Ada banyak rencana yang muncul sejak aku dan kau memutuskan untuk bertemu. Bukan rencana yang serius, kadang hanya ucapan omong kosong yang terlempar ke udara dan akan hilang dalam sekejap. Aku tak pernah menganggap ucapan-ucapanmu adalah sesuatu yang harus aku pijak, sebab aku atau kau sadar betul semua yang kita perankan tak akan menjadi sebuah teater yang megah atau dipertontonkan pada khalayak ramai. Kisah yang aku atau kau buat adalah hal-hal kecil, remeh, dan kadang serupa pasir di genggaman.
Meski begitu, aku tetap dengan senang hati memunguti hal-hal tidak berguna tersebut, leluconmu, omong kosongmu, atau rancauan yang akan terus aku tanggapi. Sebetulnya, aku kelelahan menghitung waktu, membandingkan kecepatannya dengan orang-orang di sekelilingku dan berharap bertemu dengan sesuatu yang lebih serius tapi rasa-rasanya itu bukan sesuatu yang mengusik kepalaku terlalu dalam. Aku sedikit memberikan waktuku untuk kau bunuhi, atau mungkin kau sedikit menyerahkan waktumu untuk aku main-mainkan. Aku dan kau menganggap ini hanya serupa tamasya kecil dari kerumitan hidup.
Namun, meski awalnya begitu, aku tahu cepat atau lambat aku akan sepenuhnya jatuh pada setiap omong kosong tersebut. Aku akan berangsur memercayainya, aku akan mulai kecewa pada hal-hal kecil, atau bahkan semua hal yang aku atau kau anggap lelucon itu, berubah menjadi kerumitan hidup daripada sebuah tamasya untukku.
Suatu hari pada pertemuan entah ke berapa dan rencana yang ternyata terealisasi, ada sebuah pertanyaan kecil yang aku prediksi sudah kau coba simpulkan dari tingkah-tingkah anehku yang muncul. Kau bertanya di sela-sela waktumu mengerjakan pekerjaanmu di laptop dan aku bersama bukuku yang tak selesai-selesai dibaca. Kau dan aku duduk berhadapan di sebuah tempat kopi yang tidak cukup ramai, sebab ini hari kerja dan masih pukul 11 siang pula. Tiba-tiba layar laptop itu kau tutup setengah lalu kau mengetuk meja memintaku untuk memperhatikanmu.
“Apa? Sudah selesai?” Aku mengambil pembatas buku dan menyelipkannya pada halaman 206 ketika pemeran utama di buku tersebut sedang mencari keberadaan teman-teman lamanya yang secara tiba-tiba menjauhi dirinya.
“Tentu belum, tapi ada hal yang ingin aku tanyakan. Agak penting sih, jadi ketimbang lupa.”
“Hm, aku udah mandi.” Kau tertawa mendengar jawaban asalku, aku dengan yakin pertanyaan yang kau punya pasti adalah sesuatu yang tidak penting.
“Aku terlalu banyak bercanda ya?”
“Kamu tahu jawabannya jadi tidak perlu aku jawab.” Aku kembali membuka bukuku yang masih ada digenggaman tapi sejurus kemudian kau mengambil buku itu, menutupnya kembali dan menyimpannya di atas meja.
“Ini lebih bikin penasaran ketimbang peratanyaan asal yang sering aku tanyakan, jadi coba dengarkan dan tolong dijawab.”
“Kalau beneran hal serius, aku traktir makan siang hari ini.” Aku tetap yakin kau akan menanyakan sesuatu omong kosong maka aku bertaruh untuk makan siang aku dan kau hari itu.
“Wah, transaksi yang menarik. Setelah aku bertanya dan kamu jawab. Ayok kita cari makan siang mahal hari ini.” Aku memandangnya dengan tatapan yang cukup sinis, wajah yang sering kali muncul ketika kau menggodaku dengan hal-hal semacam itu. “Jadi, kamu suka aku?”
Tiga kata terakhir yang muncul dari mulutmu entah kenapa berproses cukup lama di kepalaku, kemudian aku tertawa untuk mengatasi semua keterkejutan yang hadir di sekelilingku. Angin yang cukup kencang bahkan menerbangkan beberapa daun kemudian berjatuhan di teras dekat aku dan kau duduk. Aku mengambil minumanku dan menyeruputnya beberapa kali, kau tidak melanjutkan kata-katamu dan menunggu aku menjawab pertanyaan yang kali ini tidak bisa aku jawab dalam hitungan detik.
Kau pernah bertanya soal kenapa kucing mengeong, atau kenapa nama milikku terdengar lucu dan semua pertanyaan bodohmu selalu mampu aku jawab dengan jawaban yang tak kalah tolol. Namun, untuk pertanyaanmu kali ini aku membutuhkan waktu untuk setidaknya lebih pintar dalam merangkai kata-kata milikku.
“Yah, aku harus mengeluarkan uang lebih hari ini,” aku berharap kau tertawa dengan leluconku tapi sayangnya kau terlihat serius dengan pertanyaanmu. Mata bulatmu menembus mataku meminta jawaban. “Baiklah, jawabannya akan sedikit panjang dan semoga memuaskan kepenasaranmu,”
“Jika saja pertanyaan ini muncul dua bulan lalu aku akan dengan yakin untuk membalasmu dengan jawaban ‘geer banget!’ Tapi karena pertanyaannya muncul hari ini maka aku bisa jawab kalau aku suka kamu.” Kau tersenyum atau mungkin lebih tepatnya adalah menahan tawamu agar tidak pecah, “Aku tahu ya, kamu pasti lagi pengen ketawa geli dengerin jawaban aku barusan, aku ngomongnya juga geli banget ini.”
“Sebentar, masih ada tapinya.”
“Tapi,” satu kata tersebut menggantung cukup lama. Pertimbangan di kepalaku masih berlangsung. Aku tidak dalam posisi siap untuk pertanyaan macam itu. Maka aku membutuhkan waktu untuk menjawabnya dan kau membiarkan aku mengambil jeda. “Tapi aku tahu, kamu mungkin menganggap aku hanya sebagai seorang teman yang bisa kamu ajak bicara atau seorang kenalan yang bisa kau goda kapan saja. Maka dari itu aku tidak berniat mengatakannya padamu, tidak pula berpikir kita akan masuk ke relasi romantis. Jadi, perasaan suka milikku aku biarkan tetap menjadi milikku saja.”
“Hm, sorry motong. Kenapa kamu menyimpulkan aku hanya menganggap kamu begitu?”
“Karena aku membacanya, kalaupun aku tanya kamu, jawaban kasarnya pasti seperti itu. Kamu memberikan batas yang jelas dan dapat aku baca tanpa keraguan apapun.”
“Hm, maka kamu pembaca yang handal.”
“Cukup handal.” Tambahku, aku tahu betul dan mampu melihat semua perasaan yang kau punya untukku hanyalah sebagian kecil dari sebuah ‘mendapat teman baru’. Itu tidak membuatku patah, sebab sudah pula aku mempersiapkan semua hal paling buruk dari hanya mengetahui perasaan milikmu.
Aku dan kau kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. Tidak ada percakapan lain setelahnya, seolah yang selesai dari aku dan kau bukan hanya percakapan tersebut tapi lebih dari itu. Semacam aku dan kau menemukan garis akhir yang muncul secara tiba-tiba dan memisahkan langkah aku dan kau, aku dengan persimpanganku, juga kau. Aku dan kau memanen semua omong kosong masing-masing dan membuatnya menjadi lebih tidak berarti lagi.