Sedikit pelajaran dari malam ini, untuku;
beberapa hal yang dianggap sederhana, ternyata harus dicapai dengan susah payah. Maka mampuslah aku yang seringkali menyepelekan anugerah.
Mike Driver
🪼
Sade Olutola

PR's Tumblrdome
No title available

Origami Around

blake kathryn

izzy's playlists!
i don't do bad sauce passes
we're not kids anymore.

titsay
taylor price
Xuebing Du
dirt enthusiast
trying on a metaphor

Product Placement

Discoholic 🪩
One Nice Bug Per Day
wallacepolsom
NASA

seen from United Kingdom

seen from Singapore

seen from China

seen from France

seen from Singapore

seen from Italy

seen from France

seen from United Kingdom
seen from Argentina

seen from United States
seen from Indonesia

seen from Argentina
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Costa Rica
seen from China

seen from Italy
seen from Japan
seen from United States
@apanyablogs
Sedikit pelajaran dari malam ini, untuku;
beberapa hal yang dianggap sederhana, ternyata harus dicapai dengan susah payah. Maka mampuslah aku yang seringkali menyepelekan anugerah.
Makin ke sini, makin ke sono
Kepada orang tua ku meminta maaf. Dalam rupa semua tampak baik-baik saja, tapi diam-diam, diri masih menyimpan dendam. Keras nian rasanya hati ini.
Maafkan sahaya bunda, maafkan sahaya bapak. Sahaya hanya bisa meminta maaf, belum mampu memaafkan. Luruskanlah... lembutkanlah.. lapangkanlah ya Rab.. hatiku dalam genggaman-Mu.
Barang tentu Tuhan menghadirkan rasa lelah ini, agar kita butuh tempat bercerita.
dan Dia-lah sebaik-baiknya tempat bercerita. Yang paling mendengar dan memahami kita.
Kadang kala:
Pengetahuan adalah obat yang mujarab, sedang ketidaktahuan bisa jadi pencegaan atas rasa sakit.
Jangan menyerah yah orang baik. Mungkin banyak yang tak mengerti seberapa besar beban yang ada padamu, dan tak kau temui seorang pun yang bersedia bahkan untuk sekadar mendengar. Jika memang demikian adanya, maka menulislah. Menulislah untuk merawat hati dan pikiranmu. Jangan paksaan semua perasaan kau redam sendiri, setiap kita sejatinya butuh bercerita, entah didengar atau tidak, entah dipahami atau tidak ada yang peduli dengan apa yang kau tulis, jangan kau pedulikan hal-hal semacam itu. Menulislah untuk merawat hati dan pikiranmu. Satu hal yang menarik ketika kita mencoba menuang keresahan melalui tulisan, ketika kelak kita berada di titik di mana apa yang kita rasa hari ini sudah menjadi jejak-jejak yang abadi, paling tidak tambahlah satu alasan kita untuk berkata kepada sang cermin,
"janganlah kau pernah berpikir untuk menyerah, kau pernah melewati jalanan terjal itu. Kau pernah melalui segala ketidakpastian yang hampir membunuhmu dahulu. Kau pernah punya pilihan untuk menyerah, tapi kau memilih untuk berjalan sampai semua itu selesai dan kau bisa lihat sejenak, masa-masa itu sudah menjelma jejak-jejak abadi yang membentuk dirimu yang sekarang. Kau hebat. Kau jadi dirimu yang lebih baik dari kemarin, berbangga dirilah"
Hidup yang Begini-Begini Saja
Aku sering berpikir, sepertinya poin paling besar yang menjadi pembeda seseorang dengan orang lain adalah dirinya sendiri; ceritanya, perjalanannya dan kompleksitas cara berpikirnya. Itu kenapa aku sering sekali merasa seharusnya aku menuliskan ceritaku, perjalananku, dan semua huru-hara hidup yang membuat jatuh bangun.
Namun di sisi lain, masih sering sekali skeptis sama diri sendiri; 'Memang apa yang kau tawarkan dari cerita itu? Hei, lihat dirimu, masih saja terlunta-lunta urusan hidup.' Tapi, itu menariknya kan? Kita sering melihat, cerita duka hanya dibaca jika disampaikan oleh orang yang sudah bersuka ria. Cerita sedih dilirik jika sudah ada titik bahagia. Kegagalan didengarkan saat ada kesuksesan yang turut bisa dijual. Lalu kenapa kita yang seringnya merasa masih begini-begini saja, bersusah payah untuk didengarkan dengan berbagai strategi dan upaya, padahal kisah sendiri adalah kisah yang tiada duanya. Tapi sebenarnya apa itu menjadi begini-begini saja?
Uang? Kekuasaan? Kecantikan? Popularitas? Semua itukah yang membuat kita menjadi seseorang? Atau terlalu naif kita untuk memahami, bahwa banyak hal yang terjadi dalam hidup ini meski tanpa semua itu.
Aku tak cukup bijak untuk mengambil kesimpulan, tak cukup lainnya untuk didengarkan, namun ayolah, untuk diri sendiri setidaknya kita mau menerima dan mengerti, bertahan sejauh ini menjadi seseorang yang memahami kebaikan bukankah sebuah pencapain? Mari sama-sama hitung orang di sekitar kita, berapa hati yang menghilangkan kebaikan dalam dirinya demi semua hal yang sifatnya materi itu? Bahkan tanpa sadar kita sering melakukannya.
Pemahaman ini, pelajaran ini, bisa jadi sesuatu yang diketahui banyak orang. Tapi ada saja alasan yang digunakan untuk memaklumi bahwa adil menjalani kehidupan yang penuh kelicikan dan kepura-puraan demi semua pencapaian yang hingar bingar. Sehingga hadirlah sentimen bahwa menjadi seseorang yang berintegrasi dengan kejujuran, kebaikan dan prinsip menjalani hidup tidak seperti orang kebanyakan menjadi sebuah pilihan yang terlalu naif. Sayangnya aku juga pernah percaya itu.
Pada satu titik aku juga pernah menjadi si orang paling stress bahkan depresi akan hidup yang masih begini-begini saja. Melihat kiri kanan yang penuh dengan pencapaian, mendengar depan belakang yang penuh tekanan. Titik yang akhirnya membuat diri tak hanya stagnan dalam bergerak namun juga berhenti dalam berpikir. Hanya karena agar sama dengan orang lain, agar diterima di semua kalangan, dan agar-agar lain yang kalau kupikirkan sekarang, untuk apa?
Mungkin jika tidak melalui semua itu tak banyak yang kupelajari soal hidup. Mungkin hidup yang begini-begini saja adalah pengalaman yang tidak sembarang orang miliki, jadi kenapa harus merasa bahwa tak ada hal yang bisa kuceritakan sebab aku masih begini-begini saja?
Aceh, 02 Mei 2024
do'a
maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaf,
terima kasih terima kasih terima kasih terima kasih terima kasih terima kasih terima kasih.
Sisanya terserah, bagaimana Kau saja.
Setiap orang yang membawa cahaya kejujuran di dalam hatinya, pasti pernah dipandang gila oleh mereka yang hidupnya penuh sandiwara.
—tumblr @journal-rasa
Putri Sulung Ayah & Ibu Sudah Pulang Lebih Dulu
Yang menenangkan dari mengenangmu adalah betapa kita menjadi lebih dekat hanya karena kita dilahirkan melalui rahim yang sama, rahim yang penuh cinta. Yang menyedihkan dari mengingatmu adalah betapa pulang mu menjadi hari-hari panjang tanpa tawa. Sementara Tuan sibuk memeluk pikirannya sendiri, matanya selalu saja memancarkan kehilangan yang mendalam, dalam diam maupun penuh kata. Sedang puan, menyimpan segala pedih dan perihnya sendirian, memungut keping demi keping kepedihannya sambil tetap memutar dunia dengan volume yang semestinya. Sebab dunia tidak sudi merendahkan nada ataupun menghentikan ritmenya hanya agar kami bisa bersedih ria dalam kepergianmu. Satu cinta yang kau patri pada diri yang tak tau diri ini, adalah tentang bagaimana kau menerima segala bentuk kejahatan, bahkan yang tak termaafkan oleh yang lain, kau terima hanya dengan alasan bahwa kita adalah keluarga. Kenyataan bahwa kau anak pertama, adalah kebenaran yang aku terima tanpa harus bertanya, mengapa dan bagaimana bisa? Sebab aku menyaksikannya sendiri, dengan mata, dan kau menyentuh hatiku dengan ketegasan yang penuh cinta, sayang kala itu, aku terlalu tidak tau diri, untuk melakukan yang kau katakan. Maaf.
Coba kau pikirkan ini;
Jika kau melihat orang lain dengan cara yang rendah, itu artinya begitulah cara kau melihat. Yang artinya pula kau juga akan melihat dirimu dengan cara yang sama. Dan itu akan membuatmu terpenjara dalam tempurung persepsimu sendiri.
Dulu aku kerap mempertanyakan bagaimana doa bisa bekerja jika takdir sudah termaktub? Sampai akhirnya aku paham bagaimana konsep dari takdir itu sendiri dan bagaimana kekuatan sebuah doa dapat mengubahnya. Maka, berdoalah.
Aku teringat dengan sebuah tulisan yang pernah kubaca "tangan yang menengadah ke langit tidak akan kembali dalam keadaan hampa". Artinya, semua yang telah dipanjatkan pasti selalu punya jawaban. Maka, berdoalah.
Berdoalah dan meminta kepada-Nya untuk segala hal apapun yang nampaknya mustahil. Sebab Dia dapat mengubah sebuah kemustahilan menjadi keniscayaan. Maka, berdoalah.
Susu dan Anggur
Aku pernah membaca sebuah nasihat dari seorang bijak, "Segelas susu tidak akan menumpahkan anggur. Ia hanya akan menumpahkan susu, karena hanya susu yang dimilikinya". Aku berpikir sejenak, menelaah nasihat bijak itu dari beberapa sudut, menyesuaikan kebaikannya dengan kebutuhanku. Kemudian aku sampai pada satu pikiran bahwa, betapapun kita hidup dikelilingi oleh beberbotol-botol anggur, kita akan tetap menjadi susu seutuhnya, hanya jika kita tidak melupakan siapa diri kita dan untuk apa kita berada di sini. Tidak apa kita membaur di antara anggur-anggur itu. Dengan begitu, paling tidak kita menemukan satu validasi bahwa memang dunia tidak dihamparkan untuk kita saja. Dan kepada yang menghamparkan dunia itulah, cukup kita mengimani susu saja.
Serang, 2025
Cerita Kepada Nona¹
Tahu tidak Nona? Kemarin malam Bulan menemuiku dengan wajah benderangnya yang anggun. Ia mengetuk jendela, menyelinap masuk ke ruang tamuku, duduk di sofa dan bercerita banyak hal. Ia bercerita tentang begitu banyak syukur yang terpanjatkan padanya berapa hari terakhir. Ada yang mengucap syukur karena masih disempatkan memotret senyuman dari orang-orang terkasih mereka dengan kedua matanya. Ada juga yang bersyukur karena di usia mereka yang hampir senja masih diberi kesehatan dan kewarasan, untuk meramu tawa dan bahagia orang-orang terkasih mereka. Bahkan beberapa dari mereka menangis haru sebab masih diberi waktu untuk merenungi kegagalan-kegagalan mereka yang telah lalu. Saya mungkin satu di antara manusia-manusia yang bulan maksud dalam ceritanya. Karena yah, seperti yang kau tahu Nona. Di usia yang hampir seperempat abad ini, ada begitu banyak hal yang mesti saya renungi kembali. Maka, kontemplasi menjadi rutinitas yang datang tanpa diundang akhir-akhir ini. Ia begitu nyaman berlabuh di kepala saya. Mengajak saya berlayar ke alam pikiran yang tak terbatas, yang selalu ada cakrawala di depan pelayaran-pelayaran kami¹.
Kau tahu Nona? Dalam banyak hal saya merasa gagal, dan dalam beberapa hal, saya pikir usaha saya semestinya bisa lebih maksimal. Dari semua hal itu, salah satu penyebabnya ternyata adalah ketidakkonsistenan saya ketika menjalani suatu proses. Selama ini saya selalu merasa bisa melakukan apapun selagi saya ingin melakukannya. Memang tidak salah sebetulnya Nona. Hanya saja, yang lebih penting dari melakukan suatu hal—yang baik tentunya— adalah tentang seberapa mampu kita tetap melakukannya dalam kurun waktu yang panjang². Karena, keniscayaan dari hidup adalah perubahan, dan orang-orang hebat adalah mereka yang bisa tetap merawat kebaikan-kebaikan kecil setiap harinya. Sudah dulu ya Nona, terima kasih berkenan mendengar.
Catatan Kaki:
¹Cerpen "Tukang Pos dalam Amplop" karya Seno Gumira Ajidarma
²Atomic Habits Karya James clear
Memeluk MataMu
Kepada Mata Yang Ingin Kupeluk, Bagaimana Kau memandang dunia dengan keindahan itu?
Relungmu meraba jiwaku Memastikan luka di dalam sana apakah sudah kering? atau masih bau pesing?
Kepada Mata Yang Ingin Kupeluk, Aku merindukan kedalamanmu Ketenangan yang begitu aneh
Bukan milikku, namun memelukku Nyaman, hangat yang teduh
Betapa semua terasa sia-sia selain ketika Aku ingin memelukmu Mata yang indah itu
Cirebon, 11 April 2024
A.m.
Sudahkah di rumahmu hujan? Di pipiku sudah. Hujan di sana diiringi guntur tidak? Di sini iya. Sekantong guntur bernyanyi-nyanyi riang di kepalaku.
Ketika detak diam-diam menghianati detik,
Tuan meramu malam dengan muram
Menanti pagi,
yang memulangkan Puan kembali
kepada pelukan.
Penting untuk mendidik anak kita dengan kecerdasan emosional yang baik. Karena kalau tidak, artinya Anda sudah membuat hidup seseorang di masa depan jadi menderita, yaitu orang yang kelak menjadi pasangannya.
—@taufikaulia