Baru kali ini aku bisa tinggal di Jogja untuk waktu yang cukup lama. Beruntung banget punya kesempatan ini karena tugas dari kantor. Dulu kalau ada temen ngobrolin tentang Jogja, kebanyakan mereka keliatan antusias banget deh. Katanya Jojga itu legendaris, Joga itu istimewa. Pada saat itu, aku yang belum pernah ke Jogja untuk singgah dalam waktu yang lama, aku iri banget denger cerita mereka. Cerita angkringannya, warung kopinya, Malioboro-nya, dan banyak juga yang memuji keramah-tamahan orang-orang nya. Kapan yaa, bisa ke Jogja ?
Sekitar awal bulan Agustus tahun lalu, aku punya kesempatan hampir satu bulan di Jogja. Aku ke Jogja bareng sama temen aku laki-laki 2 orang, naik kereta Jakarta-Yogyakarta. Waktu itu sampai Jogja udah sekitar menjelang waktu sholat maghrib. Akhirnya kami memutuskan istirahat dulu di tempat penginapan sampai waktu sholat isya. Setelah sholat isya, kami bertiga jalan-jalan bareng ke Malioboro. Malam itu adalah Minggu malam. Rame banget. Sepanjang trotoar Malioboro penuh dengan pedagang makanan lesehan, penjual kain batik, baju-baju batik, sampai dengan aksesoris Jogja.
Kesan pertama kali bisa keliling di Jogja adalah Jogja macet yaa. Selain dibanjiri oleh lalu lalang orang yang mungkin berwisata, ternyata di Jogja juga banyak kendaraan pribadi. Terlebih lagi dengan semakin maraknya ojek online. Orang yang berwisata di Jogja mungkin banyak yang memilih menggunakan ojek online untuk berkeliling di Jogja. Padatnya kendaraan di Jogja, sepertinya sedikit mengganggu pergerakan kendaraan tradisional seperti delman atau becak. Sebetulnya di pelataran Malioboro, sudah berderet delman atau becak yang dapat sewaktu-waktu disewa untuk sekedar mengantar penumpang ke tempat tujuan tertentu atau ada juga yang menawarkan paket berkeliling Jogja. Ini sih yang kemarin belum sempat aku coba. Mungkin di kesempatan selanjutnya akan aku agendakan bisa merasakan keliling Jogja dengan delman.
Jogja tentu dengan kental unggah-ungguh Jawa nya. Pada suatu malam, aku yang berbelanja di salah satu departement store di Malioboro, mengalami salah transaksi di kasir yang mengakibatkan kartu debetku tertarik 2 kali. Masih keinget banget gimana cara bicara dan permintaan maaf mbak penjaga kasir yang disampaikan dengan sangat baik. Mbak kasir itu bahkan mengurus sampai ke bank dimana kartu debetku tertarik sehingga uang yang tertarik dapat kembali. Tentang unggah-ungguh, aku dan teman-temanku juga punya pengalaman yang kurang mengenakkan. Suatu hari di Taman Sari, kami dengan santai mengambil foto seorang ibu yang sedang sibuk dengan cating dan kain batiknya. Kami mengambil foto ibu tersebut tanpa permisi minta izin terlebih dahulu. Ibu tersebut yang kemudian sadar jika kami sedang mengambil foto, langsung menegur kami. Waktu itu kami mengaku salah. Namun menurutku ibu tersebut kurang enak menyampaikannya. Padahal setelah kami pergi, ada seorang wisata asing yang dengan santai memfoto ibu tersebut tanpa izin, malah dipersilakan oleh ibu tersebut. Ah, tapi bagaimanapun kami memang salah.
Jogja memang benar-benar istimewa apalagi jika berkeliling ditemani dengan teman-teman yang istimewa. Tanpa direncanakan, ternyata teman-teman dari Surabaya menyusulku untuk berlibur di Jogja. Seneng banget. Salah seorang teman memang asli Magelang dan berkuliah di UGM namun saat itu berangkat dari Jakarta. Seorang teman yang lain meninggalkan kepenatan mengajarnya di Surabaya untuk mendatangi WWB di Jogja. Satu yang lain berangkat dari Nganjuk dan satu lagi merasa harus berlibur ke Jogja setelah dia penat bekerja di Surabaya. Mungkin ini yang dibilang satu frekuensi. Kesempatan mungkin ada, namun untuk bertemu memang harus ada usaha untuk saling meluangkan waktu bukan ? hehe
Kami mengelilingi Malioboro, Taman Sari, dan tentu makan di es krim gelato. Bagi kami masjid Jogokariyan adalah suatu keharusan tempat untuk dikunjungi ketika datang ke Jogja. Menghabiskan waktu dzuhur sampai dengan ashar di masjid, membuat kami merindukan lingkaran-lingkaran kami di Surabaya. Saat itu aku agak lupa entah kenapa tiba-tiba kami saling berbincang dan bercerita tentang kisah kuli pengangkut air dengan Hasan Al Basri.
Ada tabiat yang cukup baik dari seorang kuli pengangkut air yaitu kebiasaannya berdzikir dengan mengucap tahmid dan istighfar. Ketika Hasan Al Basri bertemu dengan kuli mengangkut air tersebut, beliau bertanya mengapa kedua kalimat pengingat Rabb itu senang ia lantunkan ? kuli menjawab jika ada dua keadaan yang selalu ada dalam hidup kita yaitu nikmat sehingga kita harus bersyukur dan kelalaian kita akan nikmat tersebut oleh karenanya kita minta ampunan. Hasan Al Basri kemudian bertanya apakah keuntungan membaca tahmid dan istighfar ? Sang kuli menjawab jika doa-doa yang dia panjatkan semuanya dikabulkan oleh Rabbnya. Akan tetapi kata kuli tersebut terdapat satu cita-citanya yang belum dikabulkan oleh Rabbnya, yaitu bertemu dengan ulama besar Hasan Al Basri. Sontak ketika itu Hasan Al Basri terenyuh mendengar keinginan dari sang kuli. Beliau katakan jika Rabbnya hari ini telah mengabulkan cita-citanya bertemu dengan Hasan Al Basri, yaitu dirinya. Hasan Al Basri langsung memeluk erat kuli pengangkut air dengan penuh keharuan.
Ah kalau dipikir-pikir memang Jogja benar istimewa. Pertemuan kuli pengangkut air dengan Hasan Al Basri mungkin sangat membahagiakan keduanya. Tidak berbeda dengan kebahagiaan kami. Meski Jogja katanya sudah berubah, namun tentang bersama siapa kita di Jogja, itu akan menjadi selalu istimewa.
pertama kali yang datang itu temen yg ngajar di Sby, sampai di Jogja sorean, malamnya kita berdua makan di Tengkleng HOHHAH :))
besoknya kita jalan-jalanya keliling Taman Sari, kami bertiga pesan penginapan bareng waktu itu :))
waktu malem-malem kita nyobain makan bareng di Malioboro, ga nyadar udah jam 11 malem lebih wkwk sementara dua orang dari kami harus pp dari Jogja ke Magelang, alhamdulillah selamat sampai rumah :)
Jogokariyan jangan sampai kelewat ! semilir, adem, sampai pengen tidur karena saking capeknya juga :)
dari Jogokariyan, kami pergi ke tempat es krim yang waktu itu kami lihat di Maps sekitar 2 km. Kami mau jalan kaki saja bertiga, sementara dua orang teman kami yang bawa motor dari Magelang mau duluan. Ee tiba-tiba di tengah jalan kami distop. Temen kmi ga tega liat kami jalan kaki dan akhirnya disewakan bapak becak. Karena waktu itu aku kurus dan dua orang temanku ini udah kurus dari dulu, jadilah becak bertiga agar lebih romantis, wkwk
sebelum makan es krim, di samping ada restoran Thailand yang halal. Kita mau isi perut dulu gaess dan pengunjung sebelah kami tau kesusahan kami mau wefie, akhirnya dengan baik hati kami difotoin deh ;))
Alhamdulillah, Jogja kala itu, 2-4 Agustus 2019