Kita semua lahir dari keluarga yang berbeda-beda. Dengan pola asuh yang dan masa kecil yang berbeda. Tapi pada dasarnya kita mengalami hal yang sama dalam pertumbuhannya. Saat-saat kita masih disusui, belajar makan, merangkak, belajar berjalan, dan seterusnya. Begitu juga beberapa pengalaman yang sedikit-banyak, kita alami bersama walau diwaktu berbeda.
Pengalaman awal adalah masa anak2 yang dimana-pada saat itu-orang tua adalah sentral dari dunia kita. Pengalaman diabaikan, ditinggalkan, ditidak-pedulikan, diacuhkan, hingga dikasari (entah sekedar penonton-atau jadi korban) (secara verbal-maupun fisik). Hingga pengalaman positif seperti dihargai, dipeluk, dicium, dsb.
Yang kemudian, secara tidak sadar, membangun persepsi kita dalam membangun sebuah hubungan terhadap orang lain. Dalam beberapa kasus, beberapa orang yang memiliki pengalaman kurang baik, akan memilih kesendirian&kesepian-paham akan betapa dapat mengecewakannya orang lain. Orang tua yang menjadi sentral dunianya saja bisa memperlakukan, menyakiti diri sebegitu hebatnya, apa lagi orang lain, bukan? Dilanjutkan dengan keinginan untuk marah, memberontak.
Untuk sebagian orang lainnya, akan memilih untuk mengejar-bahkan mengemis-validasi orang lain. Melakukan apa saja, apa-saja, untuk menutupi rasa ketidakamanannya, untuk mendapatkan cinta. Karena merasa kurang-atau tidak mendapatkan hal tersebut di tempat yang dipanggilnya rumah. Beruntung bagi yang memiliki masa kecil yang manis, hubungan dengan orang lain-bahkan perspektifnya akan hidup cenderung sehat.
Dilanjutkan dengan masa-masa terjun langsung ke masyarakat. Entah di sekolah ataupun ruang bebas. Entah sebagai pelaku-korban-atau sekedar pengamat, kita belajar hal-hal apa saja yang diterima atau ditolak publik. Kita belajar apa-apa saja yang menjadi batasan-batasan, begitu juga hukum sebab-akibat, yang berlaku di ruang publik.
Yang kemudian, sedikit demi-sedikit, membangun sistem pertahanan, bahwa kita harus melakukan ini dan itu agar kita terus dicintai-diterima publik dan tidak diperlakukan dgn tidak-menyenangkan. Yang juga mendorong apa yang menjadi naluri alami manusia, seperti emosi, ke lapisan terdalam. Sehingga ada rasa; malu, bersalah, takut dihakimi, sebegitu hebatnya, ketika melakukan hal yang ditolak, diluar kenormalan, oleh persepsi publik tersebut. Perasaan yang mengerdilkan diri, seolah menurunkan derajat diri.
Pada akhirnya, apa-apa yang kita lakukan&hindari adalah berdasarkan apa yang telah kita pelajari. Dimasa anak2, maupun setelah terjun ke masyarakat. Karena kita paham bahwa manusia adalah mahluk sosial. Dan satu-satunya cara adalah dengan diterima publik. Dengan menjadi sama. Dengan mengikuti aturan-aturan yang berlaku.
Namun, apakah ada kebahagiaan dan kedamaian sejati apabila hidup berdasarkan ketakutan dan ketidakamanan terus menerus?
Ketakutan akan kesendirian, ketakutan akan penolakan, ketakutan akan cibiran, ketakutan akan terbuang, ketakutan akan tersakiti, hingga ketakutan akan bahagia, ketakutan akan bermimpi, ketakutan akan dicintai.
Bibit ketakutan yang kemudian bertransformasi menjadi Ego, yang membuat manusia melakukan apa-apa saja demi kelangsungan-kebaikannya-keamanannya di hari esok.
Dan kemudian memaksa manusia untuk melakukan apapun agar esok mampu membanggakan-menyombongkan-menempatkan diri diatas manusia lainnya. Untuk agar dilihat, untuk agar dihargai, untuk agar dicintai, untuk agar aman, untuk agar-sekedar-tidak diinjak lagi.
Bibit ketakutan yang menjadi Ego. Yang dengan cerdiknya memanipulasi diri, berbisik Ego-mu adalah keputusan yang terbaik. Ego yang berusaha membohongi-membodohi batin. Yang kemudian menumbuhkan bibit-bibit lainnya. Bibit iri hati, bibit kepengecutan, bibit egois, bibit kebodohan, bibit kebebalan, bibit kesombongan. Bibit-bibit yang menolak untuk melihat lebih luas, mendengarkan lebih seksama, merasakan-mengolah lebih dalam.
Kita lupa, bahwa keterbatasan Ego-Ego terbatas dari apa yang pernah kita alami. Bahwa sebenarnya dunia tidak sekadar apa yang telah kita pahami. Bahwa beban yang mengait kaki-menolak/membatasi kita untuk melangkah maju-hanyalah ilusi. Bahwa apa-apa saja yang telah dihadirkan dalam hidup kita adalah rancangan yang maha mengetahui, maha pengasih, lagi maha penyayang.
Kita lupa, bahwa ilusi tetaplah menjadi ilusi. Begitu juga perspektif dan persepsi. Ketiganya bukan menjadi suatu kebenaran. Dan ilusi, mengira-ngira, adalah pilar yang rapuh. Ilusi, adalah kaca memburamkan kebenaran. Siapa tau apa yang terjadi esok hari? Siapa yang tau apa yang dipikirkan oleh orang-orang itu? Seberapa penting ocehan-celotehan orang-orang itu? Terutama, siapa yang peduli?
Mengapa perspektif orang yang tidak merdeka-yang dipenuhi penyakit(hati)-dikendalikan Ego-HARUS menjadi suatu kebenaran yang mendefinisikan aku?
Apa mereka mengetahui alasan atas apa yang aku lakukan? Setelah mengetahui, apa mereka akan mencoba memahami? Kalau pun belum juga, bukankah mereka sebenarnya hanya sedang mencari-cari celah keburukan aku, demi “menaikkan”-”membuat” diri mereka “merasa” lebih “baik”? lebih “sukses”? lebih “suci”? Bukankah ada setitik celah, kesempatan untuk sombong, disaat berambisi memposisikan diri lebih tinggi daripada orang lain? Kesombongan untuk menutupi insecurity-ketidakamanan hati mereka yang terdalam?
Aku tidak tau bagaimana kalau yang lain, tapi aku sendiri tidak rela. Kalau kata-kata jahat orang lain-publik-bahkan Ego diri sendiri-yang menghakimi, menjatuhkan, menyulitkan langkah diri. Kepuasan-kemenangan bagi mereka jika kita mendengar dan terjatuh. Kekalahan bagi mereka jika kita menolak mendengar ocehan itu. Karena sebenarnya, siapa yang paling tahu&berhak memutuskan pilihan hidup kita sendiri?
Dewasanya, kita tahu. Bahwa kitalah yang telah mengalami lika-liku, pahit-manisnya hidup kita sendiri. Kitalah yang paling memahami hidup kita. Dan harusnya kita pula yang paling memahami diri. Dan bahwasanya, kita tahu. Kalau kita selalu dicintai. At least, walau dibenci dunia, kita pasti selalu dicintai oleh yang maha penyayang.
Dewasanya, kita tahu. Ketidakmampuan, ketidakberdayaan kita saat kecil adalah nyata adanya. Namun kini kita bisa memilih. Untuk memahami Ego, memahami amarah diri. Mempertanyakan gejolak emosi yang ada, apakah memang pantas untuk marah-atau ternyata Ego yang meraung butuh perlindungan?
Dewasanya, kita tahu. Kita lah yang menjadi pengambil keputusan terbesar dalam hidup diri sendiri. Bukan ocehan, celotehan publik. Bukan juga keinginan-Ego orang tua. Menghormati bukan berarti memberi kekuatan untuk mengatur hidup diri. Intuisi seorang ibu nyata adanya saat melihat jauh masa depan buah hatinya. Berbeda, jika ternyata hanya berdasarkan Ego, mengekang, memaksa, menyakiti, merusak kebebasan, harga diri, bahkan jiwa si anak.
Dewasanya, kita tahu. Tanggung jawab hidup diri, ada di diri kita sendiri. Pilihan untuk menyerah pada Ego-atau menguasai Ego. Pilihan untuk mencoba memahami kebenaran-atau menutup mata darinya. Pilihan untuk menyerah-atau bangkit. Pilihan untuk menghormati diri-atau menginjak diri sendiri. Pilihan untuk memilih jalan yang benar-atau jalan yang mudah. Pilihan berdasarkan takut-atau cinta.... Dan jangan lupa, di akhir, kita yang akan dimintai pertanggung jawabannya.