Menata kata Menata rasa Menata diri Menata hati Menata waktu Menata yang dituju Semoga tertuju padamu Seseorang pencipta marah, juga rindu.
we're not kids anymore.
DEAR READER

★
Sweet Seals For You, Always

PR's Tumblrdome
art blog(derogatory)

ellievsbear
hello vonnie
todays bird
Three Goblin Art
tumblr dot com

Kiana Khansmith
AnasAbdin

⁂

No title available
Mike Driver

tannertan36

oozey mess
noise dept.

Kaledo Art
seen from Bosnia & Herzegovina
seen from Algeria
seen from Argentina
seen from Russia

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Mexico
seen from Colombia

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from France

seen from Iraq

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Germany
@aksarabirunika
Menata kata Menata rasa Menata diri Menata hati Menata waktu Menata yang dituju Semoga tertuju padamu Seseorang pencipta marah, juga rindu.
Jakarta...
Di sini kau bisa jatuh cinta dan patah hati sama cepatnya. Hidup terasa begitu menyenangkan. Ada renjana tumbuh di dalamnya. Tawanya masih ingin kupeluk jauh lebih lama dari biasanya. Namun, lagi-lagi Tuhan membuyarkan lamunan indah Cinderella. Lagi-lagi seperti diajak bercanda oleh rasa. Jeda hadir tiba-tiba. Kemudian muncul pertanyaan; kembali atau berhenti?
Mungkin kau tidak sepertiku, Yang terbiasa mengungkapkan segala ketika rindu. Mungkin kau tidak sepertiku, Yang seringkali tak kuasa menggenggam keresahan. Yaa...kau jelas tidak sepertiku, Yang tak berani menyuarakan isi hati.
Pertemuan Pertama Kami...
Enam November Dua Ribu Dua Puluh Satu ada sebuah acara di bawah Jembatan Ciliwung GDC, pertemuan itu ada.
Awalnya seorang teman dari Makassar akan tampil di acara tersebut. Gue datanglah sebagai bentuk apresiasi, walau begitu banyak ketakutan atas ketidaknyamanan gue akan keramaian. Sore itu langit udah gelap mau hujan deras, beberapa kali mikir berangkat atau ngga. Tapi lagi-lagi bentuk apresiasi kepada teman yang bertemu di perjalanan, akhirnya gue dateng.
Tiba di bawah jembatan gue telp temen gue itu. “Di mana Cik? Gue udah sampe Ciliwung nih.” “Lagi di Omah nih kak. Sebentar yaa, ambil barang dulu.” “Oke.” - tutup telepon.
Sambil nunggu teman, gue liat foto-foto yang dipamerkan di tempat itu. Gue kan emang sebenernya suka bangeet ke pameran lukisan atau foto, walau ngga ngerti yaa. Tapi yaa suka. Titik. Ketika gue liat-liat, gue didatangi seorang laki-laki. Yes, he is Paman Jon. Sebelumnya gue pernah dengar cerita, kalau orang ini yang ada di balik kitchen Omah. Peramu masakan yang ngga pernah failed, katanya
“Jon.” ”Ohh ini yang namanya Paman Jon, yang kalo masak enak terus.” ”Masa iyaa?” Saat itu gue hanya menganggap seorang tuan rumah yang menyambut tamunya. Sampai gue dengar cerita dari seorang teman, kalau setelah perjalanan itu dia gagal menikah setelah pacaran 9 tahun. Wow, menarik nih. Bukan statusnya, tapi lebih kepada ceritanya.
Berawal dari ketertarikan itu, gue follow instagramnya. Sampai dia respon dan follow back. Dari situ cerita kami dimulai, setidaknya itu menurutku.
To be continue.....
Desember 2021
Tanggal Lima bulan Desember 2021 dititipkan Paman Meramu Cerita. Sadar benar akan menjadi sebuah ‘ujian’ yang baru. Tapi juga menjadi alasan tertawa yang masih ingin kupeluk lama-lama. Semoga kini hingga mati selalu dimampukan untuk jadi teman diskusi, teman tumbuh, dan berbagi kenakalan. Aamin yang kencang.
Kenapa?
Dari sekian banyak “kenapa?” dalam hidup, ada satu hal yang sampai saat ini belum saya dapat jawabannya. “Kenapa seorang saya yang lemah, saya ngga bisa mengendarai motor/mobil, saya yang takut sendiri, saya yang butuh teman cerita atau diskusi, belum juga mendapat pasangan hidup di usia kepala 3 ini?” Kenapa saya masih dibiarkan sendiri menghadapi kesulitan hidup? Tuhan punya rencana apa buat saya? Punya rahasia apa? Sedang menyiapkan apa? Atau sedang menghukum saya atas begitu banyak salah yang pernah saya lakukan?
Mencari itu seperti bernapas. Harus dan terus menerus.
Aku mencari seseorang yang jika aku tanya, “apa alasanmu mau menikah denganku?” Jawabnya, “karena aku mau kamu yang nemenin aku ngobrol, tidur, seneng bareng, susah bareng sampe tua.”
Namun, bagaimana jika lelah? Bolehkah menunggu saja? Karena sudah terlalu lelah mencari. Tapi beberapa kali aku membayangkan akan datang laki-laki seperti itu, menyenangkan sekali rasanya.
Self Motivation
Capek ngga sih? Iyaa. Banget. Sedih ngga? Iya.
Banyak rencana berantakan sejak tahun lalu. Masalah-masalah kecil tiba-tiba kayak bom waktu, meledak. Sepertinya akan melewati dengan baik-baik aja, nyatanya ngga gitu. Belum lagi mesti berhadapan dengan berita duka, hoax, orang-orang denial, kerjaan yang mesti selesai tanpa peduli suasana hati lagi baik-baik aja atau ngga, laki-laki yang ditanya “apa kabar?” jawabnya “ne, kangen tau.” Dihh apaan sih lo, dan beragam ke-tai-an lainnya.
Tapi kemudian gue inget-inget lagi....
Sholat 5 waktunya belum bener. Belum nyobain kolam renang kantor. Masih pengen ke Ende sama Tanjung Puting. Spageti sama coffee creamy’nya Dina, masih enak. Es kopi susu keluarga’nya Family Mart masih terbaik dan murah. Indomie rebus Amie Jaya yang enak. Masih pengen tidur di bobobox sama oma & okki. Paspor yang gue bikin Januari 2020, belum kepake. Padahal mimpinya cuma pengen ke Vietnam. Belum selesai ngomongin sebuah film Eps.3 menit ke-20 sama si Jablay. Masih mau main ke sawah lagi sama Inggih, Arman, Iva. Masih punya janji sama Mba Kadek mau main ke Bali, terus ke Toya. Belum ketemu Shannon sama Chelsea. Masih punya janji ke Jogja sama emak. Masih betah ngeliat keributan di twitter. List film di Netflix masih banyak yang nangkring, belum sempat ditonton. Sebagai anak Jakarta Selatan, pengenlah nongkrong di Mbloc.
Jadi ngapain gue sedih berkepanjangan?
YOK...Percaya banyak hari baik kelak!
Bukan Sekadar Catatan Kaki
No one step closer, i guess. It’s our long journey. Sadar benar bahwa akan banyak rasa suka dan duka yang hadir di perjalanan panjang kami ini. Mohon doanya yaa teman-teman, semoga segala kemudahan dan kesulitan tidak membuat kami lupa untuk tetap berdampingan. Doakan kami bisa tumbuh dalam satu dekapan, sampai jadi debu.
===============================================
Tuhan, Entah tulisan di atas Kau anggap catatan kaki biasa atau doa. Kalau Kau tanya bagaimana aku, aku akan jawab itu doa. Harapan yang kutitipkan pada-Mu seumur hidupku. Tak ingin lagi keras kepala untuk meminta pasangan hidup. Sungguh aku yakin benar, Kau pemilik hidupku. Kau sungguh tau apa dan siapa yang terbaik, yang aku butuhkan.
Yakin benar bahwa kecewa akan jadi teman, ketika menaruh harap pada manusia lain. Berkali-kali mencoba berdiri, tanpa menaruh harap di tubuhmu. Berkali-kali juga aku gagal. Lagi-lagi kecewa jadi teman.
Pergilah, ruangannya sudah kubuka. Kelak suatu hari kamu merasa hidupmu terlalu ramai dan ingin menepi sebentar atau mungkin ingin menceritakan resahmu, silakan coba datang ke ruang itu lagi. Semoga aku masih berdiam diri di sana. Kalaupun aku sudah tidak ada di sana lagi, aku percaya kamu akan selalu baik-baik saja. Karena aku percaya kamu tidak pernah merasa kehilangan hadirku.
Singkatnya begini, Kita berada dalam satu ruangan yang terkunci. Berdua. Kunci saya yang pegang. Sedang di luar sana banyak yang mengetuk, memanggilmu. Riuh.!! Bisa jadi di luar sana ada orang tuamu, ada teman terbaik untuk diskusi, atau mungkin yang kelak menjadi gurumu, bahkan jodohmu. Betapa jahatnya saya kalau saya tetap menahanmu di dalam ruangan bersama saya.
So, do anything what makes you happy. Dont worry about me, okay?
Semoga kelak kamu menemukan kembali rumah yang nyaman untuk memulangkan segala peluk, cerita, dan resahmu.
Untukmu yang Belum Kukenal, tapi Sudah Kuhormati
Dear Ibu yang melahirkan laki-laki yang kukagumi dan kusayangi sepenuh hati...
Kalau saya ceritakan tentang perkenalan dengan anak Ibu yang satu itu pasti akan sangat panjang. Singkatnya, saya mengagumi dia dari pertama kali kami komunikasi dengan sangat singkat tapi intens. Kami berbagi cerita hidup, yang tidak saya dapat dari orang lain. Saat itu dia adalah sebuah nyala dalam hidup saya. Hangat...
Setelah pertemuan pertama, entah rasa apa yang membawa kami pada sebuah hubungan yang serius. Kemudian seiring berjalannya waktu, kami berencana untuk hidup bersama. Sejak hari itu saya selalu minta sama Tuhan untuk menjatuhkan hati padanya. Untuk melancarkan dan melindungi hubungan kami. Tapi Tuhan hanya memberikan waktu 20 hari untuk kami berada dalam satu dekapan. Hanya 20 hari kebahagiaan menaungi hati kami, sampai akhirnya saya tahu bahwa bukan saya tujuan terakhirnya.
Sedih hati saya. Tapi hati saya akan lebih sedih kalau tahu dia tidak baik-baik saja. Saya menghormati dan menghargai segala keputusan dia dan Ibu.
Bu, bisakah Ibu memastikan dia bahagia dengan seseorang yang menurut Ibu baik dan pantas?
Lagi-lagi...
Belajar melupa atas bahagia yang tidak bertahan lama. Belajar menerima atas tawa yang kian kadaluarsa. Belajar menikmati luka yang tak kunjung reda.
Kita Beda!
Ketika seorang laki-laki berpamitan pada perempuannya yang sedang bermalam di sebuah kamar hotel. Her: “Yakin mau pulang?” His: “Iyaa ahh, gue pulang aja.” Kemudian peluk dan cium berjelaga di antara mereka. Her: “Bisa ngga sih sekarang waktu berhenti 10 menit aja?” His: “Ngga bisa lah. Kenapa? Lo suka?” Her: “Kalo gue ngga suka, ngga akan nih kaya gini. Besok belum tentu bisa kaya gini. Belum tentu lo inget sama malam ini. Belum tentu gue berani untuk hubungin lo lagi. Setelah lo balik dari pedalaman, belum tentu ada nama gue lagi di phonebook atau pikiran lo kan.” His: “Tapi kita.....” Her: “Sstt. Gue ngga berharap hubungan ini beranjak kemana-mana. Ngga perlu ada yang diperjuangkan. Kita beda. Ada baiknya tetep kaya gini aja, biar ngga nambah beban pikiran.”
*Beberapa hari kemudian malam itu hilang dan benar-benar terlupakan.
Tentang Hilangnya Empati
Pernah ngga kagum dan jatuh cinta sama orang yang satu passion. Suka ke galeri seni/museum, suka ke perpustakaan, suka baca, suka nulis, suka nonton film, bahkan akan bela-belain nonton film Indonesia di bioskop, suka travel juga. Gue pernah.
Pernah ngga kagum sama orang sebelum ketemuan sama orang itu dan kagum itu ngga berubah saat ketemu? Gue pernah.
Pas ketemu, orang yang lo kagumi itu ternyata suka sama lo juga. Pernah? Dan dia mau hubungan itu ngga cuma sebatas teman. Gue pernah.
I've been there!
Saat itu yang gue mau cuma dia. Gue ngga peduli masa depan gue nanti gimana. Gue bahagia bisa jadi bagian dari perjalanan hidupnya. Gue bahagia buka mata lihat notifikasi dia di hp. Walau isinya “Hei, gue tidak bersinyal dulu yaa.”
Saat kebahagiaan itu sedang membuncah, tiba-tiba dia memutuskan untuk pergi. "Depends on you.", dia bilang.
Gimana bisa ada dua orang yang ada dalam satu hubungan, tapi menyerahkan satu keputusan penting di satu orang.
Akhirnya gue milih nyerah atas hubungan yang mungkin sudah tidak dia kehendaki.
Sampai suatu hari dia kembali ke Jakarta, kami berusaha mencoba untuk kembali. Nyatanya ngga bisa, dia bilang, "we are not on the same page again."
Saat itu rasanya ingin lari sejauh-jauhnya, sekencang-kencangnya. Sekarang gue udah lari sangat jauh.
Gue hindari tempat-tempat yang pernah kami singgahi. Rasa yang ada hanya ketakutan. Padahal tempat-tempat itu sumber kebahagiaan gue waktu sebelum dia ada. Dia ngga cuma sekadar pergi, dia hilangkan pertemanan kami.
“Dear Kamu, aku ngga pernah sedikitpun berdoa yang ngga baik buat kamu. Tapi untuk kehilangan yang kamu hadapi bulan lalu, maaf aku ngga punya empati sedikitpun untuk itu.”