Tips Supaya Kamu Bisa Diterima di UGM
Wah, judulnya bikin ngiler ya, hahaha….
Ya siapa sih yang nggak mau diterima di UGM. UGM itu fasilitasnya plus-plus tapi biaya kuliah masih rada terjangkau. Dosennya juga benar-benar ahli. Masuk UGM juga bisa meningkatkan citra baik diri sendiri dan keluarga terutama ORANG TUAMU (sedikit share, waktu aku diterima di UGM ibuku memotret namaku yang ada di koran dan di share di FB, sedangkan waktu aku diterima di *tuuut* malah nggak ada status apa-apa).
Anyway, kiat-kiat yang aku jelaskan di sini muncul berdasarkan pengalamanku sendiri ya, jadi boleh percaya atau tidak. Sedikit saran: lebih baik kalian cari kiat-kiat yang ‘berbasis pengalaman’ kayak tulisanku ini atau pengalaman dari temen-temen netizen lain. Hindari pake dari artikel dari suatu media atau perusahaan tertentu tanpa contoh pengalaman, karena…. bagaimanapun, pengalaman adalah guru yang terbaik.
Langsung aja, ini dia, cekidot:
1. Nggak usah ngarep banget bisa diterima di UGM. Anggap aja ini undian atau lotre.
Kok gini? Eh, aku serius! Waktu aku daftar SBMPTN, aku cuma berpikir ‘enaknya kuliah sastra di mana ya?’ dan ‘wah coba UGM ah’. Jadi pakai mental coba-coba gitu. Kenapa aku bisa bilang begini? Karena banyak teman-temanku yang sudah ambil kursus ini-itu supaya bisa masuk UGM tapi ternyata malah gagal; sedangkan aku yang baru buka buku soal SBMPTN H-2 jam dan tidak ambil kursus apa-apa (sampai orang tua bingung aku niat ikut tes apa nggak) malah keterima. Selain itu, aku juga dengar dari teman-teman dan seniorku kalau mereka ikut tes masuk UGM dengan mental yang ‘coba-coba’, dan eh mereka malah keterima! Kalau kalian diterima ya syukur Alhamdulillah, tapi kalau tidak keterima ya ikhlaskan saja, bukan berarti kiamat sudah dekat. Masih banyak kok orang sukses tanpa masuk UGM.
2. Pilihlah jurusan yang tidak menarik, aneh, ajaib, dahsyat, sepi peminat, dll.; tapi kamu SUKA.
Ini penting. Ada beberapa orang yang pilih jurusan tertentu karena terpaksa, seperti dorongan orang tua atau guru atau siapa dll. Ada beberapa orang yang pilih jurusan X karena prospek kerjanya benar-benar menjanjikan dan bisa dibayar puluhan juta kalo kerja dst dst. Nah, sebaiknya kalian buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Jurusan tidak benar-benar menentukan kesuksesan kalian. Waktu aku ospek, salah satu pemateri memutarkan video kewirausahaan, dan di video itu seorang mahasiswa Geografi justru malah berwirausaha buka usaha digital printing (which is… nggak ada kaitannya!).
Kalau kalian banyak memilih jurusan populer seperti Kedokteran dkk justru kesempatan diterimanya amat sangat kecil dan sulit. Sebaliknya, kalau kalian pilih jurusan yang ‘apaan sih’ seperti sastra, filsafat, dll. setidaknya kesempatan diterima jadi sedikit lebih besar. Passing grade juga tidak benar-benar membantu, malah pihak UGM sendiri bilang kalau sebaiknya passing grade semacam itu tidak usah benar-benar dipercaya. Lah kalau pilih sastra besok kerjanya apa? Jadi guru atau dosen? Jangan salah, ada lulusan Sastra Nusantara UGM yang bekerja di Google untuk mengembangkan Google Now dalam bahasa Jawa. Lah kalo jurusan favoritku ternyata jurusan yang ramai peminat, gimana? Ya sudah, berarti fokuskan saja dalam tesmu besok. Yang penting kamu SUKA, gitu aja! Akan kelihatan kok mana calon mahasiswa yang benar-benar menyukai jurusan tsb atau yang karena terpaksa.
3. Saat mengerjakan tes, lebih baik kamu fokus pada 1-2 mata pelajaran yang paling kamu sukai daripada menguasai semuanya.
Waktu mengerjakan SBMPTN, aku lebih banyak mengerjakan soal-soal Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di TKD dan soal-soal Sejarah dan Sosiologi di soal-soal Soshum. Sisanya ya dikerjakan dengan pemahaman sendiri, cap-cip-cup, atau asal hitamkan saja. Jadi, pilih soal-soal dari mata pelajaran tertentu yang paling kamu kuasai, pahami, dan sukai. Jangan semuanya diambil pusing, karena soal-soal SBMPTN itu memang tidak dirancang untuk bisa dikerjakan semua, seperti dalam UN! Konon katanya, soal SBMPTN itu dibuat supaya pihak penguji benar-benar tahu bidang mana yang sangat kamu kuasai. Memang lebih baik soal SBMPTN itu diisi sebanyak mungkin, tapi setidaknya kalian fokuskan pada mapel yang memang kalian kuasai (atau paling tidak, yang kalian suka, deh!), dan jangan TERLALU banyak mengosongkan jawaban.
4. Jika kecerdasan kalian memang ‘rata-rata’ atau ‘di bawah rata-rata’, fokuskan persiapan belajar untuk ujian masuk saja. Nilai rapor dan UN tidak 100% bisa menjamin kamu diterima.
Dalam pertemuan orang tua di hari pertama, bapakku bilang kalau tolok ukur utama pihak UGM untuk menerima mahasiswa baru adalah nilai tes. Nilai rapor hanya dipakai untuk ‘mengkatrol’ sedikit nilaimu. Bahkan bapakku bilang: di prodi yang aku pilih, jika murni memakai nilai tes, sebenarnya nggak ada yang keterima. Tapi kemudian setelah nilai rapor dijadikan pertimbangan, baru ada beberapa yang bisa diterima. Jadi, jika kalian benar-benar sangat ingin masuk UGM dengan kecerdasan yang biasa saja, sebaiknya persiapkan diri untuk ujian masuknya, kalau bisa dari awal masuk SMA. Kenali dengan baik gimana cara mengerjakan soal-soalnya dengan benar. Mungkin pendapat ini agak garis keras: kalian tidak usah terlalu fokus pada UN selama UN tidak menjadi kriteria kelulusan karena keberhasilan UN lebih berguna untuk meningkatkan gengsi sekolahmu. Fokuslah pada SBMPTN atau ujian mandirinya, karena semua pejuang SBMPTN mengatakan kalau UN itu tidak ada apa-apanya dengan SBMPTN (ya iyalah, soal Bahasa Inggris aja udah level TOEFL daripada soal UN!). Dan sekali lagi, fokuslah pada minat jurusan dan mapel yang kalian SUKAI!
Sekian kiat-kiat abal-abal buatanku supaya kamu bisa masuk UGM. Sekali lagi, masuk UGM tidak akan menjamin kamu sukses karena itu semua kembali ke usahamu mencari ilmu dan koneksi selama kuliah. Paham?