Mana yang lebih singkat, Ramadhan ke Idul Fitri atau kita yang kembali mudah berbuat dosa lagi setelah idul fitri ?
dirt enthusiast
noise dept.
YOU ARE THE REASON

Andulka

⁂

PR's Tumblrdome
Lint Roller? I Barely Know Her

if i look back, i am lost
AnasAbdin
TVSTRANGERTHINGS

oozey mess
almost home

★

ellievsbear
Sweet Seals For You, Always
RMH
One Nice Bug Per Day

No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Monterey Bay Aquarium

seen from India
seen from Brazil
seen from United States
seen from Australia
seen from United States

seen from Sweden
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Pakistan
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Sweden
@ruangsederhana
Mana yang lebih singkat, Ramadhan ke Idul Fitri atau kita yang kembali mudah berbuat dosa lagi setelah idul fitri ?
Assalamualaikum, Tumblr :)
Dari Rumah Menuju Surga
Assalamualaikum wr wb.
Berbicara tentang menulis. Sebelum memutuskan untuk membuat akun dan menulis di platform ini, saya merasa ada keinginan yang cukup besar untuk menuliskan berbagai macam hal. Akhirnya begitu Ruang Sederhana ini jadi, maka saya pun mengisinya dengan berbagai tulisan yang mungkin belum layak disebut tulisan. Banyak sekali tulisan saya yang sifatnya sama sekali tidak berbobot. Dalam hal kualitas maupun kuantitas, dan seringkali ditulis berdasarkan pengetahuan yang dangkal, rujukan yang daring, serta pilihan kata yang miskin. Namun, masalahnya bukan disitu.
Saya akhirnya menyadari bahwa sebagai muslim, bobot tulisan kita sebenarnya adalah bukan tentang hal-hal tadi, tapi adakah tulisan yang saya tulis sudah mengandung muatan agama yang dikenalkan oleh Nabi dan disempurnakan oleh Rasulullah SAW. Sebab hal itulah yang membedakan antara penulis biasa dan penulis muslim sudut pandang Allah yang harus disertakan dalam setiap tulisan yang ditulis.
Berangkat dari hal tersebut, akhirnya saya menyadari bahwa tulisan yang bagus bukan tentang bahasan, diksi, atau gaya bahasa. Tapi yang terpenting adalah ada atau tidaknya ridha Allah dalam tulisan tersebut. Tapi ridha Allah adalah hal yang tidak terlihat, ia hanya dapat dikenali dari tanda-tandanya. Oleh karena itu tulisan saya selanjutnya akan saya fokuskan hal-hal yang bermuatan agama serta praktiknya dalam kehidupan, mengingat pada hakikatnya antara agama dan kehidupan adalah 2 hal yang seharusnya tidak dipisahkan. Untuk temanya sendiri, in syaAllah tidak jauh dari dua hal yakni perihal rumah tangga dan Kisah Generasi Terbaik, mengingat rumah tangga merupakan salahsatu esensi hidup yang paling utama dan penting. Terbukti dari ia merupakan syariat pertama begitu Nabi Adam diciptakan, dan berbagai bukti lainnya yang menunjukkan bahwa semua hal positif dalam kehidupan ini berawal dari rumah tangga. Demikian, sebagai pengantar tulisan saya selanjutnya. Saya hanya bisa memohon kemudahan dan petunjuk dari Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW agar tulisan yang saya tulis selalu karena Allah, untuk Allah, dna bermanfaat untuk umat Rasulullah SAW.
Wassalamualaikum wr wb.
2018 ke 2019
Rasanya tidak ada perbendaharaan kata yang lebih pantas selain ucapan syukur alhamdulillah kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang Allah anugerahkan kepada penulis hingga detik ini. Dan sudah barang tentu, mustahil bagi penulis untuk menyebutkan, menghitung, dan menuliskan kesemua nikmat dan karunia tersebut.
Pertama, nikmat yang tiada tara tentu nikmat iman, dan islam serta kesehatan yang dianugerahkan kepada seluruh keluarga penulis sehingga masih bisa menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan, bisa berlebaran, dan bersilaturahhim dengan sanak keluarga. Ya. Berhubung, penulis saat ini masih ditugaskan jauh dari kampung halaman, maka waktu berkumpul bersama keluarga adalah saat-saat berharga dan tentu harus disyukuri.
Yang kedua, peristiwa besar di tahun 2018 ini yang menurut penulis menjadi peristiwa yang paling berkesan dalam hidup adalah pada tahun 2018 ini penulis diberikan kemudahan, nikmat-karunia dari Allah berupa terbukanya pintu halal, dengan kata lain penulis telah dipertemukan dengan seseorang yang in syaAllah akan menjadi rekan penulis dunia-akhirat melalui ikatan suci nan agung yakni pernikahan.
Berbicara tentang pernikahan, mungkin kedepannya penulis akan menuangkannya di tulisan yang lain. Tentu tujuannya bukan untuk pamer, namun hanya sekedar menuliskan beberapa hal tentang pernikahan sebagai pengingat bagi penulis pribadi, dan syukur jika ada manfaat yang bisa diambil oleh siapapun yang singgah di Ruang Sederhana ini, insyaAllah.
Kendati pergantian tahun masehi hakikatnya bukan momen penting bagi umat muslim, tapi tidak ada salahnya juga jika momen ini diisi dengan muhasabah mengingat ada tanggal merah di awal tahunnya. Mungkin dengan adanya tanggal merah itulah, bisa jadi kesempatan bagi kita untuk menakar lagi keimanan dalam diri, meskipun sebenarnya bagi seorang muslim, muhasabah dilakukan setiap hari sebelum tidur dengan istighfar minimal 70-100 kali.
Pada akhirnya, tahun baru selalu identik dengan resolusi dan mustahil menuliskan resolusi jika kertas yang kita miliki, masih coreng-moreng dengan jelaga dosa yang belum diinsyafi, diistighfari, dan ditaubati.
Bagi penulis, peran-peran besar menanti; dan hal penting yang bisa penulis lakukan adalah berdoa, berusaha, berencana, dan mempersiapkan rencana dengan sebaik-baiknya.
: Melayari Ramadhan.. "Jika puasa di siang hari membuat tubuhmu lemah, maka bersyukurlah...sebab betapa banyak dosa dan maksiat dilakukan oleh tubuh yang sehat. Jika berbuka di petang hari kembali membuat tubuhmu kuat, maka bersyukurlah..sebab betapa banyak potensi taat dan taqwa yang semoga jangan sampai terlewat"
: Memeriksa Kiblat Memeriksa Hati. Sya'ban yang berasal dari kata syi'ib atau celah kecil diantara dua gunung besar, sebagaimana bulan Sya'ban terletak diantara dua bulan besar; Rajab dan Ramadhan menyimpan beragam peristiwa besar yang menggugah hati. Ya. Pada awal-awal Sang Rasulullah SAW mensyiarkan islam di Madinah, betapa sungguh beliau berharap agar para pemuka kaum yahudi berkenan menerima agama ini. Maka tampilan beliau hampir serupa dengan pemuka yahudi mulai jubah ashfar kekuningan serta rambut yang disisir ke belakang dan kiblat shalat yang menghadap ke Masjidil Aqsha Palestina serupa dengan kaum yahudi di Palestina. Tapi ternyata kaum yahudi justru mengira bahwa Rasulullah SAW cenderung kepada agama mereka. Melihat hal tersebut, Rasulullah SAW berkali-kali menghadapkan wajahnya ke langit..memohon agar Allah berkenan merubah arah kiblat shalat kaum muslimin hingga turunlah ayat "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya" (Q.S 2:144). Maka sejak saat itu berubah jugalah kiblat dan penampilan Rasulullah, tiada lagi jubah ashfar dikenakan, tiada lagi rambut yang disisir ke belakang berganti dengan rambut hitam legam belah tengah beliau yang ditutup surban dengan cambang dan jenggot yang terawat rapi lagi diminyaki wangi dan berubahlah arah kiblat kaum muslimin ke arah Masjidil Haram, Kakbah, bangunan suci yang ditinggikan oleh moyang beliau, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. ...... Hari ini ketika arah kiblat telah terpasti dan tak lagi sulit untuk diketahui maka hal selanjutnya yang perlu diperiksa lagi adalah kiblat hati yang ada di dalam diri. Adakah ia masih cenderung searah dengan iman dan hati nurani atau justru ia semakin tak kentara karena dosa yang mencorengkan jelaga lalu gelisah, terombang-ambing dalam gundah gulana karena bergulirnya peristiwa? Ya Rabb..sebagaimana al fatihah dalam setiap shalat kami. "Tunjukilah kami..jalan yang lurus". Terhatur jazakallah khairan katsir, untuk Qiblat Compass dari kak @fia507 in syaAllah bermanfaat.
: Bumi "Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?" (Q.S Al Mulk : 15-16). ♬...Berbagi waktu dengan alam...kau akan tahu siapa dirimu sebenarnya...hakikat manusia...♬....-hanyalah Hamba :)
: Buah keshalihan orang tua...rumah anak yatim yang hampir roboh ditegakkan kembali oleh dua Nabi.
: Hoax Menyeksamai fenomena semakin tingginya konsumsi hoax akhir-akhir ini, membuat fikiran terpental ke zaman Nabi Adam Alaihissalam. Kita ingat bahwa sebab diturunkannya Nabi Adam dan Ibunda Hawa bermula dari "hoax" yang dihembus iblis, bahwa ada sebuah pohon di surga yang menyimpan rahasia keabadian di dalamnya sehingga Allah SWT melarang Nabi Adam untuk sekedar mendekatinya. Singkat cerita, Nabi Adam Alaihissalam dan Ibunda Hawa diturunkan dari surga dan dipisahkan beribu kilometer jauhnya tersebab melanggar perintah Allah SWT. Tidak cukup disitu, hoax kembali menerpa keturunan Nabi Adam, yakni kisah Qabil-Habil dan Iqlima-Lubuda. Gegara iblis yang kembali menghembuskan hoax kepada Qabil bahwa Sang Ayah dan Ibunya-lah yang memang tidak suka kepada dirinya sehingga Qabil dinikahkan dengan Lubuda sedang Habil dinikahkan dengan Iqlima, adik Qabil yang cantik parasnya padahal Nabi Adam diberikan petunjuk untuk menikahkan putra-putri mereka secara silang yang kelak hikmahnya adalah haramnya hubungan sedarah (Incest) karena percampuran gen yang sama akan berakibat buruk pada keturunannya. Kisah ini menjadi latar belakang kejahatan dan pertumpahan darah pertama di bumi. Dari secuplik kisah tersebut, kita akhirnya mengetahui bahwa mempercayai hoax adalah awal dari beragam konflik dan krisis kepercayaan. Di sisi lain, konflik karena mengkonsumsi hoax memang membahayakan tapi yang jauh lebih membahayakan adalah mencari pembenaran namun tidak mau dan semakin malas dan enggan untuk bertabayyun..mencari kebenaran. Sebagai penutup, izinkan penulis menyampaikan nasihat Sayyidina Ali, "Andaikan yang tidak berilmu berkenan tuk diam sejenak, niscaya kan gugur perselisihan yang banyak".
Kisah Generasi Terbaik : Wanita yang Dibela Allah
Waktu itu bulan Sya’ban. Kota Madinah sedang dihembus berita yang menyudutkan salahsatu istri Nabi Muhammad SAW, yakni ibunda Aisyah. Berita tersebut dilatarbelakangi oleh kejadian, dimana Sayyidah Aisyah yang tertinggal oleh rombongan Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan pulang sebakda bersafar dari sebuah peperangan. Ibunda Aisyah yang saat itu tertinggal jauh dari rombongan kemudian duduk menunggu di tempat semula, dengan asumsi rombongannya akan kembali menjemputnya. Akan tetapi ternyata beliau justru tertidur, dan rombongan sendiri tidak menyadari bahwa sekedup (tenda di atas unta tempat Aisyah duduk, ternyata kosong mengingat Aisyah saat itu sangat muda dan ringan, sehingga para rombongan tidak menyadari bahwa tidak ada Aisyah dalam sekedup yang dinaikkan tadi).
Shafwan bin Muattahl yang saat itu bertugas sebagai penyisir rombongan yang paling akhir (untuk mengantisipasi tertinggalnya barang dan orang) pun terkejut seraya beristirja ketika mendapati Sayyidah Asiyah tengah tertidur, dan tertinggal dari rombongan. Tanpa berkata apapun dan melihatnya beliau lagi, Shafwan segera menderumkan untanya agar dinaiki Aisyah. Aisyah pun naik dan Shafwan menuntun unta tersebut tanpa menoleh dan bicara sepatah-katapun hingga akhirnya tiba waktu Dhuha, Shafwan berhasil menyusul rombongan Nabi Muhammad SAW. Semua terkejut, dan sejak itu beredar kabar meskipun tidak terang-terangan, namun sindiran bahwa terjadi hal yang tidak pantas yang melibatkan istri Nabi.
Aisyah sendiri baru mengetahui dan menyadari hembusan fitnah tersebut dari seorang pembantunya, Ummu Misthah. Hingga akhirnya Sayyidah Aisyah jatuh sakit. Dalam sakit, beliau dijenguk oleh Nabi Muhammad SAW, akan tetapi beliau dapat merasakan ada yang berbeda dari sikap Rasulullah SAW kepadanya. Rasulullah SAW pun tengah gelisah memikirkan hal tersebut dan wahyu belum turun. Dalam peristiwa ini, kita tahu ada peristiwa menarik, bahwa Nabi Muhammad menanyakan pendapat dari 2 orang anak muda. Yang pertama, Ali Ibn Abi Thalib. Beliau menanyakan bagaimana pendapatnya tentang kabar yang berhembus ini, Sayyidina Ali yang tidak ingin Rasululllah SAW terus gelisah karena ditakutkan akan mengganggu dakwahnya kepada umat cenderung agar Rasulullah SAW berpisah dari istrinya tersebut. Pemuda yang kedua, Usamah bin Zaid cenderung agar Rasulullah SAW mempertahankan dan tetap mempercayai Aisyah karena mustahil seorang Aisyah, istri nabi melakukan hal tersebut.
Di peristiwa ini, masyarakat juga terbelah. Ada masyarakat yang terhasut oleh kabar ini karena provokasi oleh seorang tokoh munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul yang memang tidak menyukai Rasulullah SAW semenjak beliau hijrah ke Madinah, Di sisi lain, ada juga masyarakat yang tetap percaya bahwa Aisyah maupun Shafwan tidak akan melakukan hal tersebut karena baik Aisyah dan Shofwan merupakan oorang-orang mulia.
Peristiwa tersebut semakin membuat suasana Madinah semakin kalut hingga hampir terjadi perang saudara, karena 2 suku terbesar : Auz dan Khazraj saling menuduh bahwa salahsatu dari mereka adalah orang yang menghembuskan fitnah. Rasulullah SAW sendiri terus bertabayyun, mencari kebenaran dari orang yang selama ini dekat dengan Aisyah yakni Barirah, dan Barirah sendiri menjelaskan bahwa Aisyah tidak mungkin berbuat demikian.
Sayyidah Aisyah sendiri juga diliputi kegundahan, bahkan ayahnya; Sayyidina Abu Bakr Ash Shiddiq pun tidak tahu, apa yang bisa ia sampaikan kepada Rasulullah SAW. Disini sejarah mengungkap salahsatu kelebihan Sayyidah Aisyah, tentang kecerdasannya dan ketekunannya dalam mempelajari AL Quram. Maka ketika sudah tidak ada hal yang bisa ia lakukan atas tuduhan tersebut, beliau pun membacakan ayat Al Quran, ‘Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Allah sajalah yang dimintai pertolongan atas apa yang kalian ceritakan’.” (Q.S Yusuf: 18).
Ketika, Sayyidah Aisyah selesai mengucapkan pembelaannya tersebut, beliu kemudian berpasrah, namun tidak berharap wahyu akan turun membelanya; karena apa yang menimpa dirinya hanyalah urusan dunia. Namun, ketika Nabi Muhammad SAW, dan keluarganya berada di rumahnya untuk mencari jalan keluar dari kabar tersebut. Allah SWT akhirnya menurunkan firmanNya, :
“Sesungguhnya orang-orang yang datang membawa berita dusta itu adalah golongan dari kalian juga maka janganlah kalian menyangka bahwa berita dusta itu buruk bagi kalian bahkan baik bagi kalian. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita dusta itu, baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kalian mendengar berita dusta itu orang-orang mukmin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan mengapa tidak berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka yang menuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah orang-orang yang dusta di sisi Allah. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian semua di dunia dan di akhirat, niscaya kalian ditimpa azab yang besar, dikarenakan pembicaraan kalian tentang berita bohong itu. Ingatlah di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang sedikitpun tidak kalian ketahui sementara kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan saja, padahal perkaranya besar di sisi Allah. Mengapa di saat mendengar berita bohong tersebut kalian tidak berkata, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan hal ini. Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami, ini adalah dusta yang besar. Allah memperingatkan kalian agar jangan kembali berbuat seperti itu selama-lamanya, jika memang kalian orang-orang yang beriman. Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Memiliki hikmah. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian semua (niscaya kalian akan ditimpa azab yag besar), dan Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian bersih dari perbuatan keji dan mungkar itu selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S An-Nur: 11-21).
Ayat tersebut cukup panjang, dan dari ayat ini kemudian kelak akan menjadi dasar dari banyak hukum termasuk di dalamnya tentang : bertabayyun, tidak ikut menyebarkan berita yang tidak benar, tentang kewajiban mendatangkan 4 orang saksi bagi mereka yang menuduh orang lain berzina, tentang ciri-ciri orang munafik, tentang pentingnya berprasangka baik kepada mereka yang dituduh berzina dan banyak hukum dan hikmah lainnya.
Ketika menerima ayat ini, Rasulullah SAW sangat gembira karena memang Aisyah adalah salahsatu istri yang paling dicintainya. Wanita yang wajahnya terlukis di atas lembaran sutra yang dibawa Jibril dalam mimpinya. Wanita yang merupakah jodoh Rasulullah SAW tidak hanya di dunia tetapi juga di surga.
Berbeda dengan Abu Bakr ASh Shiddiq, beliau bersyukur namun menyayangkan tindakan pengasuh Aisyah, yakni ummu Misthah yang ternyata ikut terlibat dalam tersebarnya dusta tentang putrinya tersebut, sehingga beliau bersumpah tidak akan memberi sedekah lagi kepada ummu Misthah. Tapi lagi-lagi Allah kemudian menurunkan lagi ayatnya yang merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya.
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabatnya, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan serta berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S An-Nur: 22).
Ayat ini kemudian menyadarkan Abu Bakr agar senantiasa tetap bersedekah dan memberikan bantuan penghidupan kepada Ummum Misthah. Dengan turunnya ayat tersebut, Sayyidah Aisyah telah tersucikan dari kabar dusta (haditsul Ifki), pun kota Madinah kembali menjadi damai.
Kisah ini sendiri masih sangat relevan di zaman ini. Dimana saat ini kita tengah dibuat bingung dan bisa jadi (dibuat terpecah) oleh berita tidak benar (hoax). Padahal setelah hoax, masih ada yang lebih penting lagi untuk diperangi yakni, kemalasan untuk mencari kebenaran itu sendiri.
Ditulis dengan penuh kekurangan di Ruang Sederhana
Kisah Generasi Terbaik : Mahar Baju Besi Ali
Hari itu dengan penuh keberanian di dada, ia telah memberanikan diri melamar wanita yang menjadi pujaan hatinya. Nama yang selama ini selalu ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya. Nama yang ia sembunyikan dengan rapi dibalik keberaniannya selama ini. Sosok yang selama ini ia rindukan melalui doa-doa sepanjang kesehariannya. Ia ingat betul, motivasi dan semangat dari sahabat-sahabatnya saat bersama. “Engkau ini pemuda sejati Ali...apa yang menghalangimu untuk menikah ?”. Mengingat peristiwa itu, ia sangat bahagia, dan begitu lega, ketika kalimat “Ahlan wa sahlan” dan senyum meluncur dari sosok luhur yang akan menjadi calon mertuanya; Rasulullah Muhammad SAW.
Namun seketika itu juga ia insyaf ketika mengingat bagaimana sahabat mulia seperti Abu Bakr, dan Umar, yang lebih dulu memberanikan diri untuk melamar, ternyata belum diterima. Ia bahagia, namun segera insyaf dan sadar, bahwa pinangannya yang diterima akan membawanya pada amanah yang bisa jadi lebih besar. Maka sebagai tindak lanjut atas lamarannya, ia pun segera mempersiapkan diri-mempersiapkan segala sesuatunya. Tapi kita tahu, ia hanya pemuda biasa yang tidak berkecukupan, kesehariannya hanyalah buruh yang menurunkan kurma di kebun yang dalam beberapa riwayat buruh yang biasa bertugas mengambil air di kebun milik orang Yahudi.
Tapi ia tetaplah Ali. Pemuda yang memuliakan islam dan islam pun memuliakannya. Maka setelah ini kita tahu, bahwa mahar yang beliau berikan kepada sayyidah Fathimah adalah baju besi beliau. Baju besi yang senantiasa menemani beliau dalam berbagai peperangan. Baju besi yang selama ini ia kenakan untuk melindungi Rasulullah SAW, melindungi agamanya, dan melindungi dirinya. Lalu kenapa beliau memilih baju besi sebagai mahar beliau ?. Padahal bisa saja, beliau meminjam uang dari sahabat-sahabatnya dan dari kalangan sahabat pun rasanya pasti dengan senang hati membantu dirinya tanpa diminta.
Ahli siroh memandang peristiwa ini dengan sudut pandang berbeda dan mengambil hikmah dari peristiwa ini. Pernikahan Ali dan Sayyidah Fathimah merupakan pernikahan yang didalamnya Rasulullah SAW mengharapkan adanya teladan dan panutan yang kelak bisa diambil umat sepeninggalnya. Oleh karena itu, jika sebelum menikah dari masing-masing sosoknya pun sudah bisa dijadikan teladan, maka ketika menikah pun seharusnya ada banyak sekali pelajaran dan teladan yang bisa diambil dan diterapkan di hari kemudian.
Di antara hikmah, dengan menjadikan baju besinya sebagai mahar adalah disini ada pesan untuk menepis bahwa mahar tidak hanya tentang besaran nilai dan nominal, tapi pastikan bahwa mahar adalah sesuatu yang berkesan, yang bernilai dan bermakna meskipun kecil atau tidak seberapa nilainya sehingga bisa dikenang sepanjang pernikahan. Maka di pernikahan sayyidina Ali dan sayyidah Fathimah, baju besi adalah mahar yang dikehendaki Rasulullah SAW untuk diberikan oleh Ali. Sebab, bagi seorang ksatria, baju besi tidak hanya harta; tapi juga benda yang wajib dikenakan dalam peperangan serta sebagai benda yang melindungi nyawa, Maka ketika seorang ksatria, seorang Ali menyerahkan baju besinya dengan penuh keridho-an, maka bisa bermakna diserahkanlah pula hal terpenting dalam dirinya,cinta-nyawanya-hidupnya sepenuhnya untuk digunakan menyayangi sayyidah Fathimah, istrinya.
-Ditulis dengan penuh kekurangan @ruangsederhana.tumblr.com
Kisah Generasi Terbaik
Assalamualaikum Wr Wb... bismillahirrahmanirrahim... Saat pertama kali membuat akun Tumblr beberapa tahun yang lalu, terus terang tidak ada keinginan atau gagasan untuk menulis tentang siroh atau sejarah, wabil khusus tentang sejarah kenabian atau sejarah dan kisah para shahabat Nabi dan lebih memilih hal-hal yang tidak spesifik semisal quotes atau tulisan-tulisan biasa terkait cara pandang terhadap sesuatu hal.
Namun seiring berjalannya waktu, berawal dari tayangan dari sebuah stasiun TV swasta akhirnya perlahan-lahan saya merasa ada ketertarikan terhadap siroh Nabawiyah. Akhirnya sayapun memberanikan diri untuk menulis-ulang kisah siroh Nabawiyah tersebut di Tumblr dan saya merasa tulisan tersebut lebih bermanfaat dan bisa jadi lebih banyak dibutuhkan hari ini dimana gejala kehilangan pegangan semakin tampak di kehidupan. Tidak hanya untuk orang lain, tapi yang lebih penting untuk diri sendiri. Di sisi lain, dalam mempelajari agama ini; kita tidak bisa terlepas dari siroh pun dalam hal amalan sunnah pun yang diabadikan dalam hadist, rasanya kita tidak mungkin melakukan amalan tersebut tanpa mengetahui “sejarah” yang melatarbelakangi sunnah tersebut,
Lambat laun, akhirnya saya pun mulai menulis tentang siroh, meskipun sebenarnya saya hanya menulis ulang dari tulisan orang lain dengan gaya bahasa sendiri hingga akhirnya beberapa tulisan tentang siroh mulai menghiasi Ruang Sederhana ini. Tapi saya hanya manusia biasa yang bisa futur, akhirnya setahun kemarin saya tidak lagi menulis siroh dikarenakan beberapa alasan. Hingga tahun 2018 ini, rasanya keinginan untuk menulis siroh akhirnya kembali muncul, jadi insyaAllah Ruang Sederhana ini akan kembali dibersihkan, dirapikan, dan dihiasi dengan tulisan tentang siroh akan tetapi dikarenakan keterbatasan ilmu penulis, maka tulisan siroh yang ditulis tidaklah detil dan bisa jadi tidak akurat, untuk itu tulisan tentang siroh di Ruang Sederhana ini masih belum layak dijadikan referensi, terutama referensi ilmiah; namun hanya sekedar wujud kecintaan penulis kepada Rasulullah SAW, keluarga, dan sahbat-sahabatnya serta pengingat yang dengannya, teman-teman yang membacanya akan lebih semangat dan tertarik mempelajari siroh-mempelajari tentang agama ini-dan bisa lebih peduli akan sejarah dari agama Islam yang kita cintai ini. Tentu, tidak lupa kritik dan saran penulis sangat penulis harapan sehingga kita bisa sama-sama saling belajar-saling memperbaiki dan saling melengkapi.
Kritik, saran, dan pertanyaan bisa melalui pesan atau https://ruangsederhana.tumblr.com/ask
Akhirnya penulis hanya bisa berlindung kepada Allah terkait tulisan yang ditulispun juga mengharap ada hikmah yang bisa diambil oleh penulis dan pembaca. Ihdinas shirotal mustaqim..Wassalamualaikum Wr Wb.
-dari Penulis di Ruang Sederhana-
Bagaimana dengan seorang istri memiliki penghasilan sendiri?. Lagi-lagi salahsatu istri Rasulullah SAW memberikan teladannya. Ibunda Zainab binti Jahsy, yang bekerja dan senantiasa menyedekahkan penghasilannya kepada yang tak berpunya, sehingga Rasulullah membanggakan dirinya sebagai seorang istri yang paling panjang tangannya atau yang sedekahnya menjangkau banyak kaum papa. Ada syukur disana, ada syukur yang tak alpa. Bagus Edwin, lebih banyak cerita tentang wanita zaman nabi ya. hehe makasih
Alhamdulillah...in syaAllah. Bukan tulisan yang sempurna, semoga bermanfaat dan Mohon doa semoga istiqomah 🙏
: Kayuhan Kadang kita tidak memerlukan keyakinan tinggi ketika mengayuh sepeda. Cukup kita kayuh dan kayuh, in syaAllah kita akan sampai. Tapi, rasanya berbeda ketika kita berdoa, atau memperbaiki diri. Padahal sedari awal kita memasang keyakinan tinggi bahwa doa kita akan terkabul. Pun dalam hal memperbaiki diri; kita pun telah memasang keyakinan yang bulat, pejal, dan utuh bahwa kita akan menjadi baik; tapi ketika doa tak kunjung terkabul dan diri tak juga baik, kenapa kadang ada perasaan kecewa ingin menyerah, dan putus asa. Ternyata, memang begitu-lah tujuan syaitan sesungguhnya; membuat kita berputus asa dari pengabulanNya-rahmatNya. Padahal pengabulan doa sendiri aneka ragam dan waktunya. Bisa dikabulkan sesuai harap dan waktu kita. Bisa juga sesuai bentuk dan waktu menurutNya..dan juga bisa disimpan untuk nanti di sana. Pun tentang memperbaiki juga begitu, biar tidak sempurna, atau masih gagal dan gagal lagi, jangan berhenti sebelum sampai-sebelum kembali. "Wahai jiwa yang tenang! , Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambak-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku" -Q.S Al Fajr-
: “Berbahagialah wahai putra pamanku dan teguhlah engkau. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya! Sungguh aku berharap engkau menjadi nabinya umat ini.” (Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/236). Khadijah kepada Muhammad Ada banyak kehilangan yang membuat laki-laki ini merasa sedih. Salahsatunya adalah ketika sang istri harus mengikhlaskan putra kesayangannya. "Wahai istriku..Khadijah, mengapa engkau bermuram durja? Tanya laki-laki itu dengan kelembutannya yang menyergapkan kesejukan di dada. Sambil terisak, sang istri menjawab, "Sungguh aku bersedih atas kepergian putra kita (Qasim), andai genap susuanku kepadanya, pastilah ia menghibur kita". Laki-laki itu tersenyum, namun ia merasakan kesedihan yang terlihat dari kedua mata istrinya. "Wahai istriku, sungguh..Allah telah menyempurnakan susuan bagi anak kita di surga; jika engkau mau aku akan memohonkan kepada Allah agar memperdengarkan rengekannya di surga". Sang istri pun mengusap air matanya dan berkata, bila demikian aku membenarkan Allah dan rasulNya. Lalu selang beberapa tahun kemudian Mekkah hari itu cerah karena berakhirnya era jahiliyah dan tergantikan oleh cahaya hidayah; Fathu Mekkah. Di saat orang-orang kembali ke masing-masing keluarga dan rumahnya yang hangat, di sebuah bukit justru terlihat laki-laki yang mulai menua tampak mendirikan sebuah tenda di dekat sebuah area pekuburan. Dihampirinya sebuah kubur di samping tendanya. Tempat jasad istrinya terbaring. Laki-laki itu larut dalam duka dan isaknya. "Ya Khadijah...sungguh Allah telah membenarkanmu, lalu dibacanya firman Allah Q.S Al Isra : 81 "Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil pasti lenyap".
: Tahun Baru dan Sahabat Lama kita adalah kumpulan hari; setiap hari berlalu, sebagian diri kita pun juga berlalu pergi demikian nasihat Imam Hasan Al Bashri. Maka tugas selanjutnya adalah memastikan bahwa yang berlalu adalah diri-diri kita yang keruh dan hanya menyisakan yang jernih. Lalu tanpa menunggu tahun baru pun, kita tetap akan menjumpai hal-hal baru setiap hari. Maka nasihat selanjutnya adalah jangan gulana terhadap bergulirnya peristiwa, sebab tidaklah abadi kehidupan di dunia ucap Imam Asy Syafi'i. Maka tugas kita selanjutnya adalah memastikan bagian mana dari diri kita yang tetap tinggal atau bagian mana dalam hidup kita yang harus dipertahankan atau bahkan harus semakin dieratkan seperti sahabat lama misalnya. Sahabat yang kita nantikan percakapan dengannya, kita rindukan perjumpaan dengannya, dan kita bebas menumpahkan luahan rasa di dalamnya. Lalu dimanakah dan siapakah sahabat yang demikian?. Ialah Al Quran. Sahabat lama yang tak menua dimakan usia, namun hanya tersembunyi dibalik debu-debu rak buku. Ia sahabat lama yang akhir-akhir ini mungkin tidak lagi kita rindukan, padahal ia ada di setiap rumah-rumah kita. Ia menawarkan diri untuk diajak berbincang, eh kita malah asyik dengan telepon genggam. Ia menawarkan solusi atas permasalah, eh kita malah curhat sembarangan. Ia sabar menceritakan story para shalih, eh kita malah asyik dengan story orang-orang yang tak kita kenali. Maka semoga 2018 Masehi, adalah saatnya. Setelah "Ihdinas shiratal mustaqim" di Al fatihah, sebakdanya membentang ragam kisah keluarga Imran yang shalih, Zakaria yang berdoa, Maryam yang bersabar, Ibrahim yang dibakar, Sulaiman yang berjaya, Nuh yang didustakan, Pemuda Gua yang ditidurkan, Musa yang membelah lautan, Ismail yang hampir disembelih, Muhammad dan Abu Bakr di dalam gua, dan banyak lainnya. Lalu diseberangnya, kita jumpai Firaun yang mengaku Tuhan, Bilqis yang menyembah matahari, Pemilik kebun yang diluluhlantakkan, hingga Abu Lahab yang tangannya dibinasakan. Akhirnya kita akan dapati diri kita yang bingung memilih, menjadi seperti semut dan Hud-hud dalam kisah Sulaiman, atau anjingnya Ashabul Kahfi. Yang jelas 2018 harus semakin shalih-syukur jika menshalihkan
: Jujur. Ada banyak sekali halaman di Al Quran yang membahas tentang wanita. Mulai dari nama surat hingga kisah dan cerita. Jika kita jeli, kita akan mendapati 2 peran besar dari wanita. Pertama sebagai istri dan kedua sebagai ibu. Sebagai istri yang taat kita tak asing dengan kisah Firaun yang beristrikan Asiyah, dan Rasulullah yang beristrikan Hafshah. Sebagai istri yang tak taat, kita kenal kisah istri Nabi Luth, istri Nabi Nuh, dan istri Abu Lahab. Kalau wanita sebagai ibu kita kenal kisah Maryam yang melahirkan Isa, Ibunda Musa yang menghanyutkan Musa kecil, hingga Hajar yang berputerakan Ismail. Lalu mana peran yang lebih besar? Sebagai istri atau sebagai ibu? Dari kisah sayyidah Hajar dan Ismail yang ditinggalkan Nabi Ibrahim, kita tahu memang zam-zam mengalir dari hentakan kaki Ismail padahal Hajar, sang Ibu yang tujuh kali bolak balik berlari kecil. Maknanya? Ikhtiar wajib dilakukan, perkara rizki datang darimana, biar Allah yang tentukan. Tapi Maha Besar Allah, jangan lupa dan luput menghargai usaha seorang ibu, karena bukan meminum zam-zam yang jadi rukun haji melainkan lari-lari kecil Shafa-Marwah sayyidah Hajar-lah yang dijadikan rukun umrah dan haji.