Pancut dalam pepek amoy sedap 🤤sedap betul pasti pancut dalam pepek dia ni 🤤
Join VIP Telegram : @Koleksisedap33
art blog(derogatory)
AnasAbdin
Peter Solarz
Cosmic Funnies
tumblr dot com
Xuebing Du
Alisa U Zemlji Chuda

Love Begins

titsay

#extradirty
Game of Thrones Daily

tannertan36
Mike Driver
almost home
Claire Keane
will byers stan first human second
No title available
No title available

JBB: An Artblog!
todays bird

seen from Poland
seen from United States

seen from Uzbekistan

seen from Spain

seen from Brazil
seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Jamaica
seen from United States
seen from Iraq
seen from Iraq
@aleepjen
Pancut dalam pepek amoy sedap 🤤sedap betul pasti pancut dalam pepek dia ni 🤤
Join VIP Telegram : @Koleksisedap33
Kisah benar kehidupan i - (Daddy durjana daddy) sanggup buat dkt kakak mcm ni
Nama i sya umur 16 tahun ank first pada 2 org adx beradx i dgn adx laki i ja adx i umur 13thn. Kisah bermula masa i form 3, i balk umh kunci pintu bilik i buka smua pakaian kolah i lalu i hnya tutup tubuh i dgn kain tuala je, n bila i berdiri depan cermin sambil buka ikatan tuala yg tutup tubuh i lalu terpang2 dua buah nenen i n alur pussy i dgn bulu2 halus bila, bila i teringat ckg sains i ajar bab hormon n bersetubuh mcm2 i terfikir nk di pendek kn cerita i cuma step pertama main pussy i guna jari lalu lama2 i guna objek yg besar n panjang
Pada form 4 blh kata kn tiap minggu hr rabu i akn melancap dlm bilik makmal computer or sains, masa i melancap dkt bilik makmal sains i terlupa nk kunci pintu. Sambil i merasa kenikmatan main pussy guna objek tanpa i sedar bf i depan mata i dalam keadaan separuh bogel (seluar n panties) lalu bf i bertanya
Bf:nk i tlg u x baby
I:hmmmmmm, biy bile masuk
(i cepat2 tutup pussy I)
lalu bf i pegang dua belah kaki i dgn dua belah tangan dia n bf i kangkang i seluasnya terpang2 alur pussy i dgn bulu halus lalu bf i menjilat sedut pussy i sepuas mahunya, lalu i keluar suara kecil
i:aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh, biiiiiiyyy, pelan2, hmmmmmmmmmmmmmm, sedapnye,
i:biy i nk terkencing, hmmmmmm, biiy,
Bf i x menghiraukan I, lalu i memancut air kencing i di muka dia,
i:sorry biy i terkencing ats muka u
Bf:xpe n ni bukn air kencing u lh baby
i:hbis tu
Bf:ni air nikmat pussy u sbb tu dia keluar
i:btl ke ni hmmm i x tahu
Bf:hihihi, best x baby u nk rasa lh best lg sdp x
i:nk nk
Bf:i masuk batang i dlm lubang pussy u nk x baby, best n sdp gile
i:xnk tkut lh biy nnti sakit
Bf:awl2 je sakit nnti biy kuar masuk slow2 ye smpai baby sndri mnta laju n kuat
i:jnji tau mula2 slow
Lalu bf i masuk kn batang dia dlm lubang pussy i
i:aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh!! Biiiyy!! Stop! Stop! Stop! (sambil i tepuk dada dia)
Bf:ok2 i masuk kn smua batang biy dlm pussy baby
I:biy, biy, biy, sakit lh
Dlm 5minit bf i kiss mulut i kita org bermain lidah stu sama lain dlm masa yg sama bf i dorong kuar masuk batang dia dlm lubang pussy u
i:hmmmmmmmm, laju lg biy, sedap, aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh!! Sedap biy sedap, aaahhh!! Biy fuck my pussy please, please, please laaaaaju lagi biy!! Aahhh
Bf:sedap kn baby,hmmmmmmm, fuck Aaaahhh,, pussy baby sedap gile baby, hmmmmmm, biy jnji xkn tinggal kn baby, hmmmmmm!!
i:btl xkn tinggal kn i
Bf:btl jnji
Dlm 20 minit kita org main
Bf:baby, i nk cum aaaahhh
i:cum tu ape biy, hmmmmmmm
Bf:pancut baby
i:pancut dkt ats nenen i please xnk dlm
Bf i laju n kuat kn henyutan dia lalu
Bf:I nk cum aahh
i:cum dkt luar u, please i xnk pregnant
Bf:xnk i nk cum dlm pussy u jgk baby aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh fuck
i:u please please cum dkt luar cum dkt ats muka i n nenen i please please, i nk air u untk besar kn nenen i lg
Bf:hmmmmmm sp jgk dgn pregnant u pregnant besar jgk nenen u
i:please u klau i pregnant kita xblh main bnyk kali
Bf:aaaahhh!! Shiiiiiiiiiiiiiiiiiitt!! (cepat2 dia kuar kn) come baby melutut dpn i, I nk cum
I melutut sambil pejam mata n kemam bibir i, fuck sumpah bnyk gile air mani bf i, leps tu i sambil air mani bf i, i sapu dua belah nenen i n urut
Dlm pukul 6 dkt 7 kita org kuar dari bilik makmal sains n lalu belakang dkt padang kolah untk kuar dari kawasan kolah dgn uniform koko i pakai pakaian pj je
Pada satu hr, hr jumaat mlm mommy keje shift mlm daddy xde mungkin g keluar main judi or minum dgn kwn2 dia
i call bf i suruh dtg umh, I pn siap2 pakai t-shirt n shortpant
Dkt kol 2pg i bawak masuk bf i dlm umh cepat2 lari masuk bilik kunci pintu kita org pn mula puas kn nafsu masing2
Dkt pukul 5 lebh i x sengaja termoan kuat' aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh!!
Daddy:kakak knp tu OK x apa hal menjerit tu
Tangan bf i tutup mulut i n tunjuk isyarat diam
i:akak OK daddy tersepak ding2 je
Daddy:ok
Kakak Nabila
Nabila Kakak Kandungku
Nabila Kakak Kandungku - Kisah ini saat aku masih 10 tahun, tepat saat itu hari masih siang dan aku baru pindah dari Amerika. Saat aku pulang sekolah seperti biasa kakak aku yang perempuan yang selalu menemani aku karena orang tua aku sibuk dengan bisnisnya. jadi aku selalu bersama dengan kakak aku saat itu usia kakak aku masih 17tahun perawakan badan sangat cantik sekali ukuran dada 36B dan sering menggunakan ‘push-up bra’ agar terlihat lebih besar mungkin kalau ada hidung belang dia bisa dikencani langsung. Ketika aku di jemput pulang dari sekolah aku dengan kakak sungguh sangat akrab layaknya hubungan adik dan kakak yang tanpa batasan.
Saat itu aku masih belum paham tentang seks dan segala jenisnya. Ketika sedang iseng membuka internet tanpa sadar aku membuka halaman yang memuat tentang seks lalu aku membaca sebuah cerita tentang hubungan sedarah antara adik laki-laki dengan kakak kandungnya. Setelah itu, aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan cerita tersebut. Namun, sejak saat itu, aku selalu terangsang ketika melihat kakakku sedang tidur di kasurnya. Kamar kami memang jadi satu karena aku masih takut tidur sendiri, sehingga aku dapat memeluk kakak aku apabila aku sedang merasa takut. Diam-diam aku memperhatikan tubuh kakakku yang begitu mulus tanpa cacat perlahan-lahan aku peluk dia dari belakang dan memegang dadanya, dia masih tetap tertidur pulas. sedikit demi sedikit aku nekat mulai masuk kedalam bra-nya dan mulai meremas-remas perlahan.
Namun seketika itu juga kakakku bangun dan memukul kepala aku “Ngapain kamu hah!!?”
Kontan saja aku kaget dan takut melihat wajah kakakku hingga nyaliku ciut di hadapannya “Eng… A-anu Kak… Anu…” aku tidak bisa jawab apa-apa karena takut dilaporkan ke orangtua kami yang tentu saja bisa panjang urusannya.
“Kamu itu kecil-kecil udah kayak gini… Gedenya mau jadi apa!?” kakak ku membentak dengan suara yang menakutkan.
“M-maaf Kak… A-abis aku tadi baca cerita seks tentang adik dan kakak gitu… Uups…” aku menutup mulut karena sadar telah keceplosan berbicara.
Langsung Kak Nabila menjewer telingaku “Dasar kamu masih kecil baca begitu laporin Papa tau rasa…!!”
Aku langsung memohon agar tidak dilaporkan karena aku takut bila aku dipukul, dan untungnya kakakku mengabulkannya akhirnya tidak dilaporkan ke Papa.
Lalu aku menanyakan kenapa tidak boleh dengan enaknya dia bilang ” kamu blom cukup umur iki… heuuuuuh sini kamu” dengan mudahnya aku di ketok kepalanya lalu aku menangis karena sakit. kakak aku langsung bingung mau bagaimana dan mencoba menenangkan aku. setelah reda aku ingin mencoba minta izin ke kakak aku, “kak boleh pegang lagi gak?” “apa? hmm… boleh deh tapi jangan kemana-mana ya tangannya” seakan mendapat hadiah langsung aku langsung memegang dan meremas-remas dada kakak aku yang berukuran besar itu. aku remas dan menghisap putingnya yang berwarna merah muda dengan agak keras. nafas kakak ku mulai tak beraturan dan terlihat pandangan matanya mulai berubah. tangan ku mulai turun ke celana nya dan mencoba memegang vaginannya terasa lembab dan agak basah. kakak ku diam saja sambil tiduran dan terlihat dia menikmati perlakuan aku. lalu aku mencoba menurunkan celananya berikut celana dalamnya yang berwarna putih dan berrenda. aku melihat pemandangan yang belum pernah melihat pemandangan itu sebelumnya.
vagina yang berwarna merah dan terlihat rapat tapi tidak ada bulunya, sangat bersih dan tercium wangi yang khas sekali. penis ku yang daritadi keras ingin sekali keluar namun aku masih belum berani mengeluarkannya takut marah. “kak boleh di jilat gak?” dia diam saja dan aku langsung menjilatnya, rasanya asin-asin tak jelas namun sangat nikmat aku terus menjilatinya. terlihat kakak ku bergerak-gerak tak karuan hingga akhirnya tiba-tiba kakak ku menjerit agak keras dan vaginanya seperti mengeluarkan cairan yang banyak sekali hingga muka ku basah olehnya. “kakak kenapa?” aku bertanya dengan polosnya ” gak apa-apa ko ki, sini gantian kakak yang ngerasain” lalu dia berbalik menghadap ku dan mencoba menurunkan celana ku. tentu saja aku malu mengingat ukurannya yang menjadi besar dan keras belum lagi aku tidak mau di sunat dulu karena takut. setelah dia agak memaksa lalu celanaku turun dan penisku bebas keluar langsung di sergap oleh mulut kakak ku. aku merasa geli namun enak. aku mulai merasankan lidahnya menjilati lubang kencingku dengan perlahan aku mulai menjerit-jerit kecil karena saking enaknya. tiba-tiba aku merasakan ingin pipis dan aku mencoba menghentikan kakak aku agar berhenti. namun dia tidak menghiraukannya dan malah mempercepat hisapannya. karena tidak kuat lagi maka croot croot croot aku pipis di mulut kakak tapi rasa pipis nya sangat berbeda dari biasanya. rasanya aku seperti terbang ke langit ke 7. “kak maap ya pipis di mulut kakak” dengan polosnya aku berbicara seperti itu “gak apa-apa ko ki, tadi tuh bukan pipis tapi sperma beda loh dah kamu tidur jam 3 ni” kakak ku langsung mengenakanku pakaian dan dia menggunakan kembali celananya. lalu kami tidur.
Pagi itu hari minggu aku bangun jam 9 dan melihat sekeliling ku mencari kakak ku ternyata tidak ada. saat aku turun ke bawah aku melihat kakak ku hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya sambil memasak sarapan pagi. “pagi iki, sana mandi ni air panasnya udah di siapin ntar mandi bareng aja kakak juga belum mandi” aku langsung meloncat kegirangan saat itu. setelah aku masuk kamar mandi aku langsung membuka baju dan celana, terbayang badan mulus kakak ku terlihat di depan mataku itu dan ingin aku menjilati vaginanya lagi karena rasanya yang begitu enak. kakak ku masuk setelah itu dan membuka handuknya. mata ku tak ayal lepas dari badan kakak ku yang putih bersih itu. dadanya yang begitu besar dan vaginannya yang bersih. aku langsung meremas-remas dadanya dan menghisapnya seperti ibu menyusui bayinya. “heeh gak sabaran aja mandi dulu kamu sini di mandiin” aku pun langsung bangun dan mandi badan ku di gosok dan di bersihkan oleh kakak ku penis ku yang setadinya keras di sabuni oleh kakak ku.
Dengan sengaja kakak ku menggosokan ke penis ku dalam waktu lama, dia menaik turunkan tangannya dan mengocok batang penis ku. aku langsung kelonjotan dan rasa nikmat tiu menjalar ke tubuh ku tiba-tiba perasaan tadi malam pun muncul dan aku langsung mengeluarkannya.
‘Croooooot… Crooooot… Crooot…’ sebanyak 3 kali aku mengeluarkannya.
Terlihat warnanya putih bening dan lengket kakak ku pun langsung membersihkan badan ku. setelah itu girilannku yang menyabuni kakak ku, mulai dari perut yang mulus hingga ke dadanya yang besar itu aku meremas-remas dadanya dengan perlahan. kakak ku nafasnya mulai tak teratur penis ku mulai bangun lagi tapi aku tidak memperdulikannya dan terus menyabuni kakak ku. setelah itu aku turun ke selangkahannya dan mulai menyabuninya. aku menggosokan vaginanya dan tiba-tiba kakak ku memegang tangan ku. ‘disitu ya ki terus ki…” aku mulai bingung dan mengikuti kata-kata kakak ku. aku menyabuni vaginanya dan menggesek-gesekan bibir vaginannya. tiba-tiba dia pipis dan rasa hangat mulai terasa di tangan ku. “ki mau gak yang lebih enak dari tadi?” aku menjawab langsung mau dan disuruh aku tiduran di lantai. kakak ku langsung mengurut-ngurut penis ku yang keras tadi dan menempelkannnya pada vaginannya. aku merasakan ada hal lain pada diriku. rasa nikmat mulai terasa pada diriku. kakak ku mulai memasukan penisku kedalam vaginanya. aku merasakan agak sakit karena seperti di jepit oleh sesuatu yang tebal. mula-mula kepala penisku masuk ke dalam vaginanya rasanya aku terlempar ke langit karena saking nikmatnya perlahan-lahan mulai masuk semuanya.
Saat tinggal setengahnya lagi dia langsung menyentak ke bawah dan amblas semuanya. aku merasakan seperti menyobek sesuatu dan merasakan rasa nikmat yang luar biasa. penis ku seperti di urut dan di remas-remas oleh vagima kakak ku itu. kakak ku terlihat seperti mengeluarkan air mata. dari mukanya terlihat seperti menahan sakit. lalu dia mulai menaik turunkan pantatnya perlahan-lahan benar-benar luar biasa pada saat itu tidak bisa digambarkan bagaimana rasanya antara geli hangat nikmat menjadi satu semuanya. lama-lama semakin cepat dan terus menikmatinya tiba-tiba penis ku seperti disiram cairan yang hangat ooh begitu nikmatnya dunia . kakak ku mulai turun dan menyuruhku menghisap dadanya. aku melakukannya dengan penuh nafsu.
Aku merasakan ada yang ingin keluar dari penisku ini. langsung saja aku mengeluarkannya dan menekan langsung penisku dalam-dalam. crooot croot croooooot. sebanyak 6 kali aku mengeluarkan di dalam vagina kakak ku. tiba-tiba kakak ku lemas dan mulai mengatur nafasnya. rasa lelah begitu terasa dalam diriku. semua sendi terasa lepas dari tempatnya. aku mencoba bangkit dan mandi kembali begitu pula kakak ku. setelah selesai kami sarapan dan memulai kembali permainan yang tadi di kamar mandi kami mainkan
Hingga saat ini kakak ku dan aku masih melakukan permainan itu. namun sekarang aku tidak hanya bermain dengan kakak ku saja. aku bermain dengan teman-teman sekolah ku yang juga aku rampas keperawanannya. sungguh pengalaman hidup yang tidak bisa digantikan #kakak kandung
Skip to content
Cerita Lucah Cikgu
Blog
>Uncategorized>Bersetubuh Dengan Cikgu Bersuami Pancut Dalam
Bersetubuh Dengan Cikgu Bersuami Pancut Dalam
Post author:cikgu628
Post published:May 22, 2023
Post category:Uncategorized
Aku mendapat kerja sementara sebagai guru sandaran. Aku mengajar matematik di sebuah sekolah rendah. Di sekolah, aku meminati seorang guru yang mengajar subjek bahasa melayu. Ranti namanya dan dia berumur dalam lingkungan 38 ketika itu. Suaminya promoter.
Mempunyai 2 orang anak. Cikgu Ranti memiliki wajah yang cantik, hidungnya yang sedikit mancung itu menampilkan dirinya seperti seorang berdarah kacukan melayu-mamak. Kulitnya yang putih dan cerah itu memberikan pandangan yang menawan.
Meskipun tubuhnya agak besar, maksud ku tak gemuk, cuma besar dan tak mempunyai shape yang menarik namun dia memiliki ciri-ciri yang ku geramkan. Pehanya yang gebu dan betisnya yang membunting seringkali memberikan debaran di dada ku setiap kali aku memandangnya.
Lebih-lebih lagi jika dia memakai pakaian favourite ku iaitu baju kurung hijau berkain satin kuning yang terbelah di hadapan, baju kurung satin putih dan baju kurung bunga-bunga hijau.
Wajahnya yang cantik itu juga seringkali menaikkan nafsu ku. Dengan tudungnya yang kemas membalut kepalanya, aku seringkali tewas melancap sendirian di bilik air sambil membayangkannya. Namun, ada satu lagi yang benar-benar membuatkan aku begitu teringin sekali untuk memiliki dirinya.
Sesungguhnya cikgu Ranti memang bertuah memiliki tetek yang besar. buah dada nya seringkali mencuri tumpuan guru-guru lelaki dan aku tak terkecuali. Sudah bergelen sperma aku bazirkan gara-gara keberahian ku kepadanya tak dapat ditahan.
Keinginan ku untuk memilikinya telah mendorong ku untuk menjadi lebih gentleman dan berani melakukan maksiat. Aku memang gemar berbual dengan guru-guru yang sedang free di bilik guru.
Pada hari itu, aku memang bernasib baik kerana hanya aku dan dia sahaja di bilik guru sementara kebanyakkan guru lain masih mengajar dan ada juga yang mengikuti acara sukan antara sekolah di sekolah lain.
Untuk menuju ke meja ku, aku akan melalui mejanya dimana aku akan melalui belakang tubuhnya yang sedang duduk di kerusi. Dari pantry, aku mencuri-curi pandang sambil buat-buat membuat air, namun mata ku tak lepas dari memandangnya.
Aku kemudian tersedar bahawa dia ingin bangun dari kerusi dan dengan segera aku buat-buat menuju ke meja ku. Sebaik sampai di belakangnya, cikgu Ranti yang tak sedar aku melalui belakangnya terus bangun dan memusingkan badannya membuatkan kami berlaga dengan kuat.
Memang timing aku tepat pada masa tu. Akibat dari perlanggaran tubuh kami yang kuat tubuhnya hampir rebah ke belakang. Aku yang memang sudah penuh dengan akal lantas memautnya dan terus memeluk tubuhnya erat.
Dalam keadaan tubuhnya yang hampir terlentang itu, dia juga turut memaut tubuhku dan ini membuatkan pelukan kami semakin erat dan rapat. Tubuh gebunya yang licin dibaluti baju kurung satin putih itu aku ramas penuh geram.
Kemudian aku menarik tubuhnya supaya dapat berdiri tegak dan stabil dan kemudian aku melepaskan pelukan ku. “Cikgu Ranti, maaf, saya tak dapat nak elak tadi. Cikgu Ranti tiba-tiba je bangun dan pusing mengadap saya” aku berpura-pura meminta maaf.
“Ohh, tak pe. Saya juga minita maaf. Sepatutnya saya tengok-tengok dulu tadi. Awak ok? ” tanya cikgu Ranti penuh innocent. “Saya ok, cikgu Ranti ok? ” aku pula bertanya dan berbuat baik seperti malaikat, sedangkan tanduk dah sebesar dunia atas kepala time tu, cuma tak nampak je.
“Saya ok, saya nak ke pantry tadi. Maaf ye” cikgu Ranti kembali meminta maaf. “Tak pe cikgu. ” aku terus menuju ke meja ku setelah mengetahui bahawa dia ingin ke pantry.
Dari meja, aku perhatikan tubuhnya berjalan menuju ke pantry. Baju kurung yang licin membalut tubuhnya kelihatan sendat mengikut bentuk tubuhnya yang mampat dan gebu. Aku serta merta menggosok batang ku dari luar seluaar dan membangkitkan rasa ghairah semakin mengembang.
Aku nekad, aku mesti dapatkannya. Aku mesti pancut di tubuhnya yang dibaluti baju kurung satin putih itu hari ini juga. Bukan senang nak dapat line clear dan berdua sahaja dengan dia macam tu.
Aku terus bangun dari kerusi dan menuju ke pantry. Di pantry, aku lihat cikgu Ranti sedang mengisi air panas di dalam mug. Dia menyedari kehadiranku. Dia menoleh dan tersenyum kepada ku yang sedang tercegat memerhatikannya di pintu.
Kemudian dia kembali menumpukan kepada aktivitinya membuat air. Aku berjalan perlahan-lahan menghampirinya dalam debaran yang semakin kencang. “Nak air ke? Nak saya buatkan? ” tanya cikgu Ranti tanpa memandang ku yang sedang berdiri di sebelahnya.
“Err. tak apa cikgu Ranti. Saya baru lepas minum tadi. Sebenarnya saya nak minta maaf pasal tadi. ” kata ku gugup. “Ehh. tak ada apa-apalah. Saya tak kisah, lagi pun bukan salah awak. ” kata cikgu Ranti sambil memandang ku.
“Bukan pasal itu cikgu, tapi pasal tadi masa cikgu nak terjatuh, saya. err. ” aku gugup hendak meluahkan kata-kata. “Apa dia, cakaplah. ” cikgu Ranti meyakinkan ku sambil membancuh minuman tanpa memandang ku yang sedang berdiri di sebelahnya.
“Saya peluk cikgu Ranti. Bukan tu je, tapi saya raba sekali tubuh cikgu. Maaf ye cikgu Ranti. ” aku meminta maaf perangkap dalam debaran. Cikgu Ranti terdiam, sudu yang mengacau air di dalam mug terhenti serta merta.
Kemudian tanpa memandang ku, dia kembali mengacau minumannya sambil tersenyum sendirian. “Tak pe. saya tak kisah. Lagi pun bukan ada sesiapa nampak kan. ” kata cikgu Ranti membuatkan aku bersorak girangan di dalam hati.
Nampaknya aku ada peluang, perangkap sudah semakin mengena sasaran nampaknya. Memang bijak betul aku mencari helah untuk menikmati tubuhnya. “Betul ke cikgu tak kisah saya pegang-pegang tadi? ” tanya ku lagi.
“Ye, tak apa. ” jawabnya ringkas. Aku hampiri cikgu Ranti serapat yang boleh tanpa menyentuhnya. Perlahan-lahan aku usap-usap lengannya. Kelicinan daging gebunya yang dibaluti baju kurung satin itu membuatkan aku semakin ghairah.
Sesekali aku ramas-ramas lengannya. “Din. awak nak buat apa ni? ” tanya cikgu Ranti sambil tersenyum memandang ku. “Cikgu cantiklah, saya tak dapat tahan untuk peluk cikgu tadi. Lagi pun cikgu tak kisahkan? Sementara tak ada orang lagi ni, bagi saya pegang tubuh cikgu sekali lagi ye. ” suara ku lembut seperti berbisik ke telinganya.
“Awak suka saya ke? Saya ni kan dah tua. Anak dah 2 orang dah. Bini orang pulak tu. ” cikgu Ranti cuba menguji nampaknya. “Saya tak kira, saya nak juga. saya nak juga. Ranti. ” tangan aku terus merangkul tubuhnya dan bibirku terus melekat di bibirnya.
Tanpa mengelak, cikgu Ranti terus menerima kucupan dari ku dan memberikan tindak balas yang mengasyikkan. Kami kemudiannya berpelukan sambil berkucupan di dalam pantry. Tangan ku puas meraba seluruh pelusuk tubuhnya hingga aku akhirnya berjaya meraba tubuhnya dari dalam bajunya.
Hook branya ku buka, tetek nya yang besar itu akhirnya membuai-buai terdedah dari baju kurungnya yang ku selak ke atas. Berkali-kali aku menelan air liur melihat tetek nya yang aku geramkan selama itu akhirnya berada di hadapan mata.
Aku usap tetek nya dan ku ramas-ramas perlahan. Selama ini, sepanjang pengalaman aku bersetubuh dengan wanita, tak pernah aku menikmati tetek sebesar milik cikgu Ranti. Seperti betik yang sedang mengkal, putingnya yang sederhana besar dan berwarna kehitaman itu aku hisap seperti bayi kecil gamaknya.
Cikgu Ranti membiarkan perbuatan ku. Sambil tersenyum, dia menetek sambil memandang ku. Aku yang sedang sedap menghisap buah dada cikgu Ranti yang besar itu lantas mengeluarkan batang ku dari zip seluar yang telah ku buka.
Aku hunuskan batang ku yang keras berurat itu ke arah peha cikgu Ranti. Oleh kerana kedudukan ku yang membongkok itu, maka sukar untuk aku merapatkannya secara berhadapan.
Lalu aku terus beralih ke bahagian kiri tubuhnya. Dengan mulutku yang masih tak mahu lepas dari buah dada nya, aku merangkul pinggang cikgu Ranti dari tepi lalu aku rapatkan batang ku ke pehanya.
Kelicinan kain satin yang dipakai cikgu Ranti menyentuh kepala batang ku dan ianya membuatkan batang ku semakin mengeras dan nafsu ku semakin berahi. Tangan kiri ku pula meraba perut dan tundunnya yang tembam dan masih terselindung di balik kain yang dipakainya.
Tekanan dan geselan batang ku di pehanya yang dibaluti kain yang licin itu telah membuatkan cikgu Ranti menyedari akan tindakan ku yang semakin berani itu. Dia terus meraba-raba mencari batang ku dan akhirnya dia menggenggamnya erat.
“Awak ni. dah tak tahan ye? ” bisik cikgu Ranti kepada ku. Aku memandangnya, kelihatan matanya meliar melihat keadaan di luar pantry. Takut ada orang datang. Lalu aku lepaskan buah dada nya dari mulutku.
Aku kembali berdiri tegak mengadapnya dari sisi sambil terus merangkul dan merapatkan tubuh ku ke tubuhnya. “Saya tak tahan cikgu. Cikgu Ranti pegang apa tu? ” aku sengaja menguji cikgu Ranti.
“Saya pegang burung yang dah gatal ni. Kerasnya. hm. ” jawab cikgu Ranti sambil menggenggam batang ku geram. “Suami cikgu punya ada macam saya punya? ” tanya ku untuk menambah berahinya.
“Lebih kurang, cuma awak punya. m. keras sangat laa. ” jawab cikgu Ranti tersipu-sipu. Aku yakin cikgu Ranti sudah semakin bernafsu ketika dia memegang batang ku itu.
Reaksinya sama seperti ketika aku bersetubuh dengan kak Sue dahulu. Hembusan nafasnya semakin kuat, seiring dengan tangannya yang menggenggam batang ku semakin kuat. Aku kemudian mengucup bibirnya sambil tangan ku meraba-raba bontot dan perutnya yang membuncit itu.
Cite lucah Bersetubuh Dengan Cikgu Bersuami Pancut Dalam
Tundunnya sesekali aku ramas dan usap penuh geram. Kelicinan kain satin putih yang membalut tubuhnya membuatkan nafsu ku semakin membara. Cikgu Ranti mengucup bibirku penuh nafsu. Tangannya sudah mula merocoh batang ku dan sesekali dia menggosokkan kepala batang ku di peha gebunya yang licin itu.
“Saya nak cikgu Ranti. ” kata ku berbisik kepadanya. “Nak apa” jawab cikgu Ranti sambil tersengih. “Saya nak cikgu. Please. ” pinta ku seperti menagih simpati. “Sini tak boleh, bila-bila masa je cikgu-cikgu lain boleh masuk. Lain kali ye. ” cadangnya kepada ku.
“Cikgu lancapkan pun tak apa. Sekurang-kurangnya saya tak kempunan hari ni. Boleh ye sayang. “pinta ku kepadanya. “Ok. ” jawab cikgu Ranti sambil tangannya terus melancapkan batang ku.
Sambil dia melancapkan batangku, aku kembali membetulkan pakaiannya. Hook branya ku kancing semula dan baju kurung yang ku selak tadi ku turunkan semula menutupi tubuhnya. Kemudian aku kembali meramas dan mengusap seluruh tubuhnya yang gebu itu.
“Cikgu. saya suka cikgu pakai baju kurung satin ni. Buat saya tak tahan. ” aku merintih kenikmatan dilancap oleh cikgu Ranti. “Ye ke. suka kain satin yang licin ni? Ok, kalau cam tu, macam mana kalau. saya buat macam ni. ” kata cikgu Ranti sambil tangannya membaluti batang ku dengan kain baju kurung satinnya yang licin itu.
“Sedap tak? ” tanya cikgu Ranti sambil tangannya melancapkan batang ku menggunakan kain baju kurungnya. ” Oh. sedapnya cikgu. “aku semakin berahi tatkala cikgu Ranti melancapkan batang ku.
“Cikgu. saya nak terpancutt. uuh. ” aku memberi amaran kepadanya. Cikgu Ranti nampaknya terus melancapkan batang ku tanpa menampakkan tanda-tanda hendak berhenti. Aku yang semakin kekejangan hampir ke puncak itu memeluk tubuh cikgu Ranti penuh nafsu.
“Hmm. keras betul lah awak punya ni. Sayang rasanya nak saya lepaskan. ” cikgu Ranti nampaknya betul-betul geram dengan batang ku. “Cikgu Kal. Som. OOh. Kalsom. sayang. ” aku merintih serentak dengan pancutan sperma yang memancut keluar.
Cikgu Ranti melancap batang ku yang berdenyut-denyut di dalam genggamannya. Wajahnya yang cantik itu aku tatap penuh berahi. Kemerah-merahan wajahnya menerima pancutan sperma ku yang banyak di tubuhnya itu.
Batangku seperti diperah-perah tangannya. “Banyaknya sperma awak Din. ” Cikgu Ranti seperti terkejut sebaik dia melihat batang ku yang selesai memancutkan sperma di dalam genggamannya. air mani ku yang terpancut itu kelihatan meninggalkan kesan basah yang amat besar dan banyak di baju kurungnya.
Oleh kerana baju kurungnya berwarna putih, jenis satin plain pula tu, maka ianya dapat dilihat dengan jelas. “Macam mana cikgu, nanti cikgu nak cakap apa kalau orang tegur kesan basah ni. ” aku bertanya ingin tahu.
“Takpe, saya cakap je air tumpah. Balik nanti saya cuci lah. Lagi pun bukan ke kejap lagi habis waktu sekolah. ” cikgu Ranti menerangkan kepada ku. Aku menangguk setuju.
Selesai sahaja perbuatan terkutuk itu, segera kami pergi ke meja masing-masing. Pada waktu pulang, aku terlihat cikgu Ranti menunggu kehadiran suaminya di porch sekolah. Dia ternampak kelibat aku memerhatinya.
Dari jauh aku lihat dia tersenyum kepada ku dan sambil itu dia memandang ke bawah, menunjukkan dia menggunakan fail sebagai penutup kesan tompokan sperma ku di baju kurungnya.
Aku mengangguk memahami taktiknya dan terus berlalu dari situ menuju ke tempat letak motorsikal. Selepas itu, aku menjadi begitu merinduinya. Sehari kalau aku tak nampak dia macam nak gila rasanya.
Setiap kali kami bertemu, pasti hanya senyuman yang terpamer di bibir kami berdua. Senyuman yang penuh rahsia dan sulit untuk diperkatakan. Keinginan ku untuk mendampingi cikgu Ranti lebih rapat terhalang berikutan tiada ruang waktu untuk kami bersama.
Nasib baik aku gamble je ngorat dia hari tu, kalau tak, mesti susah nak dapat. Sekarang aku dah dapat, cuma waktu je tak ada yang sesuai. Lebih-lebih lagi selepas habis waktu sekolah, persekolahan sessi petang juga menjadi salah satu batu penghalang untuk kami bertemu.
Aku tahu, dia juga menginginkannya. Setiap kali kami terserempak samada di tangga atau di tempat-tempat yang tak dilihat orang, tangannya akan meraba batang ku sekali lalu. Begitu juga dengan ku yang akan meraba vagina nya sekali lalu.
Dapat sentuh sikit pun jadilah, buat ubat rindu. Kerinduan kami berdua sudah sampai ke tahap paling kritikal. Cikgu Ranti sering sahaja memakai baju kurung putih satin. Dari mejanya di bilik guru, dia selalu merenungku seperti meminta sesuatu.
Aku tahu apa yang diinginkannya. Hinggalah pada hari itu cikgu Ranti memberi isyarat mata kepada ku untuk mengikutnya ketika waktu rehat. Aku mengekorinya dari jauh dan kelihatan dia masuk ke bilik buku teks.
Bilik tersebut memang tiada sesiapa yang akan masuk kecuali jika ada urusan berkenaan buku teks. Di dalam bilik itu, aku perhatikan tiada sesiapa, hanya kelibat cikgu Ranti menuju ke belakang rak.
Perlahan-lahan aku tutup pintu dan biarkannya tak berkunci supaya tak menimbulkan syak wasangka bagi sesiapa sahaja yang memasuki bilik tersebut. Aku dapatkan cikgu Ranti yang sedang berdiri bersandar pada rak buku teks menanti kehadiran ku.
Sebaik sahaja aku mendekatinya, cikgu Ranti terus sahaja memeluk ku erat. Aku juga memeluknya erat. Bibir kami bercantum dan berkucupan penuh nafsu. Berdecit-decit bunyi mulut kami yang berlaga sesama sendiri, sementara tangan aku tak lepas peluang meraba seluruh pelusuk tubuhnya, begitu juga dirinya.
“Din. saya rindu awak. ” Cikgu Ranti berkata sayu sambil mendongak memandang wajah ku. “Saya juga rindukan awak sayang. Ranti. saya tak tahan. ” bisikku kepadanya. “Saya pun. Kita bersatu sekarang ye. ” bisik cikgu Ranti seperti pelacur meyakinkan pelanggannya.
Aku mengangguk perlahan tanda setuju. Cikgu Ranti pun terus membuka seluar ku. Sebaik sahaja seluar dan spender aku terlorot hingga ke lantai, cikgu Ranti terus sahaja menyambar batang ku yang sudah keras mencanak itu.
Tanpa di suruh, dia terus menyuap batang ku ke dalam mulutnya. Seperti kelaparan gamaknya, dia menghisap batang ku penuh nafsu. Nafsu ku juga semakin tak keruan. Lebih-lebih lagi apabila melihatkan seorang wanita yang masih lengkap berpakaian berlutut menghisap batang ku.
Kepalanya yang bertudung itu maju mundur seiring dengan batang ku yang keluar masuk mulutnya. Lidahnya sengaja bermain dengan kuat di batang ku yang keras itu. Tubuhnya yang berlutut di hadapan tak ubah seperti sarung nangka.
Ianya membangkitkan nafsu ku ke tahap paling maksima. Kemudian cikgu Ranti berdiri di hadapan ku. Tangannya melancapkan batang ku yang sudah licin berlumuran dengan air liurnya. Kami berkucupan sekali lagi.
Kali ini penuh nafsu. Gelora nafas cikgu Ranti dapat aku dengar jelas. Nampak sangat dia dah stim gila. Tanpa membuang masa, aku terus selak baju dia dan buah dada nya yang besar itu membuai-buai seolah memanggil mulut ku supaya menghisapnya.
Aku selak colinya dan tanpa berlengah, aku terus hisap buah dada cikgu Ranti yang besar itu. Cikgu Ranti nampaknya menikmati hisapan ku di buah dada nya. Dia memeluk kepala ku supaya lebih rapat ke dadanya.
“Sedap kan sayang. ” tanya cikgu Ranti laksana pelacur murahan. “hmmph. ” aku hanya mampu berdehem sambil menikmati buah dada cikgu Ranti yang aku geramkan itu. Sambil aku menghisap buah dada nya, cikgu Ranti cuba mancapai batang ku yang terpacak di kelengkang ku.
Sebaik sahaja dia dapat menyambar batang ku, dia terus menarik batang ku rapat ke tubuhnya. Aku terpaksa melepaskan hisapan di dadanya dan berdiri rapat ke tubuhnya. Kelihatan cikgu Ranti cuba meletakkan batang ku di kelengkangnya melalui kain yang sudah terselak ke pinggang itu.
Namun, aku masih mentah lagi, belum tahu cara nak main berdiri. Cikgu Ranti sedar kelemahan ku dalam teknik persetubuhan. Lalu dia berdiri membelakangi ku sambil dia memaut pada tiang rak buku teks.
Aku yang sudah tahu akan kehendaknya, terus memeluknya dan membenamkan batang ku ke lurah gatalnya yang sudah berair dan lecak itu. Sekali benam sahaja batang ku sudah terjerumus ke dasar vagina nya.
Nampak sangat dah bobos gila vagina dia ni. Ahh. aku tak peduli, yang penting sedap. Tanpa menunggu walau sesaat, aku terus menghayun batang ku keluar masuk vagina nya.
Aku hentakkan sedalam-dalamnya membuatkan cikgu Ranti merengek-rengek menikmati gelora nafsu yang diingininya. “uuh. sedapnya Din. Sedapnya. kerasnya. ” cikgu Ranti merengek kesedapan. Setelah agak lama aku bersetubuh dengannya, aku sudah hampir ke kemuncak.
Tanpa memberi amaran, aku terus membenamkan batang ku sedalam-dalamnya, melepaskan pancutan padu terus ke dasar vagina nya. Apa yang aku ingat, pada waktu itu jugalah cikgu Ranti mendengus seperti lembu kena sembelih, malah otot vagina nya yang sebelum itu aku rasakan lembut tiba-tiba jadi kejang.
Nampaknya aku dan dia klimaks serentak. Kami berkucupan penuh kepuasan selepas melayari kenikmatan perzinaan yang hina itu walau pun dalam keadaan tergesa-gesa. Namun apa yang pasti, tubuhnya aku sudah takluki.
YOU MIGHT ALSO LIKE
Dendam Menantu
May 22, 2023
Work Partner
May 22, 2023
Along
May 23, 2023
Threesome Ustazah
Copyright - OceanWP Theme by OceanWP
comell cantik padu sangat🤤🤤💦
Join VIP Telegram : @PvKoleksi
memang sedap perempuan ni . Sial betul .
Dilla
“Nama adik siapa?” tanya Akmal.
“Saya Dilla” jawab gadis itu.“Oh.. Dilla.. ” sambut Akmal.
Suasana sepi seketika. Masing-masing melontarkan pandangan kosong ke Taman Herba yang biasanya menjadi tempat pesakit-pesakit beristirehat dan para pelawat menunggu waktu melawat. Bunyi cengkerik menghiasi suasana sunyi pada malam itu.“Dilla sebenarnya temankan siapa kat sini?” tanya Akmal. “Dilla temankan abah Dilla. Dia kena ulser usus. Dah buat operation dan sekarang tengah tunggu doktor bagi kebenaran balik.” jawab Dilla.“Agak-agak bila agaknya abah Dilla boleh keluar hospital?” tanya Akmal ingin tahu.“Tak tahu lah bang. Masih macam tu lagi nampaknya, cuma dia dah tak menanggung sakit macam dulu lagi dah. Doktor kata mungkin lagi seminggu dia kat sini. Abang temankan siapa pulak?” tanya Dilla pula.“Abah abang. Dia kena semput. Kronik sangat sampai dah masuk air dengan oksigen. Katil abah abang selang sekatil dari katil abah Dilla.” terang Akmal.“Ye ke, eh Dilla tak perasan.” kata Dilla sambil tersengih.Suasana sepi kembali. Masing-masing masih berdiri menongkat siku di pagar besi yang memisahkan Taman Herba dengan kaki lima. Lampu kaki lima menerangi suasana. Datang pula seorang pengawal keselamatan bertanyakan status kehadiran mereka berdua di luar wad pada waktu itu kerana waktu melawat sudah lama tamat. Setelah diterangkan mereka adalah waris pesakit di wad, pengawal itu pun pergi ke wad yang lain.“Nama abang siapa?” tanya Dilla. “Panggil saja abang Akmal.” jawab Akmal ringkas.“Abang dah kawin ke belum?” tanya Dilla.“Abang bujang lagi. Nape Dilla?” tanya Akmal pula.“Ah.. saja tanya..” jawab Dilla.“Dilla masih sekolah ke?” tanya Akmal mula memancing agar semakin mesra.“Ha'ah.. belajar kat Kolej bla bla bla bla………..” dan mereka pun berbual mesra saling mengenali sesama mereka. Namun pada masa yang sama Akmal sebenarnya sedang memasang niat untuk merasai tubuh gadis itu. Sambil berbual, Akmal mencuri pandang tubuh Dilla yang ketika itu bertudung putih, berbaju t coklat dan berseluar track. Mata Akmal lebih tertumpu kepada punggung Dilla. Sedikit tonggek dan cantik. Lebih-lebih lagi ketika itu Dilla memakai seluar track yang nampak agak sendat manyarung punggungnya. Sudah tentu bentuk pungguung Dilla yang licin dibaluti seluar track itu merangsang syahwat Akmal. Tubuh Dilla yang slim itu dihiasi sepasang buah dada yang sederhana saiznya, tidak terlalu besar. Lebih dari cukup tapak tangan untuk menampungnya. Tahi lalat kecil kelihatan merata berada di wajah Dilla menambah keserian wajahnya. Lebih-lebih lagi salah satunya berada di dagu kirinya. Akmal menahan geram sahaja. Hatinya seakan hendak melihat wajah gadis yang comel itu menghisap batangnya. Dia ingin batangnya di kolom wajah cantik bertahi lalat di dagu kiri itu. Dan sudah tentu ketika masih bertudung.Akmal mengajak Dilla minum di warung di luar hospital. Dilla setuju dan mereka masuk kembali ke wad untuk melihat keadaan bapa masing-masing sebelum memesan kepada jururawat yang bertugas bahawa mereka keluar sebentar ingin minum malam di warung.Sepanjang perjalanan ke warung, Akmal sengaja berjalan agak rapat dengan Dilla membuatkan bahu mereka sering berlaga. Di warung kopi yang dibuka sehingga 2 pagi itu, mereka berbual kembali tentang perkara-perkara semasa disamping mengenali hati budi masing-masing. Akmal begitu bijak menjadi alim-alim kucing. Dia bertekad ingin menikmati gadis comel itu. Tak dapat masuk, dapat cium bau pun jadilah.Selepas itu, mereka berdua ke jeti tempat orang memancing. Kelihatan ramai pemancing sedang duduk menunggu umpan mereka disambar ikan. Nasib mereka seakan sama dengan nasib Akmal, sedang berusaha memancing mendapatkan ikan segar yang cantik dan seksi berseluar track itu. Berdua mereka duduk di benteng menikmati hembusan angin muara sungai yang dingin. Dilla kelihatan kedinginan. Akmal membuka jaketnya dan meyarungkan ke tubuh genit Dilla. Dilla tersenyum kepada Akmal sambil mengucapkan terima kasih. Dengan selamba Akmal menjawab, “Kasih diterima”. Tersenyum simpul Dilla dibuatnya.Selepas itu, mereka kembali ke hospital. Ketika ingin menyeberangi jalan, Akmal memegang tangan Dilla membuatkan Dilla malu-malu. Walau pun sudah menyeberangi jalan, Akmal masih tidak melepaskan tangan Dilla. Malah dipimpinnya gadis genit itu beriringan menuju ke dalam hospital. Dilla yang serba malu itu serba salah. Hendak lepaskan terasa sayang, hendak di biarkan terasa malu. Dilla terpaksa memendam rasa malunya lantaran dia juga sebenarnya menaruh minat kepada Akmal. Baginya mungkin itu dapat membantunya agar dapat memiliki hati Akmal yang boleh tahan kacaknya. Mereka berjalan berpimpinan dan Akmal membawa Dilla ke Taman Herba yang suasananya gelap itu. Mereka duduk di bangku batu yang beratapkan bumbung berbentuk cendawan. Tangan Akmal masih memegang tangan Dilla. Akmal memandang Dilla yang duduk rapat disebelahnya. Dilla memandang wajah Akmal dalam suasana yang agak gelap itu. Akmal melepaskan tangan Dilla dan memaut dagu Dilla dengan lembut. Seakan dipukau, Dilla menurut menoleh ke wajah Akmal. Dagu runcing Dilla di usap penuh kelembutan. Jari Akmal mengusap pipi Dilla yang lembut. Dilla hanya diam dalam debaran menanti tindakan selanjutnya dari Akmal.Perlahan-lahan wajah Akmal merapati wajah Dilla. Mata Dilla terpejam dan bibirnya sedikit terbuka, seakan memberi isyarat bahawa dia merelakan. Bibir mereka berdua pun akhirnya bertaut dan saling mengucup dan menerima. Akmal mula memainkan lidahnya menguli lidah Dilla. Dilla yang kaku dan tidak berpengalaman di dalam hubungan yang seperti itu hanya mengikut rentak permainan yang jelas dikuasai oleh Akmal. Lidah Akmal lincah meneroka mulut gadis genit itu dengan penuh kelembutan dan penuh perasaan. Lelangit Dilla berkali-kali di jilat Akmal sehingga Dilla seakan lemah dalam gelombang asmara. Dilla menikmati perasaan yang selama ini hanya difikirkan di kotak fikirannya, yang hanya di lihat di kaca-kaca televisyen dan yang kadang-kadang di dalam angannya tatkala sendirian.Akmal memaut tubuh Dilla yang dirasakan semakin longlai dalam keberahian. Tangan Akmal mula mengaktifkan segala suis asmara di seluruh tubuh Dilla. Lengan Dilla di usap-usapnya. Dari bahu hingga ke jari jemari. Naik kembali ke perut Dilla yang ramping dan naik perlahan-lahan ke gunung comel milik gadis itu. Akmal meraba-raba tetek Dilla dengan lembut sambil meramasnya perlahan-lahan. Mulutnya masih lagi enak saling bertukar air liur sesama mereka. Dalam keberahian, Dilla cuba berlaku baik dengan cuba menolak tangan Akmal yang meramas teteknya. Namun tolakkannya setakat ala kadar, sekadar menunjukkan seakan dia tidak rela melakukannya, walhal dia sedang menikmati gelombang nafsu yang mengasyikkan itu. Usapan tangan Akmal turun ke tundun Dilla. Dari luar seluar track yang licin, Akmal mengusap-usap tundun Dilla dan sesekali jarinya mengusik belahan cipap Dilla yang dirasakan semakin lembap dan hangat. Keberahian Akmal semakin membara kerana peha Dilla yang gebu itu dirasakannya licin dan lembut kerana seluar track yang Dilla pakai pada malam itu. Tangannya mengusap penuh perasaan. Malah Akmal juga berusaha membuatkan Dilla membuka kepitan pehanya agar memberinya ruang untuk mengusap ruang terlarang yang sedia diketahuinya sudah semakin berair itu. Usahanya berhasil. Perlahan-lahan, Dilla membuka ruang untuk tangan Akmal mencapai celah saktinya dan membiarkan dirinya menikmati betapa sedapnya lurah kemaluannya diusap dan biji kelentitnya di gentel halus oleh Akmal. Gelora nafsu semakin menguasai Dilla. Dia benar-benar menikmati perasaan itu meskipun perasaan berdebar dan malu masih lagi wujud tersembunyi di kuasai nafsu. Dilla terkangkang bersandar di tubuh Akmal menikmati kelazatan kemaluannya di mainkan tangan nakal Akmal. Seluar track Dilla semakin ditembusi air kemaluannya yang melimpah. Malah, jari jemari Akmal dapat merasakan air cipap Dilla semakin banyak menyelaputi jarinya. Memang nasib Akmal kerjanya menjadi mudah kerana Dilla tidak memakai seluar dalam.Akmal berhenti seketika. Akmal membuka seluar slacknya dan menghunuskan pedang kontot yang keras dan gelap warnanya kepada Dilla. Dilla terpaku melihat konek Akmal yang besar. Akmal menarik tangan Dilla agar memegang koneknya. Tanpa bantahan Dilla memegang konek Akmal. Haba hangat dari konek Akmal serta merta dirasai tapak tangan Dilla yang mula memegangnya. Akmal memegang tangan Dilla yang sedang memegang koneknya dan mengajar Dilla cara melancapkan konek lelaki. Turun naik tangan Dilla yang menggenggam konek Akmal. Tangan comel gadis genit itu melancap konek Akmal dalam suasana gelap di Taman Herba. Akmal mula menikmati kesedapan dilancap Dilla. Akmal kembali menyambung menggentel kelentit Dilla. Mereka berdua saling berada di dalam kenikmatan dan saling melancap sesama mereka.Setelah beberapa minit, mereka berhenti. Akmal meminta Dilla berdiri dihadapannya dan membelakangi dirinya. Dilla hanya mengikut sahaja kata Akmal. Akmal kemudiannya menekup mukanya di celah-celah bontot Dilla.“Eh abang… Kenapa buat macam tu..” kata Dilla sambil mengalihkan badannya ke hadapan mengelakkan bontotnya di cium Akmal.“Please sayang… Abang nak cium bontot Dilla…” kata Akmal menagih simpati sambil tangannya melancap koneknya sendiri.“Abang nak buat apa?….” tanya Dilla serba salah.“Abang nak cium je sayang… Bontot Dilla cantik sayang…. please sayang…. ” pujuk Akmal.Dilla pun menurut dan membiarkan Akmal memekup mukanya di celah bontot Dilla. Akmal menghidu bau bontot Dilla yang memakai seluar track itu sedalamnya. Lidahnya menjilat celah bontot Dilla walau pun Dilla masih memakai seluar track. Perlahan-lahan tangan Akmal meramas bontot Dilla dan mengusap bontot Dilla manja.Akmal bangun dan memeluk Dilla. Koneknya di tembab ke bontot Dilla yang licin dibaluti seluar track itu. Akmal menggeselkan koneknya turuun naik celah bontot Dilla. Semakin lama semakin kuat Akmal menekan koneknya di bontot Dilla.“Dilla… Boleh abang sayang Dilla?” tanya Akmal.“Ermmm… nape?…. ” tanya Dilla ala-ala mengada-ngada.“Sebab abang rasa macam dah jatuuh cinta la…. ” kata Akmal.“Dengan sape?” tanya Dilla sengaja nak tahu.“Dengan Dilla…. ” kata Akmal.Dilla cuma tersenyum sendiri. Dia semakin syok pulak bila bontotnya digesel-gesel konek Akmal yang keras membatu tu. Pertama kali dalam sejarah dia diperlakukan sebegitu. Seronok rupanya berasmara. Dilla teringin nak pegang konek Akmal sekali lagi. Dilla menghulurkan tangannya ke belakang, menuju konek Akmal yang sedang menempel di celah bontotnya. Dilla memegangnya dan melancapkannya. Akmal serta merta tak boleh tahan. Koneknya di lancap di punggung seorang gadis yang sendat dengan seluar track yang licin. Akmal teringin nak memancutkan air maninya di bontot Dilla. Dia mahu bontot Dilla yang sendat dengan seluar track itu dicemari air maninya. Dia mahu lihat air maninya meleleh di bontot gadis cantik itu.“Ohhh…. Dilla…. Dillaaa…. ” Akmal semakin tak boleh handle.“Dilla… Sedapnya Dilla lancapkan abang…. AAAAAAAAHHHHHHH!!! ” Akmal mengerang kenikmatan dengan agak perlahan namun cukup bagi Dilla mengetahui bahawa dirinya sedang klimaks.Memancut-mancut air maninya diperah tangan Dilla yang comel itu. Air mani Akmal mencurah-curah di atas bontot Dilla dan membasahkan seluar tracknya. Sementara Dilla sungguh teruja merasakan bontotnya dihujani air mani yang banyak dan hangat. Tangannya memegang konek Akmal yang berdenyut-denyut mengeluarkan benihnya.Akmal terduduk kembali di pondok cendawan sementara Dilla menoleh-noleh ke bontotnya melihat kesan air mani yang Akmal berikan. Oleh kerana keadaan agak gelap, Dilla hanya dapat melihat seluar tracknya samar-samar dinodai air mani Akmal. Dilla duduk di sebelah Akmal dan diam tak berkata apa-apa.Beberapa minit selepas itu, mereka berdua masuk ke wad menemani bapa masing-masing. Dilla… Dilla….“ bisik Akmal di telinga Dilla.Dengan mata yang kelat Dilla membuka matanya. Wajah Akmal terpandang di hadapannya. Akmal segera menunjuk isyarat supaya senyap kepada Dilla. “Ada apa bang?” tanya Dilla seperti terpinga-pinga. Akmal tidak menjawab. Dia hanya menarik tangan Dilla hingga Dilla bangun dari kerusi malas di sebelah katil ayahnya. Ayahnya kelihatan sedang berdengkur. Tiub air masih melekat di tangannya. Mereka berdua keluar melalui pintu belakang menuju ke tangga tingkat atas. Kemudian mereka masuk lif dan menuju ke tingkat paling atas di bangunan itu. “Kita nak kemana ni bang?” tanya Dilla sambil matanya melihat jam ditangan, baru pukul 12 tengah malam rupanya. “Adalah… Abang ada tempat yang special nak tunjuk kat Dilla.” kata Akmal berahsia. Sebaik lif sampai di tingkat paling atas, mereka pun keluar dari lif dan menaiki tangga menuju ke atas bumbung bangunan 5 tingkat itu. Pemandangan hampir separuh bandar itu dapat dilihat dengan jelas dari tempat mereka berdiri. Akmal segera menutup pintu dan menyendalnya menggunakan sebatang besi. “Cantiknya bang… Macam mana abang tahu ada tempat cantik macam ni?” tanya Dilla. “Tadi abang boring, tak tahu nak buat apa. Jadi abang saja-saja jalan-jalan naik atas ni.” jawab Akmal sambil memaut pinggang Dilla yang berdiri di sisinya. Dilla teruja dengan pemandangan yang cantik itu. Lampu jalan dan bangunan-bangunan menghiasi permukaan bumi disamping cahaya bulan yang menerangi mereka berdua. Mereka berbual mesra dan saling bersentuhan sesama mereka. Tangan Akmal sentiasa mengusap bontot Dilla. Air mani yang tadinya membasahi bontot Dilla sudah kering dan mengeras di atas bontot seluar track Dilla. “Abang ni gatal lah… Asyik pegang bontot Dilla je..” kata Dilla manja. “Abang suka lah kat bontot Dilla…” kata Akmal. “Kenapa?” tanya Dilla. “Sebab seksi…” kata Akmal. “Seksi ke bang? Dilla tak pakai seksi-seksi lah bang, setakat seluar track ni je…” Kata Dilla. “Seluar track tu yang buat Dilla nampak lagi seksi. Licin dan nampak mantap.. Gerammm abang… ” kata Akmal sambil meramas bontot Dilla. “Abang ni… kang terpancut-pancut lagi kang….” kata Dilla. “Kalau Dilla sudi… seluruh bangunan ni abang tadahkan…” kata Akmal. Dilla ketawa kecil. Kemudian tangannya memegang perut Akmal. Matanya melihat wajah Akmal yang samar-samar membelakangi cahaya bulan. Akmal memimpin tangan Dilla memegang koneknya. Dari luar seluar, Dilla mengusap konek Akmal. Akmal semakin stim apabila koneknya di pegang gadis comel yang cantik itu. Akmal membuka zip seluarnya dan mengeluarkan koneknya menjadi tatapan Dilla. “Eeee… tak malu… tayang burung kat perempuan…” kata Dilla. “Memang abang tak malu… asalkan cuma dengan Dilla sorang je…” kata Akmal memancing kepercayaan Dilla. “Abang ni… jahatlah….” kata Dilla sambil jarinya mula menjalar ke konek Akmal yang sedang giat berkembang itu. “Tak jahat… nakal je…. ” kata Akmal tersengih-sengih. Dilla mula melancap konek Akmal. Di usap-usapnya konek yang keras itu berulang-ulang kali. Sementara Akmal pula meraba-raba peha dan bontot Dilla. Tangannya semakin masuk menuju ke kelengkang Dilla. Dilla membiarkan Akmal menggosok cipapnya. Dilla gembira dirinya dicabul sebegitu kerana dia menikmati kesedapannya yang menyeronokkan. Akmal memasukkan tangannya ke dalam seluar track Dilla dan mula menggosok cipap Dilla. Bunyi air berahi Dilla semakin kuat sewaktu Akmal menggentel kelentit Dilla yang semakin banjir itu. Air pekat dan licin semakin banyak keluar dari lubang cipap Dilla membasahi tangan Akmal. “Dilla sayang dah stim ye… ” tanya Akmal selamba. “alah abang niee….” kata Dilla malu-malu. “Dilla hisap konek abang sayang…” pinta Akmal. Dilla terus tunduk menonggeng menghisap konek Akmal. Pertama kali dalam hidupnya menghisap konek lelaki dan dia kelihatan teragak-agak melakukannya meskipun sudah hampir separuh konek Akmal hilang di dalam mulutnya. Akmal melihat kepala Dilla yang bertudung itu bergerak-gerak menghisap koneknya. Akmal melihat punggung Dilla yang sedang menonggeng. Akmal mengusap bontot Dilla dan menarik seluar track Dilla hingga melorot ke bawah bontotnya. Bontot Dilla yang putih dan gebu terpapar seksi. Daging bontotnya yang menggebu meliuk-liuk bersama pergerakan kepala Dilla menghisap konek Akmal. “Sedapnya… Abang tak sangka Dilla hisap sesedap ni.. ” kata Akmal memuji. Dilla berhenti menghisap konek Akmal dan mendongak memandang muka Akmal. “Abang nie… Dilla tak pernah tau buat macam ni…. Abang ni jahatlah… ” kata Dilla. “Ok ok sayang… lepas ni abang pulak hisap Dilla punya.. Barulah adil… ” kata Akmal sambil menarik bahu Dilla agar tegak berdiri. Akmal menyuruh Dilla berdiri berpaut pada dinding tangki air dan Akmal pun berlutut di belakang Dilla. Bontot Dilla yang mana seluar tracknya itu dilondehkan ke bawah bontot memberahikan Akmal. Akmal menghidu bau celah bontot Dilla. Kemudian dia menjilatnya berulang kali. Lubang bontot Dilla dikorek-korek menggunakan hujung lidahnya. “Eeee…. Abanggg… Dilla gelilah….” kata Dilla sambil tubuhnya seakan menggelitik kegelian. Akmal tidak menghiraukan Dilla. Jilatan Akmal semakin jauh ke kelengkang Dilla. Seluar track Dilla di lorotkan lagi ke bawah hingga jatuh tersangkut di lutut. Akmal menjilat kelengkang Dilla. Air masam masin dari lubang perawan gadis itu di jilatdan dihirupnya. Bunyi lucah decupan hasil hisapan dan jilatan Akmal kedengaran menghangatkan suasana. Bontot Dilla melentik-lentik merasakan kesedapan cipapnya dijlat oleh lelaki. Mata Dilla terpejam menghayati keberahian yang mengasyikkan itu. Sedapnya bukan main lagi. Lidah Akmal meneroka lubang cipap Dilla yang masih dara itu. Sedikit demi sedikit lubang Dilla dimasuki lidah Akmal yang liar. Meskipun sedap, tetapi Dilla dapat rasa kepedihan lantaran lubang cipapnya belum pernah dimasuki konek lelaki. Dia masih dara. Dilla menolak kepala Akmal menggunakan bontotnya dengan hanya ditonggekkan ke belakang. Akmal tahu Dilla masih dara, lalu Akmal menumpukan pada biji kelentitnya supaya akal Dilla hilang dalam keberahian. Taktik jahat Akmal berjaya. Dilla merengek sedap seolah hilang langsung rasa malunya kepada Akmal. Akmal terus berdiri di belakang Dilla setelah rahang dan lidahnya lenguh menjilat. Koneknya di lancap berulang kali hingga keras dan Akmal mula membenamkan koneknya ke lubang cipap Dilla dari belakang. Pada mulanya Dilla membiarkan. Namun setelah kepala takuk konek Akmal hilang dalam cipapnya, kepedihan mula dirasa semakin kuat. Dilla tiba-tiba teringat bahawa dia bukan bermimpi. Jika diteruskan daranya yang dijaga selama ini akan hilang begitu sahaja. Dilla menolak tubuh Akmal sambil menarik pinggangnya kehadapan hingga konek Akmal terkeluar dari mulut cipapnya. Hampir-hampir sahaja dia kehilangan keperawanannya kepada Akmal. “Kenapa sayang…” tanya Akmal. “Abang… Dilla tak boleh…” kata Dilla. “Kenapa sayang…? Dilla masih dara ye?” tanya Akmal buat-buat tak tahu, dasar lelaki jahat. Dilla mengangguk-angguk kepala. Akmal terus memeluk Dilla dan menempelkan koneknya di bontot Dilla. Akmal mengucup leher Dilla yang masih bertudung. “Oklah sayang.. maafkan abang… Abang hampir-hampir hilang pertimbangan tadi.. Maafkan abang sayang..” kata Akmal. Akmal memeluk Dilla namun pada masa yang sama Akmal mengusap puting tetek Dilla dan menggentel kelentit Dilla. Tujuannya tak lain adalah untuk merangsang nafsu Dilla. Taktiknya sekali lagi berjaya. Gadis yang lurus itu akhirnya tenggelam dalam nafsunya. “Sayang…. Abang tahu Dilla masih dara. Jadi abang harap sudilah kiranya Dilla berikan abang satu lagi laluan yang selamat untuk Dilla..” kata Akmal lembut di telinga Dilla. Dilla hanya diam. Nafasnya turun naik bersama degupan jantungnya yang kian kencang dimainkan oleh nafsu. Akmal mula menghalakan koneknya ke lurah bontot Dilla. Sedikit demi sedikit kepala konek Akmal di tekan masuk ke lubang bontot Dilla. “Bang… aduh… sakit la bang…” kata Dilla. “Sikit je lagi sayang… jangan kemut.. nanti sakit… buat biasa je… Tonggeng sikit sayang biar lega sikit..” Akmal mengarahkan Dilla. “Tapi sakit la banggg…” rintih Dilla kepedihan. “Sayang please… Ikut depan pun sakit jugak sayang… Biasalah first time… Inilah jalan paling selamat.. Dara selamat dan tak mengandung… please sayang… tonggeng sikit lagi…” pujuk Akmal. Dilla menurut setelah termakan dengan pujukan rayu Akmal. Akhirnya berjaya juga Akmal menjolok koneknya hingga hilang dilahap lubang bontot Dilla. Akmal menyorong koneknya keluar masuk perlahan-lahan. “BAnggg.. slow sikit bangg.. sakit…” kata Dilla sewaktu lubang bontotnya dijolok konek Akmal. Akmal memperlahankan rentak jolokannya. Lama kelamaan lubang bontot Dilla dirasakan seakan mula serasi dengan keadaan itu dan semakin lama hayunan konek Akmal semakin laju menjolok lubang bontot gadis itu. Meskipun pedih, namun Dilla tetap dapat juga merasai sedikit kesedapan bontotnya dijolok konek Akmal. Tertonggeng-tonggeng dirinya menyesuaikan kedudukan agar selesa diliwat Akmal. “Ohhhh… Dilla…Dilla…Dilla……Ohhhhh…… ” Akmal stim tak terkata. Dilla yang menonggeng dihadapannya cukup memberahikan Akmal. Kepalany Dilla yang masih bertudung dan tubuhnya yang masih memakai t-shirt coklat itu sungguh seksi. Bontotnya yang bergegar setiap kali dijolok semakin membuatnya tak tahan. “Sedapnya jolok bontot Dilla… Dilla… Abang cinta Dilla…. Ohhh… Bontot…. sedapnyaaa…. ” Akmal meluahkan perasaan nikmatnya. “Ahhh.. Dillaaa…Ahhhhh…. Abang nak terpancut sayangggg…. AAAHHHHHH!!!!!” Akmal menekan koneknya sedalam mungkin dan menyemburkan air maninya jauh di dalam lubang bontot Dilla. Akmal menggigil kenikmatan. Koneknya mengepam air maninya di dalam bontot Dilla sedalam-dalamnya. Sementara Dilla pula, merasakan lubang bontotnya seakan dipenuhi cairan yang hangat dan konek Akmal yang kuat denyutannya melepaskan air mani jelas dapat dirasai di dalam bontotnya. Dilla pasrah. Dia di liwat oleh lelaki yang baru sahaja dikenali beberapa jam yang lalu. Dilla terasa sebak mengenang nasibnya. Namun siapa yang harus dipersalahkan? Tepuk sebelah tangan takkan berbunyi…..
Sedap nye
Normal ke suka tengok bini dengan jantan lain.
Dari Gf Menjadi Isteri.
Cerita ni agak panjang sebab ni kisah benar. Aku just nak luahkan je.
Ni bukan cerita lucah fantasi wattpad ya. ni kisah aku sendiri. aku just nak share je mana tahu ada orang yang sama minat dengan aku.
Sebelum aku kawin dengan bini aku ni. Dia pernah terlanjur dengan ex bf die tahun 2014. modal blnje kedai mamak je. Projek dalam kereta saga flx. Die cerita kat aku pun lepas kantoi ex die contact balik kat fb. kantoi masa couple. Pendek kan cerita memang perang dunia pertama lah. Masa sebelum couple aku tengok die ni okey je. Pakaian die dulu perghh Tudung atas dada. Seluar legging bontot tegang je. Senang cerita aset die semua padu ler..
'Masa ni aku dengan die couple je. belum kawin ya'
Aku couple dengan dia masa tu 2016. Susah gile nak dapat die ni. Patut lah jual mahal rupanya nak tutup kesalahan masa lalu. Macam mana boleh kantoi?.
Aku dengan die keje satu shift waktu malam. Malam tu saje jelah nak check fone die. Aku ternampak lah gambar die selfie depan cermin bilik die. Aku slide ii makin aku slide makin pelik gambar nya. Mula tak pakai tudung lepastu gambar tengah squat. Last sekali gambar pakai bra je. Aku send lah kat ws aku gambar tu.
Zaman tu ws mana ada view once. Send terus save je. Aku diam2 aku check pulak contact ws die. Takde pulak nama jantan kecuali abang die dengan sv kitorang dulu. Lepastu aku bukak lah satu chat ni. perempuan kawan baik die. Aku baca satu-satu dari tahun 2014 sampai 2016. Rupanya kawan baik die ni tunang kepada ex die. Plot twist yang aku sampai sekarang takleh blah.
Mula ii chat dorang ni macam bergaduh seolah-olah bini aku ni rampas bf die. Padahal bini aku pun tak tahu yang laki tu dah bertunang. Dari cara perempuan tu chat aku faham yang diorang ni bukan kawan pada mulanya. Entah macam mana boleh jadi bestie.
Aku dah mula tak sedap hati. Yelah sebelum ni die cuma cerita die ada satu ex je yang tu aku dah kenal. Yang satu ni aku tak pernah dengar pulak dari mulut die. Aku bukak lah ig perempuan tu Kot ii lah dia ada pose gambar dengan tunang die. And yes aku jumpa memang ada. Aku follow member die ni kat ig ss gambar tu dengan chat die.
Bini aku datang.. Dia tanya aku buat apa je dengan fone dia. Aku diam dalam beberapa minit. Aku cakap fone aku tadi tengah caj aku pinjam fone die jap tengok ig. Die pun macam tak syak apa - apa so kitorang buat keje macam biasa.
Tengah buat keje tu... Aku fikir macam mana aku nak pancing die cerita pasal ex die ni. Aku mula lah karang cerita pasal ex aku. Bende yang kitorang penah buat dulu. Aku ni bukan lah lelaki baik pun. Setakat ringan ii tu pernah lah sebelum couple dengan dia.
Aku tanya die kenapa die accept aku as a bf. Aku ni bukan nya baik sangat. Sebelum aku couple dengan kau. Aku cerita lah pernah comolot dengan pegang nenen ex aku. Tapi aku dengan ex aku ni tak pernah main / vc bogel.
Bini aku ni jawab selamber je. Alah normal lah tak akan berkahwin seorang penzina melainkan dengan seorang penzina. Aku macam Shock giler babi. Wtf die boleh jawap macam tu je. Dari situ aku dah mula tak sedap hati mesti die ada buat something jugak tapi die tak cerita.
Lepas focus siap kan keje kitorang tak cakap ape ape lama jugak lah. Situasi macam awkward gile. Sampai je shift kitorang dah habis. Tukar shift dengan budak pagi. Aku ajak die kuar makan kat mcd depan kilang. Tengah makan tu aku pandang die lama. Lepas habis makan. Aku tanya lah die apa maksud die cakap macam tu tadi.
Die diam... Dia tukar topic tanya aku balik. selain dari ex aku yang tu. berapa ramai lagi pernah aku buat. Aku cakap sorang je padahal dah 3 ex aku yang aku dah ratah. hehe tapi memang aku tak pernah tengok ex aku bogel.
Aku tanya balik soalan sama. Die bagi alasan ngantuk nak balik. So aku pun taknak lah push die sangat. Takut gaduh je sebab aku dengan die baru berbaik 3 hari lepas. Sebab ada lelaki tua gatal ni dok raba ii bontot die cuma die tak perasan...
So.. Bangun tidur waktu asar, malam tu shift masuk keje pukul 7.00 p.m. Kitorang tak satu shift die petang aku malam. Aku cuba lah lupa kan jelah apa chat tu. makin aku cuba makin rasa nak tahu apa sebenarnya die sorok dari aku.
Kebetulan aku dengan manaiger aku ni ngam. Aku suruh die adjust kan jadual aku cuti dengan die hari yang sama. Aku ajak die pergi ioi city mall. Teman aku nak beli kasut, Kitorang naik grab je. Bapak die ni garang gile wo kalau naik motor berdua.
Lepas shopping apa semua kat kedai makan. Aku tanya die sekali lagi soalan yang sama. Dia cuba tukar topic. Aku bukak gallery aku tunjuk kat die ss chat die dengan member die. Terus die terdiam tak tahu nak pusing macam mana lagi. Lama die diam and aku cakap, Aku dah cerita semua pasal aku. Kau? kenapa kau diam, cerita lah jugak. Tak fair lah kau dah tahu semua pasal aku.
Dia tarik nafas dalam ii.
" Aku sebenarnya tak tahu nak cerita darimana " Bende dah lepas aku pun kalau boleh taknak ingat. "
aku:
'Kau cerita jelah apa yang kau ingat. Kalau kau tak jujur sekarang. Jangan sampai aku cari tahu sendiri, Nanti bende boleh settel jadi tak boleh.'
Dia mulakan cerita dengan nama ex die. Macam mana kenal kat mana je diorang datting. Aku terus potong, itu semua tak penting. Aku nak tahu apa yang kau pernah buat. Bukan yang ni aku nak dengar.
dia:
" Aku pernah vc teman ex aku melanc@p sama-sama Kitorang bogel masa tu "
aku:
Aku tahan... Dalam hati dah memaki. Tapi sebab aku sendiri jugak yang nak tahu. Jadi aku tak tunjuk emosi tu depan dia.
"Teruskan" tu je yang aku boleh respon.
dia:
" Waktu tu dia ambik aku kat rumah, dah malam. Dia bawak aku keluar makan lepastu, die bawak pergi tasik Putrajaya. kat sana masa tu sunyi. Die cium mulut aku kat kerusi tasik tu"
aku:
'Kau melawan tak?'. Atau kau suka?'
"Aku biar jelah sebab sebelum ni die janji nak kawin dengan aku. Jadi aku bagi jelah apa die nak. Dia je yang kiss betul ii, aku keras je sebab takut ada orang nampak." Tak lama lepastu ayah call tanya aku kat mana. kenapa belum balik. Dah pukul 10."
aku:
' Okay teruskan '...
dia:
"Dia bawak aku pergi kat kawasan perumahan. Dekat dengan rumah die mati kan enjin kereta die. Kitorang sambung comolot dalam kereta." Lepastu ayah call lagi sekali. aku cakap dah otw, dah nak sampai rumah."
" Dia bawak aku kat kedai kawasan rumah aku. Sebab ayah dah bising, 5 minit je kedai dari rumah. Dia matikan kereta, die bukak seluar die. keluarkan konek die, tarik tangan aku pegang konek die."
aku:
'Dalam hati aku. kata tak ingat.. tapi detail betul cerita die ni. Stim jugak dengar cerita dieni. Tapi takde lah tunjuk sangat. Marah campur stim, ha camtulah lebih kurang😅'
' Lepastu? kau rasa apa?, Besar ke kote die? '
aku:
" Aku tak rasa apa ii. aku pegang kecik je aku picit ii sikit, rasa macam dah basah aku lepas lah."
' Ouh.. Lepastu die ada tak sentuh p3p3k /t3t3k kau?'
dia:
" Ada.. dia ramas lepastu isap puting. Dia ada lah masuk kan jari kat bawah.. tapi gosok dari luar spender je tak masuk kan dalam lubang sebab aku tak bagi."
aku:
' Erm... aku sebenarnya dah stim gile. Dalam masa yang sama rasa nak jet je muka die. ' Lepastu apa jadi?.
" Aku balik jalan kaki sebab ayah dah call marah2. Esok nya die call die mintak tolong aku teman die melanc@p. Rumah masatu takde orang. Die vc lepastu die suruh aku b0gel jugak." Lepas tu die suruh aku melanc@p sama2" lepas dia dah puas sekali tu jelah"
aku:
' Aku cuba tenangkan diri. Aku tanya die pernah send gambar ke vidio ke apa. Jawapan die tak pernah, lepastu aku tunjuk gambar die depan cermin pakai bra. Dia cakap sebab nak tengok perut bentuk badan sendiri. Sebab die dulu die athletic sukan.'
'Macam mana korang boleh putus?. Lepas buat semua tu?.'
dia:
"2 hari lepas kitorang vc. Tunang die chat aku, kenapa kacau tunang die apa semua. Tunang die mula2 marah2. Tanya aku semua bende. Aku just jawab aku tak tahu die dah berpunya. Lepastu tunang die cerita semua pasal mamat tu."
aku:
' Dia cakap cerita apa je?. And diorang masih bersama ke?'
"Ya dorang masih bersama.. Dia cerita semua lah."
' Yelah semua bende tu.. Apa yang semuanya..' Macam mana aku nak tahu apa semuanya tu.
dia:
"Die cerita yang tunang die ni pernah, buat s3ks ramai2 dekat ampang." lepastu tunang die ni dah main dengan dia."
aku:
'Wtf... So kawan kau sekarang? pernah buat jugak lah ramai2?' Aku start teruja.. yelah firstime aku dengar kisah ni depan2 selalu aku tengok mat salleh je. tu pun google.'
"Tak pernah... Tapi sebelum dengan tunang dieni. Die pernah dengan lelaki lain. Cuma aku tak kenal siapa."
Aku:
Aku betul2 tak sangka, perempuan yang muka baik macam bini aku ni. Hardcore jugak ya kawan ii die. Yang paling aku tak sangka aku fikir die ni muka skema je. Kalau ada kawan2 aku buat lawak double meaning die btul2 tak faham. Rupanya dia dah buat lagi teruk.
'Okay... So kau dah bagi tahu apa yang kau dah buat? dekat kawan kau?.'
dia:
"Aku tak sampai hati nak cerita kat die. Mula2 aku nak cerita semua. Tapi aku taknak rosakkan hubungan dorang jadi aku diam jelah."
aku:
' Apa jadi kalau aku yang bagi tahu?.' Saja aku gertak die. Aku tunjuk yang aku dah follow ig kawan die dengan ex die.'
"Tolong lah.. jangan... Kau nak apa aku bagi je.. jangan libat kan dorang. Bende pun dah lepas. Please apa je aku merayu sangat.."
aku:
' Aku nak kau layan aku sama macam ex kau layan kau. Aku nak rasa badan kau. Boleh? balik ni aku nak kau send vid kau melanc@p.' Dan pic kau b0gel setiap hari.'
Aku simpan lagi pic/vid b0g3l die kat pc. masa bercinta dulu. Sebab tulah aku rasa nak luahkan harini sebab teringat zaman aku dengan dia dulu.. Haha aduii lah.. Jangan dm aku mintak gambar tu ya.. Sambung..
dia:
"Okay boleh.. Tapi kau Janji dulu kau tak akan cerita bende ni kat kawan aku." And kau jangan serang ex aku."
Aku :
' Iya2 aku janji. Kalau kau send baru aku tutup mulut. errr...'
So kitorang datting sampai petang aku oder grab hantar die balik rumah. Aku terus shoot lepak dengan kawan2. Sampai malam sebab takleh brain dowh gf aku macam tu. Sambil2 tu terngiang lah kat otak apebende lah, senang betul die ni percaya janji orang.
Lepas Isyak die chat..
"Kau kat luar lagi ke?. Dah balik belum, aku nak send ni."
aku:
' Aku kat bilik, send lah. Kalau tak aku chat member kau.. cepat sikit..'
dia:
" Ya2 sabar.. Tengah loading kejap.."
Aku dapat satu gambar die selfie depan cermin yang sama, yang dia kantoi. Aku upload lah kat google gallery. Tak lama lepastu vidio die tengah melancp kat toilet. Aku zoom in, aku perhati je semua lekuk badan die. Walupun tengah duduk perut die tak berlapis. Dalam hati, Rugi gile ex die ni padahal body lawa macamni, Die pilih badak air. T3t3k die size sederhana, tak besar tak kecik. Kalau korang tegok body daian trisya, ha macamtu lah size die. Tapi pic and vid tu takde muka.
'Okay.. Vc ah pulak.. Aku tak sabar dah ni'
dia
"Lain kali lah aku penat lagi pun adik aku kat rumah."
aku:
'Ouh.. alasan.. jap aku chat member kau.'
"Ishh die ni.. kan dah janji.. aku dah buat kan ape kau nak"
'Eh.. Kau pun dah janji kan nak buat apa yamg ex kau buat dulu.'
dia:
" Yelah... tapi aku mute.. kau pun mute.."
'Iya2 aku tak on camera.. takut sangat.'
dia:
"Janji kau tak sebar kan. Aku percaya kau ni"
5 minit lepastu die vcall aku.
aku screen record lah ape lagi muehehe. Lepas die dah klimaks. And off fone, die cakap ngantuk nak tidur. Aku upload awal ii kat tele,google gallery. aku pun apa lagi membuta lah dengan hati ceria...
sebab cerita ni dah terlalu panjang. Aku ingat aku sambung besok jelah. kalau rajin dan kalau ada sambutan aku sambung. tapi kalau krik krik je aku end kan cerita ni kat sini jelah. terima kasih lah sudi membaca luahan hati aku ni. Kalau korang nak tahu aku dah buat s3ks dengan member die. berteman kan ex die. tapi tu aku sambung dekat chapter lain ape pun WazzaH...
***Mastura***
Aku kenal dia nih sebab dia contact aku setelah citer aku keluar kat
website nih. Dia cuma kenalkan dirinya dan berhasrat nak kawan ngan aku kalau aku sudi. Jantan beb..., mana nak tolak kalau pompuan ajak berkawan kecuali ler batang dia dah mampus!.. Aku pun layan ler dia
nih seperti mana e-pals aku yang lain. Dia nih tinggal kat Petaling
Jaya. Pas tu bila dah rapat dia pun bagi phone number dia dan kami
pun selalu ler borak-borak. Katanya dia boring duduk rumah dan minggu
lepas (Sabtu) kita orang pun janji nak jumpa kat Palace Hotel, Seri
Kembangan. Pendekkan citer,.. Jumaat lagi aku dah angkat MC dan malam tu aku perasap dulu torpedo aku bagus-bagus, mana ler tau kot-kot dapat lauk bagus esok.
Sabtu pagi, pukul 10.00 aku dah ader kat carpark hotel.Tak lama kemudian sebuah Proton Putra perlahan menyusur dan ... terus berlalu, kemudian berhenti. Terus jalan semula dalam kawasan parking,pusing satu u-turn dan bila sampai depan keta aku terus parking sebelah. Mak oiii.., menyirap darah aku tengok awek dalam keta tu.Sepanjang hikayat kejantanan ku ini ler pompuan paling cantik dan angun yang aku jumpa. Dia berbaju kebaya ketat, rambut panjang separas bahu, putih kuning melepak , daguan muka yang bujur sirih,mata bercaya serta bulu mata yang melentik. Hidung yang cukup mancung bagi orang melayu serta mulutnya yang comel.Senyumannya dah cukup membuatkan lutut tu longgar. Agak 2 minit berpandangan serta saling membalas senyuman dia pun keluar dari ketanya. Tubuhnya kurus langsing dan aku agak ketinggian nya antara 5' 6" ke 5' 8" jauh lebih tinggi dari aku tambahan pula dia pakai high heel.
Malu rasanya aku nak keluar dari keta. Setelah dia berdiri disisi pintu keta dia aku pun beranikan diri gak keluar dari keta...
Hii... Mastura ke?.. ayat pertama keluar dari mulut ku dengan rasa
malu-malu.Ye ler... jawabnyer tersenyum.... Aku macam tak percaya
tengok dia dan dia pun mungkin boleh membaca fikiran ku. Aku mengambil bunga ros yang telah siap berbalut dari dalam keta lantas berjalan kearahnya dan terus menghulurkan bunga ros tersebut serta diiringi oleh tangan kanan ku untuk bersalaman.
Selepas bunga bertukar tangan, tangan pula bertemu tangan...,
bergetar tangan aku menyentuh tangan nya yang cukup lembut macam tak pernah sentuh apa-apa. Kami berbual sebentar sambil menanyakan hal masing-masing.
Selepas itu aku ajak dia pergi ke coffe house kerana kata ku disana lebih selesa berbual. Kami berjalan beriringan dan sambil berjalan tu aku sempat jugak menjeling punggung nya yang bergolek kencang didalam kain kebaya ketat bila langkah diayun. Aku rasa nak gigit dan ramas punggung yang bulat tu pada masa tu jugak.Bila masuk kedalam coffee house, ramai mata memandang kearah kami...fuhhh.. bangga sungguh aku dapat bawak awek yang cukup anggun pada masa itu dan aku sengaja himpit dia masa berjalan kekerusi. Nak pegang tangan masih tak berani.Kami duduk di tepi dinding cermin dan jauh sikit dari customer yang lain supaya senang nak bagi ayat yang kaw-kaw kat dia. Kami order
fresh orange dan spaggetti, sambil tunggu order aku berbual rancak
ngan dia macam dah kenal lama pada hal itu ler pertama kali jumpa.
Dari perbualan tu aku tau ler umur dia baru 23. Aku tanya kerja apa,
tapi dia tak nak bagitau so aku faham ler. Sambil makan aku cuba-cuba
ler masuk jarum kecik dulu. Aku puji dia cukup cantik dan anggun dan
lelaki yang berjaya mendapatkan dia memang cukup bertuah. Dia hanya
tersenyum manja dan ketawa kecil mendengar kata-kata ku. Makan dah
habis, air pun dah susut 3/4 tapi aku masih gugup nak buka mulut ajak
dia masuk bilik. Aku macam kelu lidah berdepan dengan perempuan
secantik dia ni.
Lastly aku beranikan hati pusing citer hal sex lak. Aku tanya dia ader experience tak?.. senyum jer dia jawab.. ader. Bengang aku sekejap.. (jealous beb). Tapi aku pandai cover dan buat-buat tersenyum. Kalau dah ader experience no hal kalau buat ngan I....
Sambung ku sambil senyum.Kalau you sudi boleh gak,.. lagipun I nak
pastikan citer you kat KL sex tu betul ke bohong... jawabnya. Hatiku mula berbunga.... Ader chance. Kalau bohong macammana ... kataku
menduga.I nak denda you nanti,.. nak suruh you lari naked keliling
pool katanya sambil ketawa. OK lah... jangan banyak citer kat sini,
nak tau jom masuk bilik.. cabar ku sambil memanggil waiter untuk
membayar harga makanan. Bila dah beres aku pun bangun di ikuti oleh
Mastura.
Sambil berjalan kecounter aku tanya berapa hari nak lepak sini,..
"satu hari dah ler, tapi kalau bagus boleh tambah" katanya.
Di counter aku minta satu bilik standard tapi dia pula tak nak,.. dia
minta bilik suite kat receiptionist. Parah aku kali ni .. kata ku dalam hati. Tapi aku lega bila dia buka handbag dan keluarkan cash dia.
Aku sajer buat sebok minta dia jangan bayar tapi sebenarnya
aku memang ler suka dia yang bayar. Hehehe.. aku tengok Gold card pun
ader dalam purse dia,. .. wah tentu kerja baik punyer dia ni kata ku
dalam hati. Bila dah semua settle kami pun berjalan menuju ke bilik
yang ditempah. Perasaan ku bergelora kencang bila melihat punggung
yang bulat, bergolek-golek serta dada yang tegak dan sendat didalam
baju yang mengikut bentuk tubuh. Aku memang betul-betul tak sabar
melihat badannya yang cukup seksi itu.
Pintu dibuka dan bilik suite itu memang cukup besar, terbahagi kepada dua. Satu seperti ruang tamu lengkap dengan sofa dan satu lagi bilik tidur.
"You boleh tolong ambilkan I punya luggage kat keta I tak"? Soal Mastura. "Boleh".. kata ku lantas mengambil kunci keretanya.
Aku mengambil sebuah beg hitam dibahagian belakang tempat duduk dan membawa semula kebilik kami. Pintu bilik ku ketok dan bila pintu
terbuka aku terpaku melihat Mastura yang telah bertukar memakai towel
paras dada berdiri tegak dihadapan ku sambil tersenyum.
"I nak mandi ler, penat drive tadi" katanya.
Aku masuk dan menghulurkan beg kepunyaan nya. Dia minta aku panggil Mas sahaja kerana susah nak panggil nama panjang-panjang kata nya semasa dia mengeluarkan toilet gear dari beg hitam tersebut. Kemudian dia
menghilang kedalam bilek air dan diikuti bunyi air mengalir. Aku
termanggu diatas sofa memikirkan keindahan dan kecantikan tubuhnya.
Aku dah mula pasang angan-angan nak buat bini pada dia nih.
Sebenarnya aku dah jatuh cinta pada dia. Aku pun dah bayangkan apa
yang bakal terjadi selepas ini, perlahan-lahan aku bangun mencapai tuala dan menanggalkan satu persatu pakaian ku. Semuanya ku gantung didalam alamari pakaian kemas-kemas. Sementara menunggu Mas keluar aku berlunjur diatas sofa sambil menonton tv.Lebih kurang 15 minit dia pun keluar. Aku lantas bangun menuju kebilik air dan semasa berselisih aku tercium bau haruman lotion baby Johnson dari tubuhnya. Nafsu ku naik serta merta dan kepala ku sakit bila memikirkannya.
"Mas... I pun nak mandi ler,.. nak bagi badan I selesa sikit" kata ku
semasa berpandangan dengan dia. Masuk bilik air aku jadi bodoh sekejap. Towel ku sangkutkan ke hanger dan aku berbogel didepan
cermin. Perlahan kuurut batang ku yang telah keras sejak mencium
haruman tubuh Mas semasa berselisih tadi. Aku bayangkan yang aku
sekarang sedang mendoggy Mas dengan ganasnya. Aku ambil shampoo dan tuangkan ke tapak tangan bagi memudahkan aku memngurut batangku yang telah menegang 100% itu. Bagi melindungi kerja-kerja ku itu aku pasang air dengan deras supaya Mas tidak mengesyaki apa-apa.
Adalah 5minit aku bekerja keras mencekik tengkok batang aku, satu pancutan air mani yang mencapai kederasan 150 km/jam melanda dinding bilik air. Air pekat putih itu kemudian meleleh perlahan turun kelantai seperti kesedihan. Aku pun lega dan sambil tersenyum aku pun masuk kedalam bath tub air merendamkan tubuh ku kedalam air suam yang memenuhi bath tub tersebut. Sebenarnya aku sengaja melancap untuk membuang air gatalku yang telah beberapa hari bertakung. Kalau tidak nanti aku takut cepat terpancut masa belasah Mas nanti. Rugi besar kalau aku tak dapat puaskan dia cukup-cukup. Aku keluar dari bilik air dengan senyuman. Mas kulihat tersandar di atas katil sambil membaca Cleo.
Separuh badannya didalam selimut dan bahagian dadanya masih ditutupi dengan towel. "rajin you membaca" kata ku. "nak rest kejap" balasnya.
Keharuman tubuhnya yang telah disaluti oleh minyak wangi Escape cukup menyegarkan. Syahwat ku terpantul lagi dan aku rasa sudah tidak sabar mahu meramas dan melumatkan tubuh comel dihadapan mata ku itu.Setelah tubuhku ku lumurkan dengan bedak dan after shave lotion aku pun buat selamba berok naik atas katil dan menyandar di kepala katil sambil berlunjur. Kami duduk berhampiran sehingga tubuh ku dan Mas hampir bersentuhan. "kalau ler bilik ni rumah kita alangkah bahagianya"... kataku menodai
kesunyian. "kalau you hendak you boleh buat" jawab Mas selamba. Aku
meletakkan tangan ku keatas paha Mas yang masih didalam selimut. Tubuh ku bergetar... "Mas... you nak jadi wife I tak?".. tanya ku sambil
memandang tepat kemukanya. Bulu matanya ! yang lentik sungguh
mengasyikkan pada pandangan ku. Dia cuma tersenyum..... diam.
Dia nih tak boleh dibiarkan kata hati ku. Tangan nya ku pegang dan satu ciuman ku hadiahkan kepipi Mas. Hidungku tertanam ke pipi yang
gebu dan kusedut sepuaskannya akan bau manis dari pipi tersebut.
Dekat satu minit hidung ku melekat disitu, bila kutarik semula kulihat matanya sudah hampir terpejam dan majallah tu pun dah tertonggeng ke ribanya. Aku mula menyerang tengkok Mas dengan ciuman dan jilatan. Mataku saja ku pejamkan kerana aku segan nak tengok muka dia. Bila mata ku terbuka aku lihat dia dah terlentok. Selepas puas kat tengkok aku beralih kat telingga lak. Telinga tu ku cium dan ku kulum sekali. Aku sengaja melepaskan nafas panasku ketelinga nya bagi membuat dia lebih merana. Akhirnya tubuh tu kurangkul, sebelah tangan ku memeluk pinggang dan sebelah lagi memaut tengkok Mas. Tubuhnya ku lurutkan ke bawah menjadikannya terbaring telentang diatas tilam.
Aku meniarap disisinya dan buat pertama kali mulutku terus menangkap mulutnya. Sungguh mudah bagiku memaut mulutnya yang memang kelihatan sungguh amat dahaga. Mulut yang halus dan bibir yang mongel tu ku kerjakan secukup rasa sehingga Mas termengah-mengah kelemasan. Dia
cuba melarikan mulutnya tapi aku sengaja tak mau bagi peluang dia
bernafas. Aku mengikut kemana sahaja mulutnya pergi. Akhirnya dia
menepuk-nepuk belakang ku
minta dilepaskan. Kemudian hidung ku beralih kesasaran lain. Aku
mencium lembut dahinya seperti sepasang suami isteri baru lepas
nikah.
Mas terpejam lena, hanya dadanya sahaja berombak kencang.Selimut yang membaluti tubuhnya kuselak. Yang tinggal hanya tuala putih membaluti tubuh kami.Tangan ku perlahan membuka simpulan towel yang melekat sedikit sahaja didada Mas. Bila semuanya terurai.... Wah,.. alangkah indahnya tubuh wanita ini kata ku dalam hati sambil merenung sekujur tubuh tampa pakaian dihadapan mata. Hatiku bertambah geram melihat buah dada yang mengkal bulat serta dihiasi puting kecil kemerahan ditengahnya
sementara bibahagian bawah pula terbentang pantat yang membonjol
tembam tanpa seurat bulu pun seperti baru sahaja kena shave.
Aku mengusap perlahan buah dada yang sederhana besar tapi pejal itu. Mas mengeliat kecil bila tangan ku mula menggentel puting kecil kemerahan yang telah mula menjadi keras.Buah dada Mas kulihat seakan buah betik (melengkung keatas) dan memang tak pernah aku jumpa lagi. Yang biasa tu melentur ke bawah. Kemudiannya aku merapatkan lidah ku dan mula menjilat disekeliling buah dada yang telah menegang. Aku
menjilat seluruh kawasan dada dan ketiak Mas. Badan Mas menggeliat-
geliat ku kerjakan. Sebelah lagi tangan ku terus mengusap dan meramas buah dada yang pejal sementara lidah ku mula mengigit puting yang telah keras. Sebelah lagi tangan ku mula meneroka tanah tiga segi yang mungkin telah dilanda banjir besar.
Tangan ku mula mengusap dan mencongkel pantat yang tembam itu untuk meneroka isinya. Jari ku melalui lurah yang telah basah berair. Mas mengerang bila jari kumenikam kelubang pantat yang berbahang panas.
"yanggg.. tolong lick my pussy"... pintanya sambil memandang tepat
kemataku. Mak ooiii...dia panggil aku sayang... Aku menghentikan
semua aktiviti. Aku bangun dan menguak kakinya sehingga terkangkang.Kedua lulutnya ku bengkokkan.
Aku terus menyembamkan lidahku ke celah pantat yang berair. Kedua tangan ku menyelak bibir pantat membuatkan kelentit Mas terjongol keatas. Lidah ku mula menjilat bertalu-talu keatas biji yang telah tensengih keluar dari sarangnya.... "
aduhhhh... sedapnya yangggggg" raung mas sambil menggenggam rambutku.
Jilatan ku semakin rakus dan bertalu-talu. Bontot Mas terangkat-
angkat menahan kesedapan dan kenikmatan. Aku menjilat pantat Mas
dengan pelbagai variasi sehingga beberapa kali dia klimaks. Aku
berasa penat dengan posisi aku yang menonggeng sambil menjilat pantatnya. Aku beralih untuk duduk dilantai, tubuh mas kutarik supaya
keadaannya memudahkan ku menjilat pantat yang togel tersebut sambil duduk dilantai. Punggungnya ku letakkan di birai katil dan pahanya
kukuak luas supaya lidah ku senang untuk beroperasi.
Aku tahu Mas telah klimaks beberapa kali kerana dia telah menjepit pahanya ke kepala ku beberapa kali. Bunyi Preeettttttt....preeeeetttttttttttt..... preeeeettttttttt,,...
berulang kali kedengaran. Air yang membasahi pantatnya usah ler nak cakap. Dekat 20minit aku kerjakan pantat tu dengan lidahku sehingga hampir lumat aku kerjakan. Raungan demi raungan dari mulut Mas serta sesekali dia mengangkat separuh tubuhnya seakan mahu mengintai apa yang aku buat terhadap pantatnya yang tembam itu. Mas berkali-kali minta di hentikan aktiviti jilatan ku
dan minta aku fuck dia tapi aku tak mahu lagi. Aku cukup geram tengok
pantat dia yang cantik itu. Akhirnya aku buat selamba benamkan lidah
aku masuk dalam lubang pantat dia (benda yang aku tak pernah buat
sebelum ini).
Aku jolok lidah aku dalam lubang pantat dan aku rasa lubang dia penuh ngan air dan hangat. Mas menjerit kesedapan. Aku sedut air yang ada seperti menyedut kuah sup. Aku memang betul-betul jadi gila dan Mas pula meraung-raung menahan kesedapan. Punggungnya terangkat tinggi tapi aku masih tak mahu melepaskan mulutku dari lubang pantatnya. Aku terpaksa bangun dan membongkok sambil tangan ku
mengangkat dan memaut punggungnya supaya mulutku tidak terlepas dari celah pantat yang amat mengghairahkan itu. Mas mengayak kekiri dan kanan punggung nya serta merayu minta dilepaskan tapi aku sebaliknya menjadi lebih ganas.
Berapa banyak aku telan air mani mas aku dah tak kira. Perasaan geli aku hilang 100%. Mulut dan hidung aku penuh dengan air mani dan mazi Mas.
Setelah aku berasa penat dan puas degan perbuatan ku... tubuh Mas kulepaskan,.dia dah terlentok macam pengsan. Aku naik ketas katil dan
tubuh itu aku tiarapkan lak. Mata ku merenung tepat kearah bontot yang bulat serta pejal yang mana telah amat kuidamkan sejak pertama
kali aku melihatnya tadi. Perlahan-lahan aku menggosok belakang Mas dengan tangan ku sehingga ke bahagian punggung yang keras pejal.Disitu tangan ku berenti serta aku terus mencelapak keatas pahanya.Punggung itu kuramas dengan kedua tangan ku sehingga kelihatan warna merah timbul seakan dipukul pada bahagian itu. Mas mendengus kesedapan. Kemudian aku merapatkan lidahku dan mula menjilat belakang dan terus kepunggung. Badan dan kepala mas melentik serta terangkat bila jilatan ku bermaharajalela di bahagian punggungnya.
Aku kemudian membuka kaki Mas dan meniarap dicelahnya. Aku merodokkan jari telunjukku kedalam liang pantat yang basah licin sehingga santak habis dan kulihat Mas menggenggam erat kedua tangannya serta mengerang kesedapan. Aku merapatkan lidahku kecelah lubang duburnya dan mula mengelap sekeliling lubang jubur dan kawasan sekeliling seperti seekor kucing membersihkan diri dengan lidahnya. Badan Mas bergolek-golek dan aku merasakan jari telunjuk ku diramas dan disedut oleh pantat yang mengemut-ngemut. Sambil menjilat lubang jubur aku dapat melihat pantat Mas seakan bergetar. Akhirnya Mas terbangun(bertonggeng) seakan doggy dek kerana terlalu kesedapan. Aku pun ikut bangun tapi jari dan lidahku tetap tetap diposisi yang sama.
Keadaan itu lebih memudahkan aku menjilat keseluruhan lubang jubur yang terbentang dan ternganga didepan mata. Air Mas mengalir hingga kepergelangan tangan ku dan aku makin seronok melihat Mas mula menumbuk lada diatas tilam, mungkin dah terlalu sedap sehingga diluar
kawalan. "fuck me please sayanggg" kata Mas merayu-rayu dan berkali-
kali.Akhirnya badan Mas ku terbalikkan semula sambil kedua pahanya kukangkangkan luas dan lututnya dibengkokkan, aku duduk dicelah kangkangnya dan mula menggeselkan kepala takuk ku ke celah mulut pantat yang dah amat becak. Air putih mengalir dicelah lubang pantat menuruni hingga ke celah jubur mas. Bila aku menggeselkan kepala takuk ku kelubangnya, tubuh mas terangkat dan kedua tangannya menggenggam cadar.
"Yanggg... cepat ler...". Batang ku masih belum 100% tegang dan keras
jadi aku kena ler bagi dia betul-betul power baru aku jolok masuk.
Tubuh Mas mula terangkat-angkat bila aku semakin laju menggeselkan
batang ku dan batang tu pun dah mula jadi besi waja. Dengan satu
tekanan aku menjolok batang aku ke liang yang telah lama menunggu.
Mas meraung kesedapan bila batangku menujah masuk walau pun cuma 3/4 sahaja. Aku sorong tarik sambil duduk sambil tangan ku menyelak luas kangkang Mas. Kepala nya berpusing deras kekiri dan kanan bila aku melajukan sorong tarik batang ku. Aku merasakan satu semburan air yang panas melanda batangku selepas 5 minit aku menujah lubuk yang botak itu. Aku suka melihat buah dada yang bergegar bila aku asak batang aku dengan kuat kearah lubang Mas. Bila Mas Klimaks dia
menarik tangan ku dan meminta aku memeluknya.
Aku suka melihat buah dada yang putih kemerahan itu kemek ditindih
oleh tubuh ku. Aku menjadi lebih ganas bila Mas menarik aku kedalam
pelukannya. Mas menjerit dan kulihat dia menggigit lengannya bila aku menekan habis batang aku masuk kedalam kawah yang panas. Kalau boleh telur pun mahu aku sumbat masuk kedalam lubangnya. Kedua tangan kumemaut erat tengkok Mas dan kakinya berlipat dibawah paha ku. Posisi ini menjadikan tubuh Mas separuh bulat dan punggungnya terangkat keatas. Aku melajukan serangan ku sehingga bunyi kecepap-kecepup sentiasa kedengaran setiap kali aku menghentak padat lubang pantat
Mas.
Aku menjadi bertambah geram dah amat ghairah bila kurasakan
batangku dikemut dengan kuat sehingga berasa sengal menjadikan aku semakin laju menikam pantat yang berbahang itu. Kekadang sengaja aku ayak kekiri dan kanan tanpa mencabut batangku, cuma aku tekan dengan kuat bagi merasakan kemutan dan cengkaman dinding pantat yang tak berhenti-henti mengemut dan Mas meraung-raung serta kakinya bergoyang-goyang kurasakan. Tangannya tak tentu arah serta peluh mula memercik
dari tubuh kami. Aku masih belum terasa apa-apa walaupun telah satu
jam kami berjuang (aku letak jam supaya boleh tengok berapa lama aku
boleh bertahan). Sebab tu ler aku merancap dulu tadi...hehehee.
Setelah puas style itu, aku angkat kedua belah kaki Mas keatas bahu
dan tangan ku menupang disebelahnya.
Aku mengayuh semula dengan lebih
pantas sehingga tubuh Mas teroleng kekiri dan kanan seperti sampan
kecil dilautan luas. Mas menggenggam erat kedua belah pergelangan tangan ku. Dia meraung sambil menangis... aku menghentikan henjutan ku dah bertanya adakah dia merasa sakit?... dia kata tak sakit tapi amat sedap dan terasa seperti jiwanya telah melayang... mendengar kata-katanya aku pun terus ler kayuh lagi dengan lebih ganas dan
bahaya. Kalau boleh aku nak koyakkan pantat dia. Aku berasa paha aku dah belengas dengan air. Tubuh ku pun dan basah dengan peluh.Hentakkan ku cukup padu dan sengaja aku tanam dalam-dalam. Bunyi kecepap kecepup tak usah sebut ler... Kaki Mas aku lepaskan,.. aku
balik ke posisi asal. Badannya yang putih melepak aku peluk erat dan
kupusingkan sehingga kepalanya terjuntai dari sisi katil. Kepalanya
terdongak keatas.... Aku menyerangnya bermula dengan asakan batang ku secara romatik dan perlahan.
Aku bisikkan " I love you" kat telinga dia. "I love you too"balasnya.
Mulutku mencari sasaran kemulutnya dan kucupan panas berlangsung sambil batang ku tak henti-henti menujah lubang pantatnya. Mas kelemasan lagi... aku dapat merasakan air panas bergejolak dari lohong bahagian dalam kawah Mas. Aku seakan sudah tidak merasa lagi dinding pantat kerana terlalu licin dan berair cuma kemutan yang bertalu-talu sahaja yang memberi rasa. Batang ku seakan sengal kerana di kemut lebih dari 1 jam. Aku melajukan pergerakkan tikaman batang ku ke tahap maksima. Tubuh Mas ku peluk paling erat seakan tidak membenarkan nya bergerak. Aku memberinya yang paling padu dan berkuasa dan aku dapat merasakan batang aku memang paling power dan keras pada masa itu.
Mas meraung-raung dan tubuhnya meronta-ronta seakan mahu melepaskan diri dari pelukan ku. Akhirnya dengan satu tikaman yang paling dalam, aku memancutkan seluruh air manikan kedalam lubuk mas yang telah botak dicukur diikuti jeritan ku " I,m cummingggggg"
Mas pun ikut sama menjerit dan menggelepar seperti ayam disembelih. Aku cukup puas dan mulut ku lantas menutup mulut Mas yang masih meracau-racau lagi seperti kena demam panas.
Pertarungan selama 2 jam cukup meletihkan ku tapi aku amat puas apatah lagi tubuh yang kuratah amat menawan hati. Mas memeluk ku dengan erat begitujuga aku.
Setelah terkapar selama lebih kurang 5 minit diatas tubuh Mas aku mula mencium nya secara romatik dan perlahan. Rambutnya kuusap dan
kubelai dengan perasaan sayang. Belum pernah aku merasakan perasaan ini sebelum ini. Perlahan aku bangun dan mencabut batang ku yang telah lama berendam didalam sarangnya. Bila aku tarik keluar aku
lihat lubang pantat Mas seakan dipenuhi buih sabun dan batangku pun sama... berbuih.
Memang dahsyat ku fikirkan permainan ku pada kali ini. Aku baring disisi Mas dan dia tersenyum manja sambil menyilangkan tangan kedadaku untuk memeluk diriku.
"You ler lelaki paling hebat yang dapat I rasa" kata nya. "Berapa
ramai lelaki yang dah you main" ? soal ku. "Seorang sahaja".
"Siapa dia tu... bf you ker"? soal ku lagi. Lama dia diam sambil aku
memainkan buah dada dia... "my husband" ... jawapan yang membuat aku seperti nak melompat dari katil Itu...
Setelah beberapa jam kami bergomol dalam sesi pertama tadi, ku lihat
Mas lesu keletihan.
Sesi sulung itu memang terasa sangat meletihkan.Memang letih. Lebih-lebih lagi aku. Aku sendiri keletihan benar.
Dengan Mas merupakan satu sesi yang panjang. Maklumlah, Mas dah lama
dahagakan kasih sayang dan permainan cinta. Aku faham. Aku anak jantan; Mas baru sekali ini merasa kenikmatan ditunggangi 'kudajantan'. Kepalang garangnya. Lepas aku dengan Mas "main", aku yang telentang. Satu badan terasa macam kejang!! Kami tertidor. Lena. Mas terlena disisiku sambil memeluk ku. Kami terlena betul... Sungguh.
Tiba-tiba aku tersentak. Aku rasa Mas bergerak. Aku terjaga. Ku lihat
Mas mengacah hendak bangun. Ku capai tangannya. Belum sempat aku
bertanya, dia bercakap "Mas nak ke bilik air kejap", katanya. Sambil
ku rangkul tubuh Mas yang telentang hendak bangun itu, aku tekup celah kangkangnya. Aku tengok dia seperti malu-malu. Konek ku sedang menegang.
Aku malu memandang muka Mas. Kan dia dah bersuami. Batang aku memang spesel. Maklumlah aku adalah warisan penangan Melayu
original.Mas memang cantik dan lawa orangnya. Matanya ayu dan bibirnya nipis dan menggiurkan. Satu keistimewaannya, sekali pandang Mas seolah-olah sentiasa tersenyum - suatu rautan bibirnya semulajadi. Dia sentiasa tenang dan sukar menunjukkan perasaan dari hatinya. Inilah yang membuatkan aku sering berkhayal keterampilannya. Tetapi, ketika ini,Mas berada dalam pelukan ku. Dia seolah-olah menyerahkan seluruh kecantikan tubuh dan jiwa raganya untuk ku. Aku memilikinya waktu ini. Ia berada dalam pelukan ku dalam keadaan bertelanjang bogel,tanpa seurat benang. Dia bukan dalam keadaan terpaksa atau dipaksa.Dia rela. Dia mengharapkan kasih sayang dariku.Oh ya. Bila ku buka mataku sedikit, aku tengok Mas senyum saja seolah-olah dia mengerti runtunan hati ku. Mas duduk ditepi katil.
Dia dalam keadaan separa telanjang. Buah dadanya terdedah. Kain selimut menutup perut dan punggungnya. Aku sambut buah dadanya yang kental dan meramas-ramasnya. Mas kegelian. "Nantilah. Mas nak ke bilik air nih..sayangg" katanya manja. Tangannya ku capai dan meletakkan ke konek ku yang sedang menegang. Dia senyum. Senyumannya yang meruntun hati sesiapa yang memandangnya.
"Ahhh.nantilah.. Mas nak ke bilik air" katanya lagi. Aku mengangguk
seolah-olah membenarkan. Mas terus beredar ke bilik air sambil melepaskan tangan ku dengan sentuhan sayang. Lama juga dia dibilik air. Terdengar air toilet dipam. Mungkin Mas bersuci setelah buang air kecil, fikir ku dalam hati. Terbayang di mata ku bagaimana dia mencangkung, membasuh nonoknya, mengulit liang farajnya yang baru saja ku jolok dengan batang ku. Mungkin air mani ku dilihatnya mengalir keluar dengan banyaknya.
Di dalam aku berangan-agan itu, debaran jantung ku kian mengencang.Sekali gus 'konek' ku menegang membayangkan tubuh putih itu sedang mencelibik liang kemaluannya. Mungkin dia sedang melihat kesan terjahan konek ku yang besar dan panjang, menggodak lubang sempit didalam farajnya. Warna apa agaknya?
Mungkin masih terpongah lagi....
Uhhhh.... tidak dapat dibayangkannnn....enak,terangsang..
merangsangkan sangat-sangat...!
Tiba-tiba pintu bilik air terbuka semula.
Debaran jantung kumengencang. Mas berjalan ke katil. Dia memakai pijama towel mandi warna putih, lalu ia duduk di tepi katil. Dipangkunya kepala ku semula sambil mengusap-dahi dan rambut ku. Belaiannya yang matang itu
betul-betul memanja ku sangat. Sejuk rasa tapak tangannya. Ku cium
tapaknya. Wangi berbau lotian kulit.
Aku rasa cukup terhibur. Kemanjaan dari seorang wanita itu menjadikan
diri ku terasa dihargai.Terasa disayangi. Aku membalikkan badan ku.Konek ku mengangkat kain selimut. Kain itu membumbung seperti khemah
orang Red Indian, berbucu dipuncak. Ku peluk pinggang Mas dan kuhuraikan towel di sebelah atas.
Terdedah dua pasang buah dadanya yang muntuk. Ku raba dengan telapak tangan ku dan ku pusar-pusarkan acah tak acah saja. Walaupun Mas membiarkan aku berbuat begitu, tetapi tangannya cuba memegang tangan ku. Seolah-olah ia tidak tahan menahan kegelian yang menyelinap ke tubuhnya.Untuk melengkapkan agenda itu, sebelah tangan ku melekat ke perutnya.Tangan ku mulai menakal-nakal semula.
Dia membiarkan saja. Mukanya
tunduk. Ku usap-usap pusatnya dengan perlahan. Ku sentuh. Nafas Mas turun naik dengan tersentak-sentak.
Aku mengerti apa sebenarnya ada dalam perasaannya. Keseronokan dan nikmat yang kami lakukan tadi memang berkesan. Mungkin dengan suaminya Mas tidak mendapat kepuasan seperti kami lakukan tadi. Mungkin.Dalam berkhayalan begitu, tiba-tiba terasa tangan Mas sudah masuk kecelah selimut dan memegang konek ku yang sedang menegang.Mas mengusap-usapnya perlahan-lahan dari dalam selimut gelembong itu. Aku membiarkan saja. Terasa sangat enak usapannya. Ku rasa tangan Mas mengusap-ngusap dengan lebih mantap. Dalam keadaan begitu tangan ku yang ganas tadi sudah mulai menjelajah ke bahagaian atas tubuhnya.
Kocokan tangannya kian mengencang. Begitu juga tangan ku.
Kini Mas ku peluk erat. Mulutnya ku kucup. Lidahnya ku hisap dan kulum. Permainan lidah kami menambah rangsangan syahwat kami semula.
Kini tangan ku sudah menyelinap kedepan menyentuh payudaranya,
meramas-ramas dan menggentel puting dadanya. Kemudian turun ke pusat dan ke liang farajnya. Ku gentel kelentitnya. Aku dengar dia
mengerang. Pehanya dirapatkan. Makin jari ku memperhebat gentelan
dipusar-pusar kelentitnya. Ku rasanya hujung jari ku basah
berlendiri.
Ku teruskan gentelan itu dan mencuit seluruh daerah berlendir didalam
farajnya. Mas mengulum lidah ku. Aku berkesempatan memainkan langit-langit dalam mulutnya yang terbuka. Nafasnya berbau wangi. Uhhhh..Nikmatnya. Kemudian ku rangkul kepalanya. Kami berkucupan, berkuluman lidah lebih hebat lagi. Bertukar-tukar nafas. Lama. Mas menghisap lidah ku kuat. Lelehan air liurnya ku jilat. Dan Mas juga begitu. Aku rasa jari ku sudah basah. Berlendir. Pekat. Aku dah tahu Mas mula naik syahwat!!
Kami tidak bersuara apa-apa. Kami hanya menikmati keadaan yang kami
lakukan dan alami itu. Mungkin Mas juga begitu. Berbeza denganku,
sebelum ini aku tidak semewah itu mencuit tubuh seorang wanita selama
hiudupku. Tapi Mas sudah pun mengalami kehidupan bersuami.
Dia tentu lebih terangsang. Aku.. sebagai orang bujang yang jarang mengalami runtutan seksual secara praktikal merasa apa yang kami lakukan seolah-olah seperti mimpi. Mas pula seolah-olah tidak pernah merasa permainan asmara yang begitu mengasyikkan. Terfikir juga di kepala ku, bagaimana agaknya suaminya melakukannya kepada Mas? Andainya seperti yang kami lakukan, pasti Mas tidak melakukannya dengan ku!
Cemburu ku berganti dengan perasaan seorang 'hero'. Makin berani hatiku, lalu mendongakkan kepala memandang wajahnya. Dia seakan menuntup mata dan menggertapkan gigi terkancing. Mengikut firasat ku, dia mungkin sedap menikmati ulitan tangan ku yang lembut itu di
payudaranya. Ku jongkokkan muka ku lalu mulut ku menghisap
payudaranya. Dia bagai tersentak dan membuka mata.
Direnungnya muka ku tanpa senyum. Matanya bagai tidak terbuka. Tangan ku masih mengusap-usap puting dadanya. Dia tidak bersuara. Kemudian dia bergerak bagai hendak bangun. Aku mengangkat kepala, dibantu oleh tangannya. Dia sudah berdiri dan membuka kain towel.
Melihat keadaan begitu, Mas terus menarik selimut ku. Apabila dia
menoleh berhadapan dengan ku, ohhh......darah ku tersirap. Tubuh
muntuk yang putih itu terdampar berdiri dihadapan ku.... Susuk tubuh
Mas itu memang cantik. Dengan payudayanya yang montok, pusat, perut yang licin, celah kangkang yang licin itu, tubuh Mas memberi suatu
pemandangan yang sangat indah dan meransangakan nafsu syahwat.
Mas terbeliak mata melihat ketegangan konek ku yang kini sudah
kemerah-merah kepalanya. Dia membaringkan tubuhnya kesebelah ku.
Tangannya menangkap konekku dan mengusap-usap perlahan-lahan. Matanya kelihatan terpejam. Dengan riaksi begitu ku peluk Mas dan mengusap-usap belakangnya. Mulut ku mengisap dan menjilat puting susunya. Ku dengar nafasnya turun naik. Kencang sekali. Tangannya masih lagimengusap-usap konek ku. Kami saling menikmati keadaan yang amatmengasyikkan itu. Kini Mas memelukku dengan erat. Perlahan-lahan tubuhnya mendakapan ku. Seolah-olah dia menyatakan supaya aku tidak
harus malu-malu lagi. Suasana itu adalah untuk kami. Kami berdua.
"Mas nakkkk lagi keee..?" tanya ku dalam suara manja. Dia mengangguk.
Digesel-geselnya kepalanya kedada ku. Dia tidak memandang ke muka ku.
Bagaikan dia malu. Aku selak kain towel dengan sebelah tangan. Dia
menggesel-geselkan kepalanya kedada ku. Sesudah selimut ku terbuka, dipeluknya aku erat-erat. Amat erat sekali. Aku bangun dan duduk berdepan dengannya. Tangan Mas masih memegang konek ku......
Aku makin berani. Tangan ku menjalar kedadanya semula, kali ini
dengan ramasan yang agak keras. Hebat. Mas tertunduk menahan desakan hatinya. Ku angkat dagunya perlahan-lahan hingga ia mendongak
memandang ku.
Matanya kini separuh terbuka. Bibir mekarnya terbuka. Ku kucup perlahan-lahan dan mengeluarkan lidah ku mencari sasaran -pusaran lidahnya. Mas membuka mulutnya semacam mengizinkan. Kucupan
kami amat mesra sekali dan tindak balas kami amat terangsang. Terasa
suatu gelombang seakan memukul dada ku.
"Mas ." panggil ku. Dia hanya bersuara halus menyahut.. hhhhmmmm..."
Mas baringgg.??" perlahan-lahan suara ku. Lalu ku baringkan dia
dengan berbantalkan lengan ku. Aku renung mukanya puas-puas. Aku
tatapi kejelitaannya yang sungguh mengkhayalkan ku. Kali ini baru aku
dapat menatap wajahnya yang sedemikian indah. Kejelitaannya waktu rambutnya mengerbang sebegitu menambah seksinya.
Puas-puas. Dalam keadaan rela dan dalam suasana yang amat berbeza. Kami seakan-akan berada dalam suatu alam yang sangat asing."Mas suka ke dibuat macam ini?" Aku bertanya kepadanya. Dia hanya
menjawab dengan rengekan panjang yang lemah. Aku usap dadanya dan aku kucup lidahnya perlahan-lahan. Dia membiarkan dan bertindak seolah
menunjukkan reaksi yang mengizinkan. Tenang. Aku terus mengusap buah dadanya dan memusar-musarkan puting susunya. Tangan Mas masih mengusap-ngusap batang ku yang kini sudah menunjur panjang dan membesar.Ku teruskan menjelajahi leher dan dadanya. Aku terhenti di puting susunya. Aku kucup dan usap-usap dengan lidahku sambil tangan ku meramas-ramas buah dadanya yang lagi satu. Mengkal dan kental.
Aku terasa semakin berani. Kami mengikut desakan naluri seks yang memang ternyata aku punya daya yang amat kuat. Aku dah tak peduli samada Mas adalah isteri orang. Malah, perasaan ia milik seseorang itu
menjadikan aku sangat berahi dan bernafsu... kerana berjaya
menundukkan seorang wanita anggun kepunyaan seseorang.Suatu perasaan menjalar kedalam tubuh ku. Aku merasakan bahawa itu adalah penyerahan yang tulus. Ikhlas. Murni. Dalam kepalaku bersarang dengan 1000 tanda tanya, bagaimana suaminya menguliti tubuh seindah
ini. Kononnya mereka tidak bersesuaian hidup kerana tidak peduli
dengan tuntutan nafkah batin seorang isteri.
Perasaan itu menjadikan aku berhati-hati, berlembut dan berlunak-lunak, penuh perasaan.Ternyata,kami seakan-akan terbuai kedalam alam lain.Aku tengok Mas mengeliat. Aku biarkan dia menikmati apa yang aku
lakukan itu. Kalau itu mampu memberi dia suatu nikmat, biarlah aku lakukan untuknya. Kami tidak lagi bercakap apa-apa. Dia juga begitu.Aku dengar suara halusnya mengerang. Aku biarkan dia begitu seolah memberi ia kebebasan menikmati runtutan rasa yang sedang dinikmatinya itu. Sambil itu aku dengar dia memanggil nama ku perlahan-lahan. Angin penghawa dingin di bilik itu berhembus menyegarkan.
"Sayang Mas tak?" tiba-tiba Mas bertanya sesuatu padaku. Ku jawab
dengan selamba, "Sayanggg, sayang sangat pada Mas...!!' jawab ku
dengan nada memanjakan. Dipegangnya rambut ku. Di wajahnya terserlah suatu keceriaan. Suatu kelegaan. Suatu penyerahan kasih dan sayang.Suatu harapan. Kami sama-sama faham. Tidak ada lagi keraguan. Aku mulai menggerakkan muka ku kearah perutnya yang putih melepak itu.
Aku usap-usap dengan lidah ku. Dia makin merangkulku. Mas membiarkan.Merelakan. Sebaliknya, dia menyambut dengan rengekan gembira. Geli mungkinnya. Aku rapatkan mulutku ketelinganya. Perlahan-lahan ku
bisikkan ke telinganya,
"Mas. buka ya...???" sambil mengusik selimutnya. Dia hanya memelukku, kemudian melepaskannya. Aku usap perutnya yang gebu dan licin itu. Aku lihat dia kegelian. Aku balikkan dia menungkup ke perutnya.
Perlahan-lahan. Dia menurutnya dengan lembut dan perlahan bagaikan malas. Tubuhnya kian melemah. Ku balikkan tubuhnya meniarap. Aku cium belakangnya, bermula dari tengkuknya hingga ke pinggang. Ku singkap seluruh tubuhnya. Seluruh tubuhnya yang melepak itu terdedah. Bertelanjang bulat. Kemudian aku usap pepejal punggungnya yang putih melepak itu. Aku ramas-ramas. Perlahan aku buka kangkangnya. Perlahan-lahan hingga terbuka luas. Aku usap-usap pepejal punggunya sambil tangan ku meramas-ramas buah dadanya perlahan-lahan. Dia membiarkan
saja. Aku telentangkan ia semula. Oh...demi terpandang saja bahagian
yang paling sulit ditubuhnya itu, debaran dada ku kian mengencang
semula. Hebat. Keras sekali degupan jantung ku. Mas tidak bergerak
lagi.
Matanya tertutup.Aku usap-usap bahagian yang paling sulit dalam tubuh Mas. Ku uliti.Ku lihat pantatnya yang tembam itu. Memang tembam. Indah.Menggiurkan. Nampaknya macam berlendir basah. Dia membiarkan aku melihat dan mengamatinya. Mas tidak malu lagi. Betul-betul dia tidak merasa malu lagi. Bermakna penyerahannya sudah sampai ke tahap menyerahkan segala-galanya. Ku lihat bahagian sulitnya amat bersih dibawah cahaya lampu yang separa muram itu. Aku terpaku. Terpegun bagai tidak tahu apa yang aku lihat. Aku tatap muka Mas. Kemudian, bagai tidak sabar, aku tekapkan muka ku kebahagian sulitnya itu. Kupusarkan hidung ku ke ruang liang kemaluannya. Berlendir dan berbau.
Baunya amat merangsangkan. Bau cecair dari tubuh sulit wanita. Bersih
dan merangsangkan. Terasa bau syahdu yang khas. Merangsang syahwat.Mas menolak kepala ku. Seolah-olah dia tidak membiarkan aku menciumi bahahagian kemaluannya yang sudah terdampar dimuka ku. Tapi aku terus memegang pinggangnya dan memaksakan hidungku bermain-main dicelah
rekahan yang sedang mengeluarkan madu. Ku cium dengan nafas panjang.Aku cium puas-puas. Aku dapat merasakan suatu perasaan yang amat indah suci dan bersih. Aku bukakan kedua-dua pehanya. Dia seakan-akan membantu ku dengan membukanya lebih luas lagi.
Aku angkat kedua-dua lututnya berdiri. Ku tolak ke dadanya. Kini
bahagian sulitnya terangkat. Terdedah. Luas. Makin nampak rekahan nonoknya. Betul-betul jelas. Nyata. Aku cium puas-puas bahagian
kemaluannya. Suatu rasa merangsang menyerap keseluruh tubuh ku. Aku
menekapkan mukaku disitu. Lama juga. Bernafas dan menghembuskan nafas di bahagian itu. Ku sungguh-sungguh menikmati bau yang sesuci itu.Tangan ku mengusap rambut-rambut halus dibahagian atasnya. Aku usap-usap. Perlahan-lahan.Bagaikan mengerti, aku keluarkan lidah ku dan mencecap ruang rekahan yang ku selak dengan kedua jari ku. Ku lihat lendirnya banyak disitu.Dibahagian atasnya tersentil ketulan daging yang berwarna kemerah-merahan. Kelopak dalam kemaluan Mas berwarna merah jambu mawar kepucat-pucatan. Demi terselak begitu aroma nonok Mas kian menerkam hidung ku.
Dengan tidak terfikir apa-apa lagi, ku jelirkan lidah ku,lalu ku usap dengan hujung lidah - bagai mahu merasa sesuatu yang nikmat dengan sentuhan panca indera rasa. Aku lekatkan lidah ku kecelah retakan itu dengan berhati-hati. Lidah ku menembusi liang yang bagai tertutup itu. Kini lidah ku menjelajah seluruh daerah pendalaman liang itu.Liang ghairah itu adalah kepunyaan suaminya. Tetapi kini aku sedang
menawannya. Malam ini aku punya. Sentuhan hujung lidahku ke daging
kenyal lembut membuatkan Mas tersentak bagai orang tersedan. Lalu ku mainkan lidah ku. Mantap dan perlahan-lahan. Waktu itu aku rasa tidak ada apa yang menjemukan. Segala-galanya bersih. Suci. Mas
menggeliat .
Aku dengar dia mengerang berkali kali dan terus mengerang. Suatu tanda nikmat kepadanya. Aku biarkan supaya dia menikmatinya beberapa lama. Aku mahu dia menikmati perasaan itu setelah lama dia tidak mendapat kepuasan dari suaminya. Kalau itu boleh memberi ia suatu nikmat, aku lakukan.Lama aku lakukan begitu. Ku lentuk-liukkan hujung lidah ku bagai anak kucing menjilat susu. Tidak tahu berapa lama. Sepanjang aku melakukannya, Mas bagaikan terpukau. Aku juga. Bila aku bertindak,dia memberi riaksi. Kami saling memahami riaksi itu. Sebagai petanda.
Sebentar kemudian aku bangun. Berdiri diatas lutut ku. Aku lunjurkan
lututnya lulus bagai tidur. Aku susun beberpa biji bantal di kepala katil. Aku angkat perlahan-lahan tubuhnya yang gebu-montok itu. Ku rasa ia berpeluh. Sekujur tubuh Mas lemah. Kaku. Aku sandarkan dia dengan kemas dibantal yang tersusun itu. Dia membantu ku dengan bersadar kemas sambil matanya terpejam. Nafasnya turun naik kencang.Kini Mas ku sandarkan di birai katil. Bersandar dengan keadaan tubuhnya yang selesa. Kedua-dua belah tangannya aku letakkan dikepalanya dalam keadaan berpanca, ku jadikan sebagai bantal untuknya.
"Mas.... dah tempted?" tanyaku. "Mhhhhhhh.." dia mengerang panjang.
Tubuh Mas bersandar dengan keadaan cukup terangsang. Kedua-dua belah tangannya ku letakkan dikepala dan keadaannya berpanca, ku jadikan sebagai bantal. Posisi ini melentikkan dadanya. Lututnya yang
berlunjur rapat itu aku tegakkan perlahan kearah dada. Kepalanya
mengiring ke kiri kearah cahaya lampu suram ditepi katil. Cahaya
lampu itu memancarkan sinar yang merangsang seri wajahnya.
Wajah Mas seakan menyala kemerah-merahan. Matanya tertutup rapat. Nafasnya tenang tapi kencang. Mas tidak bergerak. Cuma aku yang mengatur segala-galanya dan dia memberi riaksi yang merelakan saja.
Perlahan-lahan aku angkat lututnya yang lurus berlunjur itu mendakap
dadanya. Rapat. Aku kucup mulutnya berulang-ulang kali - puas-puas.
Aku terus meramas buah dadanya. Dia membiarkan saja. Mas betul-betul
dalam keadaan merelakan. Malah jelas dari wajahnya, bukan saja ia
merelakan malah menikmati keadaan yang berlaku. Waktu itu, apa yang
aku lakukan itu amat merangsangnya. Ia tidak langsung membantah,malah lebih banyak membiarkan. Merelakan.Ku buka lututnya perlahan-lahan dan mendakapnya kemas-kemas. Aku
teruskan mengucup lidahnya. Aku berbisik ditelinganya,
perkataan 'Sayanggggg.Mas rela.???' untuk kesekian kali. Aku kucup
lehernya, menjelajahi antara dua buah dadanya; berhenti disitu -
menghisap puting susunya. Ku jelajahi perutnya, memusarkan pusatnya dengan lidahku. Dengan hati yang paling ghairah, aku terus mencium bahagian tundun 'kemaluannya'.Mas bagai kaku.
Dia tidak bergerak lagi. Pun tidak melarang ku.Melihat riaksinya begitu, seolah-olah dia menyerahkannya segala-galanya untuk ku nikmati. Ia memberi ku suatu nikmat yang paling
tinggi. Dia juga memerlukan itu. Bagi kami segala-nya bersih waktu itu. Anggota fisikal dan perasaan kami. Bersih bagi ku waktu itu. Aku cium, dan cium dengan penuh ghairah dan nikmat. Lidah ku bagaikan automatik, tahu berbuat sesuatu yang dinikmati oleh Mas. Ku usap belahan pantatnya yang kini sedang digenangi air 'nikmatnya'.Kini, Mas bagaikan terkulai layu. Seluruh tubuhnya sudah bertelanjang bulat dan juga aku. Hanya nafasnya saja yang nampak berombak deras.
Herangan dan rengekannya kian terdengar seakan-akan memanggil ku. Aku rasa kepala ku diusap-usap-usapnya, rambut ku disisirnya. Sebelah tangannya sedang memegang birai katil itu erat sekali. Terdengar dia bagai orang dalam kepedihan, suara nikmat yang amat tinggi.
"Ssssttt....sssssstttt ..uuuhhh........." Mas mengerang panjang.
Mengetahui ia sedang merasa tingkat nikmat yang tinggi seperti itu,penuh dan sangat-sangat mengkhayalkan begitu - aku teruskan mengusap
dan menjelajahi bahagian rahsia dalaman yang sentiasa tersembunyi itu dengan lebih garang lagi. Ku petikkan lidah ku dan aku tenyehkan
lidah ku kebahagian daging tersentil itu. Kelentitnya. Aku rasa dengan lidah ku daging itu kian mengeras. Aku usap-usap dengan hujung lidah ku. Amat mengasyikkan. Lama sekali aku lakukan.
Untuk memberikan ia nikmat sepenuhnya, aku jelejahi keseluruhan 'dalaman' itu, dari atas kebawah, dari bawah keatas.Berulang-ulang kali. Farajnya makin berlendir banyak. Bau aroma kemaluan seorang wanita makin meransang ku. Sebentar, aku berhenti diketulan daging yang kian mengeras di situ. Aku dapat rasakan seluruh tubuh nya bagai menggeletar, menggelepar dan kegelian. Mas
menggeliat. Tangan ku kian kuat memaut punggangnya, sambil itu jari-jari ku menggentel puting payudaranya.Nikmat. Aku tumpukan perhatianku mengusap dan menggentel kelentitnya untuk beberapa ketika. Kian lama aku lihat Mas bagaikan kegelian yang teramat sangat.
Aku mengerti sekarang, kelentit Mas adalah pusat syahwatnya - suatu punca nikmat kepadanya. Aku terus mengusapnya.Biarlah dia merasakan suatu tingkat nikmat yang tertinggi dan terangsang disitu. Aku terus lakukan begitu. Kemudian terdengar Mas menyeru nama ku ............" sambil itu kepalanya bergolek kekiri-
kekanan. "Mas nak puaaassssss, ......" katanya dengan nafas mengencang. Makin itu makin aku menjilat dan memainkan kelentitnya dengan gigiku.
"Ah.....mhhhh....yes....!!" Mas menggelapar. Makin aku pegang
pinggangnya dalam pelukan ku dan menjilat dengan rakus. Peha Mas
seperti berhempas pulas. Mengejang. Kakinya menerjang ke kiri ke kanan. Tangan ku pula kian mengganas; meramas-ramas buah dada Mas yang makin mengkal menegang. Makin lama makin rengekkan Mas kian kuat
memanggil nama ku. Rambutku digenggamnya erat sekali. Sekejap
digenggamnya rambutku kuat-kuat; dan sekejap dilepaskannya. Aku rasa
tangannya terjatuh ke tilam. Ia tidak berdaya lagi. Ia bagaikan letih, lemah dan seakan tidak memberi rangsangan kepada ku lagi.
Hanya aku yang cukup-cukup terangsang. Terangsang hebat. Ku lakukan olahan begitu sehingga dia seakan reda dari menggeliat.Melihat keadaanya yang tidak terkawal itu, aku bangkit dan mendakapnya. Aku peluk Mas kemas-kemas. Aku rapatkan muka ku ketelinganya. Aku berbisik ke telinganya perlahan-lahan dengan suara yang terketar-ketar, "Mas nak buat sekarangggg.?" Pertanyaan ku untuk kesekian kali.
Mas hanya diam. Aku ulang dengan nada yang spontan paling romantis
dan penuh kasih sayang dan kemanjaan. Sambil itu aku usap-usap
lengannya. Aku lihat dia seakan-akan hendak membuka matanya, tetapi kemudian tertutup semula.
Aku jadikan itu sebagai sebagai pertanda bahawa ia telah memberi keizinan. Melihat itu, segera aku melucutkan seluruh kain yang melekat ditubuh kami. Kini, kami bagai dalam keadan seperti waktu lahir kedunia dulu. Kami berdua. Aku pegang tangannya.Aku sentuhkan tangannya 'ke senjata rahsia' ku - seolah-olah memberi alamat kepadanya bahawa aku juga merelakan Mas memegang dan menyentuh seluruh tubuh ku hingga kebahagian sulit ku ini. Aku mahu dia merasakan bahawa aku juga adalah merelakan diri ku. Untuk miliknya.Sebagai haknya.
Aku letakkan tangannya kearah senjata ku. Dia menggenggamnya, tapi tidak menggerakkan tangannya. Aku kucup buah dadanya semula. Aku usap-usap pangkal lengannya hingga kepinggang dan terus kebawah - dan
terus kecelah belahan rahsianya itu. Aku gentel-gentel dengan lembut
dan bersahaja. Aku lihat Mas bagai tidak sedarkan diri. Terlena.Lemah. Aku teruskan begitu. Tangannya masih memegang 'senjata' ku.Erat sekali. Melihat pertanda terakhir itu, perlahan-lahan aku dakap dia kemas-kemas. Aku selak beberapa helai rambutnya yang terhurai
menutupi dahinya. Kini mukanya dapat ku lihat dengan sepenuhnya.
Mukanya menghala ke arah ku. Kami seakan-akan berpadangan walaupun
matanya hanya antara terbuka dengan tidak.
Aku terus mengucup mulutnya, menghisap lidahnya seolah-olah itu lah ciuman terakhir bagi kami. Lama sekali. Dia membalas bagaikan tidak
mahu melepskan kucupan kami. Aku letakkan tangannya semula kebelakang kepala nya. Terkulai semula. Ku lihat Mas sudah sedemikian lemah. Aku peluk dia. Erat-erat. Aku masukkan kedua-belah tangan ku melalui bawah pangkal ketiak lengannya yang terkulai dan tidak bermaya lagi itu. Aku rangkul bahunya. Aku bisikkan kepadanya hasarat ku .
Dia tidak menjawab lagi. Tidak ada riaksi lagi. Dia tidak menjawap. Mas semacam hilang dari alam ini.Dalam keadaan sekujur tubuhnya bagaikan terdampar dalam keadaan bersandar itu; aku dapat melihat suatu keindahan bentuk anggota
sebuah tubuh seorang insan yang sangat jelita. Mukanya tenang bagai tidur, tangannya terkulai, pehanya terbuka luas - terbentang bagai menyatakan keindahan semulajadi yang teranugerah kepadanya. Tidak dapat ku bayang kejelitaannya waktu itu. Kulitnya amat bersih. Licin.
Termenung aku sejenak menikmati keindahan yang mempesonakan itu.
Terpegun. Bagaikan terpukau.Adakah aku ini bermimpi? Bagaimana aku dapat melihat sebuah tubuh yang begini indah? Bagaikan aku terhayun
kesebuah alam yang amat indah, permai, tenang, mengasyikkan dan penuh ghairah. Tidak puas aku memerhatikan setiap bahagian tubuhnya yang begitu indah dan sempurna.
Sempurna sesempurna-purnanya. Dan tubuh ini adalah sebatang tubuh yang merelakan. Merelakan aku berbuat sekehendak ku. Walaupun aku boleh berbuat begitu, tetapi perasaan ku bukan segelojoh itu.
"Aku harus melakukan sesuatu dengan rasa pertimbangan kasih. sayang..dan saling menikmati" ujar ku dalam hati yang amat mengasihi. Dalam aku terlalai itu, aku usap-usap bahagian "sulit" ku kecelah lipatan "rahsia" Mas yang kini sudah terdedah. Basah kuyup hingga
kerambut nonoknya. Mas sudah hilang malunya, bertelanjang bulat
dihadapan ku. Dunia kami bagai memukau.
Perlahan-lahan ku temukan anggota rahsia kami di situ. Kalau itulah
keindahan terakhir dalam segerap permainan fore-play diawal-awal
tadi....maka kini ini adalah peringkat terakhir dalam babak ini. Kami
seakan-akan sedang menuntut suatu kebahagian dan nikmat sebenar,
suatu kemuncak kasih, sayang, paduan perasaan ... Biarlah aku lakukan dengan berhati-hati kerana Mas adalah seorang yang sangat lemah lembut. Ia seorang wanita dan aku seorang jejaka. Kugesel-geselkan
kepala batangku ke celah nonoknya; hingga membasahi bahagian yang ku
sentuh-menyentuh itu. Aku lihat Mas sudah cukup-cukup terlena, Terpesona.Dengan suatu pergerakan yang sangat berhati-hati, aku cium nonoknya.Ku sedut kali terakhir. Kemudian aku merangkak ke celah antara dua pehanya. Aku tekan senjata ku perlahan-lahan ketempat yang sangat dijagainya selama ini.
Liang farajnya dibasahi lendir. Bahagian yang tidak pernah disentuh oleh sesiapa kecuali suaminya. Kini suaminya tidak ada dalam ingatannya. Aku berhasrat semoga aku akan dapat menggantikan suaminya untuk memberi kepuasan kepadanya.Kini bahagian sulit kami bersentuhan semula. Sekali lagi. Tapi, kami adalah dalam suasana yang amat berbeza. Suasana rela merelakan.Dengan perasaan terhubung dan jujur, bersih. Sambil itu aku pandang mukanya. Aku nikmati keindahan dan kejelitaan wajah, riaksinya sewaktu batangku masuk menyelinap ke liang sanggamanya. Memang Mas sedemikian murni dan jelita itu. Tekanan kepala 'batang' ku yang besar itu ku lakukan dengan amat berhati-hati sekali, hingga agak
sulit memasukkan liang anggota setubuh Mas walaupun kali kedua. Ku
lihat matanya bagai menahan pedih. Lalu ku geselkan biar licin dengan
lendir diruang cipap Mas. Kemudian aku tujukan semula. Terasa masuk sedikit kepala batang ku.
Ku unjulkan perlahan-lahan hingga masuk sebahagian kepala batang ku.
Spontan itu, diikuti pula dengan tenaga yang sungguh luar biasa dari
dalam diri ku. Sedikit demi sedikit tenaga itu menguat. Dan Mas
seakan-akan tidak merasai sesuatu yang tidak mengizinkan aku berbuat
begitu. Ia tidak membantah. Merelakan. Aku tekan lagi kedalam sambil merangkul tubuhnya agak kuat sedikit. Kini batang ku sudah masuk
hingga celus kepalanya. Kemudian aku tekan lagi ke dalam. Ku tarik
perlahan-lahan keluar. Cuma anggaran dua inci sahaja - takut ia akan memberi ketidakselesaan kepada Mas.Aku terus merangkul dada Mas kedada ku . Ku kucup mulutnya dan ku hisap lidahnya. Dia membiarkan sambil memberi tindak balas yang memberangsangkan. Aku mulai menghenjut-henjutkan punggung ku menyorong tarik batang ku yang tegang bagaikan kayu keras. Aku lihat Mas menggeliat. Dia menarik nafas dan menghembuskankan. Pendek-pendekdan pantas. Aku sudah dapat merasakan suatu riaksi yang menjelaskan nikmat kepada nya.
Ku rangkul bahunya lebih kuat dan erat lagi. Aku rapatkan tubuh ku
ketubuhnya. Aku padukan tubuh kami. Aku tekan lebih dalam lagi. Aku
diamkan sebentar. Ku lihat ia membuka matanya agak luas memandang ku.Seolah-ia mahu mempastikan bahawa seungguhnya 'aku' lah yang memeluknya. Di renungnya aku. Mulutnya agak terbuka. Lalu dengan pantas ku kucup bibir yang mekar itu, terus lidah kami berhisap-hiapan. Aku kulum dengan lahap.Aduhhh...kejelitaan Mas sebagai amat mempesonakan. Mukanya kini kemerah-merah. Memang dia seorang yang sangat jelita lebih-lebih lagi dalam keadaan begitu. Aku tekan batang ku perlahan-lahan kedalam. Mas
membalas dengan rengekan yang halus, memanggi nama ku. Suara lunaknya menjadikan kami kian merasa terpadu. Setelah batang itu terbenam kedalam lubang nonoknya, mulai aku menyorong-tarik batang ku perlahan-lahan. Tindak balas darinya memberi aku rangsangan yang amatmenghairahkan.
Mas menggeliat. Rengekannya makin kuat.Kini kami betul-betul sedang melayan keadaan yang sama dan satu hala.Kami seakan-akan duduk dalam suatu alam yang sangat indah. Berlayar dalan satu bahtera. Kami mengharungi sebuah lautan yang sangat permai, dihembus angin sepoi yang amat nyaman dan mengasyikkan.Kocakan perasaan yang kami nikmati sungguh-sungguh jauh berbeda.Walaupun Mas pernah bersama suaminya, tapi perasaan kali ini cukup indah.Aku berhasrat mahu memberi kepuasan tertinggi untuknya. Kerana itu aku perlu menahan pancutan air maniku supaya jangan keluar terlalu cepat.
Ku perlahankan hayunan ku. Aku angkat tubuh Mas lalu kubalikkan menungkup. Aku atur dia supaya menungging. Doggy-style. Dia menurut dengan lembut dan perlahan bagaikan malas. Tubuhnya kian melemah. Aku cium belakangnya bermula dari tengkuknya hingga kepinggang. Kemudian aku usap pepejal punggungnya yang putih melepak itu. Aku ramas-ramas. Sesekali ku cium dan gigit-gigit. Aku usap-usap pepejal punggunya sambil tangan ku meramas-ramas buah dadanya. Diamembiarkan saja.
Mas dalam keadaan menungging. Punggungnya yang lebar dan pejal itu
menyerah. Tangannya memegang birai katil. Perutnya ku sendal dengan
bantal. Oh... demi terpandang saja bahagian sulitnya, hati ku makin
berdebar. Ku lihat, pantatnya, anggota yang paling sulit ditubuhnya
itu, ku ulas-ulas dengan jari. Dia merengek dan mengelinjang kegelian. Debaran dada ku kian mengencang. Hebat. Keras sekali degupan jantung ku. Mas tidak bergerak lagi. Aku usap-usap bahagian itu. Aku terpaku. Terpegun bagai tidak tahu apa yang aku lihat. Aku tatap muka. Kemudian, bagai tidak sabar, aku tekapkan muka kukebagaian itu. Aku cium pantatnya. Ku jelirkan lidah ku.Aku jilat pantatnya. Lumat.Mas mengerang. Aku lorotkan lidahku hingga kelubang vaginanya yang basah itu.Mas pasrah. Aku cium puas-puas. Aku dapat merasakan suatu perasaan yang amat indah dan bersih. Aku bukakan kedua-dua pehanya.
Dia seakan-akan membantu ku dengan membukanya. Lebih luas lagi. Ku gigit-gigit daging punggungnya. Ku ramas-ramas. Sambil itu tangan ku memainkan kedua-dua buah dadanya. Ku gentel putingnya. Mas mengikut saja apa yang aku buat. Dia seperti anak patung yang tidak bernyawa. Pasrah.Nafsu syahwat sudah menguasai kami.
Perlahan-lahan aku angkat lututnya menjongkok berdiri. Kini bahagian
larangan itu betul-betul jelas. Nyata. Aku cium puas-puas. Suatu rasa
aroma meransang menyerap keseluruh tubuh ku. Aku menekapkan muka ku di situ. Bernafas dan menghembuskan nafas di bahagian itu. Tangan ku mengusap rambut-rambut halus di bahagian atasnya.
Aku usap-usap.Perlahan-lahan. Bagikan mengerti, aku usap dengan lidah ku bagaimahu mersai sesuatu yang nikmat dengan sentuhan. Aku lekatkan kepala konek ku kecelah retakan itu. Berhati-hati. Ku gesel-geselkan. Mas menggeliat . Aku dengar dia mengerang berkali kali dan terus mengerang. Suatu tanda nikmat kepadanya. Aku biarkan supaya dia menikamati nya beberapa lama. Aku mahu dia menikmati nya. Kalau itu boleh memberi ia suatu nikmat, aku lakukan. Lama aku lakukan itu.Tidak tahu berapa lama.
Kami saling memahami riaksi itu sebagai petanda. Sebentar kemudian
aku bangun.
Berdiri diatas lutut ku. Kedua-dua belah tangan memegang pinggangnya kuat Posisi ini melentikkan punggungnya. Menyerah. Matanya tertutup rapat. Nafasnya tenang tapi kencang. Dia tidak bergerak. Cuma aku yang mengatur segala-galanya dan dia memberi riaksi yang merelakan saja.Perlahan-lahan dalam keadaan menungging itu, ku tancapkan kepala konek ku ke liang kemaluannya. Ku rasa seperti tersepit. Ku gesel-geselkan biar belendir. Setelah itu ku tekan. "Pllloooss." kepala
konek sudah masuk sekerat. Perlahan-lahan ku lorot masuk ke dalam lubang vaginanya yang ketat. Ku mula masukkan lagi. Kemudian tarik.Ku sorong dan tarik.Dengan kekencangan yang seimbang, taip-tiap pergerakan kami adalah
disusuli dengan rasa nikmat. Nikmat itu meningkat dari satu gerak ke satu gerak. Kian meningkat, kian itu pula kami saling bertindak-balas. Dalam setiap tindakbalas itu, kami makin ghairah dan merangsangkan.
Pada mulanya kami berlayar dengan penuh tenang,teratur dan saling faham-memahami dan penuh timbang rasa. Kadangkala bertemu dengan ombak-ombak kecil. Kami terus berkucup-kucupan.Kucupan ku menjelajah ke dada, menyusuli puting susunya yang montok, menyentuh kulit perutnya yang licin itu.Aku teruskan menggomol seluruh tubuh Mas. Buah dada, puting susu,
celah ketiak, tengkuk, lubang telinga, semua! Makin ku rangkul tubuhnya makin aku merasai nikmat yang meningkat dengan perlakuan begitu.
Makin rata-rata tubuhnya ku sentuh, raba, usap dan kucup.Sekali sekala aku gentel kelentitnya. Macam terpijak api, Mas menggelintin. Terlonjak. Dia mengerang. Aku lihat dia makin memberi riaksi. Makin kuat goyangan tubuhnya. Ia bagai menggeliat-geliat.Makin itu aku perkukuhkan pelukan ku. Aku rangkul sekujur tubuhnya.Dia juga begitu. Makin erat pelukan ku. Dia juga begitu. Kami saling berpaut. Memang kami menjadi semacam satu tubuh.
Makin garang gerak-geriku makin itu pula kuatnya Mas menyambut gerak-
geri ku kencang. Ia membalas. Seolah-olah waktu itu segala nikmat
yang kami rasai adalah untuk kami berdua. Waktu itu terasa wujud suatu perhubungan rasa dan perasaan yang mendalam. Aku terus menghenjut dengan penuh nafsu; tetapi sangat berhati.
Persetubuhan kami penuh dengan rasa kasih sayang. Tidak ada gesaan atau paksaan.Segala-galanya adalah atas kerelaan semata-mata. Nikmat yang kamirasa itu sungguh membahagiakan.Kini sebahagian konek ku sudah terbenam diruang nonok Mas. Kali ini cara menungging. Belum lagi keseluruhannya. Tidak ada sesuatu yang ganjil bagi kami. Kami merasa bahawa kami ingin berkongsi untuk memiliki sesatu yang kami ada. Kami merasa ingin memiliki sesuatu
keindahan. Keindahan itu kian terhampir. Tindakbalas antara kami kian kencang. Bagi ku, segala-gala yang ada ditubuh Mas, setiap inci dan
bahagian tubuhnya adalah untuk ku, untuk aku miliki. Begitu jua dia.
Perasaan ini sangat murni. Kami saling seru-menyerukan dan memanggil-manggil nama masing-masing semasa sendiri. Kucupan kami kian erat.
Pergerakan ku kian kencang. Aku bagai hilang pertimbangan. Mas
menyambut henjutan punggung ku dengan reaksi yang merelakan. Malah
disambutnya dengan gerakan yang lebih memanaskan. Pantas. pantas
bagai kuda perjuangan sedang berlari kencang. Bagi memacu kehadapan.
Ke satu hala, destinasi yang sama ingin ditujui.
"Ahhhhh.... arggggghhh..... ffffffffff... uuuuhhhh.... ...!! Mas...
tak tahan ... Mas...... nnnnnaaakkkkkkk .....
pppppuuuuuuuaaaaassss........!!" Mas mengerang dengan suara yang
panjang. Ku biarkan dia melayani perasaan itu. Sambil itu aku henjut
lagi. Henjutan ku kian mengencang dengan konek ku yang kian keras. Ku
tonjol ke kiri ke kanan dengan menggoyangkan penggul ku. Ku lihat Mas juga berbuat begitu. Ku rasa air lendir mengalir ke buah pelir ku.
Aku dapat rasakan, Mas sedang menikmati penyerahan nya yang sangat-sangat ikhlas. Kami layani perasaan itu dengan penuh nikmat.
Bagi kami tidak ada lagi sebarang rintangan yang menghalang. Tidak ada.Segala-galanya adalah untuk kami. Kami berdua saja.Tiba-tiba aku rasa Mas seakan-akan merangkul birai katil dengan kuat.Mula-mula tidak sekuat itu, tetapi makin perlayaran kian menongkah arus deras, Mas makin kuat merangkul. Nafasnya kian pantas. Pantas benar. Rengekannya sudah meninggi. Dia memanggil-manggil nama ku
dengan lebih kuat lagi bagai mau meminta suatu pertolongan yang tidak dinyatakan maksudnya. Aku panggil dia. Aku seru dengan nada panjang.Mas Tidak putus-putus menyeru nama ku "Sayanggg. Puaskan Mas..... Mas nak puassss.....!! " Dia bagai mengharapkan sesuatu dari ku. Suatu pemberian dari seorang jejaka sejati.
Imbauannya menjadikan aku merasa bahawa aku sudah jadi seorang lelaki
yang sebenar. Bertenaga. Sekan-akan terbit "kelelakian" ku. Sifat kusebenar. Seorang lelaki yang berupaya memberi ia nikmat yang
diingininya. Seorang lelaki perkasa. Aku merasa bahawa akulah seorang
lelaki gagah. Aku berdaya, berupaya. Tenaga ku diperlukan. Aku seorang jaguh. Aku seorang wira. Suatu yang aneh, berbeza dari sebelum ini. Tapi aku tidak dapat mengawal perasaan itu.Seakan-akan perasaan ku sudah bertukar menjadi seorang pelindung
sejati. Suatu dorongan dalam rohani ku menunda-nunda ku supaya
mengadaptasi karekter yang lebih bersifat 'kejantanan'. Aku mesti
mengusai keadaan ini. Aku seorang wira. Seorang jaguh. Bagi waktu Mas
memerlukan aku supaya bersifat begitu. Seorang 'jantan'. Secara
spontan, aku kencangkan gerakan aku lagi. Aku rangkul tubuhnya dengan lebih teguh, erat, padat. Seakan-akan ia tidak mampu bergerak. Aku pula bagai tidak peduli. Aku rasa itu lah yang memberi ia nikmat bagiku, dan dia. Aku lihat Mas kian menggelepar. Terkapai-kapai.
Nafasnya kian kencang. Makin ku pantaskan henjutan ku, makin itu pula Mas terkapai-kapai. Aku terus menerus menghenjut dengan pantas.
Seolah-olah aku sedang mengemudikan sebuah bahtera yang dialun ombak besar setinggi gunung. Angin kencang pula dengan ganas menggoncang layar yang kini sedang terumbang ambing menahan hembusan angin yang tidak lagi bertiup lunak. Mas kian kuat mengimbau nama ku. Memanjang
saja nadanya.. Aku tidak lagi mampu menjawabnya. Seluruh tenaga ku,
impian ku dan perasaan ku.. Ku pejamkan mata ku. Terbayang
keseluruhan susuk tubuhnya yang jelita, indah. Aku anggap dia sebagai
sebuah 'keindahan' yang sangat murni. Dan dia mahu aku menikmati
keindahan itu.Buah dadanya bergoyang. Ku gentel puting susunya. Nafasnya kian mengencang.
Begitu juga aku. Ku lihat dia menggeleng-gelengkan kepalanya; kekanan - kekiri. Aku teruskan 'henjutan' tubuh ku yang
amat mengasyikkan itu. Aku teruskan. teruskan. menusuk. Keluar masuk.Kian lama kian kencang. kencang... Aku rasa aku juga sudah merasa hampir ke puncak gunung yang sudah sebegitu lama ku daki. Aku perlu menggunakan suatu tenaga yang paling perkasa untuk sampai kepuncak itu. Nampak kepada ku, dan aku juga merasa suatu yang berbeda..
bahawa kami sedang bergerak pantas menuju ke destinasi yang kami tuju
itu. Kian hampir. Makin itu makin aku bertenaga dan bergerak lebih pantas.
Bagaikan orang yang akan sampai kegarisan penamat, aku gunakan seluruh tenaga yang ada pada ku. Peluh ku menyimbah keluar.Dan aku lihat Mas sudah cukup-cukup tidak bermaya. longlai. Dan..dan.. dalam suasana yang amat mengkhayalkan itulah. ku rangkul kedua-dua bahunya. Sekali gus aku henjut dengan sekuat tenaga ku.
"Ohhh.... Mas... Mas.... arrrggghhhhhh......!" air mani ku terpancut.Aku rasa sekujur tubuh ku bergelombang!! Mengombah-
ngombah. "Argghhhhh.... sayang ohhh...!!...." Aku mengeluh. Kepala
ku, ku sandarkan di celah tengukkan Mas.... Ku lihat dia bagai terdampar dan mulutnya terngaga. Dia membiarkan aku melakukan itu
semua.
"Haargggghhhhh....ahargg...haargggg...!!" Mas bagai tercungap-cungap.
Nafasnya tersekat-sekat.. Aku terpancut dengan tiba-tiba. Aku tekan habis-habis seluruh batang ku ke dalam. Ku tarik batang ku semula. Ku henjut masuk dengan kuat memacu menembusi liang yang sempit itu. Tipa-tiap kali aku henjut masuk ke dalam, tiap kali itu pula air mani ku memancut..! Dan tiap kali pula Mas
berdengus. "Aaaargggggghh...arrghhhhh....!!
"Kaakkkk...hakkkk...!" Mas tersenggut-sengut. Tekaknya bagai tertekan-
tekan. Aku tidak sedar apa yang aku sebutkan. Aku lupa diri. Mas pun
begitu juga. Dia menyerahkan seluruh tubuhnya tanpa berahsia lagi.
Kami tidak peduli apa yang kami lakukan, kami berebut-rebut menerima dan memberi.
Sekali dalam keadaan rasa yang sangat tergian...aku henjutkan
punggung ku dengan kuat. "Aargggghhhhhhhhhhhhh...." pancutan ku yang terakhir itu sangat memberi kepuasan kepada ku. Mukanya memiring kekanan. Nampak kepada ku mata Mas terpejam. Nafasnya tersentak-sentak.Kami seakan-akan menyambutnya dengan penuh menghargai. Pemberian yang
terakhir dari ku - dan penerimaan yang terakhir buatnya .. aku lihat
Mas menggelepar. Tangannnya memegang birai katil erat-rat. Aku terus berulang kali bagai berbuai-buai menggeluti tubuh jelita. Walaupun
aku bersikap keras, tetapi dengan 1001 penyerahan yang wujud di lubuk
hati, Mas ku lihat sangat puas. Kami saling serah menyerahkan dengan
keadaan yang sungguh mengasyikkan. Kali ini amat luar biasa. Kali ini
berbeza dari yang pertama tadi. Amat luar biasa perkongsian kami.
Amat nikmat bagi ku yang memberi dan jelas juga - amat nikmat baginya
sebagai yang menerima. Nikmat kami berdua. Untuk kami.Dalam aku mendakapnya erat-erat itu, tanpa ku sedar. Aku meletakkan muka ku ke bahu tengkuknya. Seakan-akan tidak mahu melepaskan dia.Mas menggigit mengigit bantal. Waktu itu, kami seumpama sudah sebati.Kami terdampar!! Lesu..lesu. Tidak lagi bermaya lagi. Kini kami longlai. Kami terus berpelukan. Erat-erat. Perlahan-lahan, bagai angin kencang, suasana kembali reda. Aku masih mendakap Mas. Kubalikkan tubuh Mas telentang. Kami berpaut antara satu sama lain.
Kami ingin sama-sama kembali ke dunia kami yang penuh sadar. Kami
mahu sedar bersama. Kami mau seiringan kembali kedunia sebenar.
Seiringan dalam dakapan yang penuh nikmat dan satu rasa. Batang ku
masih lagi dalam nonoknya.
Aku seakan-dalam keadaan terlena. Begitu juga dia. Aku tidak tahu
berapa lama aku dalam keadaan begitu. Umpama satu perjuangan, kami sama-sama seperjuangan. Kami sudah memenangi pertarungan itu. Sama-sama menang. Berjaya. Terhasil. Berhasil menikmati suatu keindahan yang tidak mungkin dapat diceritakan. Kami terlena dalam dakapan itu....... berpelukan. Kami masih telanjang. Terkapai..terlena dan tertidur. Sebelum terlena, aku terfikir, bagaimana suaminya melakukan hubungan asamaranya dengan Mas hingga dia tidak ada perasaan langsung terhadapnya? Ada Mas dipergunakan cuma sebagai alat pemuas nafsunya saja, atau cuma untuk melampaiaskan keinginan yang didorong nafsunya seorang saja? Aku tak taulah. Tapi Mas nampak cukup puas bersetubuh
dengan ku! Ia mencapai klimaks orgasma bertalu-talu.
Kami benar-benar bersatu..!!
-END-
Fantasi Sedap-Sedap Ep24
-ELLE KAWAN ALISA- PART 2
Agak lama elle bj aku sebb dia bj dengan santai. kali ni aku rasa nak santai2 dan slow2 saje.
Aku suruh elle bangun dan baring dekat tilam secara menyiring.
Aku usap manja pepek elle yang putih mulus tanpa bulu. kurang tembam dibandingkan dengan alisa.
Aku gosok pepek elle sampai berlecak, elle mengeliat ngeliat badan bila aku kocak pepek dia.
Elle - ahhhhh ermmmm aeghhhh arghhhh woahhhh
Bila pepek elle dah basah lencun aku jolok pepek elle dengan slow2 dalam keadaan elle baring menyiring.
Aku tekan paha elle sambil tolak slow2 batang masuk, agak senang sebb licin cuma ketat. elle tak senang duduk apabila batang aku menerobos masuk pepek comel dia.
Elle- Auchhhhh ermmmmm ishhhhhhh ermmmmm slow2 bang.
Aku- Abng fuck slow2 je tau bagi elle biasakan.
Elle - emphhhhh ahwhhhh baik bang ermmmm
Aku dayung santai2 tapi sampai habis membuat kan elle gigit bibir menahan kenikmatan. Ketika aku dayung elle dia tarik tangan aku dan hisap jari aku.
Aku tekan paha elle dan henjut laju sikit membuatkan aku mendesah sedap.
Aku - ermmmm ahhhh sedapnya pepek elle, rasa ketat dan panas je ermmm uhhhhh
Aku angkat tangan elle dan jilat ketiak elle sambil batang aku keluar masuk pepek dia.
After 10 minit sesi dayungan santai, tetiba badan elle tersentak sentak dan elle teresak esak menahan sedap.
Aku - Elle dah cumming ke tu, sedap tak ?
Elle - ermmphhhh aeghhh nikmat nya bila cum, elle nak lagi boleh ?
Aku angkat buntut elle untuk doggy, aku ludah alur pepek elle sebelum aku masuk kan batang aku, macm biasa slow and santai je.
Masa aku masukan batang aku separuh terasa kepala batang aku langgar dinding dalaman pepek elle dan membuat kan elle mengeliat.
Elle - awhhhhhhh aeghhhh kenapa doggy lagi sedap and pepek elle rasa penuh emmmmppph
Aku teruskan dayungan aku, setiap kali batang aku berlanggar aku akan rasa senak yang sedap lagi2 elle kemut2 pepek dia.
Rasa macam batang aku digenggam erat membuat aku lagi cepat nak cum.
Aku- Sedap nya bila elle kemut pepek, ngilu abng. ermphhh
Elle- Abng suka ye, kalau elle goyangkan buntut elle mcm mana pulak.
Aku rasa geli sampai nak terpancut bila elle goyangkan buntut. Aku stopkan elle agar aku tak pancut awal.
Aku - Abg nak fuck kuat sikit ye.
Aku pegang pinggang elle dan sentak batang aku masuk pepek elle
Elle - Auchhhhh arghhhhhhh padat nya pepek elle ermmm ishhhh
Aku ulang 5/6 kali sentakan itu dan elle cum secara tidak meleleh air mani elle membasahi batang aku.
Elle mengeluh lega dan nikmat dapat cum 2 kali.
Aku - Sekarang giliran abng pulak nak cum, abng henjut laju sikit, elle goyangkan buntut sebb sedap
Dalam masa 5 minit sahaja aku terasa nak cum, elle mintak aku cum dalam, saat2 terakhir sebelum aku cum aku fuck sekuat hati dan lepaakan pancutan air mani yang banyak memenuhi pepek elle.
Aku - argh arghh arghh abng cum arghhh awhhhhhh uhhhhhh penuh la pepek elle.
Elle - Ishhhhh arghhhhhh uhhhhhhh ermmm rasa pnas je dalam pepek dan terasa air mani abng tembak jauh.
Bila aku keluarkan batang aku meleleh keluar air mani aku.
Sejak hari tu aku kerap 3some with alisa and elle bila rumah aku kosong.
Kalini aku mintak elle pakai niqab dan fuck dia.
-THE END-
Aku bernama Suhaila. Aku adalah seorang gadis kampung yang dibesarkan dalam suasana yang penuh dengan adat dan tata susila budaya timur. Ayah ku seorang
Imam surau kampung manakala emak ku pula adalah seorang suri rumah yang
mengajar mengaji Al Quran di rumah dan madrasah kampung. Dalam kampungku hanya ada lebih kurang 200 orang sahaja dan kami hampir saling kenal mengenali antara satu sama lain. Aku sememangnya agak terkenal dikampungku kerana dalam ramai-ramai anak dara di kampung, akulah yang antara terlawa.
Bukan nak masuk bakul angkat sendiri tetapi ia adalah kenyataan kalau tidak
masakan Johan, anak sulung Penghulu tergila-gilakan ku. Disamping dengan
rupa parasku yang menawan ini, aku juga adalah antara beberapa anak kampung yang mempunyai kebolehan pembelajaran yang paling baik. 3 tahun lepas setelah aku mendapat keputusan yang cemerlang dalam STPM, aku telah
ditawarkan tempat ke salah sebuah IPTA di Kuala Lumpur. Tak perlulah aku
menyebut dimana sekadar cukup aku menyatakan bahawa universiti yang aku
masuk itu adalah antara yang terulung di Malaysia. Aku ditawarkan kursus
dalam bidang Geologi dan juga diberikan asrama tempat tinggal. Tanpa ku
duga, Johan turut mendapat tempat di IPTA tersebut tetapi bukan dalam bidang
pengajian yang sama namun dia mendapat tempat penginapan di kolej yang sama denganku.
Oleh kerana kami dari satu kampung maka Johan adalah kenalan
terapat aku di universiti kerana aku masih tidak berapa mengenali
rakan-rakan yang lain. Perhubungan kami terus mesra dan kami saling
bersama-sama mentelaah pelajaran di perpustakaan. Perhubungan kami semakin intim dan mula menimbulkan bibit percintaan sehinggalah suatu hari Johan mengajak aku ke Bandaraya Kuala Lumpur untuk bersiar-siar. Alasan yang diberikan ialah kerana telah penat mentelaah pelajaran maka sewajarnyalah kami mengambil kesempatan untuk melepaskan penat lelah dengan bersiar-siar. Aku terus menerima pelawaanya dan kami keluar menonton wayang dan makan-makan di sebuah restoran terkenal dengan nasi lemak di Kampung Baru.
https://www.viexas.com/category/cipap
Tanpa kami sedari, jam telah menunjukkan pukul 12.58 malam dan kami pun
mengambil keputusan untuk balik semula ke kolej. Johan menahan sebuah teksi
yang kebetulan sedang melalui jalan ke restoran tersebut. Setelah mendapat
persetujuan pemandu tersebut, Johan memanggil ku ke arah teksi tersebut dan
kami berdua duduk dibelakang. Sambil memandu, pemandu tersebut
memperkenalkan dirinya sebagai Pak Amid dan pada pengamatan ku dia berumur
disekitar 45 hingga 50 tahun. Pak Amid asyik bercerita dan Johan paling
banyak melayan percakapannya. Aku sebaliknya lebih banyak meramas tangan
Johan bagi menghilangkan gementar kerana aku tidak pernah keluar sebegini
lewat dengan orang asing seumur hidupku apatah lagi aku risau memikirkan
samada Pak Guard nanti akan membenarkan kami masuk atau tak. Pak Amid terus
memandu laju membelah kegelapan ibu kota. Yang peliknya aku dapati Menara
KLCC semakin sayup.
Setahu aku universiti kami amat berhampiran dengan KLCC
walaupun untuk berjalan kaki adalah mustahil. Johan sebaliknya amat khusyuk
melayan cerita Pak Amid. Aku cuba membisikkan pada Johan yang kami sudah
agak jauh dari tujuan sebenar. Malangnya Johan tidak mengendahkan ku. Aku
semakin gelisah. Tiba-tiba Pak Amid memberhentikan teksinya dan terus keluar dengan agak pantas. Aku perhatikan Johan agak terkejut namun tidak berbuat
apa-apa. Pak Amid lantas membuka pintu teksi dan menarik Johan keluar dan
terus memukulnya hingga Johan tidak sedarkan diri. Aku menjerit sekuat hati namun aku tahu bahawa kami telah terlalu jauh dari
manusia. Kalau adapun cuma Pak Amid itupun telah tiba-tiba bertukar menjadi
iblis. Setalah pasti bahawa Johan telah pengsan dan tidak mampu berbuat
apa-apa, Pak Amid telah masuk kedalam teksi cipap.
Aku cuba untuk membuka pintu malangnya pintu tersebut tidak dapat dibuka
dari dalam. Pak Amid memujuk aku dengan kata-kata manis dan diselangi dengan bacaan yang entah apa maksudnya. Yang aku tahu sekelilingku seolah bertukar dengan pandangan memukau dengan limpahan warna lampu bewarna warni. Aku terpesona. Pak Amid ku lihat sangat cantik dan aku pula tidak ada sehelai benangpun yang ada pada tubuhku. Tubuh putih gebuku itu diramas dengan manja oleh Pak Amid. Aku merasa seronok dengan sentuhan Pak Amid. Tangannya manja menjalar dari kakiku dan terus ke betis dan pehaku. Aku merasa teruja. Kurasakan buah dadaku membesar. Kemaluanku terasa berdenyut-denyut.
Sentuhan Pak Amid mengkhayalkanku. Aku cukup seronok. Pak Amid
perlahan-lahan
membongkok dan mencium indah ku. Aku teruja sekali lagi. Pak Amid memang
pandai memainkan lidahnya. Diciumnya indahku dan dijolokinya dengan
lidahnya. Aku cukup terpesona. Sementara kedua-dua tangannya meramas lembut
buah dadaku. Aku cuma mampu membaringkan diri dan bersandar pada pintu
kereta yang kurasakan seperti katil yang cukup empuk. Segalanya amat indah.
Setelah puas memainkan lidahnya kedalam indahku, Pak Amid telah
perlahan-lahan merapati diriku dan mencium bibirku. Terasa bahang
keseronokan mengalir kedalam diriku. Lantas aku memegang kemaluan Pak Amid
yang agak besar dan panjangnya lebih kurang 7 inci itu dan kumasukkan
kedalam mulutku. Entah macamana aku pandai dalam bidang kulum mengulum ini.
Setahu aku belum pernah terlintas perkara semacam ini dalam seumur hidupku.
Segalanya seolah telah diprogramkan pada malam itu dan yang peliknya aku
seolah seronok Pak Amid merogolku. Pelirnya aku kulum ligat. Sementara Pak
Amid meramas lembut buah dadaku. Pelir Pak Amid kudapati amat tegang dan
keras. Air maziku telah banyak keluar. Setelah puas mengulum pelir Pak Amid
aku biarkannya untuk meneruskan agenda seterusnya. Pak Amid lantas
memasukkan pelirnya kedapam indah ku. Mulanya di mengetuk di sekeliling
indahku dan dengan perlahan-lahan dia memasukkan pelirnya kedalam lubangku.
Aku mengerang perlahan. Aku lihat muka Pak Amid tersenyum sambil berkerut.
Maklumlah masih dara. Tentunya lebih ketat. Pak Amid menarik laju batang
pelirnya bila ditarik keluar. Dimasukkan semula dengan perlahan-lahan dan
begitulah berterusan sehingga beberapa minit sambil tangannya perlahan-lahan
meraba dan meramas tubuhku. Aku seolah terlupa segalanya. Lupa pada diri
sendiri, lupa pada ayah dan emak dikampung, lupa pada Johan dan lupa pada
Tuhan. Keseronokan dan keghairahan yang diberikan oleh Pak Amid membuatkan
aku lupa pada segalanya. Tiba-tiba aku merasakan seolah seluruh badanku
seperti direnjat oleh elektrik. Kemuncak keseronokan kini terasa. Pak Amid
menarik perlahan pelirnya keluar dan dengan laju dia melancap didepanku.
Puss?.terpancut cecair mani dari pelirnya keseluruh muka dan dadaku. Pak
Amid memasukkan pelirnya kedalam mulutku. Aku terima pelirnya dengan penuh
rasa ghairah. Kukulum pelirnya sepuas hati. Air mani ku telan jua. Pak Amid
tersenyum puas. Aku turut tersenyum. Entah dengan tiba-tiba pemandangan
kelilingku berubah. Teksi Pak Amid telah hilang termasuk tuannya sekali. Aku
dalam keadaan telanjang bulat. Pakaianku disamping Johan yang masih tidak
sedarkan diri. Ya Allah aku terpukau rupanya. Aku telah dirogol!!! Tidak!!!
Aku cuba membangkitkan Johan tetapi Johan masih kaku. Aku tidak tahu dimana
aku berada. Yang pasti mentari sudah mula menampakkanya dirinya diufuk
timur. Aku memulakan hari ini dengan daraku telah tiada.<
Mimi 💕
GODAAN NAFSU
Mimi Amira melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam.setelah menekan punat loceng bas,dia bergegas turun setelah bas mini berhenti betul-betul dihadapan perhentian bas Kampung Melati Puteh.
Wajahnya yang begitu cantik sewaktu tersenyum,kelihatan berpeluh dan nampak seperti orang yang bersalah kerana dia telah berjanji dengan ibu dan ayahnya untuk pulang awal kerumah.
“Ah mampus aku kali ini….Adi mesti tengah mengamuk sekarang ni” fikir Mimi Amira sambil mempercepatkan langkah kakinya.
Dia tidak menoleh ke kanan atau ke kiri lagi. Apa yang bermain di fikirannya sekarang ialah pulang ke rumah dan menyediakan makan malam untuk Adiknya yang seorang tu dan juga untuk ibu dan ayahnya yang masih belum pulang dari berniaga di setiap pasar malam yang ada di tempat mereka.
“Harap-harap petang tadi Adi sudah makan roti yang ada di atas meja dapur tu” bisik hatinya sambil mempercepatkan langkah kakinya, terasa rumahnya masih jauh lagi.
Tiba-tiba datang seseorang dari arah hutan di tepi jalan Kampung Melati Puteh dan terus mencekup mulut Mimi Amira dengan kuat. Kemudian lelaki itu mendakap tubuh montok Mimi Amira dan menyebabkan Mimi Amira menjadi lemah dan tidak berdaya untuk melawan kekuatan lelaki itu. Kejadian itu berlaku terlalu pantas dan keadaan kampung pada masa itu pula sudah semakin gelap dan Mimi Amira tidak dapat melihat dengan jelas wajah lelaki itu. Sambil dipeluk erat Mimi Amira ditarik masuk semula ke dalam hutan Ssetelah agak lama mereka berdua meredah hutan itu, sampailah mereka di sebuah pondok usang di tengah-tengah hutan, kebetulan pada waktu itu Mimi Amira memakai baju t-shirt ketat menyerlahkan susuk tubuhnya yang bergetah itu.
Di dalam pondok usang itu hanya terdapat tikar mengkuang yang diletakkan di tengah-tengah pondok dan sebatang lilin yang sedang menyala diletakkan ditepi tingkap. Dengan berpandukan cahaya yang samar-samar dari lilin yang menyala itu akhirnya Mimi Amira dapat mengecam lelaki yang mencoleknya rupa-rupanya Din Musang seorang penduduk dikampung itu juga. Din Musang berusia dalam lingkungan 30an dan tidak berkerja hanya selalu melepak diperhentian bas dikampung mereka sahaja. Tetapi entah kenapa hari ini tiba-tiba sahaja Din Musang bertindak liar dengan mencolek Mimi Amira untuk melakukan hubungan seks dengannya.Di dalam pondok usang itu Mimi Amira dibaringkan di atas tikar mengkuang kemudian Din Musang terus mengoyak baju ketat yang melekat di tubuh Mimi Amira itu.Dengan rakus Din Musang menjilat-jilat puting buah dada Mimi Amira dan sekali-sekala Din Musang mengigit manja puting yang tegang kemerahan itu.Memang tidak dinafikan kerana wajah Mimi Amira yang sebegitu cantik maka ramai lelaki-lelaki yang melihatnya pasti akan terpesona, termasuklah Din Musang sendiri.
“Apa yang Abang Din nak lakukan kepada Mimi?” tanya Mimi Amira setelah melihat Din Musang seperti masih belum puas menghisap puting buah dadanya. Din Musang hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Mimi Amira itu. Dia terus menyambung kembali menghisap serta menjilat puting buah dada milik Mimi Amira itu.Malam itu Mimi Amira telah dijadikan habuan pemuas nafsu serakah Din Musang. Dari raut wajahnya kelihatan seperti orang yang baik-baik tetapi sebenarnya Din Musang tidak ubah seperti binatang. Teruk Mimi Amira dikerjakan waktu itu kerana dipaksa memuaskam nafsu seks buas Din Musang itu.
Malam itu teruk Mimi Amira dirogol oleh Din Musang….
Sejak dari kejadian itu Mimi Amira mula ketagih untuk melakukan hubungan seks lagi. Pernah juga Mimi Amira terfikir untuk berhenti tetapi apabila nafsu syahwatnya melonjak Mimi Amira terpaksa melancap sendiri dengan memasukkan batang timun ataupun batang pen marker ke dalam lubang kemaluannya sendiri.Sebenarnya selain pernah dirogol oleh Din Musang tempoh hari Mimi Amira juga sebelum ini pernah diperkosa oleh seorang budak sekolah. Abu namanya kawan baik Adi, adiknya sendiri. Tak siapa sangka orangnya memang nampak ‘cute’ dan nampak 'innocent’ saja tapi tak semestinya baik di luar baik di dalam juga…tambahan pula Abu ialah anak ketua Kampung Melati Puteh ini.
Ceritanya bermula pada suatu pagi yang dingin.Mimi Amira sedang mandi berbogel di dalam bilik air dirumahnya.tiba-tiba Mimi Amira ternampak susuk tubuh seseorang seperti sedang mengintai dia yang sedang mandi di dalam bilik air itu.Selang beberapa hari.ketika Mimi Amira sedang menjemur kain dan hanya berkemban sahaja,dia ditegur oleh Abu kawan baik adiknya.
“Kakak..! Abu nak cakap sikit dengan kakak. Abu harap kakak tak marah kat Abu…"
"Apa dia, Abu cakap la…."
"Sebenarnya Abu rasa ghairah la bila Abu mengintai kakak mandi… Abu teringin la nak tengok tubuh gebu kakak tu lagi..” katanya sambil tersenyum melihat lurah dendam milik Mimi Amira di hadapannya.
“Adik ni masih budak-budak lagi mana boleh tengok akak telanjang..” balas Mimi Amira cuba menolak permintaan budak lelaki itu secara baik.
Petang itu sewaktu Mimi Amira berada didalam bilik air di rumahnya dan tanpa diduga Abu terus meluru masuk ke dalam bilik air. Ketika itu Mimi Amira baru saja habis kencing dan sedang mencuci kemaluannya.
“Kakak..! tolong la bagi Abu peluang untuk buktikan yang Abu mencintai kakak.. Sebenarnya sejak mula Abu mengintai kakak, Abu telah jatuh cinta pada tubuh kakak..” puas Abu cuba merayu untuk membuktikan cintanya kepada Mimi Amira.
Mimi Amira kelihatan serba salah kerana memikirkan Abu ialah kawan baik kepada Adi, Adiknya sendiri dan Abu pula baru berusia 15 tahun. Manalah dia tahu tentang percintaan ini dan juga mampukah dia dapat melayani nafsu seks ku nanti, fikir Mimi Amira sendiri.Tetapi akhirnya kerana berasa kasihan melihat Abu bersungguh-sungguh mahu membuktikan cintanya, Mimi Amira pun bersetuju menjadi kekasih Abu dan bilik air itu menjadi saksi cinta mereka. Mimi Amira seorang gadis remaja yang baru saja mencecah usia 21 tahun.akhirnya telah menyerahkan tubuhnya untuk diratah oleh seorang budak sekolah yang bernama Abu yang baru berusia 15 tahun di dalam bilik air itu.Jam yang melekat di dinding rumah Mimi Amira sudah melewati pukul 11.30 malam. Malam itu Abu tidur di rumah Mimi Amira. Kononnya mahu mengulangkaji pelajaran bersama Adi. Kebetulan ibu dan ayah Mimi Amira tidak ada di rumah. Mereka pergi melawat orang sakit di Johor, entah bila mereka akan pulang tidak pula mereka beritahu. Adi pula awal-awal lagi sudah masuk tidur didalam biliknya. Dia sudah betul-betul mengantuk, selalunya pukul 11 malam dia sudah nyenyak tidur. Jadi tinggallah Abu dan Mimi Amira saja di ruang tamu itu. Dengan perlahan-lahan mereka berdua masuk ke dalam bilik tidur Mimi Amira.
“Bilik tidur Kak Mimi ni sungguh kemas macam bilik pengantin pula” fikir Abu sambil memerhati sekeliling bilik tidur Mimi Amira itu.
Mimi Amira terus baring di atas katilnya, kemudian dengan perlahan-lahan Abu mula melondehkan satu-persatu pakaian yang ada di tubuh Mimi Amira sebelum memperkosa Mimi Amira di dalam bilik tidurnya sendiri. Itulah kali kedua Abu menyentuh tubuh suci Mimi Amira itu. Lagipun bukan salah Abu. Mimi Amira yang sebenarnya mahu Abu membuktikan cintanya dengan menyuruhnya melakukan perbuatan terlarang itu.Akhirnya setelah selesai, mereka sama-sama berasa menyesal setelah penat mendayung di atas katil itu. Tetapi tidak lama kemudian mereka tidak berjaya juga mengawal nafsu yang mula menguasai diri masing-masing perbuatan terkutuk itu berulang lagi dan kali ini permainan mereka makin hebat Abu seperti dirasuk oleh syaitan dengan tiba-tiba ketika Abu hendak melakukan hubungan terkutuk itu lagi.
“Abu kalau nak cium mulut akak boleh, kalau nak cium tetek akak pun boleh jugak tapi kalau Abu nak cium burit akak ni…Abu kena urut dulu bibir burit akak ni aahhh..air pun dah banyak keluar ni….” kata Mimi Amira pada Abu.
“Eemm Abu nak ramas-ramas dulu tetek kakak boleh…?” tanya Abu dan belum pun sempat Mimi Amira berkata apa-apa Abu sudah pun menjalankan tugasnya. Ketika tetek besar Mimi Amira itu diramas-ramas dia terus menjerit ghairah, dan Mimi Amira dipaksa pula mencium telur milik si Abu itu.
Entah secara tiba-tiba Mimi Amira berasa kenikmatan yang belum pernah dia rasai sebelum ini, tiba-tiba Mimi Amira berkeinginan untuk merasai batang kote si Abu itu…
“Akak suka lah pegang telur Abu ni rasa gebu sangat! ” kata Mimi Amira pada Abu yang sedang asyik memerah tetek besarnya.
“Eemm… kakak, kalau Abu hisap tetek kakak ni nanti susu dia habis tak…?"tanya Abu pada Mimi Amira.
"Takkan habis kalau Abu hisap susu tetek akak ni hari-hari lagi bertambah besar ada la…batang kote Abu ni pun akak tengok makin keras dan besar la…” kata Mimi Amira sambil tersenyum, semasa tangan Abu terus menerus meramas-ramas kedua belah tetek besar Mimi Amira itu,
“Abu jangan ramas puting tetek akak ni terlalu kuat ye sakit la…” rayu Mimi Amira pada Abu.
“Tetek kakak ni besar sangat la macamana Abu nak kawal tangan Abu ni…?” tanya Abu pula.
“Aarhh.. mengapa kakak nak hisap kote Abu ni ke…?” tanya Abu bila melihat Mimi Amira memegang batang kotenya.
“Abu punya batang dah keras sangatlah akak pun tak dapat nak kawal nafsu akak ni…” jawap Mimi Amira pula.
“Akak melutut dan Abu berdiri ye…” kata Mimi Amira pada Abu.
“Akak nak hisap batang kote Abu ni ke…?” tanya Abu pula.
“Emm memang le…argghhh kenapa pula Abu pergi jolok dalam lubang burit akak ni? akak belum jilat lagi batang kote Abu tu arghhhh” jerit Mimi Amira.
“Ala bagi la Abu kongkek burit kakak boleh tak..? kakak angkat kedua-dua kaki kakak ni…” tanya Abu pada Mimi Amira sambil tersengih.
“Kenapa pula akak kena angkat kaki akak…?” tanya Mimi Amira pula.
“Sebab macam ni baru boleh batang kote Abu masuk dalam-dalam sikit…” terang Abu.
“Baiklah biar akak angkat kaki akak ye…boleh jolok masuk tak…?” tanya Mimi Amira.
“Aarhhh…arhhhh boleh..boleh…ahhh…” jerit Abu pula.
“Abu..ja..jangan jolok cepat-cepat sangat arghhh…!” kata Mimi Amira tersekat-sekat.
“Ahh.. Abu nak jolok kuat-kuat lagi….” kata Abu sambil menyorong tarik batang kotenya.
“Abu..nanti jangan keluarkan batang kote tu lagi ye, tunggu lama-lama sikit…” beritahu Mimi Amira pada Abu yang sedang asyik mengongkek lubang buritnya.
“Kenapa kakak…?” tanya Abu kehairanan.
“Sebab kejap lagi mesti batang kote Abu tu akan keras dan panjang lagi…” terang Mimi Amira.
“Ooh…kakak tak kisah ke kalau Abu kongkek burit kakak ni sampai koyak…” tanya Abu pula.
“Koyak..? akak tak kisah pun kalau Abu nak kongkek sampai koyak pantat akak ni janji kita sama-sama puas…” balas Mimi Amira pula.
“Kakak, Abu nak jilat burit kakak pula…” kata Abu pada Mimi Amira.
“Nak jilat burit akak ni pula..? Lepas ni mesti Abu nak jilat air mazi pula kan…?” teka Mimi Amira.
“Hehehe….” sengih Abu.
“Ok sambil tu pula akak nak hisap batang kote Abu yang besar dan keras ni.” kata Mimi AmiraMimi Amira tahu semua ini demi cintanya pada Abu dan sejak kejadian itu Mimi Amira sudah tidak kisah setiap kali budak sekolah itu mahu menyetubuhinya. Dan boleh dikatakan saban hari mereka berdua akan melakukan hubungan seks bersama-sama…
2
Pakcik Rahim seorang pemandu teksi berusia lewat 40an.dan dialah satu-satunya pemandu teksi di Kampung Melati Puteh itu.pada setiap malam minggu Pakcik Rahim sering menghabiskan masa mencari keseronokan di kelab-kelab dangdut di bandar.disana Pakcik Rahim dapat menikmati tubuh-tubuh gairah penari-penari dangdut itu. Bagaimanapun Pakcik Rahim sering resah kerana tidak dapat melepaskan nafsunya pada seseorang.hampir setiap hari Pakcik Rahim asyik terbayang wajah Mimi Amira!Pada suatu hari pada pukul 12 tengah hari.ketika Pakcik Rahim hendak memandu teksinya pergi ke bandar,tiba-tiba teksinya ditahan oleh seorang gadis di perhentian bas,rupa-rupanya gadis itu ialah Mimi Amira!
“Pakcik Rahim tolong hantarkan Mimi ke bandar ye.."kata Mimi Amira setelah masuk ke dalam teksi Pakcik Rahim itu.
"Pergi ke bandar? Mimi nak buat apa ke sana..?"tanya Pakcik Rahim sambil memerhatikan Mimi Amira yang duduk di bahagian belakang teksi tersebut.
"Mimi nak pergi jumpa kawan Mimi kejap di bandar tu…"terang Mimi Amira sambil tersenyum lebar menampakkan giginya yang putih bersih itu.Dalam perjalanan ke bandar Pakcik Rahim sering mencuri-curi pandang ke tubuh seksi Mimi Amira itu, melalui cermin pandang belakang sambil melihat wajahnya yang amat cantik itu Pakcik Rahim sempat juga menjeling ke pakaian yang dipakai oleh Mimi Amira ketika itu baju-t ketat berwarna kelabu yang memang menyerlahkan saiz buah dadanya. Pakcik Rahim juga sempat melihat ke seluar ketat yang di pakai Mimi Amira itu dengan penuh bernafsu,Mimi Amira sedang menyandar sambil memalingkan mukanya melihat permandangan diluar. Tiba-tiba nafsu buas Pakcik Rahim sudah tidak dapat dikawal lagi, fikirannya mula terbayangkan tubuh montok Mimi Amira yang duduk dibelakangnya, Pakcik Rahim terus memandu laju teksinya dan membelok ke arah kawasan semak berhampiran lombong tinggal.Setelah memberhentikan enjin teksinya,Pakcik Rahim terus menerkam dan memeluk tubuh Mimi Amira.
"Eh..! pakcik jangan buat Mimi macam ni….” rayu Mimi Amira kepada Pakcik Rahim yang sudah dikawal oleh nafsu syaitan itu.
“Takpe Mimi jangan risau kejap je ni…nanti lepas pakcik sudah puas menikmati tubuh Mimi ni…pakcik hantar Mimi ke bandar ye…?” beritahu Pakcik Rahim sambil cuba membuka baju Mimi Amira itu.Akhirnya Pakcik Rahim berjaya merogol Mimi Amira itu semahu-mahunya dan Mimi Amira hanya mampu membiarkan sahaja Pakcik Rahim merogolnya sehingga puas. Mimi Amira terus dirogol oleh Pakcik Rahim tanpa henti, Mimi Amira merayu-rayu meminta belas kasihan kerana tubuh bogelnya sedang ditindih oleh badan gempal Pakcik Rahim itu.
Pakcik Rahim memaksa Mimi Amira mengulum batangnya di dalam teksi….Setelah puas mengerjakan tubuh bogel Mimi Amira yang diidamkanya selama ini,Pakcik Rahim pun terus menghantar Mimi Amira ke bandar,sebelum melangkah keluar dari teksi Pakcik Rahim pantas memegang tangan lembut Mimi Amira.
“Mimi jangan beritahu sesiapa pun pasal tadi tahu…kalau tidak…” belum pun habis Pakcik Rahim bercakap, Mimi Amira segera menutup pintu teksinya dengan kuat dan terus berlalu pergi. Sejak kejadian tempoh hari Pakcik Rahim mula ketagihkan tubuh seksi Mimi Amira itu lagi, dan rupa-rupanya dalam diam Mimi Amira juga seperti Pakcik Rahim mula ketagihkan batang kote Pakcik Rahim itu setelah dirogol di dalam teksi tempoh hari, dan perhubungan itu tidak terhenti begitu sahaja. Mimi Amira terus merangsang nafsu liar Pakcik Rahim itu dengan mula berani memakai pakaian yang seksi dan menjolok mata, dan menunggu teksi Pakcik Rahim di hadapan perhentian bas Kampung Melati Puteh itu.
Hari itu Mimi Amira menunggu di perhentian bas dan berharap agar teksi Pakcik Rahim akan lalu disitu nanti. Kebetulan ada dua lagi budak sekolah sedang menunggu bas di perhentian itu juga, Sejak dari tadi mata mereka berdua tidak berkelip-kelip melihat pakaian seksi yang dipakai oleh Mimi Amira iaitu blaus pendek berwarna merah jambu bertali halus dan berkain jarang menampakkan warna bra dan seluar dalam yang di pakai Mimi Amira ketika itu iaitu warna merah bunga-bunga.dan seperti di janji teksi Pakcik Rahim pun sampai.
“Eeh Mimi nak pergi ke mana pakai lawa-lawa ni…? nak ke bandar ke…?” tegur Pakcik Rahim dari dalam teksinya.
“Eemm sebenarnya Mimi nak bersiar-siar saja pakcik…"jawap Mimi Amira sambil tersenyum mengoda.
"Ohh kalau macam tu Mimi naik lah pakcik pun kebetulan tak ada penumpang hari ini…” beritahu Pakcik Rahim sambil memerhatikan dua biji betik masak yang bergantung di dada Mimi Amira itu. Setelah puas bersiar-siar dan sebelum Mimi Amira di hantar pulang…Pakcik Rahim membawanya ke kawasan lombong tinggal itu semula. Di sana kawasannya sunyi tambahan pula tempat itu jauh dari jalan raya yang sebuk.setelah sampai di kawasan itu,mereka berdua pun mula lah melepaskan rindu dan dendam.Mula-mula Pakcik Rahim hanya meraba-raba tubuh gebu Mimi Amira,kemudian diikuti dengan ciuman,setelah puas melakukan adegan ringan-ringan itu Pakcik Rahim mula membuka perlahan-lahan blaus, bra dan juga seluar dalam Mimi Amira sehingga telanjang bogel. Pakcik Rahim juga sudah telanjang menampakkan bulu-bulu di seluruh badannya,lantas membuatkan Mimi Amira berasa terangsang bila terpandang batang kote Pakcik Rahim yang penuh dengan bulu-bulu yang berserabut itu dan Mimi Amira terus bermain-main dengan batang kote yang sudah panjang dan gemok itu.Walaupun wajah Mimi Amira sangat cantik seperti seorang bidadari,tetapi yang lebih ketara ialah tubuhnya yang 'solid’ dan juga buah dadanya yang amat besar itu! wajah nya,tubuh nya dan tutur bahasanya semuanya 'perfect’ kulitnya juga amat lembut dan mencabar kelakian sesiapa yang melihatnya dalam keadaan telanjang seperti sekarang ini. Mimi Amira juga sering melelehkan air mani semua lelaki bila melihatkan punggungnya yang lebar serta menonggek sedikit itu melenggok-lenggok bila berjalan. Mimi Amira juga gemar berpakaian seksi kadang-kadang terlebih seksi dan mampu menyembulkan mata lelaki-lelaki yang melihatnya.sebenarnya Mimi Amira berasa puas jika dia dapat membuatkan lelaki-lelaki itu 'stim’ bila melihat potongan badannya.yang pasti Mimi Amira amat peka dengan kecantikkan tubuhnya.Lelaki mana yang tak tumbang jika melihat Mimi Amira sedang berbogel,mengigil Pakcik Rahim dibuatnya,bila tengok Mimi Amira sedang melakukan beberapa aksi gairah di dalam semak ditepi lombong tinggal itu, dengan lenggok punggungnya yang seksi dan jika disentuh saja boleh terus kongkek ikut lubang jubur…! Sehingga kini Mimi Amira dan Pakcik Rahim masih lagi melakukan hubungan seks haram itu. Pakcik Rahim terus mengongkek Mimi Amira bila berpeluang untuk memuaskan nafsu seksnya,dan Mimi Amira bagaikan gembira kerana telah membiarkan dirinya dicabul berbelas-belas kali oleh pemandu teksi itu. Malam itu di bilik tidur Mimi Amira….
“Akak dah bosan la pegang tetek akak ni…akak nak Abu yang pegang dan hisap tetek akak macam yang selalu Abu buat tu…” kata Mimi Amira pada Abu sewaktu Abu masuk melalui tingkap ke dalam bilik tidur Mimi Amira.
Setelah Mimi Amira berkata begitu Abu mula menjilati leher Mimi Amira yang jinjang itu dan perlahan-lahan turun ke dada dan seterusnya ke buah dada Mimi Amira yang bulat dan besar itu,Abu terus menjilat putingnya yang berwarna merah kemerahan itu.
“Emm sedapnya rasa susu dari tetek besar kakak ni…kalau boleh Abu nak hisap lah hari-hari…"kata Abu sambil tangannya terus meramas-ramas puting buah dada Mimi Amira yang sudah mengeras itu.
"Betul ke ni..? Larat ke Abu nak hisap tetek akak ni hari-hari…? tapi sedap la bila Abu main-mainkan puting tetek akak ni selalu…” kata Mimi Amira dan tangan Abu masih terus memicit-micit lembut puting susu Mimi Amira itu dan mula menjilatinya seperti seekor kucing yang sedang menjilat air susu. Mimi Amira dengan sengaja membiarkan Abu melihat keindahan belahan pantatnya, Abu terus menatap belahan pantat gebu itu dengan geram.
“Eihh Abu sengaja melihat burit akak ni ye…?” gurau Mimi Amira.
“Eh! tak adalah Abu tak sengaja terpandang pepek gebu kakak tu je….” kata Abu tetapi matanya masih lagi terpaku melihat keindahan burit gebu Mimi Amira itu.
“Emm kakak…boleh tak kalau…Abu nak…jolok batang kote Abu ni dalam lubang pepek kakak…?” tanya Abu perlahan.
“Boleh Abuku sayang….dan kalau Abu nak Abu boleh pancutkan sekali kat dalam burit akak ni…akak tak kisah sebab akak dah sayang sangat kat Abu tau…” kata Mimi Amira sambil baring disebelah Abu yang duduk di atas katil. Mimi Amira dan Abu mula saling bercium dan berpelukan erat, Abu berasa gairah dan tangannya mula menyentuh perlahan puting tetek Mimi Amira yang tegang itu kemudian ke pusat dan seterusnya ke bibir burit. Sambil menyedut-nyedut bibir burit milik Mimi Amira itu, tubuh bogel Mimi Amira mula merapat ke tubuh Abu untuk memudahkan tangan Abu menjelajah ke seluruh tubuh bogelnya itu.Ini membuatkan nafsu seks Mimi Amira terus meningkat dan pintu farajnya mula ternganga minta dijolok sambil dibasahi oleh air mazinya sendiri.
“Akak dah basah ni…kalau Abu nak main-main kat lubang pepek akak ni boleh la,akak nak… lepas main Abu pancutkan terus ke dalam lubang burit akak ni pula ye…” kata Mimi Amira sambil menahan gairahnya.
“Emm…kakak boleh tak tunggingkan punggung kakak ni, emm Abu rasa nak pancut la dalam lubang jubur kakak tu…” selepas Abu berkata begitu dengan pantas Abu terus memegang punggung Mimi Amira dan mula mendekatkan batang kotenya ke belahan jubur Mimi Amira itu.
“Ahh…Abu kenapa ni…?Abu dah nak pancut ke…?” tanya Mimi Amira tanpa berusaha mengubah posisinya sekarang yang seperti anjing betina yang hendak dikongkek itu.
“Sebenarnya dah lama Abu nak sangat-sangat kongkek lubang jubur kakak ni….” kata Abu sambil mula menekan-nekan batang kotenya ke dalam lubang jubur Mimi Amira yang padat itu.Tiba-tiba Mimi Amira perlahan menolak batang kote Abu dan berdiri melutut membelakangi Abu.
“Akak…takut Abu…” kata Mimi Amira sambil air matanya mulai mengalir turun ke pipinya. Abu tetap memegang punggung lebar Mimi Amira itu.
“Tolong kakak, Abu dah nak pancut ni. ,Abu dah tak tahan sangat ni…” rayu Abu sambil mencium-cium kedua belah punggung bulat Mimi Amira itu lagi. “Akak risau….Abu….” kata Mimi Amira sambil meramas-ramas bulu-bulu yang tumbuh di bibir pantatnya sendiri.
“Tolong kakak tolong biarkan Abu jolok lubang jubur kakak ni biar Abu puaskan nafsu serakah Abu ni….” rayu Abu lagi.Fikiran Mimi Amira buntu sambil membayangkan Abu yang masih bersekolah itu sedang menunggangi tubuh bogelnya. Lainlah kalau Pakcik Rahim yang mengongkek ku memang aku rela…kata Mimi Amira didalam hatinya sendiri.
“Jangan di sini Abu….” kata Mimi Amira pada Abu yang sedang asyik menjilat-jilat punggung bulatnya itu.
“Sekejap saja kakak…” kata Abu sambil meramas-ramas punggung bulat milik Mimi Amira itu pula. Setelah Mimi Amira berfikir panjang….
“Emm baiklah kalau sekali ini saja yang Abu nak jolok masuk dalam lubang jubur akak ni…akak benarkan, tapi Abu jangan jolok kuat-kuat sangat tau!” kata Mimi Amira pada Abu.
“Baiklah Abu janji. kakak tungging saja nanti bila dah puas Abu bagi tahu kakak…” jawap Abu sambil tersengih. Mimi Amira menurut saja apa kata Abu itu tadi,sambil memegang kepala katil Mimi Amira menungging dan dengan gelojoh Abu naik di belakang Mimi Amira.
“Abu..! Mana boleh terkam macam tu gelojoh namanya tu…perlahan-lahan la baru romantik sikit baru la best…” kata Mimi Amira pada Abu dan gilanya Abu terus saja menjulurkan lidahnya menjilat-jilat lubang jubur Mimi Amira dari belakang.
“Ahh…ohh…enakknnnya….!” jerit Mimi Amira tanpa melarang Abu yang sedang asyik menjilat-jilat lubang juburnya.Kemudian Abu mula memegang pinggang ramping Mimi Amira dan mengarahkan ke posisi seperti sedang bersujud lalu Abu arahkan batang kotenya tepat ke lubang jubur Mimi Amira itu dan Abu terus menghinjut kuat dan laju.
“Ahh…iahhh…iiaahhhh….!” jerit Abu sambil menjolok ke dalam lubang jubur Mimi Amira itu.Mimi Amira juga seperti orang gila menjerit-jerit kerana lubang juburnya sedang dikongkek oleh batang kote Abu. Hampir setengah jam Abu mengongkek lubang jubur Mimi Amira setiap kali Abu memasukkan batang kotenya lagi terasa seperti ditelan oleh lubang jubur Mimi Amira itu. ternyata lubang jubur Mimi Amira itu seperti lumpur hidup dan sekitar 15 kali mengongkek Abu telah memancutkan air maninya ke dalam lubang jubur Mimi Amira itu.
“Ahh…banyaknya Abu pancut…Abu dah puas ke sekarang…?” tanya Mimi Amira setelah merasa pancutan panas didalam lubang juburnya.
“Ahh…ahahh…dah puas sangat-sangat terima kasih kakak…"
"Tapi akak belum puas lagi la…akak nak ramas-ramas batang kote Abu tu sampai akak puas…” kata Mimi Amira dan terus mencapai batang kote Abu yang di saat itu masih tegang.
“Wahh…besar jugak batang kote Abu ni ye…” kata Mimi Amira terkejut melihat batang kote Abu itu.
“Abu punya biasa saja kakak panjangnya kira-kira 6 inci saja….” kata Abu.Jari-jemari Mimi Amira terus meramas-ramas batang kote Abu yang masih tegak berdiri dan dengan perlahan-lahan Mimi Amira mula menjilat dan mengulum batang kote Abu itu.
“Best sangat dapat urut batang kote Abu masa keras macam ni stim sangat lah…” kata Mimi Amira sambil mengulum-ngulum batang kote Abu itu lagi.
“Kakak, Abu dah tak boleh tahan lagi. Abu nak pancut lagi sekali ni…” kata Abu sambil mencabut batang kotenya dari mulut Mimi Amira.Mimi Amira terus tidur terlentang dan Abu naik ke atas tubuh bogelnya,lalu Mimi Amira membuka kangkangnya bagi memudahkan batang kote Abu masuk ke dalam lubang buritnya. Kemudian Abu mula mengongkek batang kotenya dengan laju kedalam lubang burit Mimi Amira itu.kedua belah tangan Abu terus memaut tetek besar Mimi Amira,lalu diramas-ramasnya kedua belah tetek besar itu dengan kuat dan terus memicit-micit pula puting tetek dengan geram kemudian Abu terus menampar-nampar pula kedua belah tetek besar Mimi Amira itu sehingga merah-merah.
“Aduh…aduh…tolong Abu sakit…sakittt….!” jerit Mimi Amira kerana diperlakukan begitu.Setelah 15 minit mengongkek Mimi Amira mulai mengejang dan Abu lihat cairan air maninya bercampur dengan darah mula meleleh keluar dari lubang burit Mimi Amira itu,Mimi Amira terus menangis teresak-esak bila melihat darah mengalir keluar dari liang lubang cipapnya.Sementara itu Abu terus menghilangkan dirinya……
3
Mimi Amira begitu asyik membaca sebuah buku bertajuk 'Kisah Benar’ yang baru dibelinya disebuah kedai buku dibandar,sehelai demi sehelai Mimi Amira menyelak sambil melihat beberapa gambar lelaki dan wanita sedang berpelukan gairah ada juga gambar yang menunjukkan aksi gairah beberapa orang wanita berbogel sedang berposing.buku yang baru dibelinya itu menceritakan tentang hubungan seks antara lelaki dan wanita. Cerita yang paling menarik perhatiannya ialah kisah seorang gadis yang telah dirogol berkali-kali oleh adik tirinya. Mulanya Mimi Amira tidak pernah pun terfikir akan menjadi seperti gadis itu…
“Ahh! Adi tu baru berumur 15 tahun apalah sangat yang dia tahu tentang hubungan seks ni,lain lah kalau si Abu kawannya itu” fikir Mimi Amira. Tiba-tiba Mimi Amira teringatkan Abu kekasih hatinya yang menghilangkan diri tempoh hari setelah mengongkeknya sehingga cipapnya berdarah.
“Ishhh…mana lah perginya si Abu ni dah dua hari tak datang tengok aku…puki aku ni pun dah gatal-gatal nakkan batang pelir si Abu tu… Abu…akak dah maafkan Abu…tolonglah cepat datang….akak dah tak sabar nak merasa batang pelir Abu dalam lubang puki akak ni….” bisik hati kecil Mimi Amira sendiri.
Mimi Amira bersendirian di dalam rumahnya, Mimi Amira memusingkan tubuhnya ke kiri ke kanan sambil melihat wajah dan tubuhnya yang cantik itu di cermin besar yang tergantung di ruang tamu rumahnya.
“Emm sebab ini lah si Abu, Din Musang dan juga Pakcik Rahim itu bila melihat tubuhku mereka pasti akan tergoda…” senyum Mimi Amira lagi sambil berjalan menuju ke dapur. Pada suatu malam yang sunyi. kira-kira pukul 9 malam. Mimi Amira sedang duduk diatas sofa menonton cerita hantu bersama-sama dengan adiknya, Adi.dah sejam cerita itu tiba-tiba ada satu 'part’ dalam cerita itu, seorang lelaki sedang mengintai perempuan mandi.masa itu perempuan didalam cerita itu mandi telanjang dan nampak semua sekali dan lelaki itu pula tengah melancap batang kotenya sendiri. Mimi Amira terkejut dan cepat-cepat mencapai 'remote’ untuk cepatkan adegan itu tetapi…
“Alaa kak Adi nak tengok la…"
"Kenapa Adi nak tengok perempuan tu telanjang…?” tanya Mimi Amira.
“Emmm…Adi teringin sangat nak tengok kemaluan perempuan yang dah dewasa…"kata Adi malu-malu. Mimi Amira tergelak bila mendengar budak berusia 15 tahun cakap macam itu.Selepas cerita hantu itu sudah habis,Adi bangun dan terus ke dapur.Mimi Amira terperasan yang Adi cuba lindungi seluarnya semasa hendak ke dapur.cara Adi berjalan pun sudah tidak betul.
"Adi kenapa jalan mengengkang macam tu…?” tanya Mimi Amira dan Adi senyum sahaja…dan terus belari ke dapur. Mimi Amira dengan senyap-senyap mengintai apa yang di buat oleh adiknya. Mimi Amira nampak Adi sedang memegang batang kotenya yang sedang menegang itu. baru Mimi Amira tahu rupanya adiknya tengah stim. Mimi Amira pun buat-buat baru masuk ke dapur untuk mencari barang,masa itu Adi kelam-kabut betulkan seluarnya.
“Adi buat apa kat dapur ni…?"tanya Mimi Amira.
"Emmm Adi nak minum air…"kata Adi.,tapi Adi tak perasan yang Mimi Amira sudah nampak apa yang dia buat tadi.dan batang kote Adi masih lagi tegang.
"Apa yang terbonjol kat seluar Adi tu…?” tanya Mimi Amira lagi.
“Takde apa-apa la kak….” kata Adi…lepas itu Adi terus tutup dengan tangannya. Mimi Amira pun tarik tangan Adi….
“Oooo anu Adi dah tegang yee…” kata Mimi Amira dan Adi senyum saja…kemudian Mimi Amira dan Adi duduk kembali diatas sofa. Mimi Amira terperasan cara adiknya memandang ke arah nya dengan agak ganjil.
“Kenapa Adi pandang akak macam tu…?” bila ditanya adiknya hanya mengelengkan kepalanya saja beberapa kali.
“Cakaplah kenapa Adi tengok kakak lain macam saja ni….?"
"Err… sebenarnya… Adi tengah fikir… kakak pakai tak baju dalam sekarang ni…” akhirnya adiknya mengalah.. Rupa-rupanya Adi sedang memandang ke dada kakaknya sendiri. Kebetulan pula waktu itu Mimi Amira hanya memakai singlet putih dan terdedah pula di bahagian pangkal dada…dan memang Mimi Amira tidak memakai coli ketika itu. Tetapi Mimi Amira tidak kisah sangat kalau Adi tengok dia macam itu…
“Tak… akak panas lah…” jawap Mimi Amira sambil tersenyum pada adiknya. Setelah habis menonton rancangan tv,seperti biasa Mimi Amira terus saja menuju ke dalam bilik air untuk mandi. Disebabkan kesejukkan dan tubuh yang mengigil. Mimi Amira terlupa untuk mengunci pintu bilik air. dan disaat itu juga Mimi Amira mula menyedari ada sepasang mata sedang memerhatikan susuk tubuhnya yang masih lagi telanjang dan kebasahan itu. Sebenarnya sudah lama adiknya dan si Abu melakukan perbuatan itu bila berpeluang.cuma Mimi Amira saja berpura-pura buat tak tahu. Fikirnya biarlah mereka tengok tubuhnya lagipun mereka itu budak-budak hingusan saja apalah yang mereka boleh buat sangat. Selepas habis mandi Mimi Amira terus menuju masuk ke dalam bilik tidurnya untuk menyalin pakaian. Mimi Amira mengenakan seluar pendek dan simi bertali halus sahaja. pada malam itu. Mimi Amira tidak dapat melelapkan matanya,sedang dia berguling-guling diatas katilnya,tiba-tiba ada orang sedang mengetuk pintu biliknya….
“Masuklah pintu tak berkunci…” kata Mimi Amira dari atas katilnya.
“Adi tak boleh lelapkan matalah kak…” kata Adi sambil berjalan menuju ke katil kakaknya. “Emm boleh Adi tanya sesuatu…
"Mimi Amira hanya tersenyum memandang adiknya itu. setelah agak lama mereka berdua bersembang…
"Adi rasa mengantuk lah kak,boleh Adi baring sekejap…? ” tanya Adi. Tanpa berfikir panjang Mimi Amira benarkan…melihat Adi telah melelapkan matanya Mimi Amira juga tertidur…tiba-tiba Mimi Amira terkejut bila merasakan tangan adiknya memeluk tubuhnya. Namun ketika Mimi Amira melihatnya, adiknya sedang asyik tidur…ketika itu tangan adiknya berada di atas buah dadanya…Mimi Amira terasa sesuatu…tapi dia biarkan…terasa jantungnya berdegup pantas… Tiba-tiba terlintas difikirannya untuk melihat 'anu’ adiknya…Mimi Amira sendiri hairan mengapa dia tidak dapat mengawal nafsunya kali ini…dengan berpandukan samar-samar lampu dari luar…Mimi Amira dapat melihat konek adiknya menegang dari dalam seluar tidurnya…Mimi Amira cuba memberanikan diri menyentuhnya dari luar seluar adiknya…tiba-tiba Adi terjaga dari lenanya…ketika itu Mimi Amira pantas memejamkan matanya dan berpura-pura sedang tidur…semasa Mimi Amira berpura-pura sedang tidur itu, Mimi Amira membuka sedikit matanya…dia melihat adiknya sedang merenung tajam ke arahnya…Mimi Amira cuma membatukan diri…kemudian Adi cuba menyentuh buah dada kakaknya sendiri…ketika itu Mimi Amira mula merasakan… aaaaahhh… sesuatu yang amat nikmat… Mimi Amira membiarkan sahaja adiknya meramas-ramas buah dadanya yang besar itu…Mimi Amira buat-buat terjaga…dan Adi terdiam…
“Apa yang Adi buat ni…?” tanya Mimi Amira pada Adi yang masih terkejut itu.
“Emmm maafkan Adi kakak…sebenarnya Adi…sebenarnya Adi…geram tengok…tetek dengan puting kakak yang besar tu…” jawap Adi tersekat-sekat. Mimi Amira tersenyum mendengar jawapan adiknya.
“Adi teringin ke….?” tanya Mimi Amira lagi pada adiknya…Adi terdiam dan tanpa diduga Adi terus meramas-ramas buah dada kakaknya sekuat hati…
“Aahhh…!!sedap…sedap…!!” Mimi Amira menjerit kecil kerana sedikit terasa kesakitan… Adi dengan berani terus menyelak simi yang di pakai kakaknya dan terus menghisap kedua-dua belah buah dada berganti-ganti…ketika itu Mimi Amira merasakan sesuatu sedang meleleh keluar dari lubang cipapnya…seluar pendek yang dipakainya terasa basah… Tanpa berlengah Mimi Amira terus memegang batang konek adiknya dari luar seluar…
“Emm keras…” fikir Mimi Amira. Kemudian Mimi Amira memasukkan tangannya kedalam seluar aqdiknya…Mimi Amira terus meramas-ramas telur adiknya…
“Kakak tunggu sekejap biar Adi buka seluar ni…” kata Adi sambil membuka seluarnya sendiri… Ketika itu Mimi Amira terkejut melihat batang konek adiknya semakin panjang dan membesar…Mimi Amira terus lancapkan batang konek Adi…
Tanpa bertangguh, Mimi Amira terus melancapkan batang konek adiknya….“Kakak berhenti…berhenti….emm Adi nak tengok cipap kakak pula…” kata Adi pada kakaknya.
“Emm baiklah Adik akak sayang. Adik tengok lah puas-puas…” kata Mimi Amira membenarkan Adiknya melihat cipapnya. “Tapi Adi tak boleh masukkan jari atau konek Adi dalam lubang burit akak ni tau…” kata Mimi Amira pada adiknya kerana dia khuatir akan mengandungkan anak hasil dari benih adiknya sendiri. dan tanpa diduga…setelah Adi melondehkan seluar pendek kakaknya,Adi terus menjilat-jilat cipap kakaknya dengan rakus…Mimi Amira terus tak tahan…
“Aahhaaahhhhhaaaaaaaahhhhhhaaaarrgghhhhh…” jerit Mimi Amira kerana geli yang teramat sangat sehingga terangkat seluruh tubuhnya…Mimi Amira terasa sangat puas… Setelah itu, Mimi Amira terus lancapkan batang konek Adiknya sehingga cecair mani adiknya keluar memancut-mancut…Adi terus tertidur kepenatan…Mimi Amira juga tidur sambil tersenyum kepuasan…sejak hari itu, Mimi Amira sering lancapkan batang konek adiknya…bila adiknya terasa nak pancutkan air maninya ke tubuhnya, Adi akan ke bilik tidur kakaknya… Malam itu ketika Mimi Amira berada di dalam bilik tidurnya,dan ketika itu juga Mimi Amira sedang menyalin pakaian. dengan tiba-tiba Abu telah menceroboh masuk ke dalam bilik tidur kekasihnya itu. Ketika Abu meluru masuk ke dalam bilik tidur kekasihya itu,didapati Mimi Amira sedang berdiri betul-betul di hadapannya.
“Abu ! kenapa masuk ikut tingkap ni…? Kan akak tengah salin baju ni…” kata Mimi Amira yang masih lagi memegang baju dalam yang hendak dipakainya.
“Kak, maafkan Abu sebab tempoh hari… Abu…” kata Abu putus-putus kerana menyesal dengan perbuatannya pada Mimi Amira tempoh hari.
“Takpe..” kata Mimi Amira. “Kak tolong jangan beritahu sape-sape ya…kakak cakap je apa yang kakak nak, Abu sanggup buat,tapi jangan beritahu orang pasal kita ek….” terang Abu dan Mimi Amira hanya diam membisu….
“Abu nak buat apa…?” tanya Mimi Amira setelah lama membisu dan Abu terus mencium leher Mimi Amira sambil memeluk erat tubuh separuh bogel itu. Batang kote Abu yang tegang itu betul-betul berada di belahan cipap Mimi Amira, yang hanya berlapik dengan tuala sahaja, tangan Abu mula meramas-ramas perlahan kedua belah buah dada yang bergantungan itu.
“Jangan laa…akak tak suka macam ni….” Mimi Amira mendesah perlahan, Abu tidak memperdulikan rayuan Mimi Amira itu. Abu terus menarik tuala yang menutupi sebahagian tubuh Mimi Amira itu, dan terserlahlah bentuk tubuh Mimi Amira yang teramat seksi itu, Abu peluk dan terus menghisap kedua-dua belah tetek besar Mimi Amira itu. Abu sudah tidak dapat mengawal nafsunya sendiri, Mimi Amira juga langsung tidak menghalang,Abu terus menerus menjilat-jilat kedua-dua belah tetek besar Mimi Amira itu, besar dan lembut… Abu terus menghisap puting tetek Mimi Amira puas-puas,tangan Abu mula menjalar ke celah kelengkang Mimi Amira, dan perlahan-lahan Abu usap-usap bibir cipap Mimi Amira yang tembam itu. Emm basah…Abu terus melutut dan mula menjilat paha yang putih gebu itu,dari paha Abu terus naik ke celah kelengkang dan Abu terus angkat sebelah kaki Mimi Amira dan terus menjilat celah bontot yang padat itu,Abu terus jilat celah-celah bontot Mimi Amira itu sampai ke lubang beraknya,Abu sedut dalam-dalam,kemudian Abu jolok hujung lidahnya ke lubang berak Mimi Amira,terkemut-kemut Mimi Amira dibuatnya.
“Aaaahhh…uunnnhhh….jilat lagi…lagi…akak nak lagi…jilat lubang akak ni sayang….” Mimi Amira mengerang kuat sambil menongekkan punggungnya ke muka Abu, Hampir 20 minit kemudian barulah Abu lepaskan jilatannya dari lubang jubur Mimi Amira itu.
“Kakak.., Abu dah tak boleh tahan ni tolong lancapkan batang kote Abu ni kak…” kata Abu penuh semangat. Mimi Amira tidak mampu berbuat apa-apa ketika Abu mahukannya melakukan onani ke atas batang kotenya dan Abu juga mahukan kekasihnya itu untuk berasmara denganya.
“Iihh…Abu sudah la, akak tak mahu buat lagi tolonglah Abu…” rayu Mimi Amira pada Abu yang sedang asyik mengoncang-goncang kedua belah buah dada milik kekasihnya itu. Abu mengambil kesempatan untuk melakukan perbuatan terkutuk itu pada waktu malam ketika kedua orang tua Mimi Amira sedang nyenyak tidur.
Disebabkan terlalu sayangkan kekasihnya Abu, Mimi Amira dengan rela sanggup menyerahkan tubuhnya untuk 'diratah’.sekaligus menceroboh kesucian tubuh montoknya dengan melakukan persetubuhan haram.
“Akak dah tak marah ke kat Abu…?” tanya Abu pada Mimi Amira.
“Akak dah tak marah Abu dah…” ujar Mimi Amira sambil tersenyum mengoda. Oleh kerana tidak mahu sesiapa pun tahu tentang hubungan seks mereka maka Mimi Amira terpaksa melayani setiap permintaan kekasihnya itu.termasuklah membiarkan dirinya terus menjadi alat untuk melepaskan hawa nafsu seks kekasihnya.dan hampir setiap malam Abu akan menyelinap masuk ke dalam bilik tidur dan melakukan hubungan seks dengan Mimi Amira…
4
Perkenalan antara Mimi Amira dengan seorang jejaka bernama Zaid di perhentian bas di bandar tengah hari tadi telah memulakan segalanya. pertama kali Mimi Amira berkenalan dengan Zaid, Zaid telah mengajak Mimi Amira singgah di rumahnya.
“Ok…!tunggu Mimi datang ya malam ni…” dengan pantas Mimi Amira memberikan persetujuan. Emm…'hensem'juga Zaid tu ek…fikir Mimi Amira sendirian sambil berjalan pulang menuju ke rumahnya.Tepat pukul sebelas malam,Mimi Amira terus berjalan menuju ke rumah Zaid. untuk sampai ke rumah Zaid,Mimi Amira terpaksa berjalan melalui lorong kebun getah. setelah sampai dihadapan pintu rumah Zaid,Mimi Amira terus mengetuk pintu.
“Abang Zaid…!Ooo Abang Zaid…!"panggil Mimi Amira beberapa kali. Setelah mengetuk beberapa kali akhirnya pintu dibuka dari dalam dan Zaid berdiri dihadapan pintu rumahnya.
"Masuklah mimi…! Jangan malu-malu buatlah macam rumah sendiri…” pelawa Zaid sambil tersenyum lebar. Setelah masuk Zaid buatkan air oren untuk Mimi Amira. sambil menonton rancangan tv. Mimi Amira minum air oren yang Zaid buatkan itu. sedang rancak Mimi Amira dan Zaid berbual-bual.tiba-tiba Mimi Amira berasa betul-betul mengantuk.
“Eh…? kenapa tiba-tiba Mimi rasa mengantuk sangat ni…?”
“Ha…kalau mimi nak baring, mimi masuk dalam bilik tidur ni…"kata Zaid sambil menunjukkan arah ke bilik tidurnya.
"Abang Zaid nak pergi mandi kejap."katanya sambil mencapai tuala yang tersangkut di atas kerusi.
"Baiklah abang…"kata Mimi Amira.masuk saja ke dalam bilik tidur Zaid. Mimi Amira terus merebahkan tubuhnya di atas katil.Kerana terlalu letih Mimi Amira pun terlena, kebetulan pada masa itu Mimi Amira hanya memakai skirt pendek dan baju- t sahaja.Kira-kira setengah jam kemudian,tiba-tiba Mimi Amira terasa seperti ada sesuatu yang sedang merayap-rayap di atas dadanya.Mimi Amira hanya mendiamkan diri sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba Mimi Amira terasa yang buah dadanya sedang diraba-raba. Mimi Amira pun terus membuka kedua matanya dan melihat Zaid sudah duduk disebelahnya.
"Eh! abang Zaid…apa ni…abang nak buat apa kat Mimi ni…???” kata Mimi Amira terketar-ketar. Pintu bilik telah dikunci.kini hanya mereka berdua sahaja dan Zaid sudah bersedia mahu membuat apa sahaja keatas tubuh Mimi Amira bila-bila masa.Zaid melondehkan tualanya dan telanjang. tercacak batangnya keras ke atas. jantung Mimi Amira berdegup kuat berdebar-debar…Zaid akhirnya membuka pakaian Mimi Amira tanpa meninggalkan seurat benang pun.panties g-string sexy yang baru dibeli dicampakkan ke tepi pintu.Zaid mula menjilat tetek besar Mimi Amira, kemudian cipap tembam yang bercukur licin itu dirodok dengan tiga batang jarinya. Zaid terus mencium dan menjilat-jilat merata tubuh dan akhirnya ke lubang jubur Mimi Amira yang comel itu. Zaid mengambil masa yang lama menghidu lubang yang selalu mengeluarkan tahi itu, Zaid mencium dan menjilat lubang jubur yang kemerah-merahan itu.lubang jubur yang pernah diteroka oleh beberapa batang sebelum ini dijilat dan dihidu semahunya.Masa sudah tiba…Zaid bersedia di atas paha Mimi Amira, di celah kangkang bontot lebar dan bulat itu, Zaid mula mengesel-geselkan kepala butuhnya yang berkilat ke atas alur jubur Mimi Amira yang masih terterap. Zaid memegang kemas bahu Mimi Amira dan menekannya ke katil. bahagian lubang jubur Mimi Amira nampaknya sudah memberi peluang.
“Tolonglah Abang Zaid….janganlah…ahhh…ahhhhahhhh…"Mimi Amira cuba meronta-ronta.Zaid tidak bersuara sebaliknya sedaya upaya cuba memasukkan batangnya ke dalam lubang jubur Mimi Amira yang tercungap-cungap itu. Batangnya masih bergesel dengan lubang jubur Mimi Amira yang sudah lecah itu.
"Mimi…tolonglah…abang nak rasa sekali ni saja…tolonglah….rasakan sekali….”
“Ahhhahhh…tak mahu..abanggg…” Mimi Amira mula berasa sakit bila Zaid mula mengorak langkah.kepala butuhnya sudah mula memberi 'salam perkenalan’ kepada lubang jubur Mimi Amira yang comel itu.
“Aaaaahhhhhhh……!!” Mimi Amira menjerit bila merasakan tujahan butuh Zaid semakin mendalam…tidak ada halangan lagi.
Batang konek Zaid mula menganas di dalam lubang jubur Mimi Amira….Zaid mula menunggang Mimi Amira…tujahan sudah tidak mengenal erit kasihan lagi.hayunan zakarnya semakin kuat.air mazi masing-masing makin banyak keluar,semakin lecah…cupp capp cupp capppp…bunyi yang keluar hasil dari batang Zaid dan lubang jubur Mimi Amira itu.Tidak puas dengan aksi itu, Zaid mula memaksa Mimi Amira membuat posisi doggie pula.Zaid mula melepaskan tekanan pada bahu Mimi Amira dan mengangkat pula bontot Mimi Amira ke atas dan kedudukan Mimi Amira kini tak ubah seperti anjing betina yang sedia untuk di jolok oleh anjing jantannya. Mujur panjang butuh Zaid 7 inci, kalau tidak tentu tak sampai ke dalam pangkal kerana terhalang oleh bontot lebar dan bulat Mimi Amira itu. Ketika itulah Mimi Amira menyerah sepenuhnya sehingga longlai dikerjakan oleh Zaid. Dalam posisi ini Zaid dapat menyodok masuk butuhnya dengan kuat berulang-ulang kali tanpa henti hampir 20 minit! Zaid memang biasa main lama-lama…setakat sejam tidak jadi hal baginya. Bukan setakat ubat kuat seks, malah sudah banyak pelacur dan bohsia yang pernah diliwatnya. Setakat tubuh Mimi Amira itu…kacang saja, bukan sejam, dua jam pun boleh terus menerus Zaid kerjakan. Mimi Amira sudah setengah mati…lubang juburnya sudah merah pedih, kulit-kulit di lubang juburnya sudah melecet…kepanasan! Zaid memang berhasrat meledakkan air maninya kedalam lubang Mimi Amira itu…pastinya sambil melihat rengek tangis perempuan yang maha cantik itu. kemudian Zaid mengalihkan tubuh bogel Mimi Amira pula. Kedua-dua kaki Mimi Amira kini berada diatas bahu Zaid…lutut Mimi Amira mencecah buah dadanya sendiri…Zaid menujah pula lubang cipap Mimi Amira yang sudah basah lencun dengan air mazinya sendiri kira-kira 20 tujahan yang kuat sehingga bergegar buah dada yang besar milik Mimi Amira itu…Akhirnya meledaklah juga air maninya diiringi tangisan air mata dan raungan kepuasan dari Mimi Amira. Zaid berasa amat lega dan Mimi Amira pula berasa sangat sengsara.bila butuhnya yang keras itu dicAbut, air maninya meleleh-leleh di atas tubuh bogel Mimi Amira. Zaid bangun dan terus mencari tisu. kerantung telurnya bergoyang-goyang, zakarnya tetap tegang dan keras.melihatkan Mimi Amira yang masih terlentang dan terkangkang itu…Mimi Amira menjadi malu melihat Zaid memandangnya begitu. Zaid mula naik syeh lagi dan cuba’ doggy style’ lagi. Zaid melutut dibawah sambil tangannya meraba-raba bontot lebar dan bulat dihadapannya. Zaid mula menghidu dan mencium lagi lubang jubur Mimi Amira itu. Lubang jubur Mimi Amira yang tadinya dijolok dengan butuhnya dijilat tanpa henti. kemudian, dikoyaknya sedikit lubang jubur Mimi Amira lalu dijilat-jilat sepuas-puasnya. air mazi Mimi Amira terbit lagi bila dilakukan begitu oleh Zaid. Lalu Zaid pun naik kembali ke atas tubuh Mimi Amira dari belakang dan mula menujah butuhnya ke arah lubang jubur Mimi Amira itu lagi. Lubang jubur Mimi Amira mula basah dan licin. Zaid mencepatkan hayunan ke dalam lubang jubur Mimi Amira dan akhirnya meledakkan sekali lagi air mani pekat meliputi lubang yang comel hingga ke permukaan bontot yang lebar dan bulat itu.Setelah puas, Zaid pun berlalu meninggalkan Mimi Amira yang sedang menangis sambil mengenangkan nasibnya.
Mimi Amira kepenatan kerana diliwat dengan ganas sekali lagi. Esoknya hampir jam 10.00 pagi barulah Mimi Amira keluar dan pulang ke rumah. Mimi Amira malu kerana baju dalam, skirt pendek dan panties g-stringnya habis koyak dikerjakan oleh Zaid. Akhirnya Mimi Amira pulang kerumah dengan berkeadaan separuh bogel sahaja. Pada suatu petang Mimi Amira termenung mengenangkan kekasih hatinya Abu yang sudah lebih seminggu tidak bertemu dan bermadu mesra seperti selalu dan seminggu itu juga lah pukinya tidak dijolok oleh batang kote Abu itu. Lubang pukinya sudah mula melolong-lolong minta dijolok.hinggalah pada petang itu.Ibu dan ayahnya seperti biasa pergi berniaga dari pagi hingga ke malam. Mimi Amira dengan sengaja memakai baju-t yang agak ketat tanpa mengenakan bra dan kemudian berjalan melalui hadapan perhentian bas, di situ Mimi Amira ternampak ada seorang bangla dan tiga orang makcik sedang duduk menunggu bas. semasa dia melintas di hadapan bangla itu Mimi Amira terperasan yang mata bangla itu terbeliak melihat tubuhnya yang amat mengiurkan itu tetapi Mimi Amira buat-buat tidak tahu sahaja.Mimi Amira sengaja membiarkan tiga orang makcik itu naik bas dahulu. Tiba-tiba ketika Mimi Amira sedang duduk di perhentian bas itu, bangla tadi datang dan terus meramas buah dada dari luar baju-t nya.
“Jangan…bang…” Mimi Amira cuba meronta.Tapi bangla itu terus menyelak baju-t yang dipakai oleh Mimi Amira ke atas dan dia amat terperanjat kerana melihat puting susu milik Mimi Amira yang sudah keras dan tegang itu. Mimi Amira terus menolak bangla itu dan berlari ke arah semak di belakang perhentian bas itu. Bangla itu terus mengejar dan memeluk tubuh Mimi Amira dan menolaknya ke arah tepi jalan masuk ke Kampung Melati Puteh.Dengan ganas bangla itu terus mengoyak baju-t dan juga melondehkan seluar track yang dipakai Mimi Amira sekejap tadi. Kini yang tinggal hanyalah seluar dalam yang masih menutupi kawasan larangannya sahaja. Dengan sekali rentap sahaja maka terputuslah tali seluar dalamnya.Dengan ganas bangla itu membuka bibir puki Mimi Amira dan terus menjilat-jilat dilubang puki gadis melayu itu. Mimi Amira tidak menyangka sama sekali yang bangla itu sanggup menjilat lubang pukinya mungkin itulah tempat yang paling sedap sekali fikir Mimi Amira.
“Sedapnya lubang puki you…"kata bangla itu sambil menjilat-jilat lagi lubang puki yang merah tembam dihadapannya itu. Mimi Amira yang sudah mula berasa kesedapan itu terus mengkangkangkan lagi kaki seluas-luasnya dan lidah bangla itu semakin menggila menjilat-jilat sambil dia menghirup air yang terbit keluar dari lubang puki Mimi Amira itu. Selepas bangla itu sudah puas mengerjakan lubang puki Mimi Amira itu dia bangun dan mula menghisap puting susu pula.
"Wow tetek you banyak besar la dan itu puting banyak keras juga…"kata bangla itu lagi sambil menghisap puting susu Mimi Amira pula.Mimi Amira yang sudah tidak tahan di gomol begitu terus merengek-rengek manja.
"Bang lekaslah jolok lubang saya ni….” rayu Mimi Amira pada bangla itu. Bangla itu pun terus mensasarkan batang kotenya tepat ke arah lubang puki Mimi Amira itu.dengan sekali sentap sahaja batangnya yang besar dan keras itu terus menerjah ke dalam lubang puki Mimi Amira yang siap ternganga dengan luasnya.
“Bangggg…uhhhh…sedapnya butuhmu…bang….joloklah lagi bang…lubang puki Mimi ni nak batangmu bannggggg…."jerit Mimi Amira.dan kebetulan ada dua orang budak sekolah rendah yang melalui jalan itu tetapi mereka berdua sudah tidak peduli lagi kerana memikirkan yang budak sekolah itu masih budak-budak lagi. Bangla itu mengangkat kaki Mimi Amira ke atas bahunya dan terus merogol dengan ganas sekali.
"Ooohhhhhoooohhh you punya puki sangat sedap la…."jerit bangla itu sambil diperhatikan oleh dua orang budak sekolah rendah itu tadi.kemudian bangla itu mengangkat tubuh bogel Mimi Amira dan terbalikkan sehingga menjadikan posisi Mimi Amira tak ubah seperti anjing. Petang itu sahaja lubang jubur Mimi Amira di liwat hampir 10 kali. bangla itu sungguh ganas dan kuat juga nafsunya. Kadang-kadang dua orang budak sekolah itu dapat juga melihat buah dada Mimi Amira yang tergantung sambil berhayun-hayun kerana sedang diliwat oleh bangla itu. Menjerit-menjerit Mimi Amira di rogol oleh bangla itu. Lubang jubur Mimi Amira sudah menjadi luas lubangnya kerana dikerjakan oleh batang besar bangla itu.
"Bang…lubang puki mimi sudah luas lah…bang asyik kerjakan…” kata Mimi Amira manja. dan bangla itu masih lagi mengerjakan lubang jubur Mimi Amira itu dengan batang butuhnya yang gagah itu.
“Lubang you sangat sedap…oohhhhh…"jerit bangla itu lagi.petang itu Mimi Amira terus diliwat oleh bangla itu dan lubang juburnya masih lagi sudi menerima kemasukan batang besar dan hitam itu. memang Mimi Amira rela diperlakukan begitu.Dan dua orang budak sekolah itu tetap setia menonton aksi lucah dihadapan mata mereka. Mimi Amira pula seakan berasa amat bangga bila dirinya dipuji oleh bangla dan budak-budak sekolah itu,kadang-kadang Mimi Amira dengan sengaja menjerit kegairahan dan juga beraksi gairah dihadapan dua orang budak sekolah rendah itu.baginya biarlah dia berkeadaan begini selalu asalkan dia dapat memuaskan nafsu semua lelaki itu.
5
Pertama kali Mimi Amira melihat seorang lelaki tua yang tinggal di kampung sebelah berjalan melewati hadapan rumah nya.derap langkah orang tua itu makin laju sambil memegang tongkatnya.
"Apa khabar Pak Ali…” tegur Mimi Amira mempesona manja.
“Eh,khabar baik…” balas Pak Ali sambil memerhatikan Mimi Amira yang sedang menjemur kain dihadapan rumahnya.
“Wahh, Pak Ali ni dah lama Mimi tak nampak sekarang semakin bertambah tampan…” gurau Mimi Amira sambil tersenyum.
“Ala biasala tua-tua kelapa makin tua makin berisi…"jawap Pak Ali tersengih sambil matanya tak berkelip-kelip memandang ke lurah dendam milik Mimi Amira yang kebetulan hanya berkemban dengan kain batik lusuh sahaja ketika itu.
"Eh Pak Ali ni dari mana nak ke mana..?” tanya Mimi Amira sesekali ditariknya kain batik yang membaluti tubuh putih gebunya itu kerana hendak terlondeh.
“Emm sebenarnya pakcik ni dari rumah ketua kampung tadi ada hal sikit, ni dah nak balik ke rumah la…” terang Pak Ali matanya masih lagi terpaku kelurah tetek milik Mimi Amira itu, sesekali Pak Ali menjeling kebetis yang putih gebu itu pula.
“Oohh…eh Pak Ali tak nak naik ke rumah dulu…?” pelawa Mimi Amira sambil mengangkat bakul kosong.
“Eh, buat susah-susah saja anak ni…” balas Pak Ali sambil mengekori Mimi Amira dari belakang dan menuju masuk ke dalam rumah.
“Ehh anak ni tinggal seorang, mana mak dan ayah kamu…?” tanya Pak Ali.
“Ohh mak dengan ayah dah pergi berniaga di pasar malam, adik pula belum balik dari sekolah lagi…” terang Mimi Amira sambil tersenyum manja.
“Tak takut ke tinggal seorang macam ni…?” tanya Pak Ali sambil melabuhkan punggungnya di atas kerusi rotan.
“Ahh buat apa Mimi nak takut, Pak Ali kan ada…” gurau Mimi Amira sambil tertawa kecil. Mimi Amira juga duduk di atas kerusi berhadapan dengan Pak Ali.
“Eh,minumlah air kopi ni Mimi yang buatkan tau…” kata Mimi Amira sambil bangun lalu menuangkan air kopi kedalam cawan yang sudah tersedia di atas meja di hadapan Pak Ali itu.
“Terima kasih, anak tak minum sekali?"tanya Pak Ali sambil menyambut cawan yang diberikan oleh Mimi Amira.
"Sudah Mimi dah minum tadi…” terang Mimi Amira sambil duduk kembali diatas kerusi senyumannya masih tidak lekang dari bibir.
“Emm boleh pakcik tanya sesuatu pada anak…?” tanya Pak Ali sambil melihat Mimi Amira yang sedang bersandar di kerusi.kelihatan dada Mimi Amira naik dan turun dengan cepat.
“Apa dia Pak Ali…?” entah kenapa tiba-tiba nafsu seksnya memuncak Mimi Amira dapat merasakan air mazinya mulai turun membasahi kain batik lusuhnya.
“Anak ni sudah berpunya…? Kalau belum ada rasanya biar pakcik saja…”
“Pak Ali ni rambut pun sudah beruban masih mahu mengatal macam orang muda…” kata Mimi Amira nada suaranya makin meninggi.
“Ala apa salahnya pakcik nak mencuba nasib…mana tahu kita ini pasangan yang secocok…” pujuk Pak Ali lagi lantas bangun dan terus duduk di sebelah Mimi Amira pula.
“Maafkan Mimi sebentar Mimi nak ke tandas sekejap…” kata Mimi Amira dan terus bangun menuju ke tandas di bahagian belakang rumahnya. Selepas habis membuang air kecil dan mahu membasuh cipapnya…dengan tiba-tiba Pak Ali terus meluru masuk ke dalam bilik air. Terperanjat Mimi Amira dan cuba menutup bibir cipapnya yang tembam itu dengan tangan. keadaan mula mendebarkan…
“Kenapa dengan Pak Ali ni kenapa masuk tak ketuk pintu dulu…” marah Mimi Amira yang masih terperanjat sambil kedua-dua tangannya cuba melindungi cipapnya.
“Tak usah berdalih lagi pakcik tahu anak juga mahukan apa yang pakcik mahu sekarang ini kan…” kata Pak Ali sambil berjalan perlahan mendekati Mimi Amira. Pak Ali sempat mengunci pintu bilik air.untuk langkah keselamatan, manalah tahu kalau-kalau adik atau orangtua Mimi Amira pulang awal. Pak Ali berdiri betul-betul berhadapan dengan Mimi Amira yang masih lagi separuh bogel hanya tangannya sahaja yang menutupi cipap gebunya. Pak Ali memandang tubuh separuh bogel Mimi Amira keatas dan kebawah sambil tersenyum.
“Oh sungguh tidak disangka orang tua yang yang berusia hampir 70 tahun itu masih lagi mempunyai nafsu seks yang tinggi…” fikir Mimi Amira.
“Cepatlah alihkan tangan anak tu…” arah Pak Ali sambil melondehkan seluar panjangnya. dan terpandanglah zakar Pak Ali itu. Mimi Amira sedikit terkejut kerana zakar Pak Ali itu panjang melayut dan berwarna hitam. Mimi Amira tidak dapat membayangkan bagaimana rupanya kalau zakar itu menegang nanti. Mulanya Mimi Amira masih berasa agak malu-malu untuk mendedahkan cipap tembamnya untuk tatapan Pak Ali itu. tetapi memikirkan yang Pak Ali mungkin akan menggunakan kekerasan jika dia tidak melayani permintaan Pak Ali itu akhirnya Mimi Amira dengan berat hati melepaskan kedua belah tangannya yang menutupi belahan cipapnya yang gebu itu.
“Buka pakaian kamu ini…” Pak Ali menyuruh Mimi Amira membuka pakaiannya.dan Mimi Amira pun mula membuka pakaiannya satu persatu.Akhirnya tubuh bogel Mimi Amira yang amat cantik itu pun sudah tidak dilindungi oleh sehelai kain pun.Mimi Amira melihat mata Pak Ali terbeliak melihat tubuhnya yang tiada sedikitpun cacat celanya itu.
“Oohhh…sungguh cantik sekali tubuhmu nak….beruntung pakcik hari ini kerana dapat meratah tubuhmu yang sudah sedia telanjang ni….”.kata Pak Ali sambil tersengih.Tanpa belas kasihan Pak Ali terus menolak tubuh separuh bogel itu ke lantai bilik air dan terus menindih tubuh gebu Mimi Amira. Mimi Amira tidak dapat bergerak dan pada masa yang sama tangan Pak Ali sudah mula menjalar ke setiap inci tubuh putih gebu Mimi Amira itu. Tubuh putih gebu itu terus diraba didalam bilik air rumahnya.dalam keadaan yang sungguh menghairahkan itu Mimi Amira dapat melihat wajah Pak Ali cukup rakus sekali.seperti kucing yang tengah kelaparan mendapat seekor ikan yang segar. Mimi Amira mula meronta-ronta keghairahan.Kemudian dengan rakusnya tangan Pak Ali yang nakal itu mula meramas-ramas kedua belah buah dada Mimi Amira yang sungguh besar itu. Sesekali tubuh gebu Mimi Amira itu dipeluk erat-erat. Mimi Amira sudah tidak berdaya lagi untuk menahan serangan nafsu orang tua itu yang sedang naik memuncak. Pak Ali terus mengomol kedua belah buah dada yang setiap satunya sebesar betik yang masak ranum itu.
“Ahhaahhhhaaahhhh…emmmm…ahhh..emhhhh..aaaarrrhhhhh…” Mimi Amira tanpa malu-malu terus menjerit keghairahan.Tangan Pak Ali terus menari liar diatas dua biji buah betik milik Mimi Amira itu. Pak Ali tersenyum memandang Mimi Amira yang dalam keadaan yang sangat memberahikan itu. Tangannya masih lagi ligat meraba dan memicit puting buah dada Mimi Amira sambil tubuhnya digesel-geselkan ke tubuh gebu Mimi Amira.
“Sungguh nikmat sekali…” fikir Pak Ali yang baru pertama kali melakukan adegan itu dengan Mimi Amira.
“Anak.., pakcik mahu minum susu tetek anak ni…” kata Pak Ali sambil menjilat-jilat puting buah dada yang berwarna merah muda itu.
“Emmm…bbollehh…ttapi Pak Ali ja..jangan hisap kuat-kuat tau sakkitt…” balas Mimi Amira dalam keadaan keghairahan.
“Aarrghhh…arggghhh…arrggghhh…” jerit Mimi Amira bila Pak Ali mula menghisap puting susunyaPak Ali dengan buasnya terus menghisap puting tetek Mimi Amira seperti seorang bayi. Puting susu Mimi Amira dimain-main dengan lidahnya,dan terus dihisap-hisap dengan kasar sekali. Puting susu Mimi Amira yang sudah lama tegang itu digigit-gigit dan ditarik-tarik pula.Jilatan-jilatan lidah Pak Ali semakin lama semakin dahsyat dan perlahan-lahan mulai turun ke perut dan berakhir pada kelangkang keramat milik Mimi Amira itu. Lidah Pak Ali lincah sekali, dia sudah menemui biji kelentit Mimi Amira. Seperti tadi juga Pak Ali memperlakukan biji kelentit Mimi Amira semahu-mahunya,sehingga Mimi Amira terkapar-kapar menahan geli,ngilu dan nikmat.
“Mimi mahukan batang pakcik sekarang….” akhirnya Mimi Amira sudah tidak tahan lagi.
“Cepatlah pakcik rogol Mimi…masukkan zakar pakcik tu kedalam puki Mimi ni….” rayu Mimi Amira pada Pak Ali.
“Lubang burit anak ni boleh nampak dengan jelas lah…baunya pun sungguh wangi…” puji Pak Ali pada burit Mimi Amira itu.
“Jangan…jangan bau lubang puki Mimi ni. Mimi malu lah pakcik….”
“Emm..wanginya…kalau boleh pakcik mahu cium burit anak ni hari-hari…”
“Cepatlah pakcik Mimi dah tak boleh tahan niii….” Mimi Amira berdebar-debar saat zakar Pak Ali itu mulai disorongkan kearah lubang buritnya. Dan akhirnya masuklah juga batang panjang dan hitam Pak Ali kedalam lubang kemaluan Mimi Amira itu.
“Mimi dapat rasakan batang pakcik ni penuh dalam lubang burit Mimi….” kata Mimi Amira. Memang Mimi Amira rasakan agak susah batang zakar Pak Ali hendak masuk kedalam tetapi kerana lubang kemaluannya sudah basah dengan cairan air mazi yang keluar dari dalam kemaluannya menjadikan batang zakar Pak Ali itu dapat masuk perlahan-lahan.
“Mimi rasa sungguh bahagia sekali….”“
Betulkah…? Biar pakcik henjut kuat lagi ye nak…” kata Pak Ali. Setelah lebih kurang satu jam lamanya Pak Ali menyetubuhi Mimi Amira itu.akhirnya Pak Ali tidak dapat menahan lagi air mani dari batang zakarnya.
Hampir satu jam Pak Ali menyetubuhi Mimi Amira….
“Aahhhhahhh…ja..janggann…nanntii air mazi Mimi akan terpancut keluar banyak kalau pakcik jolok kuat-kuat sangat…”
“Aahh…ahghhh…dah nak keluar nak keluarr…” jerit Pak Ali bila terasa air maninya bila-bila masa akan terpancut keluar.
“Jangan…jangan pancut lagi pakcik….” rayu Mimi Amira sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Taakk bbooleehh tahan lagiii, nak…!!” jerit Pak Ali.
“Emmm…baiklah pancutkan semuanya kat dalam…!!” akhirnya Mimi Amira sendiri yang mengizinkan Pak Ali memancutkan air maninya ke dalam. Sebenarnya Mimi Amira teringin juga hendak merasakan pancutan air mani orang tua itu menembak ke dinding kemaluannya.
“Eerghhh…emmmm…penuhkan lubang burit Mimi ni dengan air mani pakcik tu…arghhh…” kata Mimi Amira.Terasa hangat sekali di dalam lubang buritnya. maka bertaburanlah air mani Pak Ali di dalam lubang burit Mimi Amira itu.
“Pakcik dah pancut banyak ni….” kata Mimi Amira.dia merasakan banyak sekali air mani yang dipancutkan oleh Pak Ali itu.
“Bagusnya burit anak ni belum pernah lagi pakcik pancut sebanyak ini…”
“Bagaimana anak rasa…?”
“Aahhh…seronok sangat bila pakcik pancut dalam lubang burit Mimi ni…”
“Iye..? Bagaimana kalau pakcik sambung kongkek anak lagi…? Sampai pakcik habis pancutkan seluruh tubuh bogel anak ni dengan air mani pakcik…”
“Emm…tapi lubang burit Mimi ni dah penuh la…lagipun batang zakar pakcik tu besar sangat lah senak Mimi dibuatnya…”
“Lubang burit anak tu yang buat pakcik tak tenteram jadinya…”
“Iye ke pakcik suka burit Mimi ni…? Pakcik jangan berhenti tolong kongkek Mimi lagi….”
“Tubuh Mimi dah jadi milik pakcik sekarang…pakcik boleh buat sesuka hati pakcik, Mimi tak kisah….”
“Betulkah apa yang anak cakapkan ini…? Baiklah biar pakcik jolok lubang punggung anak ni pula…” Pak Ali mengatakan bahawa dia ingin mengulangi permainan tadi tetapi kali ini di bahagian punggung Mimi Amira pula, lalu Pak Ali memperlihatkan zakarnya yang masih berdiri keras itu.
“Ahhh…pakcik…tolong jangan disitu…”
“Biar pakcik puaskan lubang punggung anak ini…” Pak Ali betul-betul seperti kerbau jantan. Akhirnya Pak Ali kembali mengauli tubuh bogel Mimi Amira dan kali ini lebih ganas dari tadi.
“Jangan pakcik…tolong….” lubang jubur Mimi Amira itu dikerjakan sehabis-habisnya. Pak Ali mengongkek Mimi Amira seakan-akan tidak mahu melepaskannya.
“Boleh anak angkat punggung anak tinggi sikit…? Wahhh punggung anak ni bulat licin lah….” kali ini Pak Ali sangat lama bertahan sehingga kira-kira hampir tiga jam mengongkek lubang punggung Mimi Amira itu. Lubang punggung Mimi Amira terasa sangat ngilu dibuatnya. Bukan itu sahaja, Mimi Amira disuruh merangkak sambil batang zakar Pak Ali masih lagi di dalam lubang juburnya. Mimi Amira terpaksa lakukan agar Pak Ali berasa bahagia.
“Aarrggghhhh…pakcik tak bolah tahan lagi…biar pakcik pancut sekarang…” jerit Pak Ali. dan hari itu Mimi Amira dan Pak Ali berasa sangat puas sampai ke kemuncak.Pak Ali terus meragut kesucian tubuh Mimi Amira itu.Mimi Amira pula hanya mampu menjerit keghairahan.Hari itu Mimi Amira telah diperkosa oleh orang tua dari kampung sebelah sehingga puas. Sebaik sahaja selesai melempiaskan nafsunya ke atas tubuh bogel Mimi Amira dengan selamba orang tua itu memakai pakaiannya kembali dan terus berjalan keluar dari rumah Mimi Amira.
6
“Oohh…! Jadi selama ini Adi cuma tahu yang akak ni tempat untuk Adi melepaskan nafsu serakah Adi saja…?"
"Bukan macam tu kak…” balas Adi.
“Habis tu macam mana…?” tanya Mimi Amira pula.
“Kakak dengar dulu apa yang Adi nak cakap ni,sebenarnya….emm Adi suka tengok akak telanjang bogel macam ni…” beritahu Adi pada Mimi Amira ketika Adi masuk ke dalam bilik tidur kakaknya.
“Mengapa Adi tak suka akak berpakaian pula…?"
"Eh bukan macam tu…” kata Adi sambil tersenyum melihat kakaknya yang sedang memakai baju dalam itu. “Kak Mimi ni memang sah nak kena rogol dengan aku lagi ni…geram je aku tengok tetek besar Kak Mimi tu. Tak sabar rasanya mau je aku main-mainkan tetek gebu Kak Mimi tu…” bisik hati Adi.
“Adiii…cakaplah kenapa…?” rayu Mimi Amira dengan suara yang sangat manja.
“Emm sebenarnya Adi akan rasa lebih bahagia jika dapat tengok akak berbogel setiap hari…tanpa memakai sebarang pun pakaian…!"
"Jadi…Adi mahu akak telanjang bogel setiap hari untuk Adi lah…?” tanya Mimi Amira kehairanan.
“Betul tu…! Apa salahnya akak berbogel untuk santapan Adi setiap hari…cuba akak tengok ibu tu setiap hari Adi tengok ibu berbogel di depan ayah…sebab itulah kecantikan sebenarnya,tubuh wanita adalah unsur kecantikan dan nafsu selama-lamanya…!"
"Ohh jadi rasa malu adalah salah…?"
"Betul tu…!"
"Emm baiklah mulai hari ini akak tak akan rasa malu lagi dan akak juga tak mahu lagi memakai baju bila berada dirumah…!” kata Mimi Amira. Lantas apabila mendengar kakaknya berkata begitu Adi pun terus memeluk tubuh kakaknya yang masih dalam keadaan telanjang bogel tanpa sempat memakai baju dalamya.
“Adi tadi masa Adi cakap kat akak pasal Adi suka tengok akak telanjang bogel hari-hari tu kan akak rasa semacam je tau…"
"Emm…rasa macam mana tu kak..?” tanya Adi sambil menjilat dan menghisap puting buah dada kakaknya.
“entah akak rasa puting tetek akak ni tiba-tiba je jadi tegang lepas tu pepek akak ni pun tiba-tiba pula rasa gatal-gatal emmmemmm…” beritahu Mimi Amira sambil mengerang perlahan.
“Rasa gatal-gatal…? Kat belah dalam ke belah luar kak…?"
"Emm gatal kat bibir pepek akak ni…Adi tolong la tengok kan periksa le mana tahu Adi boleh tolong garukan ke hilang la sikit rasa gatal-gatal kat pepek akak ni…"
"Haa mari sini biar Adi tengokkan…” kata Adi sambil membaringkan tubuh bogel kakaknya di atas katil sebelum Adi mula menyentuh bahagian sulit kakaknya dalam tempoh yang agak lama.
“Ahh air mazi akak dah keluar banyak ni…"
"Uhhh…ahhh…Adiii cceepat…jilatt…ahhh… Adi jilat pepek akak ni uhhh…"
"Ya…jilat lubang burit akak ni lagi…!” jerit Mimi Amira pada Adi yang sedang asyik menjilat-jilat air mazi yang meleleh keluar dari lubang buritnya.
“Jangan jilat sampai dalam-dalam sangat ye Adi….oohh…akak rasa seperti berada di atas kayangan saja…"
"Yea la kak Adi pun rasa macam tu juga…!” “Ohhh…akak suka sangat bila Adi tahu macam mana nak melayan nafsu akak ni…"
"Akak sebenarnya Adi dah lama suka melakukan hubungan seks ni dengan akak…” kata Adi. Semenjak kejadian tempohari itu sudah banyak kali Adi melakukan hubungan seks dengan kakaknya sendiri. Mimi Amira selalunya akan telanjang bogel sambil menunggu dengan debaran,menunggu tombol pintu bilik tidurnya dipusing dan menunggu adiknya merangkak naik ke atas tubuh bogelnya.
“Apa yang Adi nakkan…?” tanya Mimi Amira apabila Adi sudah berada diatas tubuhnya. “Adi nakkan tubuh bogel akak ni sekarang…"
"Ahh…Adi ni nakal lah…” “Akak jangan risau, tak ada siapa akan tahu yang Adi sekarang sedang berseronok dengan tubuh akak lagipun ibu dengan ayah dah nyenyak tidur…"
"ah iye lah…inikah yang Adi nakkan….?” tanya Mimi Amira pada Adi sambil mengurut-ngurut bibir cipapnya sendiri.
“Emm…boleh tak kalau Adi nak masukkan jari Adi dulu dalam lubang cipap akak tu…?"
"Baiklah tapi jangan masukkan sampai 5 jari kalau 3 tu boleh la…."
"3 jari pun boleh lah, janji boleh masuk…."
"Ha masukkan cepat ke dalam lubang puki akak ni Adi…oohhh…ohhhh…yeaah!!” jerit Mimi Amira kerana kegairahan yang teramat sangat dan Adi mula bertindak lebih liar dengan mula menjolokkan jarinya ke dalam lubang punggung kakaknya juga. Adi juga menekapkan seluar dalam ke mulut kakaknya dan Adi juga sempat menampar-nampar buah dada kakaknya lagi.
“Akak Adi nak jolok puki akak dengan batang Adi pula.” kata Adi lalu mengarahkan kakaknya memegang batang kotenya dan mula mengesat di bibir kemaluan kakaknya sendiri. “Adi tak mahu ke jolok lubang burit akak ni dengan batang kote Adi tu…?
"Eh mestilah…mahu…tapi kejap lagi la iye kak…"
"Adi dah pandai nakal sekarang ni ye…!"
"Iye lah dan akak lah satu-satunya gadis yang Adi selalu main…"
"Akak je…?lagi…?” tanya Mimi Amira.
“Emm lagi….emm.. cikgu Adi adalah sekali dua…lagi…emmm kakak nani pun 2-3 kali juga Adi main dengan dia…itu je la…” balas Adi tersengih.
“Oooohhh…boleh tahan juga Adik akak ni ye…"
"Haa…Adi nak minum air susu tak…?” tanya Mimi Amira tiba-tiba.
“Nak..nak…akak nak tolong buatkan ke…?"
"Heehee…tak payah dah siap pun….” Dah siap…? Mana air susu nya…?“
"Ni ha…!” kata Mimi Amira sambil mengoncangkan kedua-dua belah buah dadanya yang amat besar itu. “Emmmm…sedapnya air susu akak ni…."
"Ahh…uhhh….Adi… hisap la sebelah sini pula…."
"Akak tahu tak yang akak ni mempunyai sepasang puting tetek yang besar dan cantik…! Memang sangat cantik…!"
"Eh takkan Adi puji puting tetek akak ni je yang lain-lain ni tak nak puji gak ke…?"
"Hehehe…iye la cipap akak pun cantik gak…punggung akak pun Adi geram gak…bibir akak yang selalu hisap batang kote Adi pun cantik gak…"
"Hehehe terima kasih Adi…sebab puji tubuh akak ni…"
"Adi memang suka tengok tetek akak yang besar ni…kalau akak tak kisah Adi nak pegang lepas tu nak goyang-goyangkan…"
"Adi nak goyangkan tetek akak ni…?"
"ah sebab Adi memang suka tengok bila tetek akak bergoyang-goyang…"
"Adi nak tahu tak hanya Adi seorang sahaja yang dapat tegangkan puting tetek akak ni….” kata Mimi Amira sambil tersenyum memandang Adi yang sedang asyik bermain-main dengan buah dadanya yang besar itu.
“Eh kenapa Adi pandang akak macam tu…akak malulah…."
"Wajah akak ni sungguh cantik, kulit akak ni pun putih berseri…” kata Adi sambil tangannya mengambil kesempatan meraba-raba tubuh gebu kakaknya itu.
“Eh kenapa tiba-tiba Adi puji akak ni? Adi nak apa-apa dari akak ke…?"
"Tak ada apa-apa Adi cuma ikhlas puji kecantikkan tubuh akak itu je….” kata Adi lagi dan tangannya masih lagi ligat meraba-raba tubuh bogel kakaknya itu. Mimi Amira pula dengan sengaja terus membiarkan tubuh bogelnya dijelajah oleh tangan rakus adiknya.
Tetek Mimi Amira yang besar itu membuat adiknya, Adi meramas-ramasnya dengan penuh geram….
“Emmm..tetek besar akak ni saja boleh membuatkan semua lelaki yang melihatnya tak tidur malam…"
"Heheheh…kerana teringatkan tetek besar dan selambak akak ni….?” tanya Mimi Amira tersenyum sambil meramas sendiri buah dadanya itu di hadapan adiknya.
“Iye lah kan tetek akak ni selalu menjadi idaman setiap lelaki di kampung ni termasuklah….Abu, Pak Ali, Abang Zaid dan juga Pakcik Rahim itu…."
"Eh mana Adi tahu ni siapa yang beritahu pada Adi….cakap Adi….” Tanya Mimi Amira terkejut.
“Hahahah….sebenarnya Adi dah lama tahu yang akak dengan Abu tu sedang bercinta kan…? Akak juga dah beberapa kali terlanjur dengan Abu itu juga kan…? Adi juga tahu akak selalu naik teksi Pakcik Rahim tu tapi bukan akak nak pergi ke bandar tu tetapi akak nak puaskan nafsu buas Pakcik Rahim tu kan…? Sebab tu lah Adi tengok akak selalu pakai pakaian yang singkat-singkat semata-mata nak mengoda Pakcik Rahim tu kan…?"
"Adi….!!!” jerit Mimi Amira terkejut.
“Hahahaha….Adi juga tahu yang akak selalu bila pulang dari rumah Abang Zaid tu akak akan berjalan terkengkang-kengkang sebabnya Abang Zaid tu selalu akan meliwat punggung akak kan….? Sebab Adi pernah periksa lubang punggung akak semasa akak sedang tidur…dan yang paling Adi terkejut sekali bila akak sanggup biarkan tubuh akak diratah oleh Pak Ali orang tua keparat tu…Adi tahu akak juga sayangkan orang tua itu sebab dia pandai puaskan lubang puki akak tu kan….?”
“Sudah Adi sudah….! Jangan cakap lagi….akak tahu akak tak mampu tahan semua godaan itu…biarlah akak begini akak lebih rela jadi begini… biarlah akak puaskan mereka semua asalkan dia orang luahkan kasih-sayang dia orang pada akak…” muka Mimi Amira mula berubah.sedih mengenangkan nasibnya yang malang kerana telah dirogol oleh beberapa orang lelaki. Tunduk saja mukanya. Mimi Amira tahu kata-katanya itu hanya akan membangkitkan lagi kemarahan adiknya, Adi. Ternyata apa yang diduganya itu benar.
“Puki…!!! Akak biarkan jantan-jantan keparat tu peluk, raba seluruh tubuh akak, usik itu, usik ini, cium sampai tak malu-malu, macam tu akak kata baik…? Adi sorang saja tak cukup ke…?!!!” jerit Adi sedikit kuat.
“Memang melampau Adi ni…takkan akak nak biarkan dia orang tu tanpa kasih sayang. Sebab itu lah akak serahkan segala jiwa raga akak pada mereka untuk disayangi…"
"Kasih-sayang?..Kasih-sayang lubang puki kakak…! Senangnya akak cakap…betina apa akak ni ha…? Sundal..!! Lepas ni Adi tak nak ambil tahu pasal akak dah…Adi tak nak beromen dengan akak lagi, pergi lah akak menagih kat jantan-jantan tu…” Adi memusingkan badannya lantas mengatur langkah tanpa sedikitpun menoleh kebelakang.
Dibelakang kelihatan Mimi Amira tersedu-sedu menahan tangisan.tak pernah seumur hidupnya dicemuh sampai begini rupa. Mimi Amira benar-benar mengharapkan perhatian dari jantan-jantan itu semua untuknya.mujurlah Mimi Amira ada pakej yang lengkap.teruk sangatkah apa yang telah aku lakukan? Jahat sangat ke apa yang dah aku buat? Kenapa Adi tak mahu terima hakikat ini? Mungkin inilah dugaan yang harus aku tempuhi, fikir hati kecilnya. Mimi Amira memang hilang arah betul kini. Dalam hatinya dia berharap agar suatu hari nanti ada lelaki yang akan memberinya kepuasan seks yang diidamkannya selama ini. Hati Mimi Amira terus merintih.
Segala kisah, lokasi, nama yang tertulis didalam blog ini adalah rekaan imiginasi penulis semata-mata, tiada kena mengena kepada sesiapa samada yang masih hidup ataupun yang telah meninggal dunia.
Dilla
“Nama adik siapa?” tanya Akmal.
“Saya Dilla” jawab gadis itu.“Oh.. Dilla.. ” sambut Akmal.
Suasana sepi seketika. Masing-masing melontarkan pandangan kosong ke Taman Herba yang biasanya menjadi tempat pesakit-pesakit beristirehat dan para pelawat menunggu waktu melawat. Bunyi cengkerik menghiasi suasana sunyi pada malam itu.“Dilla sebenarnya temankan siapa kat sini?” tanya Akmal. “Dilla temankan abah Dilla. Dia kena ulser usus. Dah buat operation dan sekarang tengah tunggu doktor bagi kebenaran balik.” jawab Dilla.“Agak-agak bila agaknya abah Dilla boleh keluar hospital?” tanya Akmal ingin tahu.“Tak tahu lah bang. Masih macam tu lagi nampaknya, cuma dia dah tak menanggung sakit macam dulu lagi dah. Doktor kata mungkin lagi seminggu dia kat sini. Abang temankan siapa pulak?” tanya Dilla pula.“Abah abang. Dia kena semput. Kronik sangat sampai dah masuk air dengan oksigen. Katil abah abang selang sekatil dari katil abah Dilla.” terang Akmal.“Ye ke, eh Dilla tak perasan.” kata Dilla sambil tersengih.Suasana sepi kembali. Masing-masing masih berdiri menongkat siku di pagar besi yang memisahkan Taman Herba dengan kaki lima. Lampu kaki lima menerangi suasana. Datang pula seorang pengawal keselamatan bertanyakan status kehadiran mereka berdua di luar wad pada waktu itu kerana waktu melawat sudah lama tamat. Setelah diterangkan mereka adalah waris pesakit di wad, pengawal itu pun pergi ke wad yang lain.“Nama abang siapa?” tanya Dilla. “Panggil saja abang Akmal.” jawab Akmal ringkas.“Abang dah kawin ke belum?” tanya Dilla.“Abang bujang lagi. Nape Dilla?” tanya Akmal pula.“Ah.. saja tanya..” jawab Dilla.“Dilla masih sekolah ke?” tanya Akmal mula memancing agar semakin mesra.“Ha'ah.. belajar kat Kolej bla bla bla bla………..” dan mereka pun berbual mesra saling mengenali sesama mereka. Namun pada masa yang sama Akmal sebenarnya sedang memasang niat untuk merasai tubuh gadis itu. Sambil berbual, Akmal mencuri pandang tubuh Dilla yang ketika itu bertudung putih, berbaju t coklat dan berseluar track. Mata Akmal lebih tertumpu kepada punggung Dilla. Sedikit tonggek dan cantik. Lebih-lebih lagi ketika itu Dilla memakai seluar track yang nampak agak sendat manyarung punggungnya. Sudah tentu bentuk pungguung Dilla yang licin dibaluti seluar track itu merangsang syahwat Akmal. Tubuh Dilla yang slim itu dihiasi sepasang buah dada yang sederhana saiznya, tidak terlalu besar. Lebih dari cukup tapak tangan untuk menampungnya. Tahi lalat kecil kelihatan merata berada di wajah Dilla menambah keserian wajahnya. Lebih-lebih lagi salah satunya berada di dagu kirinya. Akmal menahan geram sahaja. Hatinya seakan hendak melihat wajah gadis yang comel itu menghisap batangnya. Dia ingin batangnya di kolom wajah cantik bertahi lalat di dagu kiri itu. Dan sudah tentu ketika masih bertudung.Akmal mengajak Dilla minum di warung di luar hospital. Dilla setuju dan mereka masuk kembali ke wad untuk melihat keadaan bapa masing-masing sebelum memesan kepada jururawat yang bertugas bahawa mereka keluar sebentar ingin minum malam di warung.Sepanjang perjalanan ke warung, Akmal sengaja berjalan agak rapat dengan Dilla membuatkan bahu mereka sering berlaga. Di warung kopi yang dibuka sehingga 2 pagi itu, mereka berbual kembali tentang perkara-perkara semasa disamping mengenali hati budi masing-masing. Akmal begitu bijak menjadi alim-alim kucing. Dia bertekad ingin menikmati gadis comel itu. Tak dapat masuk, dapat cium bau pun jadilah.Selepas itu, mereka berdua ke jeti tempat orang memancing. Kelihatan ramai pemancing sedang duduk menunggu umpan mereka disambar ikan. Nasib mereka seakan sama dengan nasib Akmal, sedang berusaha memancing mendapatkan ikan segar yang cantik dan seksi berseluar track itu. Berdua mereka duduk di benteng menikmati hembusan angin muara sungai yang dingin. Dilla kelihatan kedinginan. Akmal membuka jaketnya dan meyarungkan ke tubuh genit Dilla. Dilla tersenyum kepada Akmal sambil mengucapkan terima kasih. Dengan selamba Akmal menjawab, “Kasih diterima”. Tersenyum simpul Dilla dibuatnya.Selepas itu, mereka kembali ke hospital. Ketika ingin menyeberangi jalan, Akmal memegang tangan Dilla membuatkan Dilla malu-malu. Walau pun sudah menyeberangi jalan, Akmal masih tidak melepaskan tangan Dilla. Malah dipimpinnya gadis genit itu beriringan menuju ke dalam hospital. Dilla yang serba malu itu serba salah. Hendak lepaskan terasa sayang, hendak di biarkan terasa malu. Dilla terpaksa memendam rasa malunya lantaran dia juga sebenarnya menaruh minat kepada Akmal. Baginya mungkin itu dapat membantunya agar dapat memiliki hati Akmal yang boleh tahan kacaknya. Mereka berjalan berpimpinan dan Akmal membawa Dilla ke Taman Herba yang suasananya gelap itu. Mereka duduk di bangku batu yang beratapkan bumbung berbentuk cendawan. Tangan Akmal masih memegang tangan Dilla. Akmal memandang Dilla yang duduk rapat disebelahnya. Dilla memandang wajah Akmal dalam suasana yang agak gelap itu. Akmal melepaskan tangan Dilla dan memaut dagu Dilla dengan lembut. Seakan dipukau, Dilla menurut menoleh ke wajah Akmal. Dagu runcing Dilla di usap penuh kelembutan. Jari Akmal mengusap pipi Dilla yang lembut. Dilla hanya diam dalam debaran menanti tindakan selanjutnya dari Akmal.Perlahan-lahan wajah Akmal merapati wajah Dilla. Mata Dilla terpejam dan bibirnya sedikit terbuka, seakan memberi isyarat bahawa dia merelakan. Bibir mereka berdua pun akhirnya bertaut dan saling mengucup dan menerima. Akmal mula memainkan lidahnya menguli lidah Dilla. Dilla yang kaku dan tidak berpengalaman di dalam hubungan yang seperti itu hanya mengikut rentak permainan yang jelas dikuasai oleh Akmal. Lidah Akmal lincah meneroka mulut gadis genit itu dengan penuh kelembutan dan penuh perasaan. Lelangit Dilla berkali-kali di jilat Akmal sehingga Dilla seakan lemah dalam gelombang asmara. Dilla menikmati perasaan yang selama ini hanya difikirkan di kotak fikirannya, yang hanya di lihat di kaca-kaca televisyen dan yang kadang-kadang di dalam angannya tatkala sendirian.Akmal memaut tubuh Dilla yang dirasakan semakin longlai dalam keberahian. Tangan Akmal mula mengaktifkan segala suis asmara di seluruh tubuh Dilla. Lengan Dilla di usap-usapnya. Dari bahu hingga ke jari jemari. Naik kembali ke perut Dilla yang ramping dan naik perlahan-lahan ke gunung comel milik gadis itu. Akmal meraba-raba tetek Dilla dengan lembut sambil meramasnya perlahan-lahan. Mulutnya masih lagi enak saling bertukar air liur sesama mereka. Dalam keberahian, Dilla cuba berlaku baik dengan cuba menolak tangan Akmal yang meramas teteknya. Namun tolakkannya setakat ala kadar, sekadar menunjukkan seakan dia tidak rela melakukannya, walhal dia sedang menikmati gelombang nafsu yang mengasyikkan itu. Usapan tangan Akmal turun ke tundun Dilla. Dari luar seluar track yang licin, Akmal mengusap-usap tundun Dilla dan sesekali jarinya mengusik belahan cipap Dilla yang dirasakan semakin lembap dan hangat. Keberahian Akmal semakin membara kerana peha Dilla yang gebu itu dirasakannya licin dan lembut kerana seluar track yang Dilla pakai pada malam itu. Tangannya mengusap penuh perasaan. Malah Akmal juga berusaha membuatkan Dilla membuka kepitan pehanya agar memberinya ruang untuk mengusap ruang terlarang yang sedia diketahuinya sudah semakin berair itu. Usahanya berhasil. Perlahan-lahan, Dilla membuka ruang untuk tangan Akmal mencapai celah saktinya dan membiarkan dirinya menikmati betapa sedapnya lurah kemaluannya diusap dan biji kelentitnya di gentel halus oleh Akmal. Gelora nafsu semakin menguasai Dilla. Dia benar-benar menikmati perasaan itu meskipun perasaan berdebar dan malu masih lagi wujud tersembunyi di kuasai nafsu. Dilla terkangkang bersandar di tubuh Akmal menikmati kelazatan kemaluannya di mainkan tangan nakal Akmal. Seluar track Dilla semakin ditembusi air kemaluannya yang melimpah. Malah, jari jemari Akmal dapat merasakan air cipap Dilla semakin banyak menyelaputi jarinya. Memang nasib Akmal kerjanya menjadi mudah kerana Dilla tidak memakai seluar dalam.Akmal berhenti seketika. Akmal membuka seluar slacknya dan menghunuskan pedang kontot yang keras dan gelap warnanya kepada Dilla. Dilla terpaku melihat konek Akmal yang besar. Akmal menarik tangan Dilla agar memegang koneknya. Tanpa bantahan Dilla memegang konek Akmal. Haba hangat dari konek Akmal serta merta dirasai tapak tangan Dilla yang mula memegangnya. Akmal memegang tangan Dilla yang sedang memegang koneknya dan mengajar Dilla cara melancapkan konek lelaki. Turun naik tangan Dilla yang menggenggam konek Akmal. Tangan comel gadis genit itu melancap konek Akmal dalam suasana gelap di Taman Herba. Akmal mula menikmati kesedapan dilancap Dilla. Akmal kembali menyambung menggentel kelentit Dilla. Mereka berdua saling berada di dalam kenikmatan dan saling melancap sesama mereka.Setelah beberapa minit, mereka berhenti. Akmal meminta Dilla berdiri dihadapannya dan membelakangi dirinya. Dilla hanya mengikut sahaja kata Akmal. Akmal kemudiannya menekup mukanya di celah-celah bontot Dilla.“Eh abang… Kenapa buat macam tu..” kata Dilla sambil mengalihkan badannya ke hadapan mengelakkan bontotnya di cium Akmal.“Please sayang… Abang nak cium bontot Dilla…” kata Akmal menagih simpati sambil tangannya melancap koneknya sendiri.“Abang nak buat apa?….” tanya Dilla serba salah.“Abang nak cium je sayang… Bontot Dilla cantik sayang…. please sayang…. ” pujuk Akmal.Dilla pun menurut dan membiarkan Akmal memekup mukanya di celah bontot Dilla. Akmal menghidu bau bontot Dilla yang memakai seluar track itu sedalamnya. Lidahnya menjilat celah bontot Dilla walau pun Dilla masih memakai seluar track. Perlahan-lahan tangan Akmal meramas bontot Dilla dan mengusap bontot Dilla manja.Akmal bangun dan memeluk Dilla. Koneknya di tembab ke bontot Dilla yang licin dibaluti seluar track itu. Akmal menggeselkan koneknya turuun naik celah bontot Dilla. Semakin lama semakin kuat Akmal menekan koneknya di bontot Dilla.“Dilla… Boleh abang sayang Dilla?” tanya Akmal.“Ermmm… nape?…. ” tanya Dilla ala-ala mengada-ngada.“Sebab abang rasa macam dah jatuuh cinta la…. ” kata Akmal.“Dengan sape?” tanya Dilla sengaja nak tahu.“Dengan Dilla…. ” kata Akmal.Dilla cuma tersenyum sendiri. Dia semakin syok pulak bila bontotnya digesel-gesel konek Akmal yang keras membatu tu. Pertama kali dalam sejarah dia diperlakukan sebegitu. Seronok rupanya berasmara. Dilla teringin nak pegang konek Akmal sekali lagi. Dilla menghulurkan tangannya ke belakang, menuju konek Akmal yang sedang menempel di celah bontotnya. Dilla memegangnya dan melancapkannya. Akmal serta merta tak boleh tahan. Koneknya di lancap di punggung seorang gadis yang sendat dengan seluar track yang licin. Akmal teringin nak memancutkan air maninya di bontot Dilla. Dia mahu bontot Dilla yang sendat dengan seluar track itu dicemari air maninya. Dia mahu lihat air maninya meleleh di bontot gadis cantik itu.“Ohhh…. Dilla…. Dillaaa…. ” Akmal semakin tak boleh handle.“Dilla… Sedapnya Dilla lancapkan abang…. AAAAAAAAHHHHHHH!!! ” Akmal mengerang kenikmatan dengan agak perlahan namun cukup bagi Dilla mengetahui bahawa dirinya sedang klimaks.Memancut-mancut air maninya diperah tangan Dilla yang comel itu. Air mani Akmal mencurah-curah di atas bontot Dilla dan membasahkan seluar tracknya. Sementara Dilla sungguh teruja merasakan bontotnya dihujani air mani yang banyak dan hangat. Tangannya memegang konek Akmal yang berdenyut-denyut mengeluarkan benihnya.Akmal terduduk kembali di pondok cendawan sementara Dilla menoleh-noleh ke bontotnya melihat kesan air mani yang Akmal berikan. Oleh kerana keadaan agak gelap, Dilla hanya dapat melihat seluar tracknya samar-samar dinodai air mani Akmal. Dilla duduk di sebelah Akmal dan diam tak berkata apa-apa.Beberapa minit selepas itu, mereka berdua masuk ke wad menemani bapa masing-masing. Dilla… Dilla….“ bisik Akmal di telinga Dilla.Dengan mata yang kelat Dilla membuka matanya. Wajah Akmal terpandang di hadapannya. Akmal segera menunjuk isyarat supaya senyap kepada Dilla. “Ada apa bang?” tanya Dilla seperti terpinga-pinga. Akmal tidak menjawab. Dia hanya menarik tangan Dilla hingga Dilla bangun dari kerusi malas di sebelah katil ayahnya. Ayahnya kelihatan sedang berdengkur. Tiub air masih melekat di tangannya. Mereka berdua keluar melalui pintu belakang menuju ke tangga tingkat atas. Kemudian mereka masuk lif dan menuju ke tingkat paling atas di bangunan itu. “Kita nak kemana ni bang?” tanya Dilla sambil matanya melihat jam ditangan, baru pukul 12 tengah malam rupanya. “Adalah… Abang ada tempat yang special nak tunjuk kat Dilla.” kata Akmal berahsia. Sebaik lif sampai di tingkat paling atas, mereka pun keluar dari lif dan menaiki tangga menuju ke atas bumbung bangunan 5 tingkat itu. Pemandangan hampir separuh bandar itu dapat dilihat dengan jelas dari tempat mereka berdiri. Akmal segera menutup pintu dan menyendalnya menggunakan sebatang besi. “Cantiknya bang… Macam mana abang tahu ada tempat cantik macam ni?” tanya Dilla. “Tadi abang boring, tak tahu nak buat apa. Jadi abang saja-saja jalan-jalan naik atas ni.” jawab Akmal sambil memaut pinggang Dilla yang berdiri di sisinya. Dilla teruja dengan pemandangan yang cantik itu. Lampu jalan dan bangunan-bangunan menghiasi permukaan bumi disamping cahaya bulan yang menerangi mereka berdua. Mereka berbual mesra dan saling bersentuhan sesama mereka. Tangan Akmal sentiasa mengusap bontot Dilla. Air mani yang tadinya membasahi bontot Dilla sudah kering dan mengeras di atas bontot seluar track Dilla. “Abang ni gatal lah… Asyik pegang bontot Dilla je..” kata Dilla manja. “Abang suka lah kat bontot Dilla…” kata Akmal. “Kenapa?” tanya Dilla. “Sebab seksi…” kata Akmal. “Seksi ke bang? Dilla tak pakai seksi-seksi lah bang, setakat seluar track ni je…” Kata Dilla. “Seluar track tu yang buat Dilla nampak lagi seksi. Licin dan nampak mantap.. Gerammm abang… ” kata Akmal sambil meramas bontot Dilla. “Abang ni… kang terpancut-pancut lagi kang….” kata Dilla. “Kalau Dilla sudi… seluruh bangunan ni abang tadahkan…” kata Akmal. Dilla ketawa kecil. Kemudian tangannya memegang perut Akmal. Matanya melihat wajah Akmal yang samar-samar membelakangi cahaya bulan. Akmal memimpin tangan Dilla memegang koneknya. Dari luar seluar, Dilla mengusap konek Akmal. Akmal semakin stim apabila koneknya di pegang gadis comel yang cantik itu. Akmal membuka zip seluarnya dan mengeluarkan koneknya menjadi tatapan Dilla. “Eeee… tak malu… tayang burung kat perempuan…” kata Dilla. “Memang abang tak malu… asalkan cuma dengan Dilla sorang je…” kata Akmal memancing kepercayaan Dilla. “Abang ni… jahatlah….” kata Dilla sambil jarinya mula menjalar ke konek Akmal yang sedang giat berkembang itu. “Tak jahat… nakal je…. ” kata Akmal tersengih-sengih. Dilla mula melancap konek Akmal. Di usap-usapnya konek yang keras itu berulang-ulang kali. Sementara Akmal pula meraba-raba peha dan bontot Dilla. Tangannya semakin masuk menuju ke kelengkang Dilla. Dilla membiarkan Akmal menggosok cipapnya. Dilla gembira dirinya dicabul sebegitu kerana dia menikmati kesedapannya yang menyeronokkan. Akmal memasukkan tangannya ke dalam seluar track Dilla dan mula menggosok cipap Dilla. Bunyi air berahi Dilla semakin kuat sewaktu Akmal menggentel kelentit Dilla yang semakin banjir itu. Air pekat dan licin semakin banyak keluar dari lubang cipap Dilla membasahi tangan Akmal. “Dilla sayang dah stim ye… ” tanya Akmal selamba. “alah abang niee….” kata Dilla malu-malu. “Dilla hisap konek abang sayang…” pinta Akmal. Dilla terus tunduk menonggeng menghisap konek Akmal. Pertama kali dalam hidupnya menghisap konek lelaki dan dia kelihatan teragak-agak melakukannya meskipun sudah hampir separuh konek Akmal hilang di dalam mulutnya. Akmal melihat kepala Dilla yang bertudung itu bergerak-gerak menghisap koneknya. Akmal melihat punggung Dilla yang sedang menonggeng. Akmal mengusap bontot Dilla dan menarik seluar track Dilla hingga melorot ke bawah bontotnya. Bontot Dilla yang putih dan gebu terpapar seksi. Daging bontotnya yang menggebu meliuk-liuk bersama pergerakan kepala Dilla menghisap konek Akmal. “Sedapnya… Abang tak sangka Dilla hisap sesedap ni.. ” kata Akmal memuji. Dilla berhenti menghisap konek Akmal dan mendongak memandang muka Akmal. “Abang nie… Dilla tak pernah tau buat macam ni…. Abang ni jahatlah… ” kata Dilla. “Ok ok sayang… lepas ni abang pulak hisap Dilla punya.. Barulah adil… ” kata Akmal sambil menarik bahu Dilla agar tegak berdiri. Akmal menyuruh Dilla berdiri berpaut pada dinding tangki air dan Akmal pun berlutut di belakang Dilla. Bontot Dilla yang mana seluar tracknya itu dilondehkan ke bawah bontot memberahikan Akmal. Akmal menghidu bau celah bontot Dilla. Kemudian dia menjilatnya berulang kali. Lubang bontot Dilla dikorek-korek menggunakan hujung lidahnya. “Eeee…. Abanggg… Dilla gelilah….” kata Dilla sambil tubuhnya seakan menggelitik kegelian. Akmal tidak menghiraukan Dilla. Jilatan Akmal semakin jauh ke kelengkang Dilla. Seluar track Dilla di lorotkan lagi ke bawah hingga jatuh tersangkut di lutut. Akmal menjilat kelengkang Dilla. Air masam masin dari lubang perawan gadis itu di jilatdan dihirupnya. Bunyi lucah decupan hasil hisapan dan jilatan Akmal kedengaran menghangatkan suasana. Bontot Dilla melentik-lentik merasakan kesedapan cipapnya dijlat oleh lelaki. Mata Dilla terpejam menghayati keberahian yang mengasyikkan itu. Sedapnya bukan main lagi. Lidah Akmal meneroka lubang cipap Dilla yang masih dara itu. Sedikit demi sedikit lubang Dilla dimasuki lidah Akmal yang liar. Meskipun sedap, tetapi Dilla dapat rasa kepedihan lantaran lubang cipapnya belum pernah dimasuki konek lelaki. Dia masih dara. Dilla menolak kepala Akmal menggunakan bontotnya dengan hanya ditonggekkan ke belakang. Akmal tahu Dilla masih dara, lalu Akmal menumpukan pada biji kelentitnya supaya akal Dilla hilang dalam keberahian. Taktik jahat Akmal berjaya. Dilla merengek sedap seolah hilang langsung rasa malunya kepada Akmal. Akmal terus berdiri di belakang Dilla setelah rahang dan lidahnya lenguh menjilat. Koneknya di lancap berulang kali hingga keras dan Akmal mula membenamkan koneknya ke lubang cipap Dilla dari belakang. Pada mulanya Dilla membiarkan. Namun setelah kepala takuk konek Akmal hilang dalam cipapnya, kepedihan mula dirasa semakin kuat. Dilla tiba-tiba teringat bahawa dia bukan bermimpi. Jika diteruskan daranya yang dijaga selama ini akan hilang begitu sahaja. Dilla menolak tubuh Akmal sambil menarik pinggangnya kehadapan hingga konek Akmal terkeluar dari mulut cipapnya. Hampir-hampir sahaja dia kehilangan keperawanannya kepada Akmal. “Kenapa sayang…” tanya Akmal. “Abang… Dilla tak boleh…” kata Dilla. “Kenapa sayang…? Dilla masih dara ye?” tanya Akmal buat-buat tak tahu, dasar lelaki jahat. Dilla mengangguk-angguk kepala. Akmal terus memeluk Dilla dan menempelkan koneknya di bontot Dilla. Akmal mengucup leher Dilla yang masih bertudung. “Oklah sayang.. maafkan abang… Abang hampir-hampir hilang pertimbangan tadi.. Maafkan abang sayang..” kata Akmal. Akmal memeluk Dilla namun pada masa yang sama Akmal mengusap puting tetek Dilla dan menggentel kelentit Dilla. Tujuannya tak lain adalah untuk merangsang nafsu Dilla. Taktiknya sekali lagi berjaya. Gadis yang lurus itu akhirnya tenggelam dalam nafsunya. “Sayang…. Abang tahu Dilla masih dara. Jadi abang harap sudilah kiranya Dilla berikan abang satu lagi laluan yang selamat untuk Dilla..” kata Akmal lembut di telinga Dilla. Dilla hanya diam. Nafasnya turun naik bersama degupan jantungnya yang kian kencang dimainkan oleh nafsu. Akmal mula menghalakan koneknya ke lurah bontot Dilla. Sedikit demi sedikit kepala konek Akmal di tekan masuk ke lubang bontot Dilla. “Bang… aduh… sakit la bang…” kata Dilla. “Sikit je lagi sayang… jangan kemut.. nanti sakit… buat biasa je… Tonggeng sikit sayang biar lega sikit..” Akmal mengarahkan Dilla. “Tapi sakit la banggg…” rintih Dilla kepedihan. “Sayang please… Ikut depan pun sakit jugak sayang… Biasalah first time… Inilah jalan paling selamat.. Dara selamat dan tak mengandung… please sayang… tonggeng sikit lagi…” pujuk Akmal. Dilla menurut setelah termakan dengan pujukan rayu Akmal. Akhirnya berjaya juga Akmal menjolok koneknya hingga hilang dilahap lubang bontot Dilla. Akmal menyorong koneknya keluar masuk perlahan-lahan. “BAnggg.. slow sikit bangg.. sakit…” kata Dilla sewaktu lubang bontotnya dijolok konek Akmal. Akmal memperlahankan rentak jolokannya. Lama kelamaan lubang bontot Dilla dirasakan seakan mula serasi dengan keadaan itu dan semakin lama hayunan konek Akmal semakin laju menjolok lubang bontot gadis itu. Meskipun pedih, namun Dilla tetap dapat juga merasai sedikit kesedapan bontotnya dijolok konek Akmal. Tertonggeng-tonggeng dirinya menyesuaikan kedudukan agar selesa diliwat Akmal. “Ohhhh… Dilla…Dilla…Dilla……Ohhhhh…… ” Akmal stim tak terkata. Dilla yang menonggeng dihadapannya cukup memberahikan Akmal. Kepalany Dilla yang masih bertudung dan tubuhnya yang masih memakai t-shirt coklat itu sungguh seksi. Bontotnya yang bergegar setiap kali dijolok semakin membuatnya tak tahan. “Sedapnya jolok bontot Dilla… Dilla… Abang cinta Dilla…. Ohhh… Bontot…. sedapnyaaa…. ” Akmal meluahkan perasaan nikmatnya. “Ahhh.. Dillaaa…Ahhhhh…. Abang nak terpancut sayangggg…. AAAHHHHHH!!!!!” Akmal menekan koneknya sedalam mungkin dan menyemburkan air maninya jauh di dalam lubang bontot Dilla. Akmal menggigil kenikmatan. Koneknya mengepam air maninya di dalam bontot Dilla sedalam-dalamnya. Sementara Dilla pula, merasakan lubang bontotnya seakan dipenuhi cairan yang hangat dan konek Akmal yang kuat denyutannya melepaskan air mani jelas dapat dirasai di dalam bontotnya. Dilla pasrah. Dia di liwat oleh lelaki yang baru sahaja dikenali beberapa jam yang lalu. Dilla terasa sebak mengenang nasibnya. Namun siapa yang harus dipersalahkan? Tepuk sebelah tangan takkan berbunyi…..
Sedap nye
Fantasi Sedap-Sedap Ep17
-NASIB SI ADIK TIRI-
Aku ada ada tiri sorang yang bernama tasha. Tasha baru form 3 tapi badan dia mengalahkan mak orang.
Aku hari2 tengok dia dekat rumah pun boleh bernafsu apatah lagi orang luar.
Aku kerap perasan jiran aku wak indon ni selalu intai2 bila adik aku jemur baju, dia ada habit pakai kain sahaja walaupu rumah tertutup still boleh nampak dari luar.
Wak ni umur dia 65 tahun duduk sorang, dia ketua kontraktor tu taman aku. Satu hari petang tu hujan lebat, aku balik dari kerja dan perasan ada selipar yang aku tidak kenal dekat pintu.
Aku masuk dalam rumah dan lalu di depan bilik adik aku, aku terdengar seperti sedang mengerang. Aku pun curious nak tahu apa yang berlaku. aku intai dari tingkap bilik adik aku dan alangkah terkejut nya bila nampak wak indon tu tengah doggy tasha.
Diaorang tidak sedar akan kepulangan ku kerana hujan lebat. Aku lihat tasha merengek kesedapan ditutuh batang kekar wak.
Secara tak sedar aku stim dan melancap melihat tasha kena fuck.
Tasha dengan penuh nafsu bj batang wak dan deepthroat hingga dia muntah.Wak tarik rambut tasha dan paksa dia hisap dalam2
Wak baringkan tasha dan gosok puki tasha sehingga tasha minta wak jangan stop sebb sedap.
Lencun pepek tasha yang tembam tu dikerja kan wak. Wak jilat sedut membuatkan tasha mengeliat tak tahan.
Aku dengar wak cakap “ kamu suka kontol wak” “kalau wak mau wak mesti dapt”
Adik aku “ kontol wak enak” “saya mau kontol wak”
Adik aku seperti kerasukan nafsu dan jadi hamba seks wak.
Tasha tolak wak baring dan ride wak, bunyi pepek basah kedengaran dengan suara desahan kesedapan.
Wak pegang pinggang tasha dan henjut kuat2 sampai tasha cakap “ saya mau keluar wak ahhhhhh”
Basah badan wak bila tasha cum, wak baringkan tasha dan henjut tasha.
Kaki tasha dikepit dan ditolak ke atas ketika wak henjut tasha.
Putih mata tasha bila wak buat mcm tu sampaikan tasha tolak2 tangan wak.
Wak kata “ aku mau keluarin dimulut mu bisa ngak”
Tasha jelir lidah and angguk.
Wak henjut kuat2 sampai tasha lembik lalu disumbat kontol dalam mulut tasha.
Terkemut kemut mulut tasha terima pancutan air mani wak.
Wak hisap tetek tasha dan cium mulut tasha sebelum dia keluar dari bilik tinggalkan tasha dalam keadaan lemah.
Kerap rupanya tasha main dengan wak kadang2 dekat rumah wak sampaikan wak pncut dalam tasha. Tasha jadi cum slut wak indon.
-THE END-
Fantasi Sedap-Sedap Ep24
-ELLE KAWAN ALISA- PART 2
Agak lama elle bj aku sebb dia bj dengan santai. kali ni aku rasa nak santai2 dan slow2 saje.
Aku suruh elle bangun dan baring dekat tilam secara menyiring.
Aku usap manja pepek elle yang putih mulus tanpa bulu. kurang tembam dibandingkan dengan alisa.
Aku gosok pepek elle sampai berlecak, elle mengeliat ngeliat badan bila aku kocak pepek dia.
Elle - ahhhhh ermmmm aeghhhh arghhhh woahhhh
Bila pepek elle dah basah lencun aku jolok pepek elle dengan slow2 dalam keadaan elle baring menyiring.
Aku tekan paha elle sambil tolak slow2 batang masuk, agak senang sebb licin cuma ketat. elle tak senang duduk apabila batang aku menerobos masuk pepek comel dia.
Elle- Auchhhhh ermmmmm ishhhhhhh ermmmmm slow2 bang.
Aku- Abng fuck slow2 je tau bagi elle biasakan.
Elle - emphhhhh ahwhhhh baik bang ermmmm
Aku dayung santai2 tapi sampai habis membuat kan elle gigit bibir menahan kenikmatan. Ketika aku dayung elle dia tarik tangan aku dan hisap jari aku.
Aku tekan paha elle dan henjut laju sikit membuatkan aku mendesah sedap.
Aku - ermmmm ahhhh sedapnya pepek elle, rasa ketat dan panas je ermmm uhhhhh
Aku angkat tangan elle dan jilat ketiak elle sambil batang aku keluar masuk pepek dia.
After 10 minit sesi dayungan santai, tetiba badan elle tersentak sentak dan elle teresak esak menahan sedap.
Aku - Elle dah cumming ke tu, sedap tak ?
Elle - ermmphhhh aeghhh nikmat nya bila cum, elle nak lagi boleh ?
Aku angkat buntut elle untuk doggy, aku ludah alur pepek elle sebelum aku masuk kan batang aku, macm biasa slow and santai je.
Masa aku masukan batang aku separuh terasa kepala batang aku langgar dinding dalaman pepek elle dan membuat kan elle mengeliat.
Elle - awhhhhhhh aeghhhh kenapa doggy lagi sedap and pepek elle rasa penuh emmmmppph
Aku teruskan dayungan aku, setiap kali batang aku berlanggar aku akan rasa senak yang sedap lagi2 elle kemut2 pepek dia.
Rasa macam batang aku digenggam erat membuat aku lagi cepat nak cum.
Aku- Sedap nya bila elle kemut pepek, ngilu abng. ermphhh
Elle- Abng suka ye, kalau elle goyangkan buntut elle mcm mana pulak.
Aku rasa geli sampai nak terpancut bila elle goyangkan buntut. Aku stopkan elle agar aku tak pancut awal.
Aku - Abg nak fuck kuat sikit ye.
Aku pegang pinggang elle dan sentak batang aku masuk pepek elle
Elle - Auchhhhh arghhhhhhh padat nya pepek elle ermmm ishhhh
Aku ulang 5/6 kali sentakan itu dan elle cum secara tidak meleleh air mani elle membasahi batang aku.
Elle mengeluh lega dan nikmat dapat cum 2 kali.
Aku - Sekarang giliran abng pulak nak cum, abng henjut laju sikit, elle goyangkan buntut sebb sedap
Dalam masa 5 minit sahaja aku terasa nak cum, elle mintak aku cum dalam, saat2 terakhir sebelum aku cum aku fuck sekuat hati dan lepaakan pancutan air mani yang banyak memenuhi pepek elle.
Aku - argh arghh arghh abng cum arghhh awhhhhhh uhhhhhh penuh la pepek elle.
Elle - Ishhhhh arghhhhhh uhhhhhhh ermmm rasa pnas je dalam pepek dan terasa air mani abng tembak jauh.
Bila aku keluarkan batang aku meleleh keluar air mani aku.
Sejak hari tu aku kerap 3some with alisa and elle bila rumah aku kosong.
Kalini aku mintak elle pakai niqab dan fuck dia.
-THE END-