Kisahku di Tengah Hujan
Aku lupa kapan tepatnya kejadian ini berlangsung, tapi jujur saja hal ini masih mengusikku sampai sekarang. Entahlah. Mungkin tidak akan ku lupakan untuk waktu yang lama. Bukan artinya aku seorang yang senang menyimpan rasa sakit, tapi aku memang butuh ini semua untuk belajar. Belajar untuk kehidupanku selanjutnya, agar aku semakin kuat, agar tidak lagi terulang hal yang sama.
Malam itu hujan turun dengan derasnya, aku masih berkutat dengan teman-temanku membicarakan konsep beserta desain ini-itu. Perutku sakit bukan main menahan lapar karena dompetku hilang sore itu, ingin rasanya meminjam uang temanku, tapi aku tahu uang mereka pun habis untuk merealisasikan desainnya masing-masing. Dasar nasib mahasiswa. Sekitar jam 9 malam dan ide-de aneh tak kunjung muncul, kami memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu. Aku melanjutkan agendaku menghadiri forum unit budaya (satu-satunya unitku yang masih bertahan). Aku menelepon Mama, mengabari kalau aku akan pulang larut dan dompetku hilang, berharap orang tuaku sudi menjemputku karena hari itu aku tidak membawa mobil. Mama meng-iyakan keinginanku.
Jam malam di ITB hanya berlangsung sampai jam 11, lebih dari itu satpam-satpam akan mulai mengusir mahasiswa pulang. Jam 10 malam, aku menelepon Mama untuk ke dua kalinya, mengabari kalau sebentar lagi forum akan berakhir. Tak lama kemudian Papa yang meneleponku, “bagaimana kalau kamu pakai Gojek?”, tanyanya. Aku jawab, “di sini hujan, Pa”. “Oh ya, kalau begitu tunggu sebentar” balas Papa. Aku menunggu Papa dan Mama meneleponku kembali. Forum berakhir dan mereka tak kunjung menelepon. Terpaksa aku mengikuti kakak-kakak unit yang juga menunggu untuk dijemput. Hampir jam 11 malam, ku telepon lagi Papa, “sudah sampai mana?”. Papa menjawab “masih di Lembang, sebentar lagi jalan”. Ku tunggu lagi Papa dan Mama, sampai jam 11 malam datang mereka masih belum mengabariku kalau mereka sudah jalan atau mungkin sampai. Entah kakak-kakak unitku iba atau bagaimana melihatku menunggu, seseorang di antara mereka menawariku tumpangan motor dan jaket tebal. Aku mengangguk mengiyakan.
Aku bersyukur di tengah kesulitanku, Tuhan selalu mempertemukanku dengan orang-orang baik. Aku sampai di rumah dengan selamat, bahkan tanpa merasa kedinginan karena angin malam. Papa dan Mama ternyata belum juga sampai di rumah. Aku mengirim pesan singkat pada Mama, “Mama di mana?” tanyaku. Mama menjawab dengan cepat “Masih di Lembang”. Aku menghela nafas. Memberanikan diri mengutarakan apa yang ku rasakan. Aku bilang pada Mama kalau aku ingin bercerita tentang betapa sedihnya aku hari itu dan tentang keinginanku selama ini.
Ingin rasanya aku diperjuangkan di tengah sibuknya mereka. Ingin aku mendengar mereka sekali saja mengatakan “anak saya perempuan, dia masih di kampus tengah malam begini, saya harus segera jemput”. Pasti senang sekali rasanya diutamakan dalam hidup seseorang yang kamu sayangi. Jujur, aku pribadi tidak pernah sama sekali mempermasalahkan naik kendaraan umum, tapi ini berbeda, ini sudah tengah malam dan turun hujan. Mama selalu bilang “semua kembali ke keluarga”, tapi aku tersadar, ketika aku ‘kembali’ tidak pernah hadir sosok dari keluarga itu. Bagaimana kalau aku bertemu orang jahat? Adakah satu saja di antara mereka yang akan digerogoti rasa bersalah dan berdosa?
Aku berpikir, saat Mama dan Papa sudah memperlakukanku seperti itu, bagaimana dengan orang lain yang bukan siapa-siapa akan memperlakukanku? Peduli apa orang lain itu terhadapaku? Di akhir pembicaraan Mama bilang “jangan salahkan Mama, kamu harus maklum”. Saat itu rasa sedihku amat membuncah. Andai mereka juga masih mau memaklumi kalau aku adalah anak perempuannya yang harus dijaga, aku tidak akan memikirkan semua ini.









