Hukum Kekekalan Jarak dan Dekat
Pada mulanya adalah ketiadaan, sebelum kita sepakat menamai spasi ini sebagai "pisah". Namun dengarlah satu aksioma yang tak tertulis di buku fisika: bahwa di semesta perasaan, tak ada energi yang benar-benar musnah.
Jarak, kasihku, hanyalah satuan ukur yang gagal. Ia tidak mampu menghitung berapa kali dadamu sesak saat notifikasi di layar menyala pada pukul tiga pagi. Ia tidak bisa mengalkulasi percepatan rindu yang bergerak lebih cepat dari cahaya, menembus benua, samudra, dan dinding kamar yang dingin.
Ingatlah hukum pertama termodinamika cinta: Kedekatan tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk.
Dulu, saat lengan kita saling bersentuhan di kedai kopi itu, kedekatan kita berwujud materi. Padat. Teraba. Aroma parfummu adalah konstanta yang hirup, dan tawa kecilmu adalah gravitasi yang menahanku tetap di bumi.
Sekarang, saat ribuan kilometer membentang, kedekatan itu tidak hilang. Ia menyublim. Ia berubah fasa menjadi gelombang sinyal, menjadi doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, menjadi ingatan yang memutar ulang adegan di kepala seperti piringan hitam yang menolak retak.
Kita sering tertipu oleh mata yang manja akan visual. Mengira bahwa "jauh" berarti "kurang". Padahal lihatlah mereka yang duduk di satu meja makan, berhadapan namun sibuk dengan layar masing-masing. Bukankah itu jarak yang paling purba? Mereka dekat secara geografis, namun terlempar jauh secara batin. Jarak nol meter, namun hampa udara.
Sementara kita? Kita merawat "dekat" dalam definisi yang lebih agung. Kita memangkas ego, bukan memangkas kilometer. Kita belajar percaya pada frekuensi yang tak terlihat.
Maka, jangan lagi mengutuk peta. Peta hanyalah ilusi kartografi. Sebab dalam Hukum Kekekalan Jarak dan Dekat, semakin jauh raga ditarik merenggang, semakin padat jiwa memampatkan ingatan.
Kita tidak pernah benar-benar menjauh. Kita hanya sedang belajar mencintai dalam dimensi yang lebih luas dari sekadar sentuhan kulit. Segala yang ada di antara kita tetap abadi, hanya wadahnya yang berganti.
Simpanlah cemasmu. Kita aman dalam kekekalan ini.