Saya termasuk orang yang cukup sering menerima body shaming dari orang lain. Tubuh saya terbilang kurus. Tinggi pun hanya 149cm. "Seharusnya bisa lebih gedean dan tinggi lagi," begitu pikir saya berulang-ulang.
Sejak saya SMP, beberapa orang mulai mengomentari fisik saya, tapi saat itu tidak terlalu saya hiraukan. Hingga ketika saya masuk sekolah menengah atas, seorang teman laki-laki saya di kelas mengatakan sesuatu yang akhirnya membuat saya menangis. Ya, sepertinya itu untuk pertama kalinya saya menangis dan menyadari bahwa body shaming semenyakitkan itu. Ditambah lagi melihat kebanyakan teman perempuan saya di usia itu mulai bermetamorfosa menjadi perempuan dengan tubuh tinggi semampai, kulit putih, dan beragam standar cantik lainnya. Saya jadi bertanya-tanya, "Kok saya ndak begitu?"
Respon yang saya berikan terhadap orang-orang yang body shaming pun beragam. Mulai dari, yang masih dalam suasana teduh, " Ngga apa-apa kecil, yang penting rezekiku gede. Ngga apa-apa pendek, yang penting drajat dan ilmuku semoga bisa tinggi," sampai respon yang sungguh sangat simpel, "Bac*t!". Yang terakhir tentu saja karena saya sudah mulai lelah dan jenuh menerima omongan mereka. Nyatanya, orang-orang seperti itu memang tidak pernah menyadari bahwa perkataan yang menurut mereka "basa-basi" dan "sederhana" itu malah menjadi beban pikiran bagi orang lain.
Setahun terakhir ini, saya mati-matian menaikan berat badan. Di usia saya yang hampir menginjak 25 tahun ini, saya merefleksi kembali apa yang selama ini saya dapatkan. Saya memberanikan diri mengakui bahwa "Ya, ternyata saya memang terluka," tetapi saya juga menyadari bahwa dulu saya kurang aware terhadap tubuh sendiri. Datang ke tenaga medis pun kalau berobat sedang sakit, pasti berat badan saya dikomentari. Ada yang ucapannya masih bisa saya terima, ada yang tambah bikin down. Saya sudah minum beragam suplemen, vitamin, jamu, susu, dan pernah juga obat penggemuk, tapi hasilnya nihil saat itu. Saya berusaha memakan habis makanan saya di piring, tapi saya mual. Orang lain mana tahu kalau berusaha menghabiskan makanan saat sudah kenyang itu rasanya nggak enak banget, karena tenaga saya seperti terkuras. Perut saya terasa penuh sekali.
Intinya, saya berusaha, tapi karena hasilnya gak kelihatan banget, orang lain tetap saja ada yang berkomentar sesuka hati.
Sampai di titik saya sudah lelah sekali, saya akhirnya menerima.
Menerima bahwa saya memang kurus. Jika pada akhirnya saya sudah berusaha dan tetap kurus, mungkin memang itulah yang terbaik. Saya hanya berdoa semoga senantiasa diberi kesehatan dan dianugerahi lingkungan sehat yang orang-orang yang senantiasa menyayangi saya apa adanya, mensupport dengan cara yang baik, yang sejalan dengan hati nurani saya.
Saya bersyukur karena masih diberi anggota tubuh lengkap, wajah yang meski tidak cantik tapi tidak juga jelek, pengetahuan dan kesempatan belajar. Toh, orang-orang yang mengomentari fisik kita biasanya adalah orang-orang yang tidak berkontribusi apapun dalam hidup kita.
Jadi intinya, berusaha dengan ikhlas, menerima dan tetap happy kiyowo.