Waktu pun tak sanggup mengikis jejak-jejakmu. Sama sepertiku, yang tak mampu menghapusmu dari ingatanku. Sungguh hanya Tuhan yang tahu, mengapa hadirmu yang sekejap menjelma selamanya di hidupku.
hello vonnie
d e v o n
TVSTRANGERTHINGS

Product Placement
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

roma★

@theartofmadeline
🪼

JBB: An Artblog!
h

祝日 / Permanent Vacation
Cosimo Galluzzi
Today's Document
No title available
DEAR READER
Peter Solarz
$LAYYYTER

★
Lint Roller? I Barely Know Her
macklin celebrini has autism
seen from Spain

seen from China

seen from Australia

seen from Poland

seen from T1
seen from Türkiye

seen from Italy
seen from Japan
seen from Brazil
seen from Taiwan
seen from Brazil
seen from United States
seen from South Korea
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@aksaragadissenja
Waktu pun tak sanggup mengikis jejak-jejakmu. Sama sepertiku, yang tak mampu menghapusmu dari ingatanku. Sungguh hanya Tuhan yang tahu, mengapa hadirmu yang sekejap menjelma selamanya di hidupku.
Sepasang mata yang menatapku dari balik kaca mata hitam itu membuatku kembali mengeja m.a.s.a l.a.l.u
Aksara ke-18
Bahkan setelah perpisahan yang tidak baik-baik saja saat itu, aku masih menitipkan satu pesan padamu. Bahwa jika suatu saat nanti kisah barumu ini berakhir, jangan pernah ragu untuk berlari ke belakang, ke tempat di mana aku kau tinggalkan. Karena telah kujanjikan bahwa aku tak akan pernah beranjak dari sana. Aku akan menunggumu, dan bersedia menjadi tempatmu pulang (lagi). Tak apa. Cari aku sekali lagi.
Aksara terakhir.
#2
Meski nyaman dalam genggaman, payung itu lepas terhempas angin, tanpa aba-aba meninggalkanku sendirian bersama dingin dalam sedu sedan yang tak pernah kuingin.
Kutahu, aku tak boleh sembap, apalagi hingga terjerembab lagi dalam gegap yang pengap. Maka kukuatkan segala kerapuhan, dan mulai menikmati hujan yang tak lagi terasa bagai tikaman.
Ya, lambat laun aku berkawan dengan hujan. Aku piawai dalam berdamai dengan hujan yang dentingnya kini mulai terdengar bagai dawai. Aku berdiri, perlahan berlari, sampai akhirnya aku menyadari aku sanggup menari di bawah rintiknya.
Hingga akhirnya semesta menuntunku pada sebuah payung yang tak megah, namun ia teduh. Tak selalu kuat, tapi tetap bertahan, tak tergoyahkan. Dan di sana lah, di bawah naungannya, mantap kuputuskan untuk menetap, menghadapi setiap badai yang akan menerpa, bersama-sama.
Sekali lagi, ini tentu bukan tentang sekedar payung.
Ternyata alasannya sederhana. Yang lain melihatku lebih dulu. Sedangkan denganmu, aku lah yang sedari awal melihatmu lebih dulu, bahkan jauh sebelum kau mulai melihatku. Terjawab sudah, mengapa kemelekatan itu begitu kuat..
Waktu itu, semesta seolah menuntunku untuk menemukan jejak-jejakmu, mempertemukanku denganmu pada sebuah ketidaksengajaan yang tak pernah terpikirkan, pada senja kala itu. Namun belakangan ini, semesta seolah berubah pikiran. Ia seakan berusaha menghapus jejakmu, yang berhasil kutemukan setelah sekian lama. Membuatnya samar, kian pudar, hingga hanya menyisakan sesak yang berusaha kutepis dengan helaan nafas yang panjang, dan tentu saja, dalam.
Langit abu yang menggantung kali ini membawaku kembali pada sore itu, saat mendung bergelayut manja di angkasa, memaksamu mengantarkanku kembali pulang meski hati berkata sebaliknya. Enggan.
Di sepanjang perjalanan pulang sore itu, gerimis mengiringi, sejalan dengan canda tawa selama roda melaju di atas jalanan. Rintik air satu dua mulai turun, membuatku diam-diam berharap agar di suatu tempat, perhentian manapun, di bawah rindang pohon, atau apapun itu, laju sejenak terhenti untuk sekedar berteduh, memperpanjang waktu bersamamu karena begitulah inginku. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Laju kian terpacu hanya agar hujan tak membuatku basah kuyup. Begitulah logikamu, yang berlawanan dengan perasaanku.
Mendung kala itu, menjadi pengantar perjalananmu denganku, yang entah bagaimana menjadi pertemuan terakhir yang tak pernah kau dan aku rencanakan. Dan mendung kali ini, saat aku menulis semua ini, seolah menjadi pengantar perjalananku untuk kembali menyusuri suatu sore di masa lalu itu, dan membuatku kembali merindu padamu yang masih hidup sebagai masa laluku.
Aksara ke-18
Seringkali aku telat menyadari bahwa sebagian besar yang terjadi dalam hidupku ini adalah perwujudan dari kata-kata yang sempat kulangitkan. Pun saat aku harus menelan pahitnya dihianati. Aku lupa, bahwa aku sendiri lah yang memintanya pada Tuhan. Jika bukan dia yang terbaik untukku, maka pisahkanlah dengan caraMu, dengan cara yang tak mungkin membuatku kembali lagi kepadanya yang bukan takdirku. Dan terjadilah demikian. Namun beberapa waktu aku lupa dan justru menanyakan pada Tuhan mengapa harus berpisah dengan cara yang menyakitkan seperti itu. Penghianatan. Yang tak pernah terpikirkan sama sekali. Olehku. Tapi pada akhirnya aku sadar, jika tidak dengan cara demikian, mungkin saja aku masih memohon untuk kembali. Mungkin saja harapan-harapanku tak mati-mati. Tuhan Maha Tahu, mungkin itulah satu-satunya cara untuk memisahkanku dari hubungan yang tak akan berlabuh pada kesakralan ikatan. Pada awalnya aku sungguh sering menuntut Tuhan dengan deretan kata mengapa. Seiring waktu berlalu, seolah Tuhan jengah dengan sikapku, Ia menjawab segala mengapa yang kutanyakan dengan memberiku pemahaman yang sangat sederhana: semua itu adalah jawaban dari doa-doaku sendiri.
Ternyata ini semua hanya tentang mereka,
Yang pernah dibantu,
Yang selalu dibantu,
Yang dibantu,
Dan aku,
Yang tak pernah dibantu,
Sejak dahulu,
Selalu begitu,
Namun tak apa,
Setidaknya,
Sekiranya mereka tak pernah membantuku,
Ada Dia yang selalu ada untukku, membantuku
100125
Waktu-waktu yang ada di depan bukan punya kita. Garis takdir yang malang melintang dan menghadang di depan sungguh tak kasat mata. Entah pada titik mana lagi garis takdir antara kita akan bersinggungan, saling berpotongan hingga membentuk suatu titik lagi seperti pada masa lalu. Kita sungguh tak pernah tahu. Maka dari itu hanya akan kujalani hidupku sebaik-baiknya. Kunikmati setiap detiknya. Kusyukuri setiap garis takdir yang dibentangkan untukku karena aku tahu dan percaya, itulah yang terbaik. Untukku. Untuk kita.
#1
Payung yang kupegang erat itu pernah direnggut dari genggamanku. Meskipun telah kucoba menahannya, menautkan jari jemari seerat mungkin hingga membuat buku-bukunya tersayat, tetap saja ia lepas. Meninggalkanku bersama tampias yang menghempasku, disusul deras yang kian melibas.
Hilang sudah pegangan yang selama ini mengisi telapak, ia mendadak kosong. Hilang pula kekuatan tapak, tak lagi mampu untuk menyokong. Aku limbung tak karuan di bawah deraian hujan, meraung hingga bergaung, namun teredam oleh hujan yang tak kunjung padam.
Hatiku membiru, pucat pasi namun enggan mati. Di saat kuyup memelukku erat di bawah pelukan hujan, kuberanikan menengadah sejenak agar tetesan hujan dan tetesanku beradu. Lalu tetiba kulihat sebuah payung berada tepat di atasku. Menaungiku dari basah yang masih tumpah, dari hantaman air yang masih berjatuhan.
Kemudian kuraih perlahan payung itu dengan tanganku. Kusentuh pelan untuk meyakinkanku bahwa buku-buku jariku akan aman bila menggenggamnya. Dan nampaknya memang benar. Sungguh terasa nyaman memilikinya dalam genggaman.
Sejak saat itu, basah tak lagi membuatku resah. Segalanya padaku berangsur mengering seiring waktu. Meskipun di luar sana hujan masih menerpa, tapi aku tak lagi merasa hampa. Ada sesuatu dalam genggamanku. Tempat jemariku bertaut dan tak lagi kalut.
Tapi sayangnya, kisah ini bukan tentang payung atau jari-jemari. Bukan pula ia tentang hujan. Namun tentang sebuah kenangan yang terkadang masih membayang. Karena meskipun waktu telah jauh bergulir ke depan, apa yang pernah terjadi di belakang nyatanya tak benar-benar sirna dari ingatan.
Dulu, bagiku, perempuan itu adalah hantu yang tak kenal waktu. Siang hari pun ia terang-terangan tertawa tanpa memikirkan perasaanku, perempuan yang ia deraskan air matanya, yang ia hancurkan asanya, yang ia hantui siang dan malam dalam waktu yang cukup lama, yang ia sayat hatinya saat ia mencuri cinta pertamanya, hingga mereka akhirnya berbahagia bersama tanpa mau tahu kehancuran macam apa yang telah mereka tinggalkan padanya.
Kini, baginya, mungkin aku adalah hantu dari masa lalunya. Yang mulai hadir menampakkan diri dengan wujud terbaikku, yang mungkin baginya justru nampak menyeramkan dan mengancam dunianya saat dia tahu bahwa beberapa waktu lalu pertemanan mulai terjalin lagi setelah lama kuabaikkan, dan mungkin seketika hal itu membuatnya sadar bahwa begitulah dulu awalnya ia menjadi hantu dalam hidupku, bahwa ia takut aku akan menjadi sepertinya yang dulu, namun dia lupa, aku bukanlah dia. Tak akan jadi sepertinya.
Belasan tahun telah tertempuh. Kupikir sudah barang tentu luka itu sembuh. Ternyata meski sang waktu memang bisa menyembuhkan, nyatanya lukaku tetap membekas utuh. Ya, aku masih rapuh.
Rasanya tak akan pernah kulupa. Dia yang hadir saat aku diselimuti getir, tertunduk sendiri mengais serpihan hati yang mati, menata kembali harapan yang dicampakan, berserakan. Saat tawa mereka seolah mengejekku, berbahagia tanpa rasa bersalah di atas air mata yang tumpah ruah tanpa serapah, dia ada di sana, berusaha menyapaku yang kalut hilang arah. Bagaimana bisa kulupa? Dia yang menyelamatkanku dari sepi yang kuratapi, dari hari-hari yang enggan berlari, berjalan lambat kian menyiksa diri. Dia sungguh ada di sana, pada masa hampa yang tanpa asa, membangkitkan kembali timbunan rasa, mengukir ulang tawa usang yang telah binasa. Meski akhirnya tak bersama selamanya, namun tak kan mungkin kulupakan hadirnya di saat titik nadir terendah memelukku tak berjeda. Tak kan bisa kulupa perannya dalam kisah hidupku pada masa yang tak pernah mudah bagiku.
Semesta seolah sengaja menghambat langkahku sehingga membuatku tertambat di tempat itu. Dan untuk kali ke dua ia mempertemukan pandangku denganmu. Pada tatapan yang saling bersirobok beberapa detik itu, kita saling mengenali satu sama lain, namun sungguh terasa asing. Entah apa yang melintas di pikiranmu saat kita saling beradu tatap, tetapi padaku, kisah lama kita seolah kembali diputar ulang dalam kilas balik secepat kilat. Menghangatkan perasaan sekaligus menyisakan hampa yang tak terdefinisikan.
Jumat, kali ke dua
Aksara ke delapan belas
Semesta masih mempertemukan kita lagi, dan lagi. Dan, aku merasa ada sesuatu yang belum selesai di antara kita; sesuatu yang perlu diungkapkan.
@hardkryptoniteheart || 29/06/2024 || 18:00 ||
Bukankah setiap helai daun yang gugur akan diganti dengan semi baru yang lebih indah? Sama seperti ketika sesuatu diambil darimu, maka Tuhan akan menggantinya dengan hal lain yang lebih baik. Just believe in God. He has something better in return. Always.