Bahkan, yang terlihat kuat pun harus dikuatkan.
Hari itu, tepat sudah akumulasi tekanan selama berhari-hari membuncah. Menyisakan bulir-bulir air sebesar biji jagung, tumpah ruah, tiba-tiba saja keheningan malam jadi berisik karena isak. Ya, ini masih musim kemarau, tapi disini hujan sudah datang.
Paginya, mendung masih terlihat, bahkan, bulir-bulir itu masih sesekali keluar, tak pandang tempat, meski itu di depan banyak mata yang melihat. Dada begitu sesak. Ya, dadanya sangat sesak sekali.
Dia mencoba menceritakan semua hal yang menjadi bebannya pada kau, karena kutahu, kau adalah teman yang sudah banyak makan garam berada disana.
Dia : Mungkin keputusan-keputusan diawal aku berada disini sudah menjadi kesalahan.
Jadi aku diminta disini hanya untuk mendampingi orang-orang yang SEBATAS melakukan KEWAJIBAN?
Padahal tujuanku, aku akan mendampingi CALON orang-orang BESAR. Yang selalu mencoba belajar dan berproses menjadi pribadi yang lebih baik.
Jadi, apakah bisa dilanjutkan? Ketika kami sudah tak sejalan.
Kau : Adik-adik harus banyak blajar tentang mengelola sikap dan menjaga perasaan orang lain. "Tidak sempurna iman seseorang, jika lisan dan perbuatannya membahayakan orang disekitarnya."
Kau : Sesuai dengan niat sampean dalam belajar, maka nikmatilah ini sebagai prosesnya.
Bukan dr manusia, tapi dari Allah yang mengajarkan kepada kita.
Kita ndak tahu dengan ini Allah berkehendak bagaimana. Dengan apa yg telah diajarkan kita ndak tahu apa nanti gunanya.
Tapi yang perlu diyakini adalah Allah punya maksud yang lain, yang akan memiliki manfaat kedepannya. Kita harus belajar mengambil hikmahnya.
Kau : Allah kan tidak akan menguji seseorang di luar batas kemampuannya.
Ya beginilah, kita mampu sebenarnya 😉
Dia : Mungkin targetku terlalu tinggi terhadap adik-adik.
Kau : Target tinggi nggak masalah kok. Itu memacu kita untuk mengopimalkan upaya. Tapi yang perlu diingat adalah hasil itu Allah yg menentukan, so hendaknya kita ndak terlalu kecewa besar. Tetap berusaha utk menata hati agar rela dan ikhlas.
Kau : Ingat untuk selalu tawakkal dan qana'ah.
Kau : Kalau menurutku ya, kita menunjukkan kelelahan, capek, sedih, di depan adik-adik itu ndak papa. Itu dinamika perasaan. Tp jangan sampai di depan itu kita menunjukkan kesan menyerah.
Setelah itu tetap berusaha untuk ceria dan tertawa bersama mereka.
Karena kita tidak boleh berputus asa atas rahmatNya. 😊
Dia : Terima kasih. Tidak salah, kau sekarang berada di posisi ini. 😊
Kau : Kita udah lama yang beginian. Kita yang membutuhkan dakwah. Bukan dakwah yang membutuhkan kita.
Jika bersama saja serapuh ini, lalu bagaimana jika sendiri 😭😭😭😭
Dia : Bahkan materi yg kau sampaikan diatas sudah kudapatkan sejak SMA.
Dan beberapa kali juga tak sampaikan ke adik-adik ketika kultum.
Tapi kembali lagi, bahkan yang terlihat kuat pun butuh dikuatkan. 😔