alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub
Surat Ar Raâd adalah surat favorit saya sejak dulu. Karena surat Ar Raâd memberi pelajaran kepada kita tentang hakikat kita sebagai makhluk yang kecil, yang tidak punya apa-apa, yang begitu terikat kepada Allah dalam segala hal. Namun dengan segala kasih sayangNya, Allah tetap memberi kita begitu banyak ruang bagi kita yang lemah ini untuk beramal shalih.
Sejak dulu, setiap saya ngerasa kesulitan, saya selalu mengingat ayat:
âŚwalillahi yasjudu man fis samaawaati wal âardhi thouâan wa karhanâŚ.
dan hanya kepada Allah sujud dan patuh segala yang ada di langit dan bumi, baik dengan kemauan sendiri, ataupun dengan terpaksa..
âŚsalaamun âalaikum bimaa shabartum, fa niâma âuqbad daarâŚ
selamat kepadamu atas segala kesabaranmu, betapa baiknya tempatmu kembali (surga)âŚ
dan kedua ayat tersebut, ada dalam surat Ar Raâdu.
hanya kepada Allah sujud dan patuh segala yang ada di langit dan bumi. Tidak ada satu halpun yang ada di luar kendali Allah. Maka segala rasa takut dan gundah yang ada di hati pada akhirnya menemukan muara
semua ada dalam kuasa-Nya. Kita ada dalam penjagaan-Nya. Maka semua hanya tentang menata hati, bagaimana agar kita ridho dengan segala ketetapan-Nya. Suka tidak suka. Karena rasa takut adalah godaan setan agar kita berputus asa terhadap rahmat-Nya dan meragukan penjagaan-Nya.
Maka betapapun beratnya hari, yang bisa saya lakukan untuk menenangkan hati adalah walillahi yasjudu man fis samaawaati wal âardhi thouâan wa karhanâŚ
semua yang di langit dan di bumi ini, tunduk patuh pada perintah Allah.
âŚsalaamun âalaikum bimaa shabartum, fa niâma âuqbad daarâŚ
adalah sapaan malaikat kepada orang-orang yang bertaqwa ketika memasuki surga âadn. Saya mungkin tidak cukup bertaqwa untuk masuk ke sana. Tapi setiap manusia tentunya berharap bahwa apa yang ada di hadapannya bisa menjadi ladang amal untuk menuju keridhoan Allah hingga kelak di surga, kita bisa berkumpul dengan keluarga, dengan Rasulullah dan dengan orang-orang shalih lalu disapa malaikat dengan panggilan:
selamat atas segala kesabaranmu, betapa indahnya tempat kembali.
betapa nyata ketika Allah berfirman:
alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub. Dan dengan mengingat Allah, hati kita menjadi muthmainnah, tenang, damai, ridho dengan segala macam takdir.
tempo hari, saya tidur bareng ibuk. Ibu meluk saya sambil nangis
âibu ridho puny anak kamu nduk. Maafin ibuâ
âMaaf buat apa mih? Justeru adek yang minta maaf mi. Adek belum bisa ngasih banyak halâ
âKamu jangan sampe ga jadi sekolah. Kalo pergi, pergi aja. Allah yang jaga ibuâ
âAku yang pengen berbakti mih. Nggak apa-apa aku di sini duluâ
âMaafin ibuk. Kamu jadi berkorban banyakâ
seketika tenggorokan saya rasanya nyeri.Â
âMi, tadi ada orang punya duit banyaaak banget. Ikhtiar berobat ke China, ke Singapura, tapi Allah tidak mentakdirkan dia sembuh. Qadarullah dia tetap meninggal. Padahal yang ngurus itu dokter senior semua. Sementara ummi, Alhamdulillah operasinya berhasilâ
âPasti kamu kerja keras banget habis ini ndukâ
âBapak pernah nasihatin adek kalo qodratnya manusia itu kerja keras. Ada masalah atau tidak, harus kerja keras. Adek, Bapak, Mas, sama Mbak itu nggak berkorban apapun demi kesembuhan ummi. Takdir kesembuhan itu dari Allah. Adek, dan semua yang berperan buat kelancaran operasinya ummi itu cuma perantara takdirnya Allah buat ummi dan Alhamdulillah adek dapet bonus ladang amal, berbakti ke ummi. Masalah hal-hal yang belum terselesaikan, itu bukan wilayah kita buat berpikir terlalu jauh. Wilayah kita itu cuma ikhtiar, ridho, dan bersyukur atas segala takdir. Adek tetep kuliah nanti, insya Allah. Nggak usah khawatirâ
âTapi tadi ibuk ga sengaja denger kalo kamu nggak mau kuliah lagiâ
âTidak dalam waktu dekat mih, tapi Insya Allah tetep kuliah. Siapa tahu nanti adek malah dapet LoA sama beasiswa ke ETH Zurich. Ummi juga banyak doa buat adek, Makan yang banyak biar segera sehatâ
hal yang baru saya sadari, mungkin hikmah di balik takdir-takdir sebelumnya adalah saya jadi ketemu dengan takdir saya hari ini.
betapa dulu ikhtiar buat kuliah di Jerman tapi selalu gagal. Pernah dapet LoA di tiga univ di jerman. Satu dengan topik Nanocomputing, satu dengan topik Data Mining, satunya lagi dengan topik DLA di game. Tapi ga jadi semua. Adaa aja hal-hal yang bikin saya gagal berangkat padahal ikhtiar sudah maksimal.
Meanwhile tes CPNS yang dijalanin dengan santai dan nggak menggebu, malah lolos. Qadarullah. Kita selalu dimudahkan pada apa yang menjadi takdir kita. Tapi bagaimanapun, setiap ikhtiar yang ikhlas akan dihitung sebagai amal baik biarpun gagal ~XD
dan mungkin, segala hal yang saya sebut sebagai kegagalan tadi, hanyalah rentetan kejadian yang mengantarkan saya pada hari ini. Ibu sakit kanker dan di otak saya berkecimpung dengan segala macam uneg-uneg yang bikin saya istighfar dan semakin memahami perkataan murobbi
1 menit berleha-leha, 1 tahun ketidakadilan buat ummat.
Betapapun sesaknya urusan-urusan pribadi kita, jangan sampai kita melupakan ummat.
âI will give everything that i have, De. Just tell meâ
tempo hari temen saya menawarkan bantuan.
âAku minta doa aja yang banyak. Biar bisa sabar dan tetep ajegâ
nggak bisa dipungkiri, ngelewatin takdir ini, saya dapat banyak banget bantuan dari temen yang meskipun gitu masih bilang:
âif i could give you more, Deâ
saya bersyukur punya temen-temen yang care banget. Yang menjadi perantara rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.
takdir ini ngasih saya pelajaran dalam banyak hal. Salah satunya adalah, bahwa mencintai itu butuh banyak sekali sumber daya. If i could give you more.Â
betapa sedihnya kita, ketika kita ngelihat orang yang kita sayangi sedang dalam kesulitan dan kita nggak punya apapun buat dikasih. Lantas kita bergumam:
If i could give youâŚ..but i have nothing to give.
Ini yang saya rasain hari ini. Pedih.
Kali ini bukan tentang ibu.
Tapi tentang banyak orang di sekitar saya yang tidak seberuntung ibu. Biaya operasi ibu mahal. Jauh dari jangkauan saya. Tapi Allah mentakdirkan ibu bisa tertangani, maka ibu tertangani di detik itu juga.
saya jadi merasa sangat berempati pada banyak orang yang sedang berikhtiar untuk sembuh tapi belum bisa operasi cepat karena terkendala sumber daya, biaya, dst, dstâŚ
jumlah rumah sakit tipe A nggak banyak, jumlah uang untuk ngasih alkes gratis ga banyak dan pada akhirnya banyak orang yang terpaksa menyerah karena keadaan. Itu semua takdir. Tapi bisakah kita berikhtiar mengantar ummat pada takdir-takdir yang lebih baik?
yang andai kelak memang ditakdirkan meninggal karena kanker, maka meninggalnya setelah dokter berikhtiar maksimal tapi Allah berkehendak lain. Bukan meninggal dalam masa tunggu karena layanan tidak memadai. Karena jika masih banyak meninggal dalam kondisi seperti itu, maka detik-detik yang kita miliki masih menyimpan hutang kepada ummat.
pun ketika banyak anak-anak putus sekolah karena kurang biaya, maka kita masih berhutang kepada ummat atas itu semua.
betapa santainya kita bisa duduk-duduk, padahal kelak di akhirat, kita ditagih
âapa ikhtiar kita untuk menjadi manusia yang bermanfaat?â
Hal pertama yang dibisikkan ibu saya ketika mulai bisa berbicara lancar:
âJangan tenggelam dengan urusan sakitnya ibu nakâ
dan sayapun terus mengingatkan diri bahwa betapapun menyibukkannya urusan pribadi kita, jangan pernah melupakan ummat.
mungkin saya cuma perlu menata ulang hidup saya. Menyesuaikan ritme. Birrul walidain harus jalan, dakwah harus jalan, ngajar harus jalan. Mencintai ummat memang butuh sumber daya yang tidak sedikit. Harta, pikiran dan tenaga.
Kita memang akan selalu diuji dengan urusan pribadi masing-masing. Dan takdir hari ini seperti menghentak saya, betap saya selama ini banyak menghabiskan waktu untuk berleha-leha ketika hidup saya masih punya begitu banyak waktu luang.
Ridho dan tawakkal yang kami usahakan. Sambil terus berbenah diri. Ikhtiar untuk kesembuhan ibu itu urusan kami, tapi pengaturan takdir itu urusan Allah.Â
Saya selalu memohon agar bisa berbakti kepada Bapak dan Ibu lebih lama lagi. Memohon agar tetap dikuatkan menghadapi urusan ini. Memohon agar hati bisa diberi kekuatan untuk terus mencintai ummat. Memohon untuk dibebaskan dari rasa panik yang menyita waktu.
Umur kita tidak panjang, semua pasti mati, masuk kubur dan tidak dikenang.
namun ummat yang usianya sepanjang peradaban ini adalah tanggung jawab kita.
dari sini bisa dipastikan, kewajiban yang kita pikul pasti jauh lebih banyak dari waktu yang kita punya.
Tapi di situlah hikmahnya. Allah ngasih kita ladang amal yang hampir tak terbatas. Dimana kita berdiri, di situ ada ladang amal.
Maka betapa sedihnya jika dalam dakwah yang usianya sepanjang peradaban itu tidak ada amal jariyah dari kita sama sekali :â)
âAllah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasaan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan perumpamaan.âÂ
Fa ammazzabadu, fa yadzhabu jufaaâan. Wa amma maa yanfaâun naasa fayamkutsu fil âardhi. Kadzaalika yadhribullahul amtsaalâŚ.
actually saya manggil ibuk saya cuma dengan panggilan mi doang (bukan ummi), dan kakak saya manggil ibuk saya dengan panggilan ma daong (bukan mama) ~XD
tapi biasanya temen-temen kami nyangka kalo kami manggil ummi dan mama ~XD