"Pemakaman Blueprint"
It was 2026 February 12th. Aku mencatat tanggal itu sebagai 'tanggal kelahiran kembali', dan emosi-emosiku terkait hal romantis selama satu dekade terakhir -- bisa dibilang mungkin lebih dari satu dekade karena sejak 2015 -- seperti hilang, lenyap. Gemini AI bilang "It's emotional amnesia". Haha, ada-ada aja. Tapi betulan.
Hilang, karena sejak awal hipotesis dan teori yang aku pakai salah.
Orang itu memenuhi catatan-catatan di blog ini, di diariku bertahun-tahun, puisi-puisiku. Aku masih mengakui perasaanku saat itu dan betapa, entah kenapa, saat menatap matanya seperti ada dinding tinggi antara kita. Tapi aku yang hari itu naif mengira dinding itu adalah tantangan yang harus kutaklukkan.
Aku ingat gerak-geriknya sampai hari ini, harum tubuhnya, senyumannya, tatapannya. Untuk memahami laki-laki yang kucintai tujuh tahun dan menjadi blue print untuk hubungan romantisku lainnya setelah tujuh tahun adalah seorang 'gay', aku ... shock. I never had a chance. I never have a chance.
Our long conversation, our long walks and debates, and discussions, and how I fell for him so hard, the hardest I've ever had ... poof! Lenyap.
He's still my friend. A friend I consider the best one so far. Tapi pemakaman ini tentang aku: kukira blueprint, ternyata miskonsepsi.
Life After 27: Mixed Anxiety and Depression Disorder (MADD)
Di tulisan-tulisanku sebelumnya, aku menulis banyak tentang kesehatan mentalku. Kukira, setelah sesi konselingku, aku 'sembuh'. Kesembuhan, atau bahasa aku, 'stabil', bukan hal yang instan. Justru sejak aku bekerja, merantau, masuk ke sebuah sistem, aku yang sejak awal memang sudah 'sakit' rupanya rentan.
And I got sick. Tapi aku ga langsung berobat. Aku berusaha bertahan sedemikian rupa sendirian, semacam yakin aku pasti bisa asal aku beribadah, journaling, positive self-talk, olahraga, berusaha masuk ke komunitas, do whatever I can do. Aku mulai mengalami gejala yang parah di bulan kelima aku kerja dan itu berlangsung satu tahun lebih sampai berpengaruh ke kerjaan.
Aku takut ketemu orang. Sebagai guru, aku memilih lewat belakang kelas untuk mengajar agar ga ketemu guru dan staf lain. Aku KETAKUTAN. Aku takut, aku merasa gagal, dan aku sensitif mendengar orang lain ngobrol. Aku pulang ke rumah dan kemudian menangis hebat beberapa jam. Aku begadang sampai jam 2, jam 3. Kadang aku bolos pagi karena ga bisa bangun. Setelah lebih dari setengah tahun, aku beberapa kali dipanggil kepala sekolah. Kukira aku akan membaik setelah pulang kampung.
Ternyata tidak.
Kusadari sejak bulan Oktober tahun itu, fotoku seperti ... tidak bernyawa. Tatapan mataku sedih meskipun aku tersenyum. Desember, mataku sudah buram. Setelah berdiskusi dengan orang tua dan kepala sekolah, aku berobat di Januari 2024.
Dokter mendiagnosis itu MADD (Mixed Anxiety and Depression Disorder). Aku diberi beberapa obat setelah itu, diminta minum rutin.
Pertama kali sadar kalau selain punya kecemasan, aku juga ada depresi adalah hal paling depressing yang aku ketahui tahun itu. Kehidupan sosialku hancur sebelumnya dan selama berobat pun masih hancur. But I did my best.
Aku berobat selama delapan bulan, dan setelah itu ada peningkatan luar biasa pada caraku menghadapi masalah dan orang lain. Moodku lebih stabil. Meski ada relapse di tahun berikutnya, aku berobat lagi dan dokter bilang, "Tidak apa. Ibarat dinding, dindingmu retak dan harus kau rawat dengan kasih sayang. Jangan keras ke diri sendiri. Jika memang butuh pertolongan, tak apa berobat lagi."
Pengalaman ke poli jiwa di rumah sakit benar-benar menumbuhkan sudut pandang yang berbeda dan baru: ternyata, kadang, resiliensi saja belum cukup, dan tidak apa-apa meminta bantuan. I always thought that medications were bad, but I know how f-ed up it was when I struggled with those mental illnesses. Apakah aku sudah sembuh? Bisa dibilang, sekarang lebih pandai mengelola gejala dan tahu kapan harus berhenti saat sudah terlalu parah.
I learn many things during those years: setting boundaries, being more aware of my physical cues when I get triggered, how to love myself radically, and to accept myself, to hug myself despite my tendency to be flawless and perfect all the time. Aku mulai menyayangi diriku sendiri dan tidak menuntut apa-apa. Aku mulai menyayangi aku kecil. Tidak instan, semua proses itu. Meskipun aku saat itu masih keluar-masuk toxic relationship, somehow hubunganku dengan diri sendiri membaik. Self-esteemku membaik. Mulai bisa bilang 'tidak' tanpa mencak-mencak. Aku bisa marah tanpa harus membentak.
'Pemakaman' Blueprint Romantisku
Aneh, ya?
Memahami orang itu, orang yang membuatku meromantisasi Bandung for years dan kujadikan panduan saat menjalani hubungan romantis dengan laki-laki lain, gay, adalah salah satu pintu aku memahami diriku sendiri.
Aku kecil, yang berhadapan dengan abandonment issue, menganggap ketidaktersediaan seseorang adalah hal yang familiar. Dan entah bagaimana dia memenuhi semua ceklisanku, mengobrol denganku, namun dia tidak cukup available. Ternyata justru aspek-aspek itu yang membuatku tujuh tahun tidak move on-move on. Dan kusadari laki-laki setelah dia juga 11-12: tidak available, kadang-kadang toksik (parah), mokondo, dan beragam tipe ... Ah, rupanya kukira -- unconsciously -- cinta itu identik dengan penderitaan, karena aku kecil akrab dengan kerinduan, ketidakhadiran, dan perpisahan. Sesuatu yang 'stabil' tidak masuk ke dalam kamus emosiku.
Menyadari ini membuatku menangis hebat. Aku sudah menyadari sejak minum obat, dan mungkin sejak 2021 atau 2020an, tapi fakta baru itu betul-betul penyadaran yang ... mengubahku. Seketika, ingatan-ingatan romantisku intact tapi aku seperti amnesia emosi. Seolah-olah balik ke satu dekade lalu, aku lupa rasanya mencintai laki-laki blueprint ini dan orang-orang setelahnya. Ingat sih sebetulnya tapi seperti tidak relevan lagi.
Lalu aku merasa lebih terhubung dengan semua versiku, lebih terintegrasi, dan kesadaran ini aku terima penuh sembari menangis. Menangis lega, karena akhirnya aku tidak lagi memproyeksikan semua 'beban' mental itu pada imajinasiku. Berani menghadapinya, memeluk diriku seutuhnya, dan entah bagaimana rasanya lega. Beban di bahuku seperti di angkat, napasku lebih panjang.
Aku menandai itu sebagai 'Pemakaman Blueprint' (dan hari aku menerima diriku lebih tulus). Sebelum berharap pada orang lain -- apalagi yang familiar tapi tidak available atau tidak sehat, aku belajar jadi sosok available itu untuk diriku sendiri. Sosok sehat, seorang pelindung, penyayang, untuk diriku sendiri. Suasana hatiku lebih stabil sejak saat itu, dan I dunno how, tapi aku merasa kecepatan berpikirku juga meningkat. Aku lebih tegas, lebih logis, merasa lebih diriku sendiri. Bukan berarti aku tidak memiliki emosi negatif sama sekali. Hanya saja, aku tidak lari lagi. Aku tidak menyangkal.
And what an era to be alive. I mean, I feel more alive since that.
Setelah itu, aku lebih pay attention sama diriku sendiri. Barusan kemarin, aku ke fisioterapi untuk terapi punggungku yang sakit -- yang ternyata ada skoliosis, haha, dan setelah berobat entah kenapa makin pegel pake banget. But somehow, may I proud? To accept the love I deserve, from myself :)












