Kalau sepi itu punya jari, mungkin aku sudah tercekik hari ini. Kalau sunyi itu bergigi, barangkali aku sudah tergigit sedari tadi. Dan kalau angan punya tepi, mungkin aku sudah tergelincir dan mati
RMH
official daine visual archive

Game Changer & Make Some Noise

romaâ

pixel skylines
KIROKAZE
occasionally subtle

Product Placement
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

blake kathryn
art blog(derogatory)
I'd rather be in outer space đž
đ©” avery cochrane đ©”
h
todays bird

Andulka
No title available
No title available
tumblr dot com
Xuebing Du
seen from United States
seen from France

seen from Brazil
seen from United States
seen from Honduras
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Vietnam
seen from United Kingdom
seen from Belgium
seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from United States
seen from Vietnam

seen from United States

seen from France

seen from Germany
seen from Iraq
seen from Bolivia
seen from Brazil
@aldizalmahendra
Kalau sepi itu punya jari, mungkin aku sudah tercekik hari ini. Kalau sunyi itu bergigi, barangkali aku sudah tergigit sedari tadi. Dan kalau angan punya tepi, mungkin aku sudah tergelincir dan mati
Jadikan aku manusia, yang senantiasa mengasuh nurani, mengasah empati, dan mengisah inspirasi!
Yayasan Autisma Bunda Bening Selaksahati
Di daerah Kampung Cibiru Beet Hilir, Cileunyi Wetan, tepatnya setelah jalan searah ke arah Jatinangor ada belokan sebelah kiri yang kalau pagi sering dipenuhi pasar kaget, rupanya menyimpan sesuatu yang indah.
Berawal dari cerita Ibu tentang adanya suatu yayasan untuk anak-anak penderita autis di sana, kebetulan ditambah dengan waktu kosong kuliah, akhirnya saya memutuskan pergi kesana sambil mengajak seorang teman. Perjalanannya sekitar 5 km dari Jalan Raya Cileunyi, menanjak dan menembus hutan bambu sekitar 15 menit kalau pakai kendaraan. Letaknya di kaki Gunung Manglayang, dari atas terlihat pemandangan Jatinangor sampai Gedebage. Bahkan, gedung LAN di Kiara Payung juga terlihat dekat.Â
Setelah beberapa KM, baru terlihat plangnya di sebelah kanan jalan. Nama tempatnya, Yayasan Autisma Bunda Bening Selaksahati. Tempatnya terlihat dari luar seperti rumah biasa yang besar dan berpagar hijau khas pedesaan. Sejujurnya, kami belum pernah mendapat pengalaman bersama anak-anak dengan penyakit autis sehingga momen pertama ini cukup mengejutkan, yaitu ketika kami mengetuk pintu dan melihat anak lelaki yang sudah dewasa keluar setengah telanjang. Ibu pengasuhnya turut mendampingi dan memberi tahu kalau anak-anaknya masih di sekolah, dan pendiri yayasan serta sekolah ini, Ibu Bening sedang memberikan pelatihan sampai hari minggu jadi belum bisa bertemu. Menurut info dari internet, rupanya beliau ini lulusan pendidikan agama islam yang tergerak melihat anak-anak berkebutuhan khusus yang dipandang sebelah mata hingga beliau mendirikan yayasan serta sekolah ini bertahun-tahun lalu.
Sekitar 100 m dari rumah ini terdapat Sekolah (SLB) untuk anak-anak ini. Tempatnya terlihat seperti rumah besar dari luar, pun dalamnya memang merupakan bekas rumah sehingga sekolah ini sebetulnya berupa kumpulan kelas-kelas sangat kecil. Ketika kami baru sampai di depan sekolah ini, seorang anak perempuan baru saja memuntahkan makanannya. Ditemani seorang guru yang membersihkan bekasnya dengan sabar. Beliau bernama Pak Reli dan bekerja sebagai guru/terapis di sekolah tersebut. Di dekatnya saya melihat seorang anak lain yang sedang menjemur karpet yang basah.
Sungguh, dari luar dan secara sekilas anak-anak ini tidak berbeda dengan anak lainnya. Kalau diperhatikan secara mendalam, barulah terlihat tingkah laku yang sedikit berbeda. Pandangannya seperti kosong dan sering mengulang beberapa ucapan yang tidak begitu jelas.
Kemudian seorang lelaki muda keluar dan menaikkan beberapa anak perempuan ke atas motor. Rupanya jam belajar sudah selesai dan mereka akan segera pulang ke asrama yang cukup jauh dari rumah tadi. Sambil mengangguk sopan dan meminta maaf belum bisa menemani kami mengobrol, pemuda ini mengantar anak-anak itu berdua berdua kembali ke asrama-asrama.
Pak Reli mengizinkan kami melihat-lihat proses belajar dari beberapa anak-anak yang masih belajar. Siswa disini kurang lebih berjumlah 20. Waktu kami datang, siswi-siswi sudah pulang sehingga jumlahnya cukup berkurang. Siswa-siswa ini sangat beragam, dari umur sekitar 4 tahun sampai 27 tahun yang paling tua. Dari yang bertubuh besar dan kecil, bahkan dari yang berwajah indo dan Arab. Aktivitas belajar yang dilakukan beragam, dari mulai mengenal huruf dan bernyanyi. Sementara kami berkeliling, ada juga anak-anak yang sedang belajar mengeja. Ada yang sedang belajar menulis yang Subhanallah, tulisannya sangat rapi dan bagus! Ada juga anak yang selalu membereskan barang dari mulai meja belajar sampai tas dan sepatu yang berserakkan. Ada yang sering bersenandung merdu. Ada juga yang serius melihat benda di depannya. Beragam sekali aktivitas disini.
Rasa kagum kami semakin bertambah ketika anak-anak itu selesai membaca dan membaca doa kifaratul majelis dengan lancar dan lantang. Lalu, seruan Pak Reli terdengar menyuruh anak-anak itu berwudhu untuk shalat ashar. Satu persatu anak berwudhu dan kami diberitahu bahwa sebentar lagi mereka akan shalat ashar berjamaah sebelum kembali ke asrama. Yang menarik adalah ketika saya bertanya bolehkah kami ikut shalat, beliau malah mengatakan tidak. Rupanya, anak-anak ini shalat dengan mengeraskan semua ucapannya bersama-sama dari mulai iqomat sampai salam. Beberapa memakai celana pendek. Kami pikir mungkin meski anak-anak ini tidak paham atau mengerti yang mereka kerjakan, tapi sikap disiplin telah tertanam untuk selalu shalat dan yang luar biasanya adalah anak-anak ini hafal semua bacaan shalat. Belakangan saya diberi tahu beberapa dari mereka juga pintar mengaji.
Setelah shalat, anak-anak ini kembali ke asrama barulah kami bisa mengobrol dengan cukup santai dengan pemuda tadi yang rupanya adalah putra dari Ibu Bening. Alam namanya. Dia mengambil Pendidikan Luar Biasa di Universitas Islam Nusantara. Yang hebat adalah ketika ditanya mengapa dia tidak mengambil PTN negeri seperti UPI. Jawabnya simpel, "Di Uninus saya ambil kelas karyawan. Kalau saya kuliah di UPI, saya tidak bisa membimbing anak-anak ini."
Kami belum berbicara panjang lebar dengannya dengannya, apalagi dengan Ibu Bening tapi kami sudah merasakan hati para pengajar ini yang dengan luar biasanya merelakan hidupnya untuk mendidik anak-anak ini. Lalu, kami bicara seputar metode pengajaran dan terapi di sini. Kami mendapat beberapa ilmu menarik. Dari yang saya tahu, autisme memang merupakan penyakit yang berhubungan dengan sistem syaraf yang mengakibatkan syaraf sensorik tidak berfungsi dengan baik yang berpengaruh kepada kemampuan untuk berkomunikasi secara sosial dan penerimaan yang kurang baik. Jadi, siswa-siswa disini banyak yang dinyatakan sudah membaik dan kembali pada keluarga, bahkan beberapa sudah menjalani hidup yang normal kembali.Â
Prinsipnya yang pertama adalah disiplin. Jadi anak-anak ini terlatih mengerjakan segala sesuatu sendiri sesuai waktunya. Pagi Shalat Subuh berjamaah, lalu berjalan-jalan, terapi (belajar atau fisik), sekolah sampai Ashar, lalu pulang, mengaji dan sekitar Isya siswa sudah tidur. Ini menarik, karena biasanya anak-anak ini kesulitan dalam masalah tidur. Disini, anak-anak dididik untuk selalu tidur dan bangun tepat waktu.
Yang kedua, adalah makanan. Disini, sangat pantang memberikan gula dan bahan penyedap pada anak-anak ini. Menurutnya, sedikit saja asupan gula masuk, efeknya bisa berbulan-bulan. Oleh karena itu, anak-anak pun terdidik untuk menolak makanan-makanan manis.
Dalam beberapa kasus, anak-anak dengan penyakit autis sangat rentan dalam hal emosi sehingga mudah marah/tersinggung. Dalam bahasa Alam, disebutnya "Bocor". Tapi disini kebocoran bisa diminimalisir sehingga emosi anak-anak tidak terganggu.
Masalahnya adalah pada pembiasaan. Satu hari saja ada kebiasaan yang tidak dilakukan, meski sudah dilakukan selama bertahun-tahun, bisa saja keesokan harinya lupa. Misalnya seorang anak yang sudah sering wudhu tepat waktu, suatu hari tidak wudhu, keesokan harinya bisa saja anak itu tidak akan wudhu lagi. Sehingga, problem ketika kembali ke keluarga adalah untuk mengawasi kebiasaan-kebiasaan positif. Anak-anak ini juga sangat cerdas. Terbukti dari pemahaman yang sangat cepat juga daya ingat yang tinggi ketika diberikan sesuatu yang baru termasuk dalam mengingat doa dan nyanyian. Hebatnya, beberapa anak sudah dinyatakan boleh kembali ke keluarga, namun mereka menolak karena sudah nyaman disini. Luar biasa.
Hari yang luar biasa. Banyak memberikan sentilan. Betapa kami yang masih normal malas-malasan shalat dan tilawah, malas belajar, atau bahkan tidak mensyukuri setiap helai nafas ini.
Mungkin hanya sedikit yang bisa saya tuliskan saat ini. Semoga dapat memberi manfaat. Mari kita doakan juga agar perjuangan Ibu Bening dan para guru serta pengasuh ini senantiasa dimudahkan dan dibalas dengan kebaikan pula. Amin!
Indonesia masa depan ialah pemudanya masa kini, dan bisa jadi tokoh-tokoh pemerintahan bangsa mendatang ialah âȘ#âAnakOSISKerenâŹÂ di hari ini
Berbekal semangat di atas, kami ~ Indonesian Students Unite ~ akan mengadakan TwitTalk âKeren dan Serunya Jadi Ketua OSISâ dengan narasumber:
1. Ivan Ahda (@ivanahda) Psikologi UI 2003 Direktur Eksekutif Forum Indonesia Muda Head of Training and Consulting Rumah Perubahan Eks Ketua OSIS SMAN 8 Jakarta
2. Dimas Surya Utama (@surya_dimas) Teknologi Industri Pertanian IPB 2008 Pegiat Kegiatan Sosial Forum Indonesia Muda Eks Ketua OSIS SMAN 5 Bekasi
3. Mogi Bian Dharmawan (@ohmogi) Agronomi dan Holtikultura IPB 2012 co-founder Sahabat Lentera Indonesia Eks Ketua OSIS SMAN 14 Jakarta
Minggu, 5 Oktober 2014, mulai jam 8 malam
Pastikan adik, kerabat, tetangga kita yg masih bersekolah mendapatkan manfaat dari kultwit ini karena menentukan arah bangsa bisa dimulai dari bangku sekolah
Sampai jumpa nanti malam Indonesian Students Unite 2014 @IDStudentsUnite
Dukung!
Keluh: Time Management
Ketidakbecusan mengatur waktu dimulai dari ketika Tuhan tidak dihadirkan dalam agendamu.
Dulu pernah iseng nulis gini di notes HP (tulis tangan mah ga kebaca) waktu jaman tingkat 1 kuliah. Kebetulan terbaca ulang tadi dan Ugh! Sepertinya ada tangan dari masa lalu yang menampar di pipi dan mengingatkan akan betapa munafiknya diri ini.
Genap memasuki minggu ke 7 kuliah profesi, setelah sekitar 2 bulan sebelumnya dilanda waktu libur panjang pertama yang (lagi-lagi) tidak termanfaatkan dengan baik. List planning berantakan.
Pun, ketika udah mulai kuliah. Kuliah profesi yang diduga santai dan singkat pun ikut mentertawakan. Setiap satu mata kuliah, satu tugas setiap minggunya. Mental santai dari jaman S-1 mendadak kaget belum siap menghadapi dunia yang baru ini. Alhasil, banyak yang keteteran, waktu tidur berkurang. Tidur jam 1, bangun subuh jam 6 udah berangkat, pulang sore, ngerjain tugas, gitu aja tiap hari sampe sekarang udah beberapa minggu ini bioritmik tubuh terganggu. Mudah lelah, sering pusing, bahkan insomnia yang seringnya diakibatkan mimpi buruk.Â
Weekend juga rasanya jarang istirahat, ada terus kerjaan. Dari jumat ke senin rasanya cepet dan dari senin ke jumat rasanya cepet juga. Makin hari to do list target-target bulanan makin terabaikan. Makin lama makin parah lelah dan gelisah yang gatau darimana sumbernya. Sampe sekarang baru ada waktu kosong 2 hari yang bisa dipake buat istirahat barulah kepikiran, kenapa hari-hari ini terasa makin berat dan makin membuat gelisah.
Mungkin mulai berkurang halaman Quran yang terbaca .
Mungkin perlahan hilang malam yang dihabiskan untuk berkhalwat dengan-Nya.
Mungkin semakin sedikit doa yang terselipkan sehabis shalat.
Mungkin mulai 'mampet' titipan Allah yang seharusnya teralirkan.
Mungkin bebas merajarela nafsu yang seharusnya terjaga lewat shaum.
Bagi kawan yang mengalami hal serupa, lelah gelisah tanpa sebab, manajemen waktu yang berantakan, mungkin ini juga penyebabnya. Yang tiap hari, kerja, meeting sampe malem. Sekolah sampe sore atau malah asyik main. Mungkin kita menderita sesuatu yang sama
Saya salut untuk orang-orang yang membuat waktu khususnya dengan Allah jadi bukan lagi agenda, tapi kebutuhan. Lebih dari butuhnya oksigen untuk bernafas atau air untuk hidup. Ketika bukan lagi keterpaksaan tapi kerinduan. Semoga Allah jaga dan Allah ikutkan kita ke dalam golongan mereka-mereka ini.
Yuk, be better everyday!
Just finished this trilogy series of Maze Runner. And once again, "A good or bad legacy is no more than about how it ends." Little disappointed, actually.
Buat adik-adik yang sedang memikirkan rencana hidup ke depannya kelak, bergembiralah. Kamu telah selangkah lebih maju dari ribuan siswa lain yang hanya menjalani hidupnya dengan mengikuti arus. Mungkin ada yang setahun, dua tahun, atau tiga tahun lagi akan meninggalkan dunia putih abu-abu yang...
Buat adik-adik yang galau jurusan
Terima Kasih Kakak Pertamaku (Farmasi)
Barokalloh segala ilmunya kang aldizalmahendra :) Bismillahirrohmaanirrohiimâ Mengapa rasanya begitu spesial menuliskan nama sosok âbesarâ farmasi ini di tumblr? Tidak ada hal khusus atau modus yang Dilla tujukan, semata-mata sebagai bentuk apresiasi terhadap sosok besar nan inspiratif bagi saya. Aldizal Mahendra, dialah salah satunya.
Bisa dikatakan bahwa kang Aldi (panggilan akrab yang saya berikan) adalah senior farmasi pertama yang saya kenal. Dulu saat baru dinyatakan diterima di Farmasi Unpad saya mencari beasiswa dan keringanan biaya kuliah karena saat itu kondisi orangtua mendadak sulit. Dilla mendapatkan kontak dari anak BEM Unpad untuk menghubungi BPM fakultas, dan dia memberikan kontak kang Aldi. Kontak hape xl yang sampai sekarang masih bertahan..hehe
Alhamdulillah respon dari kang Aldi -sosok senior yang belum dilla kenal siapa- sangat cepat. Tanpa babibu beliau membantu Dilla. DIlla diarahkan untuk mempersiapkan segala macam dokumen, dan pertama kalinya kami bertemu di Sekre BEM KEMA Unpad. Dilla ingat saat itu kang Aldi datang bersama kang Pampam (Rizki Pamula) dan kang Prima (Okta Primadian). Aah, bisa jadi mereka lupa peristiwa ini, tapi Dilla ingat betul trio macan ini. hehe.
Setelah mendapatkan bantuan dari ketiganya, khususnya dari kang Aldi, dilla kembali ke rumah. Kesan pertama bertemu dengan kang Aldi adalah âmalu ih, suaranya lembut, sedangkan dilla suaranya masih garangâ. Di sana dengan kesotoyan dilla menerka âpasti jarang marahâ hehe
Read More
wah dilla, terharu baca ini hehe semoga barokah juga tingkat akhirnya, selamat menikmati kedinamisannya
Kuliah Profesi (2) : Nasihat Ayah untuk Anak
Para calon Farmasis yang ngambil program studi profesi Apoteker, mungkin akan mengalami hal yang sama dengan saya. Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, dosen di program ini luar biasa! Gaya ngajar dan pengalamannya ini beda banget dengan S-1. Dampaknya adalah, kita jadi mengalami lagi tahap-tahap galau masa depan (lagi).
Kasusnya adalah saya sampai saat ini belum memutuskan akan bekerja dimana kelak. Di hati kecil tentu inginnya punya usaha. Bedanya kalo dulu pengennya sejauh mungkin dari bidang farmasi, sekarang malah ngerasa harus cari ilmu sebanyak-banyaknya. Jadi ceritanya, saya ditawari megang 1 apotek yang baru di suatu kota. Secara finansial sebetulnya saya enggan. Tapi dari segi sosial, buka apotek baru berarti tantangan untuk menghidupkan kesehatan di daerah tersebut sekaligus jadi ladang untuk menanam kebaikan. Selain itu, di saat yang sama saya juga terpikir untuk mengajar di SMF-SMF ataupun di kampus-kampus swasta. Ingin juga mencari ilmu di sebuah rumah sakit holistik di Purwakarta. Tapi juga ingin berkiprah di industri, walau saya cuma berminat ke Biofarma. Kalau ditanya kenapa, jawaban saya cuma singkat, "Mesjidnya bagus."Â
Jadi akhirnya, masalah ini saya adukan juga kepada Ayah. Setelah mendengar penjelasan panjang, beliau cuma berkata.
"Kamu ini kaya orang mancing. Tahu kan orang mancing? Dari atas kolam liat ada riak terus mikir, 'Oh itu ikan lele, oh itu ikan mas, oh itu bagus, oh itu menarik.' Tapi kailnya belum kena-kena juga. Mana tahu itu ikan mas atau bukan. Pancing dulu, baru tahu mana yang ikan mas mana yang ikan lele."
Nah, bener juga sih. Saya ingat di bukunya Richard St John - 8 to be Great, salah satu kunci sukses dari hasil risetnya adalah passion, yang bisa dicari lewat dua jalan. Kalau emang udah tahu dari kecil, bersyukurlah. Tapi ada juga orang-orang yang belum jua tahu passionnya, jadi nggak ada cara lain selain nyoba semuanya. Kalo minjem istilahnya Forrest Gump,
"Life is like a box of chocolate. Youâll never know until you opened it.â
Jadi mungkin buat yang ngalamin hal yang sama, ini salah satu jawabannya. Selamat mencoba!
âSuperheroesâ is the first single from the new album âNo Sound Without Silence' which will be released in September 2014. For more information visit: http://..
Kuliah Profesi (1): Nilai dan Modal
Program Profesi Apoteker, program yang unik. Pertama dalam sejarah kuliah dimulai duluan sebelum pembayaran. Kuliahnya khas buat pria setelan kemeja, dasi, celana bahan, sepatu pantofel. Wanitanya lebih wow lagi rapinya. Selain itu apa lagi yang beda? Hmm jelas, kuliahnya. Kuliah disini ga ada praktikum, masuk pagi pulang siang. Tapi rasanya setiap pulang, badan ini capeknya lebih dari S-1.Â
Soalnya, hebatnya disini kuliahnya beda dengan S-1 yang sarat teori. Sekarang penuh filosofi. Untuk pertama kalinya dalam hidup perguruan tinggi saya, saya excited buat sebagian besar kuliahnya. Dosennya hampir semuanya komunikatif dan lebih interaktif. Mungkin ini suasana kuliah ideal yang dulu sulit saya rasakan. Entah karena sekarang nggak banyak kegiatan selain kuliah. Pokoknya beda. Kalau dulu saya sampai mikir nggak mau kerja di bidang farmasi, sekarang setiap pulang kuliah digalaukan lagi mau kerja dimana. Dosen rumah sakit, dosen industri, dosen klinik, dosen herbal, rasanya semua menyampaikan versi masing-masing dengan sangat menarik, jadilah saya tertarik (lagi) untuk berkarir di farmasi. Anyway, setiap harinya ada filosofi baru kalau mau berpikir lebih jauh.
Farmakoterapi & Manajemen Farmasi, mata kuliah kemarin contohnya. Simpel tapi ada pelajaran yang bagus dari dua mata kuliah ini. Mata kuliahnya beda tapi ada pelajaran yang sama, tentang modal dan nilai.
Well, simpelnya poin pertama yang penting yang adalahÂ
"Jangan jadi apoteker yang bergantung pada komoditi obat, yang harga (value) dirinya tergantung dari harga (value) obat."
Kalau suatu nanti inflasi, harga obat turun , keuntungan turun, kesejahteraan hidup apoteker turun. Kalau value apotekernya tergantung dari dirinya, seburuk-buruknya inflasi atau penurunan harga obat, kesejahteraan apoteker itu masih terjaga. Masyarakat mencari apoteker, bukan obatnya. Pun profesi lain. Kalau kita tergantung dengan barang yang kita jual, rasanya kalau suatu saat nanti kita kecurian kemalingan, semua toko kita rasanya ludes. Padahal, value yang paling besar masih tertanam dengan kuat dalam dirinya. Selama value dirinya masih ada, dagangan bisa dibeli lagi. Â
Poin kedua yang cukup menarik,
" Hitung break even point, kapan modal kamu bisa berbalik. Modal kamu untuk jadi apoteker."
Ini seru, karena membuat saya berpikir. Bahwa, modal yang udah saya pakai buat jadi seorang apoteker ini ga sedikit. Modalnya dari biaya masuk TK, SD, SMP, SMA, apalagi biaya masuk perguruan tinggi. Belum ditambah biaya hidup. Hitung-hitungannya paling sedikit mungkin 200 jt. Kalau kelak gaji misal cuma 2 jt perbulan kapan modalnya terbayar? Semacam cerita 23 Episentrum yang tokohnya berhutang puluhan juta buat kuliah dan setelah lulus hidupnya untuk bayar hutang ke teman-temannya. Keren!
Oke, ini dari segi materi. Lebih jauh lagi, seandainya suatu saat break even point sudah tercapai, misalnya 200 jt tadi, terus apakah itu sesuai dengan modal yang sudah dikeluarkan? Buat ngeganti waktu dan perasaan yang udah dikorbankan sampai kuliah ini, kapan semua rasa jenuh, bosan, pusing, dan semua detik menit itu bisa terganti? Gampangnya kita udah bikin desain kaos buat dijual, udah beli kain, terus hasilnya malah jadi boxer. Puas?
Jadi sekarang saya mulai berpikir tentang sesuatu yang disebut Smart Investment dan Stupid Cost. Berapa banyak biaya yang kita keluarkan untuk kemudian kita sadar bahwa ini ga sesuai dengan panggilan jiwa kita? Dan berapa banyak biaya yang kita sia-siakan karena tidak tertanam di tempat yang tepat?
Nah!
Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.
Pramoedya Ananta Toer
Congraduation! (2)
Kali ini, tulisan ini didedikasikan untuk almamater tercinta. Keluarga besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
Kalau sebelumnya orang bilang, wisuda ini persembahan untuk kedua orang tua, maka selebrasi setelah wisudanya barulah untuk para wisudawannya.
Luar biasa, tepat setelah kaki melangkah keluar dari Graha Sanusi, bendera raksasa Kemafar Unpad menanti di lapangan. Pasukan berbaju biru menunggu dalam barisan yang sedikit tidak teratur. Rangkaian bunga dan ajakan berfoto rasanya tidak habis berhenti. Dari 2013, 2012, 2011, 2010, sampai 2009 sepertinya lengkap ada menyambut.
Mungkin ini juga alasan lain di balik perjuangan kami selama ini. Untuk menemui adik-adik dan teman-teman kami dengan langkah tegap dan bangga. Maka dalam tulisan ini, izinkan saya untuk mengungkapkan apa yang selama ini tersimpan,
Kepada Fakultas Farmasi. Fakultas ini jauh dari kata kesempurnaan apalagi kemewahan. Namun, disini saya belajar makna kekeluargaan dan indahnya kebersamaan. Orang bilang kelas kami kurang, gedung kami sempit, ruang kemafar (himpunan) juga tidak layak. Saya bilang kelas kami hangat oleh kebersamaan, gedung kami memikat serta mengikat dan ru-kem kami menghilangkan sekat dan arogansi angkatan.
Kepada Yth Bapak dan Ibu dosen. Saya menemukan banyak sekali pembelajaran dalam segala hal yang diberikan oleh Bapak dan Ibu. Di kelas, dan lebih sering di luar kelas. Dari diskusi ringan hingga sharing pengalaman yang belum terjangkau oleh bayangan saya. Saya belajar tentang keteladanan dan pentingnya menyertakan hati dalam pekerjaan, dari betapa luangnya waktu yang bapak ibu berikan bahkan dalam hari libur untuk membimbing kami.Â
Kepada Yth Bapak dan Ibu civitas akademika Farmasi Unpad, Tata Usaha hingga keamanan. Terima kasih atas segala pelayanan dan kemudahan yang diberikan serta pertemanan yang ditawarkan. Bagi saya, ketika dalam hal pelayanan yang terucap adalah nama dan bukan nomor pokok lalu ketika jam kerja terlewati hingga jauh sore hanya untuk menanti berkas yang terlambat dikumpulkan, atau sekedar menanti di laboratorium meski sebenarnya telah lewat jauh waktu kerja, saya sedang mematri pelajaran untuk selalu mengutamakan kepuasan dan kepentingan orang lain.
Dan akhirnya kepada keluarga besar saya, Keluarga Mahasiswa Farmasi Unpad.
Seluruh akang teteh yang telah banyak mengajari saya, dari angkatan 2002 hingga 2009 tentang semangat menjaga kebanggan. Menjaga nama baik, menjaga semangat dan menjaga tali silaturahim agar tidak terputus ke angkatan bawah sekalipun, saya haturkan ucapan terima kasih. Semoga semangat yang akang teteh berikan berhasil kami teruskan ke adik-adik kami.
Seluruh keluarga besar Farmasi Unpad 2010. Sampai saat ini saya tidak bisa mengingat apa yang kita pelajari di kelas secara rinci. Secara kasar pun kadang sulit. Tapi mengingat segala hal remeh sewaktu ospek sepertinya sangat jelas terpatri. Dari mulai kumpul angkatan tanggal 9 Agustus 2010, MPLK Simplisia yang melelahkan, Pelantikan yang mengesankan hingga setiap obrolan dari diskusi politik hingga gosip rumah tangga kala praktikum, kelas, waktu kosong atau sekedar makan di luar. Terima kasih banyak.
Seluruh adik-adik Kemafar Unpad. Saya bilang adik, tapi sepertinya kalian jarang menganggap kami kakak. Sepertinya kalian anggap kami ini sahabat yang kadang sekat usia pun diacuhkan. Saya tidak bilang saya protes mengenai itu. Bagi saya, inilah hangatnya keluarga ini. Seluruh keluarga besar ini, setiap tahun bertambah dan berkurang, dan kini tiba saatnya kami menjadi bagian yang berkurang sementara bagian baru akan terus bertambah. Kami hanya berharap semoga dengan semakin banyaknya adik-adik yang harus kalian bimbing tidak lantas menumpuk sosok kami untuk kemudian sirna dan tidak berbekas. Telah kami curahkan segenap pengetahuan dan pengalaman kami, semoga menjadi manfaat dan keberkahan bagi semua. Kami tidak lebih tahu dari kalian, kami hanya mendapatkan kesempatan terlebih dahulu, sehingga berkesempatan pula untuk membaginya. Maafkan sikap saya yang seringnya tidak mengenakkan. Acuh, cuek, sombong dan sering merasa tinggi sendiri. Semoga berkenan memaafkan.
Lalu kepada keluarga yang lebih kecil lagi, Keluarga Besar BPM Kemafar Unpad. Awal saya masuk saya mendapat bimbingan dari akang teteh 2008-2009 yang sangat membentuk diri saya sebagaimana saat ini. Lalu ketika pada 2013 tiba waktunya saya dan kawan-kawan berperan sebagai yang membimbing, kami tawarkan pendampingan dan pembimbingan, malah kalian sodorkan persahabatan dan kekeluargaan. BPM 2013 akan selalu menempati tempat spesial di hati ini. Seperti yang saya lampirkan dalam LPJ akhir tahun kemarin, saya berdoa untuk kesuksesan kita semua dan semoga Allah selalu ikatkan hati kita untuk kemudian dapat berjumpa kembali. Jayalah selalu BPM Kemafar Unpad! Viva Legislativa, Viva la Farmacia!
Hingga kini, telah resmi kami mengakhiri masa bakti di Kemafar ini. Status kami pun bukan lagi sebagai anggota. Maka dari itu, kami titipkan keluarga ini. Kami percayakan nama baik ini. Kami serahkan semangat yang juga kami terima dari kakak-kakak kita dulu. Kami sodorkan tali persaudaraan yang jangan sampai terputus sampai kapanpun kelak. Kelak saya yakin, kita akan sering dipertemukan kembali oleh satu nama yang sama, Kemafar.
Yang terakhir, kepada adik-adik kami, Abdul Hakim Audah dan Anggy Luthfi Reynaldi beserta seluruh jajarannya. Masih ada sisa setengah tahun kepengurusan untuk mengabdikan diri, mewakafkan sepenuhnya tenaga dan pikiran demi keberlangsungan Kemafar ini. Setengah tahun ini tak akan terasa karena singkatnya. Dan akan sangat terasa oleh beratnya dan perihnya. Dipenuhi oleh gejolak emosi dan semakin memberatnya beban di bahu. Maka, saya berpesan kuatkan bahu, lapangkan hati, kokohkan kaki, dan luaskan pikiran. Kalau pikiran ini mulai dipenuhi buruk sangka, janganlah dulu pada Allah, pada teman sajalah dulu, ingatlah kembali nasihat kakek kita, "Seorang terpelajar mesti berlaku adil semenjak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan." "Kalau Tuan segan menerima angin yang besar, jangan jadi pohon yang tinggi." Kata Mas Pram itu. Sampai jumpa di Sidang Akhir Tahun nanti.
Dan kepada seluruh Kemafar yang tadi telah bersedia meluangkan waktunya. Terima kasih banyak. Allah Maha Melihat, semoga kebaikan kawan sekalian berbalas.
Sekali lagi, terima kasih Almamaterku tercinta!
Viva la Farmacia!
Congraduation! (1)
Kamis, 28 Agustus 2014 tadi, akhirnya merasakan suasana wisuda. Graha Sanusi jadi saksi pelantikan Farmasi Unpad angkatan 2010 sebagai Alumnus Universitas Padjadjaran.Â
Wisuda, akhir-akhir ini kian marak dengan kata,
"Wisuda itu untuk orang tua."
Well, tadi kawan-kawan saya dari Majalengka ditemani oleh 5 mobil dari desanya, ada juga yang kedatangan keluarga dari Makassar. Hampir semua anak rantau pasti menghabiskan beberapa hari buat bersama keluarga. Banyak cerita tentang keluarga yang mengharukan di tiap wisuda. But, just like eveyone else said, I have the best parent.
Dari Senin kemarin, Ayah sedang dinas ke Bogor. Hari ini beliau pulang untuk mengantar anaknya wisuda ke Graha Sanusi dan dilanjutkan foto keluarga. Setelah foto, beliau kembali ke mobil dan berangkat ke Cirebon. Jam 9 malem. Jauh-jauh, hanya untuk melihat anaknya memakai toga dan bersalaman dengan rektor.Â
Kuliah di Farmasi, menderita di setiap mata kuliahnya rasanya. Tapi sebagian besar alasan saya masih bertahan di pendidikan keras ini akhirnya terjawab. Semua demi hari ini melihat senyum penuh kebahagiaan dan kebanggaan yang tak terucapkan dari mereka. Cukup dengan dua pelukan.
Dua pelukan yang tidak mengeluarkan kata, hanya tatapan yang berbicara dan tepukan di punggung yang menjelaskan segalanya. And it means everything,
Sekali lagi, wisuda ini kupersembahkan untuk dua cahaya dalam hidupku.
Semoga Allah menyayangi mereka selalu, sebagaimana mereka padaku.
Bandung, 28 Agustus 2014
R. Aldizal Mahendra R.S S,Farm
Review SIngkat Hujan Matahari - @kurniawangunadi
Membaca Hujan Matahari karya mas kurniawangunadi seperti sedang menyaksikan percakapan. Saya merasa seperti seorang penonton yang sedang menyaksikan perdebatan seru antara hati dan karya fiksi. Membaca ini seperti sedang menjelajah bersama ke dalam alam perasaan Mas Gun. Dibawa naik, turun, berkelok dalam rimbunnya bahasa lalu kemudian menengok kembali apa saja yang sudah dilalui.
Terima kasih telah singgah, memberi keteduhan sekaligus kehangatan.
Ditunggu karya berikutnya, mas bro!
Pasca Sarjana (1)
5 hari menuju wisuda nih ceritanya hehe.
Berhubung baru kuliah sekali, jadi nggak bisa ngebandingin Unpad sama Univ lainnya. Tapi emang Farmasi Unpad ini unik. Uniknya kenapa? Lusa udah kuliah profesi apoteker, 3 hari kemudian baru wisuda. Jadi paginya kuliah, sore wisuda, jumat pagi udah kuliah lagi. Euphorianya semacam gelembung busa yang ditiup pagi, terbang sore dan meletus malem. Tapi it's okay, It's really okay.
Liburan terpanjang pun ditutup dalam waktu sehari lagi. Ini liburan terpanjaaaang. Diperpanjang sama ketiadaan kegiatan dan liburan. Liburnya nyaris 2 bulan, tapi rasanya nggak ada agenda-agenda liburan. Malah, yang ada diisi kerja dan kerja dan setumpuk buku yang nggak tamat-tamat serta ratusan halaman draft yang nunggu diselesain.
Nggak dapet liburan bukan berarti ngeluh sih. Well, mungkin dikit. Tapi, gantinya 2 bulan ini diisi pengalaman-pengalaman yang luar biasa. Semenjak jadi promotor STIFIn, apalagi setelah resmi dapet lisensi dari STIFIn pusat, ini momen terbanyak ketemu orang dalam hidup saya. Dari ahli bekam pemecah rekor Muri, trainer, owner pabrik gula, sampe calon psikolog. Dari mulai Padalarang, Jatinangor, sampe ke Cikampek; dari mulai anak 4 bulan sampe bapak-bapak 60 tahun, dari Programmer Bank, Kepala Sekolah, owner E.O, sampe kepala seksi di Provinsi yang udah ditemuin nggak kerasa udah 60 klien dalam 1,5 bulan ini. Saya banyak belajar dari pengalaman setiap orang yang saya temui. Dan dalam sisi ini saya banyak bersyukur.
Karena satu hal yang menarik, setiap private dengan klien, apalagi yang usianya masih di bawah 20, selalu ada satu kecenderungan yang saya temui.
Belum tahu mau jadi apa nanti.
Mungkin ini pertanyaan yang bagus buat semua para calon sarjana di Indonesia. Mau kemana setelah ini kawan? Bersibuk dalam karir? Berjaya untuk usaha? Bercengkerama dengan cinta? Mengembara ke buana?
Atau yang simpel, menunda jawaban sampai nanti tak ada lagi yang bisa tertunda :)
Ask me a question
ask.fm/aldizal