Quarter Life Crisis 2: tentang Silau
Tahun-tahunku di Bandung bisa dilihat dari catatan-catatan harian yang aku simpan di Microsoft Word, entah berapa halaman, dan mungkin sudah ratusan ribu kata, dan hampir di setiap paragrafnya aku awali dengan “Dear Di...”.
Selama di Bandung, aku silau. Silau pada dunia. Silau pada gemerlap mewah, gemerlap kreativitas dan fasilitas yang tidak aku temukan di kota tempat rumahku bercokol. Aku berpikir, Ah, enaknya. Enaknya jika aku tinggal di sini lebih lama. Enaknya jika aku bekerja di sini. Enaknya jika aku jadi orang sini.
Awalnya aku silau pada pria-pria Sunda, lalu aku silau pada pria-pria ITB, lalu di tahun-tahun terakhirku, aku silau padanya. Dia, yang, entah bagaimana, memenuhi semua ceklisan yang aku cari pada seseorang. Dia tampan. Dia cerdas. Dia pekerja keras. Dia pantang menyerah. Dan lagi, DIA MENGAJAKKU BICARA.
Aku semakin silau saat mengetahui bahwa mimpi kami sama. Amat sangat silau. Selama silau padanya, laki-laki lain mendadak kehilangan pesonanya. Mataku sakit tapi aku tidak peduli. Kami mengobrol ngalor-ngidul di sepanjang jalan Riau, tertawa sampai mata menyipit. Aku bahkan masih terpana pada ingatan itu. Terpana-tapi-berusaha-rela.
Saat pulang, aku tidak rela. Aku amat sangat tidak rela pada semua gemerlap yang kupikir sudah aku genggam: mimpiku, Bandung-ku, dia. Yah, setidaknya kesempatan untuk bersamanya, lah, ya. Meski dia yang menemaniku di bandara, tapi tetap saja berat rasanya.
Tulisan ini kudedikasikan untuk semua gemerlap yang aku tinggalkan.
Merelakan mimpi interpreter memerlukan waktu sekitar enam bulan sejak aku meninggalkan Bandung. Merelakan dia perlu waktu satu tahun lebih sejak terakhir kali melihatnya.
Aku masih sedih bahkan saat mengetik ini. Bagaimana tidak, sebagai seorang late bloomer (telat puber, lol), dia adalah cinta pertamaku -- meski sebelah tangan. Merelakannya, merelakan mimpiku, dan saat berusaha berdamai dengan kondisi hati yang carut marut, aku juga harus berhadapan dengan kenyataan bahwa aku sulit mencari pekerjaan dan dituntut menikah (LMAO, how??).
Dia menyilaukan. Dia adalah sosok yang aku impikan saat SMP: aku bermimpi jalan bareng bersama seorang laki-laki, ngobrol nyambung ngalor-ngidul dan sama-sama bermimpi tinggi. Dan lagi, wajah laki-laki yang aku impikan memang kurang lebih dengan wajahnya. Aku, ekspektasiku, silaunya mataku, ditampar oleh kenyataan dan kepulanganku.
Dan aku juga dia “tampar” dengan “tamparan” paling keras.
Tamparan darinya lah yang membuatku berhenti menghubunginya, menghapus kontaknya, dan berpikir bahwa masa depan bersamanya memang nihil sekali.
Silau. Aku silau pada Bandung, pada definisi karir yang aku mau, dan silau pada dunia atas yang tidak tergapai tanganku. Dan di puncak semua hal yang menyilaukan itu, kau berdiri di puncaknya.
Ditengah-tengah kesadaranku, aku bertanya-tanya: apa aku bisa dan mampu sepenuhnya meninggalkan semua gemerlap ini sebagai masa lalu dan menempatkan mereka semua sebagai kenangan, bukan sebagai acuan?
Aku bisa, pasti. Toh aku mulai membuka mataku pada rutinitas di rumah, menjadikan rumahku sebagai “rumah” tempat aku pulang, terbiasa dengan panasnya Muara Teweh, udaranya, bau hujannya, kamarku, keluargaku, dan seiring waktu, aku pun paham menerima kenyataan lebih menenangkan dibanding melihat sesuatu yang silau.
Mungkin perlu waktu, tapi aku yakin, akan tiba saatnya aku bisa mencintai seseorang, lagi.