Kemarin malam (28/10/2015) Houtenhand tiba-tiba saja dipenuhi pria-pria yang sepertinya ingin kembali kepada gaya-gaya dimana era music psychedelic rock sedang memanas dan berjaya. Rambut panjang, bergelombang, jeans cutbray, dan kaos junkies. Tentu bukan tanpa alasan tiba-tiba mereka memadati Houtenhand. Para pemuda tersebut ternyata menanti aksi dari sebuah band psychedelic rock anyar yang berasal dari pulau dewata, Rollfest.
Rollfest yang baru saja meluncurkan debut albumnya bertajuk Lanes Oil, Dream Is Pry mencanangkan sebuah tur dua kota di jawa timur, yakni Malang dan Surabaya. Berlokasi di Houtenhand, Rollfast memilih Malang menjadi kota pertama yang mereka jadikan jujukan di tur ini.
Lapak di depan pintu masuk mulai digelar merupakan pertanda jika malam ini akan ada acara musik yang akan segera dimulai. Tiga pemuda berambut panjang dengan amunisi musiknya sedang bersiap-siap menggebarak panggung Houtenhand. Mereka adalah Pronks yang dipilih untuk menjadi band pertama yang memanaskan suasana.
Lapak rilisan (pic by Bagasyudhiswa)
Tanpa perlu waktu lama Pronks langsung memulai aksinya. Dipilih menjadi eksekutor pertama, Pronks yang beraksi tanpa malu-malu ternyata berhasil mencuri perhatian banyak pasang mata dan telinga. Serentak seluruh pemuda yang sebelumnya berada di halaman luar langsung menuju venue yang berada di lantai dua Houtenhand. Aroma dupa tiba-tiba langsung menyelimuti venue. Ternyata Pronks sengaja menyiapkannya sebelum mereka beraksi diatas panggung.
Pronks
Pronks merupakan unit band blues rock yang sedikit di diramu dengan musik rock 70an. Pronks yang kabarnya juga akan meluncurkan debut mini albumnya ini memainkan lima lagu yang mereka bawakan begitu bertenaga. Mereka juga membawakah salah satu lagu andalan milik band legendaris yakni Black Sabbath berjudul “Fairies Wear Boots” sontak langsung membuat seluruh penonton bernyanyi bersama kegirangan.
Seusai berkeringat bersama Pronks, Remissa langsung ditunjuk sebagai band yang akan beraksi selanjutnya. Remissa merupakan pasukan rock yang berdistorsi garang. Remissa berhasil membuat keringat semakin bertambah dan membuat arena semakin padat. Beberapa waktu lalu Remissa juga baru saja memperkenalkan single terbaru mereka. Mereka dikabarkan juga akan merilis debut album terbarunya.
Remissa
Penampilan selanjutnya adalah Intenna. Intenna yang merupakan unit Shoegaze langsung dipercaya untuk mendinginkan suasana sebelum panas kembali membara di puncak acara. Acara ini ternyata juga merupakan kelanjutan kisah persahabatan Intenna dengan Rollfast diatas panggung. Sebelumnya mereka sudah pernah berada di panggung yang sama ketika acara di kota Jember. Dari sini kita bisa melihat jika perbedaan genre bukan menjadi alasan untuk tidak ada kata pertemanan apalagi tidak ada kemungkinan berada di atas panggung yang sama.
Intenna
Intenna malam itu terlihat berbeda. Yakni tidak hadirnya Oming yang biasa berada di barisan terdepan sebagai vocal. Malam itu Obing yang berposisi gitar didaulat menjadi vokal di Intenna. Pemandangan yang cukup aneh akan tetapi penampilan Intenna masih tetap saja memukau. Intenna juga sudah bersiap meluncurkan debut album mereka yang diprediksi akan lahir dipertengahan bulan November nanti dibawah bendera Barongsai Records.
Sampailah pada penghujung acara. Giliran Rollfast yang akan unjuk kebolehan beraksi diatas panggung. Bergegas pula para penonton yang sudah menanti aksi Rollfast langsung memadati area depan panggung Houtenhand. Kerennya lagi hampir semua yang mamadati area moshing adalah mereka yang berambut panjang bergelombang dengan gaya-gaya yang disebutkan pada paragraf pertama. Mereka benar-benar terlihat begitu antusias dan haus akan aksi gila band psychedelic rock satu ini.
Rollfast
Rollfast pun tancap gas. Lagu pertama dimainkan, kegirangan penonton langsung membara. Sound yang garang dan gebukan drum yang gagah sangat memukau. Sayang, vokalis mereka sedikit kurang bertenaga ditambah beberapa kali masalah teknis dari mic membuat sedikit mengganggu. Akan tetapi penampilan mereka masih tetap patut dilayangkan pujian berlipat ganda.
Satu persatu materi yang ada di album bertajuk Lanes Oil, Dream Is Pry mereka lahap. Penonton pun terlihat masih sangat bersemangat dan berairah bahkan makin menggila. Sampai pada akhirnya sang vocalist Rollfast, Agha, berkata jika mereka akan mengakhiri perjumpaan dengan membawakan lagu terakhir. Secara spontan penonton tidak membiarkannya begitu saja, mereka belum cukup puas dan masih sangat menikmati penampilan Rollfast. Rollfast pun mengabulkannya dengan membawakan satu buah lagu terakhir dan membuat penonton semakin liar dan bersenang-senang.
Rollfast
Rollfast adalah lima pemuda yang ingin kembali mengulang era masa kejayaan band semacam Black Sabbath menjadi pusat perhatian dunia. Rollfast juga memiliki kualitas yang bisa menjadikan mereka band paling berbahaya di tahun ini. Bersama label Trill/Cult Records, Rollfast menghasilkan debut album bertajuk Lanes Oil, Dream Is Pry yang didalamnya berisi sepuluh materi yang bisa membuat kalian berkeringat.
Usai sudah pesta yang menyenangkan. Pertunjukkan dan aksi yang begitu menakjubkan. Semoga mereka akan selalu berkarya dan tetap konsisten. Saatnya menikmati ramuan dalam materi Rollfast.
Hilman, 2015.
(Semua hasil gambar diambil oleh Bagasyudhiswa).











