MEMAKNAI KEBENARAN
Let’s tell serious things, well pastinya setiap ilmu pengetahuan yang lu pelajari merujuk pada judgement benar dan salah, kalo lu tau, hal yang mendasari semua ilmu adalah filsafat. intinya filsafat menuju pada pencarian sebuah kebenaran. Filsafat melahirkan sebuah ideologi, dan ideologi menjadi dasar manusia menyikapi sesutu #ciee ilee. Ngomongin filsafat nih nampaknya fisafat yang menjadi banyak pemahaman manusia kekinian itu bermuara pada dua polar yaitu filsafat islam dan filsafat barat. Mungkin hal ini didasari ama pergolakan politik global yang terjadi gak jauh berbicara tentang islamisme dan anti-islam (islam phobia), walau kadang mereka bilang perang yang terjadi di Negara-negara timur tengah yang sampe sekarang gak selesai itu masalah tambang minyak. Â
Oke gak usah terlalu jauh ngomongin hal itu, kita kembali lagi ke pembahasan ini. Dualisme Filsafat islam dan barat enggak cuman berbeda pada sumber culture yang melahirkan terminologi itu, tapi lebih kepada sesuatu yang lebih prinsip. Filsafat barat punya prinsip kebebasan individu yang tak terbatas dan relatifisme, filsafat islam punya prinsip katauhidan jadi semua aspek kehidupan manusia dan hakikat alam semesta itu mengarah pada nilai ketauhidan, kalo lu gak ngerti apa itu tauhid intinya tauhid itu adalah mengesakan tuhan.
Then apa yang jadi konsekuensi dari dualisme pemahaman filsafat ini?..,, filsafat barat melahirkan paham liberalisme (kebebasan) dan relatifisme paham ini sudah menjadi ruh dalam setiap produk pemikiran yang bersumber dari barat contohnya ekonomi kapitalistik yang menjungjung tinggi kebebasan individu atau korporasi swasta untuk menguasai sektor-sektor usaha dari yang sangat vital sampai yang gak terlalu vital, lahir dari pemikiran adam smith melalui pemikiranya, mekanisme tangan tuhan dalam memerankan perekonomian. Gak cuman itu sob produk pemikiran dalam pemikiran politik melahirkan apa yang disebut sebagai demokrasi liberal. Filsafat ini dilatarbelakangi oleh sejarah kegelapan bangsa romawi (aufklarung), saat itu guys gereja punya dominasi kuat dalam pemerintahan, yang mana kebenaran tertinggi adalah yang termaktub dalam injil dan paus sebagai wakil tuhan yang punya otoritas untuk nentuin mana yang benar dan mana yang salah, maka buat nguatin pengaruh gereja, mereka ngebuat yang namanya inquisitor yang fungsinya buat ngelibas orang-orang yang bertentangan dengan gereja. Salah satu korbanya adalah galileo galilei, berselang beberapa waktu dominasi gereja mulai bergeser hal ini dikarenakan beberapa teks bible masih kontrovelsial. Selain itu juga guys, lahirnya beberapa sekte Kristen yang saling mengkafirkan satu sama lain melatar belakangi kelahiran filsafat barat. Kalo kita melihat sejarah penaklukan kota yerusalem oleh pasukan salibis katolik ternyata orang-orang yang dibinasakan di kota itu bukan hanya orang islam dan yahudi tapi juga orang Kristen ortodok. Berangkat dari trauma sejarah ini orang-orang barat belakangan mulai meragukan kebenaran bible dan mulai meninggalkan bible sebagai rujukan ketatanegaraan dan aspek kehidupan lainnya. Mereka mulai memahami Kristen sebatas kepercayaan yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya,oleh karenanya lahirlah apa yang disebut dengan zaman kebangkita (renaisans) yaitu zaman dimana pijakan beragama dalam setiap aspek kehidupan mulai ditinggalkan atau zaman kebebasan. Dari situ guys mulai muncul produk pemikiran yang mengesampingkan agama, Bahkan agama dipahami sebagai sebuah candu. Saat ini kalo kita liat beberapa orang barat saat ini lebih memilih menjadi atheis. Lantas guys liberalisme yang muncul itu mulai melahirkan apa yang disebut dengan paham relatifisme, di pemahaman relatifisme ini lu gak bisa mengklaim diri lu paling bener karena semua kebenaran itu relatif, dan agama dipahami bukan sebagai sebuah kebenaran, tapi  agama cuman dipahami sebagai dogma. Jadi percuma lu berdebat tentang mana yang benar karena mereka meyakini pada dasarnya manusia itu tidak mengetahui hakikat kebenaran.
Nah lantas bagaimana dengan filsafat islam guys, sebenarnya filsafat itu lahir dari pemikiran filosof yunani aristoteles, Socrates dkk, islam sendiri maknanya lebih luas dari filsafat, jadi sebenernya filsafat islam itu bentuk internalisasi islam dalam pemikiran filsafat yunani. Islam berperan sebagai filter dari pemikiran filusuf yunani karena ada beberapa prinsip pemikiran filsafat yunani yang bertentangan dengan nilai-nilai islam, tapi tentunya gak semua buah pemikiran filsafat yunani itu salah. Kalo kita menengok sejarah beberapa abad kebelakang, islam lahir sebagai prinsip hidup dan rahmat bagi seluruh alam saat diturunkannya Al-quran pada nabi akhir zaman (nabi Muhammad SAW) dari sinilai dimulainya doktrinasi islam pada masyarakat arab. Islam sendiri itu bukan agama yang baru tapi agama sejak munculnya manusia pertama (nabi Adam AS) hanya saja di era kenabian nabi Muhammad SAW agama ini mulai disempurnakan. Dalam agama ini inti ajaran islam itu adalah al-qur’an dan hadist nabi. Dua pedoman itu menjadi dasar manusia untuk menetapkan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam filsafat islam ini guys berbicara kebenaran itu terbagi pada dua aspek, yaitu aspek kebenaran yang mengarah pada hak dan batil dan aspek kebenaran yang mengarah pada “showab” dan “khotto” #istilah arab pusing gue, oke deh sederhananya gini, kalo berbicara masalah hak dan batil, sesuatu yang masuk dalam tataran hak itu berarti benar tapi tingkat keabsahan kebenaran itu beragam tapi kalo udah masuk ke tataran batil berarti itu salah, sesat, dan gak bisa dijadikan rujukan. Di sisi lain kalo berbicara masalah “showab” dan “khotto” keduanya masuk dalam tataran hak. tadi ane jelasin kalo hak itu keabsahan kebenarannya itu beragam, nah tingkat kebenaran dalam tataran hak itu bisa masuk di “showwab” atau “khotto” hanya ALLAH SWT saja yang tau dimana sebenarnya letak keabsahan kebenaran ini. Tapi keduanya bisa dijadikan rujukan karena hakikat kebenarannya sudah tepat. Kalo kita gambarkan, anggap saja sebuah donat, “showwab” itu terletak di lingkarang dalam donat, nah kalo “khotto” itu masuk di lingkarang luarnya. “Khotto” itu secara harfiyah memang artinya salah tapi kesalahan itu masih dalam hal yang masih bisa dotoleransi dan masuk dalam kuadran hak. Ada hadist mutawatir yang menyatakan kalo manusia itu diberikan kebebasan untuk berijtihad artinya menetapkan hukum akan sebuah permasalahan yang enggak di jelaskan secara detail dalam al-qur’an dan hadits. Oleh karenanya disini kita gak bisa menggap kebenaran yang kita yakini itu paling benar karena hanya ALLAH saja yang berhak menentukan keabsahan dari kebenaran ini dan kita tidak tahu karena ini surusan ghaib. Hanya saja guys kalo udah masuk ke taraf batil ya kita malah wajib menentangnya dan meluruskannya. islam sendiri punya takaran untuk menetapkan mana yang termasuk hak dan mana yang termasuk batil, pokoknya hal yang bertentangan dengan rukun islam dan rukun iman itu sudah jelas masuk kedalam batil sedangkan selainnya masih ada khilafiyah (perdebatan). Jd dari sini islam memberikan kebebasan berfikir karena memang ALLAH menciptakan manusia itu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku jelas tentunya pola piker manusia jadi sangat beragam. Hanya saja kebebasan berfikir itu dibatasi yang jelas tidak sampai bertentangan dengan fitrah hidup manusia itu sendiri. Karena tuhan yang menciptakan manusia dan alam seisinya maka tuhan berhak mengatur kehidupan manusia.  Â
oleh angga khoerul umam









