My officemate. I’ll miss u guys. Thanks for everything. May Allah bless u all. Amin 😊🙏🏻
Koko tepen ngga adin?
Sade Olutola
Monterey Bay Aquarium

blake kathryn
No title available
Sweet Seals For You, Always
Cosmic Funnies
todays bird
KIROKAZE

#extradirty
Keni
RMH
trying on a metaphor

Andulka

❣ Chile in a Photography ❣

★
untitled

bliss lane
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

oozey mess
ojovivo
seen from United States

seen from Azerbaijan

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Canada
seen from Hong Kong SAR China
seen from France
seen from Spain
seen from Poland

seen from France

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Singapore
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
@aksirandom
My officemate. I’ll miss u guys. Thanks for everything. May Allah bless u all. Amin 😊🙏🏻
Koko tepen ngga adin?
Tak Malu
Seorang mantan menghubungiku hanya untuk meminta sesuatu. Dia mau aku menghapus semua posting di social media yang menyangkut dirinya. Dia bilang dia malu. Sebenarnya aku boleh tersinggung dengan kata-katanya. Dan benar, aku sempat bersedih karenanya. Segala apa yang aku lalui bersama teman, sahabat, keluarga, atau pun mantan, tentunya tidak semuanya membahagiakan. Tidak setiap hal dari mereka menyenangkan. Jika saja ia hanya berkata bahwa aku menyakitinya, maka aku bisa memahaminya. Tapi malu? Sepertinya aku adalah aib. Seperti dia tidak ingat bagaimana dia mengejarku. Seperti dia lupa bagaimana dia dulu memuja merayu. Kata malu, pantasnya bukan untuk aku. Tapi untuk lakumu. Aku, mantanmu. Pernah menjadi kekasihmu. Pernah begitu mencintai dan dicintaimu. Pernah sangat menyanjungmu. Aku, mantanmu. Sebelumnya, aku berdiri disampingmu. Menemanimu. Mengusir sepimu. Aku tak lelah bicara denganmu. Tak bosan tertawa bersamamu. Tak jemu menangisimu. Aku, mantanmu. Aku, yang kamu bilang membuatmu malu, bukannya tak sadar akan kurangmu. Bukan aku buta karena kilaumu. Aku hanya menerimamu. Baik saat aku dan kamu bersama, atau pun kini setelah kita menjadi mantan. Aku tak pernah malu mengingatmu sebagai kamu. Mantanku. Aku mungkin sempat marah padamu. Seperti juga kamu kepadaku. Aku ingin lupa. Tapi hanya ingin lupa dengan sakitku, bukan lupa dengan kenanganku dan kamu. Aku bukan ingin berlarut-larut mengenang masa lalu. Bukan karena itu aku tak mau menghapus semua posting tentangmu. Aku tak mau menghapus sejarah. Membahagiakan atau pun menyakitkan sajarah itu, aku memilih untuk menerimanya. Membiarkannya berada di tempatnya. Untuk mengingatkan aku. Bukankah selalu ada hal baik yang bisa kita ambil dari setiap kejadian? Aku tidak perlu merasa malu pernah mencintai orang lain, termasuk kamu. Darimu, dan mungkin mantan-mantanku yang lain, aku mendapat banyak hal. Aku belajar. Jadi, jangan berpikir terlalu berat soal alasan kenapa aku tidak mau menghapus posting tentangmu. Itu pun berlaku untuk mantan-mantanku yang lain. Tenanglah, aku tidak sedang jalan ditempat. Aku melanjutkan hidupku, sama sepertimu.
Untuk kamu...
Aku jahat! Begitu katamu. Kamu menyebutku begitu setelah aku melukaimu sekali. Sekali. Itu pun kulakukan dengan membuka lukaku sendiri. Coba kamu hitung! Berapa kali kamu membuat aku menangis? Berapa kali kamu membuat aku percaya lalu kecewa? Berapa kali kamu membuat aku menunggu dan terlupa? Berapa kali? Terakhir kali aku hanya memintamu untuk diam di tempatmu. Bukan di sisiku, tidak perlu terlalu dekat, tapi jangan terlalu cepat berlari menjauh. Kamu setuju. Apa kamu lupa? Aku terbiasa denganmu karena kamu. Kamu sendiri yang datang. Kamu. Mebuatku mengikuti semua ucapmu. Sebelum ada kamu, aku baru saja berusaha menyembuhkan lukaku yang dulu. Sebelum ada kamu, aku hampir saja kuat berdiri dengan kakiku sendiri. Tapi kamu yang bilang bahwa bersamamu pasti lebih baik. Bersamamu pasti akan lebih mudah. Katamu... Aku percaya pada semua kata-katamu. Lalu kamu membuat luka yang sama setelah itu. Dalam waktu yang singkat. Kamu tahu? Mungkin menurutmu aneh, tapi kamu benar-benar sukses menghancurkan aku. Kesalahanku hanya satu. Aku tidak mau hancur sendirian. Sering kali kita harus menghancurkan untuk membangun sesuatu yang baru. Begitu pikirku. Aku belajar dari ini. Dan aku pun mau kamu begitu. Belajar menghargai apa yang kamu miliki. Belajar tahu bahwa kamu tidak bisa seenak maumu datang dan pergi. Jika kamu yang bersalah begitu banyak, kenapa hanya aku yang harus hancur? Aku tidak lagi ingin menjaga citraku di matamu. Sekali ini saja, kamu harus lihat lukaku. Kamu harus tahu rasanya. Nanti, ketika waktu sudah membuat kita sama-sama dingin, kita akan tertawa mengingat hari ini. Nanti...
Dear Nia,
Saya baru saja melihat pesanmu via path yang juga kamu share via twitter untuk saya. Sayang kamu ga mention saya. But its ok. Biar saya jawab disini. Saya ceritakan dulu bagaimana awal kami kenal, bertemu, jadian, lalu berpisah. Biar clear. Saya dan arie kenal via tinder. Saya yakin kamu tau itu apa. Kalo ga salah inget, sekitar bulan november 2014. Lalu chat intens via line. Waktu itu dia minta ketemu, tapi karena saya harus ke lampung, akhirnya kita baru ketemu di awal bulan januari 2015. Dia mengaku single. Katanya terakhir pacaran bulan september 2014. Kita ketemu di plaza senayan. Di starbucks. Lalu lanjut makan d remboelan. Dari situ kita makin deket dan akhirnya jadian. Saya tidak pernah tau ada kamu. Kita pacaran kaya pasangan biasanya. Hampir ga pernah berantem. Sampai tiba2 dia mengakui sendiri statusnya sama kamu. Saya nangis. Karena dulu, waktu dia minta saya jadi pacarnya, saya sempat menolak dia. Tapi dia terus usaha dan maksa. Sampai saya luluh. Dia bilang, dia ga bisa lagi terus2an bohongin saya. Akhirnya kita putus. Ceritanya belum selesai. Setelah putus, saya dan arie usaha untuk tidak saling menghubungi. Tapi ada aja alasan yang bikin kita contactan lagi. Kita bahkan masih suka jealous2an terselubung. Kaya pas dia tau saya masih main tinder padahal saya ngakunya ke dia appkikasinya udah saya uninstall. Dia marah. Telp saya direject. Kebiasaan kita adalah, saya pasti telpon dia pagi2. Nemenin dia nyetir sampe dia nyampe kantor. Almost everyday. Kadang dia juga minta saya nemenin dia begadang kerja. Entah via telp, atau kadang video call. Dia sering nanya. "Kenapa sih kamu masih kaya gini ke aku? Padahal kamu tau aku gimana. Aku bejat tau. Aku juga ga pernah kasih kamu apa2. Kamu mau sampe kapan kaya gini?". Berkali2 juga saya jawab,"aku cuma sayang aja sama kamu. Ga ada alasan lain. Tapi aku juga ga lagi nungguin kamu. Aku mau nikmatin perasaan aku aja." Saya juga sering nanya ke dia soal perasaannya. Begini katanya, "kalo ga ada perasaan, mana mau aku angkat telpon dari kamu. Nemuin kamu. Setiap hari loh kita ngobrol panjang lebar. Semua pasti ada dasarnya. Aku sayang sama kamu. Cuma keadaannya ga mungkin." Kita terus saling komunikasi. Semua hal pasti saya ceritakan ke dia. Dia laki2 yg sangat rasional. Makanya saya suka berbagi apapun sama dia. Kita terus jalan kaya gitu sampai akhirnya saya pindah kerja. Di kantor baru, saya dekat dengan seseorang. Saya cerita ke arie soal ini. Ga secara gamblang awalnya. Tapi dia maksa saya untuk cerita detail. Dan setelah saya cerita, dia BT. Dia terus2an bawa nama si cowo itu di setiap obrolan. Dia datang ke kantor saya. Pas bulan puasa kemarin. Saya lagi ga puasa. Dan dia juga begitu katanya. Kita makan siang bareng. Ngobrol ini itu. Dan lagi, dia meledek soal cowo itu.(biar gampang, sebut aja namanya aji) Setelah pertemuan itu, kita masih kaya biasa. Telponan. Cerita2. Dan saya cerita soal aji. Dia suruh saya jadian. Tapi saya blm siap. Saya belum mau. Arie nanya, "kamu pernah pegangan tangan sama dia? Pernah ciuman?",saya jawab, ngga. Aji pernah cium kening. Udah itu aja. Arie ketawa nyinyir, "itu artinya kamu suka dia. Kalo ga, mana mungkin kamu mau jalan trus cium2 kening segala.". Saya diem. Mikir. Saya sendiri ga tau apa yang saya mau. Beberapa hari kemudian arie wa saya. Dia pamit. Intinya, dia bilang, "kalo kamu ga bisa tegas, biar aku aja yang tegas. Biar kamu ga sia2in kesempatan kamu." Semua contact saya diblock. Saya sedih. Marah. Dan saya ingat soal kamu. Saya sudah punya account kamu lama. Tp baru sekarang saya buka. Karena dulu, waktu pertama arie mengaku soal kamu, saya pernah janji, saya pasti akan balas. Pasti. Kali ini bukan untuk merebut dia. Kalo saya mau, saya ga mungkin hubungin kamu. Yang ada arie marah dan benci. Dengan buka ini, saya ga dapet apa2 kok. Tapi seenggaknya, arie, kamu, dan saya sama2 tau posisi masing2. Dengan kamu tau, aku tau kamu bisa maafin dia, tapi kamu ga akan lagi merasa secure. Soal dia mau mainin saya. Kalo dia mau, dia sangat bisa lakukan itu. Tapi dia ga lakukan itu. Dulu, waktu saya masih mikir saya adalah satu2nya, saya bahkan mau kasih "apa pun" yang saya pu ya buat dia. Kamu tau maksud saya. We almost did it. Tapi dia berhenti, dan bilang, "jangan, aku ga mau ngerusak kamu." Itu salah satu hal yang bikin saya jatuh cinta sama seorang arie. Dia menjaga saya. Silakan kamu telaah sendiri cerita ini. Kamu juga boleh konfrontir cerita saya dengan versinya. Boleh. Warm Regards, Me @e_paramita Cc: @den_niaa
Sorry is never enough
Kamu mengakui salahmu, lalu pergi. Padahal dulu kamu datang dengan memaksa. Siapa kamu? Untuk menerimamu aku harus berkompromi dengan diriku sendiri. Dulu, kamu bahkan bukan yang aku inginkan. Kamu bukan laki-laku yang aku lukis dalam mimpiku. Tapi aku menerimamu. Karena katamu, kita pasti bahagia. Karena katamu, kita memang harus bersama. Karena katamu, kita sama-sama suka. Katamu... Kamu harus tahu, bahwa setiap langkah yang kamu ambil pasti selalu beresiko. Seperti halnya saat kamu datang, begitu juga saat kamu pergi. Aku manusia. Aku mungkin kemarin bisa mengendalikan hati dan pikiranku. Aku bisa meredam marahku. Tapi aku tidak bilang bahwa itu selamanya. Kamu mengingkari janjimu, maka aku pun begitu padamu. Kamu harus belajar bahwa maaf saja tidak cukup. Setelah maaf seharusnya diikuti dengan penebusan. Bagaimana bisa kamu berharap aku dapat selalu memaafkan kamu lalu menelan sendiri akibat dari luka olehmu. Seperti kamu memintaku belajar untuk melepas kamu, aku pun meminta kamu belajar hal yang sama. Kamu harus melepasku. Melepaskan aku yang dulu. Aku bukan lagi perimu.
Dear You,
Aku marah. Waktu kamu bilang kita harus sama2, aku bilang aku ga bisa. Lalu kamu terus bilang kalo kamu berbeda. Kamu bilang kita pasti bahagia. Dan aku akhirnya percaya. Setelah itu kamu pamit. Udah ada orang yang menunggu kamu. Lucu! Aku terlalu baik katamu. Aku marah!
Masih
Saya masih bersedih. Sesekali rasanya seperti sudah tidak lagi merasa apa-apa. Tapi suatu ketika air mata begitu mulus tergelincir dari setiap sudut kelopak mata. Kesedihan ini masih karena dia. Yang sejak hampir 1 dasawarsa lalu saya anggap sebagai jelmaan malaikat. Nyatanya manusia tetaplah manusia. Seperti saya. Terkadang terlalu sembrono dalam menilai. Meyakini sesuatu hanya dari sedikit sudut pandang. Dia, nyatanya lebih dari malaikat. Dia manusia. Seharusnya saya berbahagia karena dia tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tidak hanya tampan, tapi juga sedang berjalan menuju kemapanan. Ya, saya pasti akan berbahagia jika saja saya melihatnya dari sudut pandang yang sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Saya ikut bertanggung jawab atas perubahan ini. Karena kemarin, saya pun menginginkan dan mengizinkan perubahan ini terjadi. Emosi dan kerapuhan yang menyerang membuat saya tunduk dan pasrah atas segala resiko pahit yang kini benar adanya. Sakit ini sebenarnya lebih karena rasa kecewa saya sendiri. Kesalahannya tak seberapa fatal. Karena kesalahan itu pun kami lakukan bersama. Hanya saja kami memiliki alasan berbeda. Inilah yang membuat saya jatuh. Saya bersalah karena membiarkan hati saya jatuh cinta terlalu cepat. Dia bersalah karena berpura-pura jatuh cinta. Saya sedih karena dari begitu banyak perempuan di bumi, kenapa dia memilih saya sebagai salah satu dari eksperimennya? Bukan saya i gin mengorbankan perempuan lain, atau merasa perbuatannya akan lebih legal jika dilakukan pada orang lain. Saya hanya masih tak bisa berfikir tentang betapa hatinya begitu dingin sampai seperti tak merasa apa-apa jika berlaku kejam pada perempuan yang ia sebut saudara. Saya bertemu dengan banyak lelaki yang menyukai permainan hati, tapi biasanya mereka hanya bermain denga orang-orang yang memang pantas diajak bermain. Saya? Saya terlalu serius jika soal hati. Dia tahu itu.
Manusia pasti sebenarnya selalu menyadari ketika berbuat salah. Masalahnya hanya berani atau tidak untuk mengakuinya.
Elokparamita
Bicara soal mantan
Tadi dia bilang bahwa saya sama dengannya. Kami bicara soal mantan. Katanya saya pun masih tidak bisa move on. Dia sembrono. Benar bahwa saya tidak akan pernah lupa. Benar bahwa rasa sayang itu mungkin masih ada. Tapi saya juga benar-benar menghargai setiap keputusan yang saya ambil. Saya menghargai itu sebesar saya menghargai dia. Betapa pun saya saat itu masih sulit untuk lupa, tapi saya akan sekuat tenaga menghindar. Bagi saya, perasaan memang penting, tapi saya harus mengingat bahwa bukan hanya saya saja yang punya perasaan. Dengan pilihan yang saya ambil, untuk bersama dia, artinya saya bertanggung jawab untuk mwnjaga setiap perasaan orang-orang yang terkait dalam hubungan ini. Saya pikir dia pun begitu. Sayangnya tidak.
Ketika kamu mengaku laki-laki, kamu juga seharusnya berani mengakui pilihanmu sendiri. Benar atau salah bukan intinya. Itu hanya prosesnya.
Elokparamita
Aku sanggup memaafkan kamu, tidak peduli sebesar apa pun salahmu. Jadi berbaik hatilah untuk tidak berbalik menyalahkan aku untuk melindungi dirimu.
Elokparamita
Salah satu ciri wanita sedang galau adalah dia jadi lebih sering buang air kecil.
Elokparamita
Mendoakan adalah cara mencintai yang paling dalam dan rahasia...
Elokparamita
Black and white
Allahu Akbar! ALHAMDULILLAH... Hari ini salah satu dari doa-doa saya terkabul. Setelah sekian lama saya bergulat dengan kebingungan dan dugaan-dugaan saya sendiri, akhirnya Allah memberi saya jawaban. Jawaban yang membuat saya bisa lebih mudah untuk melangkah. Tentang dia yang saya amat sayangi. Laki-laki baik yang sempat membuat saya begitu merasa cantik setiap hari. Beberapa waktu ini saya ragu-ragu untuk pergi. Saya terus menerus mencari alasan untuk tetap tinggal. Kebingungan pada masalah yang kami hadapi membuat hati saya naik turun. Lalu saya berdoa, "Tuhan, jadikan yang hitam menjadi hitam, dan putih menjadi putih. Jangan lg ada abu-abu." Doa itu sebenarnya mungkin langsung terjawab, tapi saya yang masih mencoba membutakan mata. Sampai datang hari ini. Saya tidak lagi menemukan alasan yang cukup baik untuk berpura-pura masih bingung. Seribu kali dia bilang pada saya, bahwa keyakinan saya kini salah. Tapi disaat yang sama dia pun tidak menahan saya untuk pergi. Dia mungkin punya alasannya sendiri. Untuk yang satu itu saya tidak perlu lagi mencari jawaban. Jika saya terus mencari pembenaran, permasalahan hati saya akan lebih repot untuk ditangani. Saya memilih untuk menerima. Saya percaya pada satu hal, Tuhan tidak akan membiarkan apa yang seharusnya menjadi milik saya menjadi milik lain. Begitu pula sebaliknya. Saya berdoa segala hal terbaik untuknya. Berharap dia pun begitu. Semoga Tuhan terus menuntun hati saya. Menuntun agar tidak lagi tersesat. Menuntun agar saya bisa terus menjadi positif setelah semua rasa sakit hati ini. Semoga penyakit-penyakit hati tidak bersarang di tubuh saya. Amien...
life circle
Satu lagi siklus hidup yang harus saya lewati. Siklus ini sudah pernah datang dulu, lalu berulang lagi sekarang. Fase dimana saya harus memulai kebiasaan baru lagi. Rasanya jelas tidak mudah, tapi pasti bisa terlewati karena kenyataannya dulu pun saya bisa mengatasinya. Meski luar biasa jatuh bangun, terseok-seok setengah mati.
Meski begitu, kali ini sejujurnya ratusan kali lebih berat. Beberapa bulan lalu ketika saya jatuh dan hmpir merasa tidak ingin lagi hidup, Tuhan memberi saya cahaya yang membuat hidup seperti tembok yang dicat ulang. Saya bangkit. Saya berdiri dengan bantuan tangannya. Tangan kokoh yang mau menerima saya meski harus membebaninya.
Ajaib. Setelah saya bahkan merasa hampir tak bernyawa, sekejap tubuh saya menjadi penuh energi kala itu. Tangan itu menjadi kekutan baru yang menghidupkan saya kembali. Meski sebenarnya saya merasa ragu, takut untuk terlalu bergantung, rasa bahagia membuat saya berani mengambil resiko apa pun. Kepercayaan padanya menjadikan segala kemungkinan buruk terlihat tak punya celah.
Kini ketika ternyata saya sendiri bahkan tidak tahu alasan apa yang membuat saya harus mulai berani berjalan sendiri tanpa lengannya lagi, saya mencoba untuk bisa berpikir baik. Mungkin saya memang terlalu membebaninya. Membuatnya harus terus berpikir keras sampai dia sendiri kehilangan daya.
Saya memang sudah terlalu terbiasa dengan caranya menuntun saya. Perasaan limbung dan takut tentu saja menjadi raja yang menguasai setiap rongga di hati dan pikiran. Namun saya ingin membalas segala kebaikannya dulu. Dia pernah meringankan kesakitan saya dulu. Dia bahkan menyembuhkannya dengan sangat baik. Sepertinya tidak adil jika saya terus menahannya, sementara dia sudah begitu kelelahan. Saya aan membebaskannya. Memberinya ruang yang luas untuk melepas kelelahannya.
*AFUK*
Tuhan, aku memang bersedih setiap dia melupakan janjinya padaku. Tapi tak apa. Aku menganggapnya sebagai pembuktian keluasan hatiku untuknya. Hanya saja tolong ingatkan dia, jangan sampai kelelahan mengelilingi hatiku nanti.
ElokParamita
Tuhan, jangan catat janjinya padaku. Aku tak mau dia berdosa karenanya.
ElokParamita