saja yang kebanyakan bertanya tanpa giat mencari jawabannya.
Dear Tuhan, kutahu, seharusnya kuyakini dengan mutlak beribu-ribu kali bahwa Engkaulah penulis skenario paling handal dan pengeksekusi takdir paling canggih.
Hamba macam apa yang mengaku beriman tapi tidak menjejakkan Haqqul yakin di lubuk hatinya yang paling dalam?. Meminta dan ingin menjadi yang dekat dengan ketenangan namun enggan diuji sebagai pembuktian. Mana bisa naik kelas tanpa melahap lembar-lembar ujian dengan benar. Dikira mudah?. Mana bisa disamakan yang berjalan santai dan yang memacu langkahnya dengan cepat. Bukan, bukan sebab ingin cepat sampai tapi karena semangat yang kadung melekat dalam hibat, semata-mata yakin akan Tuhannya bahwa yang berusaha tak akan pernah disia-sia.
Dear Tuhan, kutahu, seharusnya kuyakini dengan mutlak beribu-ribu kali bahwa Engkaulah penulis skenario paling handal dan pengeksekusi takdir paling canggih.
Diri ini bukanlah hamba-Mu yang sholehah. Bukan pula hamba yang tak luput dari semua salah dan cacat. Sudah ditelanjangi diri ini berkali-kali agar insyaf pada apa-apa yang menjadi perintah dan larangan, namun masih saja ingkar menyengaja. Hati ini sudah berkali-kali diamputasi sebab meletakkan harap dan tempat bergantung selain Engkau, padahal nyata-nyata sudah tersurat dalam kitabmu "Allahussamad". Jiwa ini sudah berkali-kali dianiaya diri sendiri sebab dengan lancang telah berani berprasangka buruk pada kepingan-kepingan takdirmu, tanpa menganalisa lebih hati-hati pesan apa yang hendak Engkau sampaikan.
Tuhan, kalau sebenarnya telah Engkau bukakan jalan yang begitu luas bagiku tanpa aku harus repot-repot menebas semak dan belukar, namun aku tidak sadar, mohon ampuni aku. Kalau sebenarnya telah Engaku limpahkan kemudahan dan pertolongan di setiap fase namun tidak aku manfaatkan dengan baik, mohon ampuni aku. Untuk dosa-dosa yang melebih buih di samudra pasifik, untuk salah-salah yang melebihi pasir di gurun sahara, untuk keluh kesah yang melupakan syukur, untuk air mata yang melupakan senyum dan tawa, untuk doa-doa yang keterlaluan dipanjatkan, untuk apa-apa yang tak mampu kutuliskan satu persatu, sebab Engkau lebih tahu, ampuni aku.
Bersama kata yang pengucapannya terbata-bata, abjad yang tulisannya sulit kueja, dan pinta yang gempurannya tak kenal masa, kuletakkan mimpi-mimpi, cita-cinta, harap-asa, keyakinan, dan segala-galanya pada genggaman tangan-Mu, penulis skenario paling handal dan pengeksekusi takdir paling canggih.