Impian
Kukira impian setiap lelaki sudah disuarakan oleh Hozier,
Menenggak sebotol whiskey
Meminum kopi hitam setiap hari
Memulai tidur jam 3 pagi
Tetapi malam ini aku tersadar, bukan itulah hal-hal yang sebenarnya aku harap.
Jogja hujan lebat malam ini, 15 Mei 2026. Seperti biasa, ritual malam untuk Angkasa, anak kami, kami lakukan sambil sedikit bercanda. Hingga akhirnya anak kami tertidur lelap jam 19.54.
Hujan semakin lebat, dan istri saat itu pergi ke teras untuk double check keamanan rumah. Aku, di kamar berdua saja dengan Angkasa. Saat itulah aku lihat wajah damainya saat ia tertidur di atas kasur lantai yang baru kami belikan.
Lampu tidur kamar kami serasa memberikan tone terbaik untuk seisi ruangan. Wajah Angkasa sangat damai, tenang, kadang rewel, kadang tersenyum juga. Suara hujan terus melebat, menabrak atap rumah kecil kami, dan memberikan melodi yang menenangkan.
Saat itu aku merasa hatiku sangatlah penuh. "Damai banget ya". Hujan, dalam rumah kecil kami, dan melihat wajah tidur anak dan istri.
Saat istri kembali, ia langsung tertidur lelap juga. Mungkin kelelahan setelah berolahraga (menyusui itu membakar kalori).
Aku sendiri tidak bisa tidur. Mungkin efek kopi, mungkin efek kedinginan, atau mungkin karena otakku sedang terlalu banyak dopamin dan oksitosin.
Ternyata, hal seperti inilah yang ku butuhkan. Tidak pernah ku impikan, tetapi kubutuhkan. Ternyata bukan whiskey yang menenangkan, tetapi mood baik istrey juga tidak kalah mujarabnya.
Ternyata kopiku tidak harus hitam selalu. Manisnya susu bisa membantu ketika dunia sedang tak bertuju.
Ternyata, aku tidak perlu tidur jam 3 pagi untuk merasakan puas menjalani hari. Tiga jam terakhir, di kala istri dan anak tidur, dengan suara hujan angin, dan lampu tidur yang hangat, sudah cukup membuat hatiku penuh. Tepat jam 12 malam, aku bisa menutup mata dan tertidur lelap hingga pagi tiba.












