“Kopi ga pake gula? Apa enaknya?”
Seingat saya, ketika saya masih kecil, saya dilarang minum kopi oleh kedua orang tua saya. Pahit, katanya. Begitu pula dengan paria yang sering ditemui dalam kukusan bakso tahu. Dahulu pulalah saya sangat sulit untuk meminum obat. Meminum obat yang notabene pahit, tidak hanya berfungsi untuk menyembuhkan, namun juga sebagai punishment system pada saya yang tidak menuruti nasihat orang tua untuk tidak hujan hujanan bersama teman sepermainan kala SD. Pada masanya pula, saya selalu ditawarkan hal yang manis dan gurih. Saya disodorkan dengan panganan ringan atau makanan pencuci mulut dengan perisa coklat dan stroberi, yang memberikan konstruksi sosial bahwa rasa manis adalah sebuah virtue yang baik, dengan antitesis berupa rasa pahit sebagai virtue yang inherently buruk.
Perlahan saya tumbuh dewasa, dan saya melihat dunia sekeliling saya menjadi lebih luas. Pada pertengahan masa SMP saya mulai mendengar musik musik metal dengan teriakan yang chaotic dengan distorsi tanpa keteraturan yang jelas dan saya memiliki beberapa MP3nya di laptop saya hingga sekarang. Pada saat saya duduk di bangku SMA, saya melihat fenomena keripik singkong pedas. Keripik pedas yang seringkali dituding menjadi penyebab diare, gastritis, maupun hemorrhoid, justru laku keras di pasaran. Hingga akhirnya, saya diperkenalkan oleh seorang teman saya, sebut saja namanya Irsan, untuk mencicipi hal yang dia sebut ‘kopi enak’. Kopi bersih tanpa susu, krimer, atau bahkan gula. Saya ketagihan, dan satu hal yang pasti; tren ini tidak terjadi hanya pada saya. Kecintaan saya terhadap kopi pahit selalu ditepuktangani ketika Idul Fitri tiba karena saya selalu meminta kopi tanpa gula yang dianggap tidak wajar pada keluarga etnis Jawa.
Dunia pada akhirnya bukanlah sesuatu yang dapat disederhanakan menjadi sebuah hal yang mempunyai dua kutub. Rasa pahit bukanlah sebuah antitesis dari rasa manis; dan keduanya hanyalah variabel amoral yang tidak memegang nilai baik maupun buruk. Keduanya merupakan bentuk rekognisi tubuh dari stimulus dunia luar yang begitu abstrak dan merupakan bagian kecil dari kesimpulan subyektif yang diringkas dalam emosi-emosi yang pada akhirnya diekspresikan melalui bahasa verbal maupun non-verbal, sehingga satu kata sifat tidaklah mungkin mendefinisikan stimulus tersebut secara paripurna. Di sisi lain, stimulus stimulus (yang hanya bisa disampaikan dalam bentuk ringkasan yang tidak diekspresikan secara sempurna) tersebut juga merupakan entitas yang satu dan lain halnya tidak serta merta meniadakan satu sama lain. Seringkali kita lupa bahwa negasi dari sakit bukanlah sehat, namun sekedar tidak sakit, karena batasan sehat menurut WHO memiliki dimensi dimensi yang harus dipenuhi. Seringkali pula kita lupa bahwa manis dan pahit memiliki negasi yang serupa berupa ‘tawar’ karena rasa tawar menandakan ketidakadaan stimulus rasa tersebut.
Mungkin hal inilah yang menyebabkan para seniman memiliki pemahaman mengenai hidup yang cenderung komprehensif. Mereka yang biasa menyeruput kopi pahit di pagi hari sambil menikmati aroma di setiap teguknya menyadari bahwa rasa pahitlah yang membuat kopi menjadi bernilai, dan dalam mendefinisikan apa yang baik, tidak seharusnyalah selalu menjadikan yang pahit sebuah yang manis. Segelas Americano yang kentara pahit dan asamnya tidaklah setara untuk dibandingkan dengan segelas frappe, walaupun keduanya memiliki nilai ukur berupa harga dalam rupiah yang paralel, karena cara kita dalam menghargainya tidak mungkin disamakan. Pricetag, pada akhirnya hanya menjadi variabel universal tentang kelangkaan dan atau lama/kesulitan pembuatan suatu barang. Mereka yang biasa menggambar dengan siluet hitam putih mengerti bahwa ketiadaan berbagai macam warna tidak serta merta mengurangi nilai dari karya seni yang mereka buat.
Manusia dan kehidupannya adalah sebuah seni. Dalam menilai, menghargai, dan memperlakukan manusia lain, menyederhanakan kehidupannya menjadi dua kutub yang saling berlawanan, dan atau memberikan kriteria-kriteria khusus, serta mertalah membuat manusia tersebut sebagai barang lelang yang diukur menggunakan parameter satu dimensional. Menyukai segelas kopi Jamaica Blue Mountain bukan berarti tidak menyukai sepotong baklava yang manis. Menyetujui keputusan seorang tokoh politik yang kontroversial tidak serta merta membuat Anda menjadi seorang fanatik, atau menjadi haters dari kandidat lain. Menjadi orang yang pro-LGBT tidak serta merta membuatnya menjadi seorang child-molester, atau menjadi atheis yang membakar kitab-kitab suci.
Menghargai sebuah karya seni memang tidak mudah (dan mungkin saja tidak semua orang bisa melakukannya). Gambar dua gunung dengan matahari terbit serta burung berbentuk huruf M memang sangat indah pada saat kita berumur 6 tahun; motif batik parang bisa jadi begitu menarik pada saat kita berusia 25 tahun; dan sebuah kacamata yang diletakkan di exhibit sebuah museum bisa memiliki nilai seni yang sangat tinggi setelah kita bertahun bertahun menjadi kurator sebuah lembaga seni. Menilai manusia lain sebagai sebuah karya seni, nampaknya juga membutuhkan proses pendewasaan yang tidak sebentar. Apakah peradaban kita sudah cukup maju untuk memberikan appraisal terhadap karya seni karya seni di luar sana? Atau sesungguhnya kita hanyalah manusia zaman perunggu yang terjebak pada masa Renaissance?