Dia Menua, Aku Juga
Setiap hari adalah drama jika dengan Mamah. Pagi bisa sangat akur, malamnya kami bisa saling berteriak. Pagi bisa baik-baik saja, malam bisa malas, bahkan sekadar untuk bertanya.
Keadaan, memosisikan Mamah dan anak-anaknya memiliki hubungan yang kadang berdasarkan pada “badan lagi capek atau enggak”, “mood lagi baik atau enggak”. Kadang, ingin pergi, memilih untuk gak peduli sama sekali. Baik dan buruk, hidupku, akan kuurus sendiri.
Namun, di tengah-tengah merasa begitu, di antara kuatnya tekad untuk minggat, ada pengingat yang maha dahsyat: kehidupanku berutang pada darah dan keringat-keringatnya; dia mencintaiku jauh dari sebelum kami bertemu; dia merelakan badannya melemah untuk menguatkanku; dia rela malu untuk menutupi kekuranganku; dia mengalah untuk memenangkanku; dia mengajarkan banyak hal tanpa memintaku membaca banyak buku.
Diingatkan dengan cara-cara itu, aku diam, kembali menelan keinginan untuk segera pergi saja. Ini takkan terulang. Kekerasan hati kami yang saling beradu, adalah bentuk penyia-nyiaan pada waktu. Mamah menua, aku juga.
Setiap kali sendiri, di sebalik sikapku yang terlihat tidak peduli, hanya mengingat suatu saat beliau tiada, seketika mampu meluluhlantakkan hati menjadi serpihan kecil yang berserakan. Badanku beku, hanya air mata yang mencair. Suara memarau, takmampu lagi aku sembunyikan di balik tangan.
Allah, di antara kurangku yang banyak itu, mohon kabulkan segala do'a untuk wanita nomor satuku.
Selamat hari ibu, ibu, mamah, ummi, ammah, emak, mbok, bunda sedunia. Allah melindungimu selalu.














