What a day! Just say alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah
hananima
ojovivo

Kaledo Art
taylor price

JBB: An Artblog!
Game of Thrones Daily
Claire Keane
trying on a metaphor
One Nice Bug Per Day

⁂
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Sade Olutola
AnasAbdin

Discoholic 🪩
occasionally subtle

@theartofmadeline
Misplaced Lens Cap

oozey mess

if i look back, i am lost
Lint Roller? I Barely Know Her
KIROKAZE
seen from Netherlands

seen from Brazil

seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Belgium

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
@anggitmahanani
What a day! Just say alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah
hananima
"Wah, saya tidak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas". Sang ayah pun tersenyum lalu berkata, "Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu".
resource : fb Madun Ahmad
Sekeras apapun kita mencoba untuk pindah, kalau Allah bilang untuk tetap stay, maka tetap disinilah kita. Allah Maha tahu apa yang terbaik, barangkali memang harus ada yang dituntaskan atau harus ada yang diselesaikan urusan kita.
Tugas kita hanya berpositif thinking saja kan, Allah yang akan menentukan yang terbaik.
©hananima
Titik balik
"Jangan pernah mengandalkan diri sendiri, meski kita merasa mampu dengan mudah menyelesaikannya. Jika kita merasa lebih mudah menyelesaikan masalah yang kita hadapi, maka Allah jauh lebih mudah membuat masalah kita rumit. "
Tiba-tiba dada menjadi sesak. Betapa sombongnya diri ini. Betapa angkuhnya sampai tidak bisa ingat bahwa Allah pemilik segala. Betapa maksiat selalu dipupuk, sedangkan ibadah hanya sekedar rutinitas menumpuk. Betapa dunia terlalu kita tangisi tapi akhirat dengan santai menjalani meski target-target kadang lost tak tertata rapi.
Wahai, diri ini yang terbuat dari air mani, diri ini bukan apa-apa dan gak ada apa-apanya.
YaAllah, betapa diri ini khilafnya sudah memasuki level-level kritis. Sudah sakit.
Surabaya, 24 Juli 2019
~di sudut ruang, ditemani kerinduan, akan masa-masa tak peduli dengan dunia yang mendekat dan lebih peduli dengan bekal menuju akhirat.
Ada yang sukanya lari, kalau tiba-tiba ada masalah menghampiri. Ada yang berdiam, kalau drama tak kunjung padam. Ada yang tenang, mengerti bahwa semua ini adalah mozaik kehidupan.
@hananima
Santai, semua ada saatnya. Tak perlu lari ataupun diam, mendingan tenang dan selesaikan, insyaAllah membuat lama-lama menjadi nyaman. :') #yekan
Pengen banget berhenti bekerja, tapi gak boleh bilang begitu. Banyak yang membutuhkan bantuan. Kalau merasa terdzolimi, minta ganti sama Allah, bukan sama makhluk.
@hananima | nasihat untuk diri sendiri
sesal
Seringnya, kita akan melihat ke belakang, dan menyadari, bahwa ide-ide kita dahulu, yang benar-benar murni dari diri ini, ternyata bisa menghasilkan jika dulu kita mau melakukannya dan sedikit bersabar untuk menjalaninya. Sekarang tinggallah penyesalan dan ribuan “pengandaian”. Andaikan saja, andaikan saja. Namun harus kita sadari juga, kalau mau lihat kedepan, ternyata masih ada harapan, paling tidak, semoga kondisi yang akan datang tidak memposisikan diri ini menjadi menyesal karena tindakan kita hari ini yang ga mau memulai.
Mulai saja dulu, gagal itu hanya perlu dijalani.
Bukan dunia yang kejam, tapi kamu saja yang terlalu lemah. Dunia tak pernah peduli kamu menjerit kesakitan atau tertawa kegirangan. Satu-satunya yang dunia pedulikan adalah berapa banyak investasi waktu dan usahamu.
Dunia tak pernah peduli pada perasaanmu. Seperti bahagia, sedih, cemas, dan tenangmu. Itulah mengapa jika kamu mencari kebahagiaan hakiki, letakkan dunia hanya pada genggaman tanganmu dan akhirat dalam hatimu.
— Taufik Aulia
Ku ingin menangis sejadi-jadinya.
Sudah lama kan. Sudah sangat lama hidup dalam impian nan berbeda dari kenyataan. Mungkin ini saatnya kamu bangun.
Menyadari bahwa untuk hidup dengan baik, kamu harus berada dalam dimensi yang sama dengan lingkunganmu. Menjadi seseorang yang nyata dan lebih banyak sadar.
Hidup itu di kenyataan, bukan di alam mimpi, yang karenanya kamu jadi memaksakan semua hal. Bersyukurlah. Mungkin dengan itu kamu lama-lama akan bangun.
Bukankah semua yang ada di dunia ini milik Allah?
Bukankah sejak awal kita memang tidak memiliki apa-apa. Sampai Allah menjadikan kita punya. Masalahnya, setelah kita (sebenarnya) hanya punya sedikit. Itu merasa milik kita. Sampe lupa. Bahwa Allahlah yang punya. Minta sama yang punya jika ada suatu hal yang kurang. Jangan minta sama selainNya. Apalagi sama makhluk. Makhluk mah gak punya apa apa.
"Kamu tipe yang mana? Apakah kamu orang yang bisa melakukan suatu perintah tanpa tahu alasan dari perintah itu?"
" Maksudmu perintah atasanmu di kantor? Tentu Pak Boss akan memberikan tujuan yang baik lah. Jadi kamu tinggal percaya. Selama di awal yang harus kamu lakukan sekarang, tidak melanggar hukum, norma dan agama."
"Hmmm. Bukan. Bukan dari atasan sih. Tapi dari Allah"
"Ha? Ya kalau itu, gak perlu lagi kamu tanyakan. Sudah auto taat harusnya. Kamu kenapa? Punya masalah lagi?"
"Sama Allah aku diminta sabar. Tapi aku tidak tahu harus bersabar dari apa. Aku merasa kesepian sekarang. Aku tidak punya siapa-siapa."
"Aku ragu kalau katamu kamu tak tahu harus bersabar di sebelah mana. Kamu bahkan sudah membuat daftar kesedihanmu. Ya disanalah kamu bisa menempatkan kesabaran."
"Hmm."
"Pernah dengar kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidir? Saranku. Bersabarlah seperti apa kata Nabi Khidir kepada Nabi Musa, agar kamu bisa mendapat pelajaran. Oke, bukan sekarang jawabannya. Tapi suatu saat, kamu akan tahu jawabannya."
"Semoga"
"Berhentilah. Ini terlampau pagi. Kali ini kau memulai lagi." Suaraku kesal. Melihat tingkahmu.
"Hmm.." Tak terlalu menghiraukanku.
"Karena apa lagi?" Tanyaku lagi.
"Aku tak mengerti harus bagaimana. Rasanya ingin melonjak kesenangan. Tapi juga ingin menangis dalam. Kau tau. Apa yang kuimpikan selama ini akan menjadi kenyataan. Itu mungkin ya. Ketika kita mulai berpasrah. Allah yang akan memberi celah."
"Ya. Kau benar. Solusi Allah selalu datang dari tempat yang tidak disangka sangka.".
"Kau kehujanan? (Lagi). Kenapa tidak memakai jas hujan?"
"Hmm. Gapapa. "
"Apanya yang gapapa? Basah kuyup begitu."
"Gapapa. Toh hujan datangnya gak setiap hari. Toh ia datang gak pernah berniat menyakiti. Kenapa kita harus mawas diri(?)"
"Hmm. Kamu mencoba menipuku lagi? Kamu mencoba menghibur diri?"
"Ha?" Tanyaku padamu.
"Aku tahu. Kamu mencoba meleburkan diri dalam hujan. Seakan menyatu, padahal hanya satu tujuanmu, ingin menghapus air matamu. Sampai kapan kamu harus menahan diri(?) Kamu harus ikhlaskan. Kamu harus lepaskan. Semua inu sudah kehendak Allah sang pemilik hati. Mau kamu tahan sedemikian rupa sehingga. Selama itu pula akan selalu menderita."
"Cukup, hentikan. Aku tak punya pilihan. Rasa sakit ini tak bisa didefinisikan." Tangisku meledak (lagi). Sayangnya hujan sudah reda, meski aku lari keluar halamanpun, tak ada lagi yang mampu membiaskan air mata ini.
Hal yang menarik di 2019 ini, aku gak salah-salah menuliskan tahun dengan typo 2018. Karena apa? Karena tiap hari aku harus nulis laporan. Dan berasa dikejar hari.
Kerja sampe malam-malam tapi diri tetep happy. Meski terkadang terkena rasa kantuk juga. Tapi tak mengapa, demi mendampingi para programmer yang sedang semangat-semangatnya. Team kecil yang berisi 4 orang dengan spesifikasi beda-beda. Kalau diawal dulu pak boss sudah bilang, masing-masing dari kami benar-benar harus mandiri. Dan yah, kami mencoba untuk itu.
Lalalalla.. Bener-bener yaa. 2019 penuh makna dan banyak cita-cita plus berimbang dengan usaha.
Semangat buat kita semua.
Team work. Hard work.
Btw btw
Ku ingin mengepost beberapa kesalahan yang gak boleh diulangi lagi.
1. Gak boleh tanya ke manajemen terkait hak yang di dalam aturan memang tidak ada.
2. Jangan cerita atau apapun ke mas *** , terkait apa yang dirasakan dalam pekerjaan. Daripada salah paham. Mending jaga jarak kali ya. Dan gak cerita kalau tidak ditanya. Sekarang fokus kerja saja. Berikan yang terbaik.
Tentang resolusi 2019
Aku mau ngikut kata Pak Boss saja.
" I want to completely change my self"
Gak mudah emang. Bapaknya saja baru ngomong itu hari Rabu tgl 26 Desember kemarin. Tentang perubahan. Entah ya. Apa bapaknya ga tau aku, atau gimana, yg pasti selama setahun ini kayanya ekspektasi bapaknya ke aku rather mbleset. So, I just want to prove to my self, that I can do it. That's it.
Dan mungkin, semesta mendukung banget keinginanku untuk berubah. Ada beberapa referensi yang tiba-tiba dimunculkan oleh Allah buat menuntunku berubah. That's great for me.
Bener-bener masyaAllah. Allah baik banget. Moment nya pas banget. Kalau dipikir-pikir. Mulai dari datangnya kawan yang mulai mencerahkan, dia bilang jika aku punya potensi yang terpendam n emang sengaja dipendam -aku mengiyakan-. Kemudian momentum pergi dari zona nyaman -yang ini membuat sedih, tapi yasudahlah-. Kemudian datangnya kawan2 baru yang support banget masyaAllah. Bismillah bismillah. Kita belajar bekerja sama ya Gengs. Bravoooo!
So then. Welcome 2019. This is lovely me. I love you so much becoz give me opportunity to change my whole life.
And thanks to 'iron man' for involved me in. We were born on Dec 27'th, 2018. Congrats!
"Kayaknya ini memang skenario terbaek dari Allah.
Ku hari ini menyadari sesuatu, dan ku harus banyak bersyukur.
Gak boleh membanding-bandingkan dengan orang lain. Bahkan dibandingkan dengan kisah cinta paling standart yang banyak dibahas di buku-buku roman.
Setiap kita punya kisah yang patut diambil hikmah, juga kisah yang penuh perjuangan.
Bismillah. Setidaknya, jika saat ini belum seideal yang kita citakan, semoga generasi anak-anak kita nanti yang akan memulai dengan metode yang ideal dan sesuai standart."