Surat untuk seseorang yang panas dikening, dingin dikenang.
Ingatkah dulu saat terakhir kita berbincang, aku sempat bertanya.
"Kalau kamu bisa kembali ke masa lalu, kamu mau kembali ke masa apa?". Aku masih jelas ingat jawabanmu, dan ku tuliskan lagi jawabanku saat itu supaya kamu mengingatnya.
"Aku ingin kembali ke masa sekolah, lalu kuliah. Aku tidak akan merubah apapun, aku hanya ingin lebih memperhatikan apa yang pernah ku lewatkan".
Hari ini, aku ubah jawabanku. Jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan kembali ke masa sekolah, kuliah, lalu bekerja. Bukankah sama saja? Tidak. Aku akan memilih untuk mengunci rapat akun sosial mediaku, sehingga tidak perlu ada direct message berkelanjutan. Aku akan lebih memilih bekerja daripada harus ijin setengah hari demi menemuimu saat itu.
Apa aku menyesal? Iya.
Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa sejak dulu kamu selalu memiliki ruang khusus, tersimpan rapi, tidak pernah ku buka karna aku tidak pernah percaya bahwa aku bisa singgah untuk membacanya. Lalu, kamu datang memberi kesempatan dan kepercayaan bahwa aku bisa tinggal. Aku ragu, tapi kamu terus meyakinkan, sampai akhirnya disaat aku sudah di dalamnya aku menjadi lupa bahwa ternyata bukan aku yang kau ingin tuk tetap tinggal menetap.
Aku mulai berandai-andai, jika dulu aku tidak pernah membuka buku itu, ku pastikan bahwa ruangku untukmu akan tetap utuh. Kamu, tetap akan jadi bagian manis yang selalu ingin aku singgahi untuk ku lihat sesekali diwaktu lelahku. Aku ingin tetap menyimpanmu sebagai kesatuan utuh, tapi robekannya terlalu besar dan panjang untuk ku susun kembali. Aku ingin meruntuhkan ruang bertulis namamu, tapi aku bahkan tidak mampu hanya untuk sekedar memecah jendelanya. Aku ingin membencimu, tapi maafku cukup luas untuk memahami bahwa ini semua bukan sepenuhnya salahmu, walaupun apa yang kau lakukan benar benar melemahkan tidak hanya pikir, tapi tubuh dan juga mentalku.
Aku, punya banyak alasan untuk tidak lagi berharap hal baik untukmu. Tapi, aku memilih berpegang pada satu alasan yang ku kira kau pasti akan menganggapku bodoh, agar kamu selalu dibimbing di jalan-Nya.
Pun sengaja tulisan ini dibuat, barangkali nanti kamu akan membacanya, entah 3 bulan, 6 bulan, 1 atau 2 tahun kedepan. Jika nanti diperjalanan kedepan kita bertemu, akan aku ceritakan kepadamu bagaimana ku lalui waktu-waktu dengan sedikit kenanganmu, yang aku sendiri sudah lupa bagaimana rupa wajahmu dan hangat tawamu. Namun, jika kita tidak dipertemukan lagi, semoga kelak di sela aktivitasmu kamu dapat menemukanku, diingatanmu, meski aku tidak punya ruang khusus didirimu, semoga disaat dunia tidak berpihak denganmu, kamu akan merindukanku. Merindukan tawaku yang kaku, dan aku yang selalu malu-malu dihadapanmu. Tidak sekarang, suatu saat nanti.
Lalu, dengan apa yang tersisa, aku akan selalu mengenangmu sebagai bagian dari pertumbuhanku.
Dan, meski tak lagi utuh, kamu akan tetap menjadi buku yang selalu ingin aku baca berulang kali, lagi dan lagi. Tidak akan bosan.
*els












