Desa Cikawari (Part 1)
Setelah sekian lama ‘tertinggal’ untuk mendaftar jadi anggota Satoe Indonesia (SI) dan sekian lama galau mengajukan diri menjadi volunteer akhirnya sekitar akhir Januari aku berani bilang Kak Faizal (Ketua Pengmas KMM SBM ITB sekaligus penyeludup aku ke SI) kalau aku rela dan in shaa Allah commit di SI. Bulan November kemarin aku daftar magang di Pengmas KMM, alhamdulillah Januari kemarin baru pengumuman penerimaan, wiiih senangnya bukan main karena yang diterima hanya dua orang dari sekian banyak yang daftar. Aku akuin wawancaraku lebih ke curhat daripada jawab pertanyaan Kak Faizal, curhat kalau aku telat daftar SI, curhat kenapa mau magang di Pengmas dan lain sebagainya. Awalnya gugup tapi karena pertanyaan yang diajuin masih tentang diriku jadi aku masih bisa jawab.
Waktu sesi ke dua ketemu Kak Faizal untuk ngomongin program kerjaku di Pengmas KMM, Aku Si Tukang Curhat cerita lagi tentang keinginanku masuk SI hahahaha. Kali ini Kak Faizal serius langsung kasih contact Kak Fuar (anggota SI 2016, mungkin bagian penerimaan, aku juga gak ngerti) intinya Kak Faizal bilang kalau aku serius ya contact Kak Fuar. Aku mikirin kalimat untuk chat Kak Fuar semaleman, takut ada yang salah ngomong, atau alasanku gak make sense. Aku kirimlah chat sekitar jam empat sore, Kak Fuar balas agak malam dan bilang kalau dia mau ketemu. Sebenarnya sih ya aku gak ‘nyeludup’ banget di SI karena masih ‘lewat’ Kak Fuar, cuma yang bikin aku ngerasa nyeludup tuh karena aku bisa langsung terjun bantu orang-orang desa di saat anggota lain di angkatanku harus ngelewatin tahap ini-itu dulu, tapi ya tetap saja statusku magang atau volunteer, bukan anggota (ngarep dilantik, LOL).
6 Februari 2016, aku ke desa sama Kak Faizal dan keempat kakak lainnya dari angkatan 2016, Randy (penyeludup juga), Dary, sama Runi. Satu kata buat kegiatan kaya gini; SERU BANGET! Waktu Kak Faizal bagi-bagi tim untuk wawancara, aku langsung ngajuin diri untuk ke SD setempat (padahal sadar nanya-nanya anak kecil lebih susah dari orang dewasa). Aku pergi ke SD Cikawari sama Randy dan Kak Santos. Aku Si Pemalu di Awal Doang cuma manut-manut aja pas Kak Santos udah mulai nanya tentang sistem pendidikan ke guru kelas 1 SD di sana, pas sudah mulai nyambung sedikit, Kak Santos baru membiarkan aku berdua sama Ibu Guru. Agak lama ngobrol, barulah aku masuk ke kelas, tengok-tengok anak-anak belajar SBK. Aaaa lucu-lucu, ada yang gak bisa nulis jadi murung, ada yang teriak-teriak terus, ada yang pinter kalem, ada yang centil, macem-macem! Randy ‘jatuh cinta’ sama anak yang duduk paling depan, pipinya mashaa Allah mempesona minta digigit, gambar sama tulisannya rapi, teman-temannya ngerumuni cuma buat nyontek malah ada yang sampai minta digambari hahaha. Namanya Saski. Aku tanya, “di rumah belajar sama siapa?” dia jawab “sendiri” sambil senyum manisss sekali. Sudah puas main-main sama anak kelas 1, barulah aku sama Randy wawancara anak kelas 6 SD nya tentang minat untuk melanjutkan ke tahap SMP.
Sedih ya sedih, lihat masih ada kondisi seperti ini di Bandung loh. Pendidikan masih disepelekan masyarakat dan aku rasa kurang adanya perhatian pemerintah di sini. Padahal dengan segala potensinya anak-anak desa juga pasti bisa dan mampu berkembang dilihat dari hal-hal kecil seperti perjuangan mereka ke sekolah (rata-rata jalan kaki lumayan jauh), dari semangat juga usaha mereka belajar. Aduh, rasanya ingin ku peluk satu-satu, tapi apa daya pas pamit pulang dan anak-anak cium tanganku, aku cuma bisa usap kepala-kepalanya. Hiii, baru kenal sudah sayang…..
Sepulang dari Cikawari, main-main dulu ke air terjun. Karena aku kurang suka difoto jadi aku duduk-duduk saja di batu sambil fotoin Runi dengan gaya aneh-anehnya. Terakhir foto bersama dan melanjutkan perjalanan ke Kota Bandung.










