Halo Dhia, dengarkan aku. Aku sedih melihat keadaanmu. Kamu rapuh, kamu ringkih, kamu tak tampak seperti dirimu yang biasanya. Jangan, Dhia, jangan membantah. Jangan pula menyalahkan siapapun atas perubahan yang terjadi pada dirimu. Sungguh, lihat kedalam dirimu, lihat apa yang telah kau lakukan pada dirimu, padaku juga. Lihat, Dhia, lihat luka yang belum juga kau urusi dan telah kau buat lagi yang baru. Lihat, Dhia, lihat! Jangan pura-pura tak peduli. Aku mohon, jangan pura-pura baik-baik saja. Akui pada dirimu, akui padaku, kau memang tak baik-baik saja. Agar kau dapat menangis dan kemudian melepaskan semuanya dan berjalan lagi. Aku tau, Dhia, hidup ini tidak mudah. Aku tau tekanan yang kau hadapi. Aku tau masalah yang kau alami, semuanya. Aku tau semuanya, Dhia. Namun kau kerap menyangkal, membohongi dirimu, membohongi aku. Kau tau, Dhia, apa yang membuat semuanya makin berat untukmu, untukku, untuk kita? Yang membuatnya makin berat dan sulit adalah sikap tidak jujurmu pada dirimu, padaku. Yang membuatnya makin sulit adalah bahwa kau tidak mau menerimanya, Dhia. Tidak mau, bukan tidak bisa! Kau pernah belajar tempo hari itu, kan, saat kau harus turun dari bukit itu dengan kedua tangan dan kakimu sendiri padahal sepertinya tak mungkin. Dan kau tau kan, kau bisa kalau kau mau. Maka terima hidup ini, Dhia. Terima semua masalahmu, jalani semuanya. Jangan mencari pemecahan. Masalah ada bukan untuk dipecahkan, tapi untuk dijalani. Dhia, aku mohon kali ini dengarkan aku. Saat kau ingin bercerita banyak namun tak mampu menumpahkannya pada orang lain, ingatlah, masih ada aku. Aku, yang tak akan pernah bosan mendengar ceritamu, tentang hal yang sama berulang-ulang, beratus-ratus, beribu-ribu bahkan milyaran kali. Aku, yang tak akan pernah mengkritikmu saat kau tak juga berhenti mengoceh. Aku, yang akan berusaha menjadi penengah antara otak dan hatimu saat mereka berseteru. Aku, Dhia, aku, yang paling dekat denganmu, namun jarang kau dengarkan. Kadang, kau hanya perlu diam sejenak dan mendengarkan, Dhia. Percayalah. Kalau kau tak ingin bercerita padaku karena takut aku menghakimimu, ingatlah, masih ada Allah. Yang Maha Sabar, Yang Maha Mendengar. Yang tak akan bosan meskipun kau meratap setiap hari padaNya. Yang tak akan meninggalkanmu meskipun kau sering lupa padaNya. Ingat, Dhia, pelarian terbaikmu tetap hanya ada di atas sajadahmu. Ayo, Dhia, kita bangun lagi di sepertiga malam dan mengadu padaNya. Sungguh, aku rindu masa-masa itu saat kita bangun dan mengadu padaNya. Aku merindukan masa itu lebih dari yang kau rasakan, Dhia. Aku akan membangunkanmu jika kau mau mengadu bersamaku. Dhia, coba lihat aku, coba lihat dirimu sendiri. Tersenyumlah, Dhia. Kau tau, berapa banyak orang yang menyukai senyummu? Kau tau berapa banyak orang yang menyukai tertawamu yang kau anggap menyebalkan dan aneh? Kau tau, berapa banyak orang yang senang melihatmu bahagia, Dhia? Ah, aku yakin kau tau, Dhia. Beberapa sudah dengan gamblang menyatakannya padamu, dan masih banyak yang lainnya yang menyimpannya sendiri. Lihat, mereka senang melihatmu bahagia, Dhia. Lalu mengapa kau tak senang dan bertahan dalam tatapan tajam dan raut wajah tak bersahabat seperti itu, Dhia? Aku mengakui, terkadang akupun senang melihat raut wajahmu yang demikian. Kau terlihat agak sedikit kejam dan tak punya hati, ya. Seolah kau tak merasakan apapun. Dan membuat orang lain enggan mendekatimu, sehingga memberimu privasi lebih banyak. Tapi lihat, Dhia, raut wajah itu membuatmu kesepian. Tidak, tidak, jangan membantah! Aku tau itu, Dhia! Aku tau kau kesepian. Dengarkan aku, Dhia. Agar kau tau aku menyayangimu, agar kau tau bagaimana harusnya kau menyayangi dirimu, menyayangi aku. Jangan, Dhia. Jangan utarakan pertanyaan itu. Kau sudah tau jawabannya, dan itu menyakitiku saat kau tanyakan. Tapi biarlah, akan kujelaskan untuk yang terakhir kalinya, ya. Setelah ini berjanjilah untuk tidak menanyakannya lagi, ya! Kau harus menyayangi aku, dirimu sendiri, karena dengan begitu kau dapat memperlakukan aku dengan baik. Karena tak ada yang dapat menyakitiku selain kamu, dan tak ada yang dapat membuatku bahagia kecuali kamu. Kau yang memegang kendali penuh atas apa yang akan aku rasakan, kapanpun, dimanapun, dalam kondisi seperti apapun. Aku hanya dapat mengingatkanmu, tapi kau yang memegang kendali sepenuhnya. Kau yang bisa membuat hari-hari kita berawan mendung disaat matahari bersinar sangat hangat dan menyenangkan. Kau juga yang bisa membuat hari-hari kita cerah disaat hujan lebat tumpah ke bumi. Kau, Dhia, KAU! Hidup ini ditanganmu. Apapun yang akan terjadi, kau yang memutuskan. Namun ingat, jangan melampaui batas. Ada yang lebih berhak menguasai hidupmu. Maka saat telah kau buat pilihan, kembalikan padaNya. Biar Ia yang tentukan, baikkah yang kau pilih. Karena kita sama-sama percaya, Dia yang paling mengetahui segala sesuatu, kan? Dhia, ayo kita seimbangkan hidup ini. Kau terlalu lama berada di sana. Saatnya kau bergerak, sayang. Lihat sekelilingmu, banyak batu pijakan lain selain hanya menunggu disana. Ayo, kubantu memperbaiki luka yang ada. Ayo, raih tanganku dan kita berjalan bersama lagi, seperti saat itu. Saat dimana kau benar-benar menyayangi aku. Ayo Dhia, aku tau saat ini kau bukanlah dirimu yang sebenarnya, karena akupun merasa. Semangat, Dhia! Kau selalu tau dimana dapat menemukanku. Tertanda, Azizah Rahmah Nadhira Ichsan.