"Hai," sapamu pada suatu sore. Kubalikkan badanku dan menjumpaimu tersenyum kearahku. Kubalas dengan tipis senyumku dan kembali aku merenungi hamparan cakrawala di sana.
Aku bisa merasakan badanmu berdiri di sebelahku. Aku bahkan tahu pandanganmu juga mengarah ke hal yang sama denganku tanpa aku harus mengalihkan pandang. Hanya aku tidak bisa menebak arah pikiranmu dan alasan kamu berdiri di sebelahku. Aku tahu, kamu ke sini bukan untuk membicarakan tugas kuliah, politik atau cuaca.
Lagi-lagi tanpa mengalihkan pandang, aku tahu kamu sedang menatapku. Aku masih dalam posisiku. Dalam kejengahan, ada seruan kencang entah dari mana menyusup hanya di sanubariku: ini saatnya!
"Aku boleh bertanya?" pertanyaan permisif yang sudah tahunan menggantung dalam temggorok berhasil memecah sunyi.
"Kamu tidak akan percaya jika kubilang tidak ada apa-apa, bukan?" balasnya.
Aku tidak membalas. Bukan karena tak tahu mau bilang apa. Diamku adalah jawab atas pertanyaannya. Respon yang sanggup memancingnya langsung menyampaikan apa-apa yang seharusnya.
Tapi dia justru tetap diam. Kepada hamparan cakrawala kita sama-sama melabuhkan pikir dan kata.
Ada apa... Lagipula juga aku yang bodoh. Di antara sejuta tanya yang seharusnya mengekor 'aku boleh bertanya', sejuta tanya yang pun sudah tahunan menumpuk, sejuta tanya yang banyak dimulai dengan kata 'kenapa', aku malah memilih tanya 'ada apa'. Oh iya itu lihat ada kawanan burung terbang kembali ke sarang. Oh udara di Jogja sedang mendingin ya. Oh hari ini ada diskon martabak 50%. Kamu bisa saja menjawab itu dan kamu tidak salah menjawab. Tapi ya tidak mungkin juga. Bagaimana bisa rentetan kalimat trivial semacam itu keluar dari bibirmu yang selama ini asyik membungkam tiap ada aku? Pertanyaan balasanmu saja seharusnya mengejutkanku.
"Tanyakanlah semuanya yang ingin kamu dengar jawabnya. Akan aku jawab tanpa kecuali, apapun itu," kali ini kamu yang memecah sunyi.
Kuhela napas. Bukankah ini saat yang aku nanti-nantikan? Tidak boleh ada lagi diam-diaman yang penuh curiga. Kalaupun setelah ini kita masih saling diam mendiamkan, tidak akan ada tanda tanya lagi. Maka tugasku sekarang adalah menghimpun semua tanda tanya yang lama terpendam di benak, memilahnya, melemparkannya padamu.
Satu-satu... Mulai dari tanya yang...
Pernyataan darimu. Bukan pertanyaan dariku.