Banyak menekan ego sendiri, mencoba belajar lebih dalam memahami. Tidak ada yang lebih ku pinta dalam doa selain meminta yang maha kuasa memperbanyak sabarku, melapangkan dadaku. Tidak apa jika semua ini hanya tentang kamu, tidak masalah selagi itu kamu. Tapi jangan terlalu menganggap ku seberarti itu, aku takut bisa saja menyakiti mu.
"Makasih ya, kamu mau menemaniku di masa masa sulit ini" katanya.
Padahal seminggu sebelum itu kita bertengkar hebat, aku memutuskan diam dan meminta waktu untuk tenang.
Namun ketika yang terdengar setelah itu adalah kabar buruk mu, aku tidak bisa diam begitu. Aku mungkin marah bukan kepalang, kecewa dan ingin berhenti saja rasanya. Tapi meninggalkanmu yang sedang butuh sandaran tentu bukan sebuah pilihan.
Aku memutuskan kembali berjuang, memapah dan menemani dengan dada yang lapang. Meski sesekali terlintas dibenak kenapa jadi seperti ini. Hubungan ini jadi membuatku lebih dewasa tapi hanya sebatas itu saja.
Luka terakhir yang belum sempat aku sembuhkan ternyata terkubur membuatnya semakin tak karuan. Aku ingin penjelasan tentang perasaan ini, aku tidak bisa membiarkan mu jatuh pada ku sedang aku saja tidak merasakannya.
Aku tidak ingin kamu bergantung kepada ku, ketika yang ingin ku lakukan adalah berlari dari mu.
Bagaimana jika ternyata luka ku selama ini mengambil semua perasaanku untuk mu?














