Rabbanaghfirlanaa wa liikhwaninnalladziina sabaquunaa bilimaani wa laa taj'alfii quluubinaa ghilaa lilladziina amanuu rabbannaa innaka raufurrookhiimun.

tannertan36
ojovivo
Sade Olutola

★
No title available
will byers stan first human second
Not today Justin

Kiana Khansmith
$LAYYYTER
taylor price
YOU ARE THE REASON

izzy's playlists!

Kaledo Art
hello vonnie
art blog(derogatory)
🪼

Origami Around

titsay

if i look back, i am lost
Alisa U Zemlji Chuda
seen from Malaysia
seen from Italy

seen from United States

seen from Singapore

seen from Canada

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Canada
@apriliarapinzel
Rabbanaghfirlanaa wa liikhwaninnalladziina sabaquunaa bilimaani wa laa taj'alfii quluubinaa ghilaa lilladziina amanuu rabbannaa innaka raufurrookhiimun.
Kamu akan selalu memetik apa yang kamu tanam
Setiap pagi, menahan kantuk menuju ruang belakang, mencari handuk dengan mata terpejam sebelah, tidak jarang kaki terantuk si kaki kursi. Sesekali menggumam “pagi banget sihhhhh udah harus berangkat kerja lagi aja”, bersungut, sedikit. Tapi lebih banyak syukurnya, karena sudah lebih dari 4 tahun bisa berdiri sendiri dengan hasil keringat sendiri.
Kadang, masih suka bertanya dan membandingkan diri dengan yang lain.
“Kok rasanya udah totalitas banget, tapi masih aja kalah sama yang lain.”
“Kok dia bisa begitu, saya kapan?”
“Kok rasanya yang berpengalaman jadi kurang dilihat?”
Dan kumpulan Kok lainnya...
Sederet “Kok” yang seolah menjadi content library di otak ini diam-diam mengikis rasa syukur, kalau aja hidup yang dijalani ini tanpa landasan agama. Tapi, Alhamdulillah sudah ditanam oleh orang tua sejak.. mungkin sejak saya bahkan masih hanya mendengar detak jantungnya.
Kedua panutan saya ini orang-orang yang kuatnya luar biasa, Mamah punya warung dan gak pernah bergantung sama pendapatan bapak. Bapak pekerja keras, yang giat dan anti ijin-ijin club kalau bukan karena sakit hebat.
Keduanya mengajarkan tentang, bagaimana melakukan segala hal sebaik-baiknya, jangan mengharapkan banyak imbalan, karena rejeki pasti akan dipetik sesuai hasil yang kita tanam. Mungkin karena ideologi ini, kedua panutan saya gak pernah menjadikan dirinya orang kaya. Sederhana dan cukup, sepertinya itu yang mereka tanam di kepala.
Mamah saya nyaris gak pernah minta ini itu walau anak-anaknya sudah bekerja semua, bahkan di usia senjanya sekarang, Mamah bapak cuma sesekali aja minta diajak makan di Solaria favorit si bapak, atau di Kedai Pizza favorit si Mamah.
Pernah sekali saya paksa ganti mesin cuci, karena memang sudah usang dan biar sesekali saya beliin mesin cuci yang keren. Seminggu setelahnya, si Mamah malah ngasih uang jajan, katanya takut uangnya abis karena beli mesin cuci. hehehe.
Dari keduanya, saya banyak belajar. Walau kadang muncul sederet “Kok” yang bikin ragu dan sesal, tapi banyak syukur yang seharusnya lebih banyak diucap. Benar katanya, semua yang dipetik sudah pasti sesuai dengan yang ditanam. Kalau tidak tepat waktu berbuahnya, gak masalah, suatu saat pasti akan.
Hidup itu persis seperti roda yang bergerak ; berputar maju untuk menyusuri jalan baru, mundur sedikit untuk mempersiapkan langkah baru, berhenti sesaat karena roda dan hidup perlu istirahat. Juga persis seperti kata ibu-ibu yang senang duduk sembari bergosip, adakalanya hidupmu di atas roda, tapi bersiap-siap juga untuk kehidupan pedih di bawahnya.
Rapinzel
semakin tua, semakin banyak waktu bergulir, belum habis sih tapi siapa tau...
kok rasanya semakin banyak khawatir muncul, semakin banyak kecewa timbul, semakin banyak juga bahagia menawarkan diri, namun semu.
bersyukur, cuma itu yang diajarkannya.
Terima kasih, 2018
wah! kurang dari 48 jam lagi kita benar-benar ditinggal 2018. Sebenernya, pergantian tahun cuma sekadar -ganti- angka aja gaksi? gak akan ada yang berubah juga kalau dari dalam diri gak ada niat hehe like what i did before dan bahkan nyaris gak pernah punya resolusi-resolusi hehe
daripada menyiapkan resolusi, saya yang bener-bener go with the flows sepertinya ingin berterima kasih aja sama 2018. Tapi diiringi doa semoga 2019 akan jauh lebih surprises dan lebih hebat lagi.
Thankyou, 2018.
Stay healthy Stay gorgeous Stay alive, and embracing your day for every new things, please... (at Southeast Sulawesi)
sederhana
boleh dibilang, angkatan-angkatan pertama smk wikrama yang didirikan ayah dan ibu terdiri dari siswa-siswa yang dhuafa. kebanyakan dari mereka adalah anak-anak pedagang asongan atau penjaga villa, supir angkot paling keren. saking dhuafanya, mereka pergi ke sekolah tanpa sarapan. bukan pemandangan yang aneh jika saat upacara satu per satu siswa pingsan. inilah yang kemudian mendorong lahirnya program makan roti, telur, dan minum susu gratis di sekolah.
boleh dibilang, berkecimpung dalam dunia pendidikan yang memang benar-benar bercita-cita untuk mengentaskan bangsa dari kemiskinan dan kebodohan membuat ayah dan ibu sangat dekat dengan mereka yang hidupnya serba kurang. alhasil, ayah dan ibu selalu mendidik kami anak-anaknya tentang kesederhanaan. pernah kami mendapati ibu menekuk wajah saat kami makan di restoran all you can eat. kata ibu, ibu teringat dengan siswa-siswanya yang tidak bisa makan karena tidak ada uang. makanan yang melimpah ruah itu tak terasa nikmatnya.
pernah suatu hari ayah dan ibu membeli sedan yang lumayan bagus. maksudnya sih, supaya lebih nyaman setiap harus melakukan perjalanan–berhubung keduanya sering berkeliling ke sana sini. tidak bertahan lama, akhirnya mobil tersebut dijual lagi, diganti dengan city car yang jauh lebih sederhana. kata ibu, apa enaknya naik mobil keren lalu saat masuk gang sekolah yang lebarnya hanya sebadan mobil dilihat oleh warga? tidak enak menunjukkan kita punya, yaitu saat banyak yang tidak, saat banyak yang masih kekurangan.
setiap mengingat ayah dan ibu, saya seringkali merasa malu. betapa diri saya sangat jauh dari sifat hemat, betapa kesederhanaan saya selama ini hanyalah karena keadaan. ketika sudah punya sedikit lebih, keinginan saya pun terus bertambah, bahkan berkali-kali lipat. apalagi sejak punya mbak yuna, rasanya saya selalu ingin memberikan yang terbaik–termasuk dalam materi.
padahal, dulu semasa saya kecil, ayah dan ibu sangat menahan nafsu untuk memenuhi keinginan diri dan keluarga sendiri. apa yang lebih diperuntukkan bagi sekolah, bagi orang banyak. kami saja baru menempati rumah sendiri pada tahun 2008, 22 tahun sejak ayah dan ibu menikah.
mungkin, jawabannya adalah karena saya jauh dari mereka yang serba kurang, karena yang saya lihat setiap hari (di media sosial) adalah teman-teman kelas menengah yang hobi jalan-jalan, makan-makan, punya penghasilan besar, punya ini dan itu. saya pun ikut-ikut ingin menjadi wah. padahal, di sekitar kita, dekat dengan kita, banyak yang memerlukan bantuan.
tulisan ini adalah renungan bagi diri sendiri agar saya senantiasa memilih yang baik, membelanjakan uang pada yang baik. apakah baju anak seharga 250 ribu itu perlu ataukah saya hanya menginginkannya? uang yang sama, kalau dibelikan susu formula untuk anak susuan saya, bisa dipakai sampai sebulan. apakah ikut mas yunus konferensi sekalian jalan-jalan itu perlu atau saya hanya menginginkannya? tiket plus akomodasi, kalau dibayarkan untuk kursus yang saya ambil, bisa membeasiswai satu orang.
selalu ada manfaat yang hilang setiap kita membuat sebuah keputusan. tugas kita adalah memastikan bahwa manfaat yang hilang tersebut bukanlah yang lebih perlu, yang lebih penting, atau yang lebih genting.
tulisan ini sekaligus renungan dan ajakan untuk mengganti wajah media sosial kita, karena tanpa sadar, yang kita tampilkan adalah berita dan ajakan untuk menjadi seperti diri kita.
don’t merely show what you eat, where you go, things you own. show your kindness, spread it. show your work, be proud of them. show your ideas, share them. show humanity. show flaws. show modesty.
kesederhanaan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa memiliki yang kita inginkan, namun memilih hanya yang kita perlukan. kesederhanaan yang sesungguhnya adalah kesadaran bahwa yang berlebihan itu tidak perlu sama sekali–sebab sejatinya kita tidak memiliki apa-apa sama sekali. bukankah semuanya hanyalah titipan yang harus dikembalikan kapan saja diminta?
OKJA
a film by Bong Joon-ho
Isu yang diangkat dalam film ini amat menyoal pada makanan, kalau menurut beberapa sumber, Bong juga melakukan riset panjang dalam membuat materi filmnya. Mewawancarai seorang Kanada yang melakukan rekayasa genetika pada Salmon di perairan kanada, dan mahasiswa doktoral yang juga mirip-mirip seperti tokoh Mirando, merekayasa genetika babi di Korea.
Tapi, film ini bukan mengkampanyekan soal vegetarian (tidak menyudut), sebab Mija si tokoh utama pun doyan makan sup ayam yang lezat buatan sang kakek. Bong sepertinya lebih mengajak penonton untuk mempertanyakan lagi darimana makanan diatas piring saji mereka (kita).
Film ini, lebih menyoal lagi pada pertempuran antar manusia, tentang manusia yang berseteru demi ego masing-masing. (makan daging enak, memelihara daging enak)
Dari forum pengamat film ada yang gue dapet kaya gini, “Saya setuju bila dalam film karya Bong, alih-alih berceramah tentang moralitas Dia justru menunjukan realitas, konsekuensinya tokoh baik dan jahat, hero dan villian dalam film ini adalah samar (apabila kita tidak mengesampingkan motif dan psikologis karakter tokoh-tokoh tsb),”
and, yups... I’m agree with that
Selain cerita, yang jujur membuat gue jatuh berkali-kali dengan kepenuhan cinta, Efek visual yang disajikan juga sangat nyata dan tanpa cacat. (hampir gue lupa kalo Okja adalah fiktif)
Orang-orang baik itu (kebanyakan) tidak pernah membahas tentang kebaikannya, apalagi mengumumkannya secara terang-terangan. Untuk itu, kita akan sulit menemukannya di dunia maya. Sementara selama ini (barangkali) kita sibuk mencarinya di linimasa. Dan (mungkin) selama ini kita terpukau pada kebaikan yang sifatnya fana. Yang tampil di linimasa hanya sebagian kecil dari seluruh kebaikan-kebaikan yang tersebar di sekitar kita. Kita mencari dan berharap menemukan kebaikan yang sebenarnya tapi kita mencarinya di tempat yang paling semu. Sudahkah menyadarinya?
Kurniawan Gunadi (via kurniawangunadi)
noted to my self
Terlepas dari bagaimanapun caramu berjuang dan apapun yang telah kamu korbankan, ingatlah satu hal bahwa (si)apapun yang sedang kamu perjuangkan belum tentu akan kamu dapatkan.
dan barangkali satu-satunya orang yang bersedia memperjuangkanmu dengan sungguh-sungguh dan tiada henti adalah dirimu sendiri.
Hukuman Apa yang Pantas Untuk Pelaku Bully-ing?
Aksi Bullying terhadap orang yang lebih lemah udah sering banget terjadi, gak cuma di Indonesia aja, tapi di dunia. Ini mungkin salah satu masalah negara berkembang. bukan dari sistem pendidikannya aja yang kurang memadai untuk pengetahuan soal "pengendalian diri" serta "menghargai" orang lain, tapi nyata juga dari sajian acara di televisi dan media berbasis internet yang belakangan udah jadi konsumsi tiap hari, mirisnya.. ini juga disajikan emang buat anak-anak usia dini yang masih "haus" sama jati diri. Sebut aja, tayangan sinetron yang notabene nya nampilin siswa/i SMA yang punya Genk di sekolah, ada genk yang powerfull udah pasti ada genk yang jadi sasaran bullying. Terus, mirisnya lagi si pembuat sinetron pun gak mikirin dampak apa yang bakal lahir dari tontonan kaya gitu, selain "yang penting rating ni sinetron gede, duit banyak, masa bodoh yang nonton bakal ngadopsi nilai-nilai apa deh," Miris kan? tapi ini nyata guys, di sekitar kita :')
Gausahlah dulu jauh ngomongin bakal jadi apa generasi Indonesia kedepan, emang harus dipikirin, tapi gimana kalo kita kulik dari dasarnya dulu, kalau anak-anak usia dini yang ngelakuin bullying udah jelas salah tapi gabisa dihukum karena masih dibawah 17 tahun dan dilindungi Hak Asasi Manusia dan Hak Anak, tapi jelas korban bully pun anak-anak yang SAMA pentingnya dan juga harus dilindungi, bukan? Jadi, gue rasa mereka punya hak yang sama dan si pelaku juga pantas dan patut dapat hukuman. Sebelum jauh, mungkin teman-teman bisa nonton video ini dulu, buat tau dan ngerasain gimana geramnya gue sama video ini.
Dah liat? Kesel gak? Marah gak? Rasanya mau ngapain?
Dijelasin disini, Dilansir dari laman Okezone, Mereka menganiaya seorang remaja perempuan di kawasan Thamrin City, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kanit Reskrim Polsek Tanah Abang Kompol Mustakim membenarkan adanya kejadian bullying tersebut. ⠀ "Itu benar ada kejadian bullying kepada seorang remaja perempuan pada hari Jumat 14 Juli 2017 jam 13.30 di lantai 3A di Thamrin City," ujar Mustakim, di Polsek Tanah Abang, Senin (17/7). ⠀ Mustakim juga menjelaskan, kejadian tersebut berawal karena korban cekcok mulut dengan salah satu pelaku. Pada hari berikutnya, korban pun dihadang lalu dibawa ke lokasi tersebut. ⠀ "Awal mulanya antara korban cekcok mulut sama salah satu terduga pelaku yang cewek. Di hari berikutnya korban dihadang di dekat sekolah dan disuruh datang ke Thamrin City, lalu di sana sudah ada teman-teman pelaku yang nunggu, lalu dilakukan perbuatan dengan kekerasan seperti itu, ada laki-laki dan perempuan yang melakukannya," papar Mustaqim. Ia juga mengatakan, terkait kasus ini pihak korban sudah melakukan pelaporan dan visum. Polsek Tanah Abang saat ini juga sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut.
See? cekcok mulut doang, coy! karena apa juga gak jelas, paling karena urusan asmara, cinta monyet jaman SMP, tapi dari mana si pelaku dapat keberanian buat melakukan bullying sebegini parah kalau bukan dari apa yang dia saksikan tiap hari, kalau yang diliat tiap hari misalnya keharmonisan ya gak mungkinlah kepikiran ama dia buat jambak rambut teman sekelasnya ini. Sekarang, bakal gimana ni kondisi psikis si korban. gak cuma fisiknya yang disakitin, tapi jauh kedalem ini psikis/mentalnya yang bakal rusak, dan itu lebih sulit disembuhin kan?!
Dr Randy A. Sansone, seorang profesor di Departemen Psikiatri dan Internal Medicine di Wright State University di Dayton, Ohio, mengatakan pada Konsekuensi Bullying “Pasca dibully, korban bisat mengembangkan berbagai gejala psikologis serta Gejala somatik, beberapa di antaranya bisa bertahan hingga mereka dewasa. Efek psikologis jangka panjang ini sangat mengganggu bagi masyarakat, bahkan peningkatan penembakan di sekolah dalam beberapa dekade terakhir(Amerika). Banyak pelaku penembak dalam insiden ini dilaporkan telah diganggu/bully selama bertahun-tahun sebelum mereka akhirnya hilang kesabaran, dan mengakibatkan dorongan kekerasan pada mereka sendiri. Bullying adalah masalah yang cukup serius, dan tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah anak-anak yang harus ditangani di tempat bermain. Pengaruh atau konsekwensi Psikologi akibat Bullying adalah masalah kesehatan mental yang serius, sehingga orang tua dan guru perlu menyadari untuk melakukan perawatan yang lebih baik bagi siswa dan anak-anak mereka.
Iya, kalau korban bisa bertahan dan memulihkan kesakitan mentalnya sendiri, kalau nantinya dia bisa berpikir lebih jahat, hasil adopsi apa yang dia lihat dari si pembullynya, atau parahnya dikasus tertentu, mereka milih bunuh diri, nyakitin diri sendiri karena udah gakuat, gimana? Korban bully tentu perlu perhatian khusus, disembuhkan, dibutuhkan waktu juga untuk membangun keberanian mentalnya lagi. tapi si pembully? kita juga perlu mikirin hukuman apa yang pantas untuk si pembully! Kalau karena masih anak-anak terus pelaku bully dibebaskan dari hukuman hanya dengan penjelasan "masih anak-anak," tapi gak dapat bimbingan khusus atau hukuman, apakah itu adil? lebih tepatnya, apakah itu bisa merubah perilaku membully-nya dimasa depan?
Ini jadi konsen khusus gue hari ini, emosi membara coy!
Whatever family life and education you had or didn't have, you came here to make your dreams come true, and no matter where you are now, you are fully equipped with everything you need to do it!
Rhonda Byrne in Hero
"When we were young We could always dare to dream That the places we have seen We're enough to make us who we are. . But now we are hooked, On the questions in between That marry you and me, to a song that we can't sing," - Air Review
buat generasi yang udah canggih banget sama media dan internet, sorry i’m too busy to answer your ‘tutorial question’
well. kamu bisa gunakan internet untuk cari hal yang bassically recehan itu dan udah pasti ada di internet, udah pasti bro.
My First Solo Trip
Beneran, ini solo trip pertamaku.
Ya walau mungkin enggak sendiri-sendiri banget sih, karena di Kota ini ada satu saudara yang menetap untuk tuntutan kuliahnya. Berawal dari iseng, kebetulan gue emang udah sok ide buat sesekali cobain solo trip (asli, padahal gue setakut itu loh, masuk kamar mandi sendiri jam 10 keatas didalam rumah sendiri aja kadang gak berani) tapi sok-sok ide buat solo trip.
Singkat cerita, akhirnya beneran lah gue pesen tiket via trav*loka.. memilih kereta api sebagai salah satu transportasi daratnya seolah emang gak ada pilihan lain buat gue, bukan gak sanggup naik pesawat, bukan juga takut ketinggian, tapi gue sayang aja duit gue yang bisa gue pake buat makan sampe gajian lagi harus ludes demi kenyamanan pesawat yang hanya sekian menit (HEHEHE) ya gitulah, memilih kereta itu bukan cuma soal harganya yang ekonomis, tapi juga karena lebih hangat dan dekat dengan kata “sosialisasi” antar penumpangnya.
Soal pemandangan? gausah ditanya.. kalo pesawat menawarkan view kota ditutupi awan dan pelangi, maka kereta akan kasih kamu ribuan hektar sawah terpampang sepanjang jalan, jalur kereta menggantung diatas sungai panjang, gak lupa.. wajah-wajah cemas dan terburu-buru pengendara motor yang sabarnya dipaksakan karena menunggu palang kereta tertutup (demi kereta kita lewat dengan aman). begitulah, walau gak ada lagi pengamen didalam kereta, gak ada lagi mbok pecel yang harganya 2500 satu porsi, tapi kereta selalu punya kesan menawan yang berbeda setiap kali kamu tumpangi.
Btw, Kota apa sih yang gue datengin? kalian pasti tau dan umumnya sayang banget sama kota ini.
Yup, Jogjakarta... Daerah Istimewa yang gak cuma istimewa karena kisah leluhurnya, tapi karena semuanya, literally semuanya :)
Udah kali ya, ini baru prolog kok. Lengkapnya menyusul aja hehehe
aku yang paling kau cinta, aku yang paling kau mau. rahasiakan aku, sedalam-dalamnya cintamu
Afgan - Sabar
I may have hurt you, but I did not desert you.. Maybe I just want to have it all - Patty Smith