This!!!

Janaina Medeiros
ojovivo

❣ Chile in a Photography ❣
noise dept.
Three Goblin Art
YOU ARE THE REASON

Product Placement
TVSTRANGERTHINGS
occasionally subtle
Mike Driver

No title available
Xuebing Du
almost home
Cosimo Galluzzi
trying on a metaphor
Today's Document

pixel skylines
cherry valley forever
d e v o n

Andulka

seen from United Kingdom
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from France

seen from South Africa

seen from Colombia

seen from China
@arsdevee
This!!!
Tidak mungkin daun yang gugur itu menyalahkan angin atau pun ranting yang menjatuhkannya, ia akan menerima pada setiap takdir jatuh dan perpisahannya, meski ia harus gugur diusianya yang masih muda dan baru saja tumbuh. Sebab apapun yang digariskan Tuhan, sudah pasti ada kebaikannya, bagi mereka yang sabar dan mau berfikir. Sabar, dunia ini memang tidak kekal abadi bukan?
@jndmmsyhd
Di penghujung tahun, Desember .kota kota mewarnai dirinya penuh kemewahan duniawi.
Hari hari berlalu, keinginan dan harapan membelah diantara doa doa ku.
Usaha dan tenaga sepertinya belum cukup untuk menggapai semuanya.
Kesepian perlahan memeluk tubuh yang di buru denyut jantung kelelahan.
Menunggu tahun dan khayalan semu.
Kita Hanya Manusia Biasa
Kita hanya manusia biasa. Jika dalam satu hari kesedihan datang melanda, maka biarkan saja ia singgah. Atau kegagalan yang mendera, biarkan saja, biarkan raga ini sekali lagi merasakannya. Pun rasa kehilangan, kecewa, dan lain sebagainya, biarkan, sekali lagi tidak apa-apa. Kita ini hanya manusia biasa kok.
Bukan hal bijak juga jika kita terus menerus memaksa untuk selalu tampil sempurna. Orang lain mungkin tidak selamanya peduli atas apa yang kita buat maupun ucap. Beberapa menit setelahnya mungkin tidak satupun dari kita mereka ingat. Tetapi, anehnya justru kita malah yang paling sibuk memikirkannya.
Disisi lain, ada diri kita yang tidak pernah berkhianat terhadap usaha-usaha kita, terhadap rasa sedih maupun kecewa kita, dia selalu hadir dalam keadaan kita suka maupun duka, tapi ternyata seringkali kita lupa. Acuh terhadapnya. Seolah suka dukanya bukan hal penting dalam hidup kita.
Semangat untuk siapapun yang hari ini tengah berjuang dari keterpurukan. Mulai lebih peka terhadap diri sendiri ya. Mulai lebih peduli. Jika, kamu ingin berbuat baik kepada banyak orang, pastikan diri kamu ada di urutan pertama. Bisa kan? (:
Setelah berlomba-lomba menggali lubang paling dalam dimuka bumi, manusia berlomba pula menjadi yang paling tinggi menggapai langit. Mengerti bahwa keduanya adalah hal yang paling mustahil untuk dicari ujungnya. Baik ujung bumi ataupun ujung langit.
Begitulah, diciptakannya bumi agar manusia mengerti bahwa sesombong apapun ia berjalan diatasnya, kelak akan dikuburkan ditanah yang ia pijak sendiri. Dan diciptakannya langit agar manusia mengerti bahwa ada yang lebih tinggi dari egonya sendiri.
Setialah berlaku baik. Meski itu tak menjamin bahwa orang lain akan berlaku baik padamu juga, tapi setidaknya itu akan menjamin rezekimu akan hadir dari jalan-jalan yang baik.
Apa yang mau kita sombongin?
Kita itu kecil banget yah ternyata. Keliatannya aja hebat, serba bisa, dan punya segalanya.
Tapi baru dikasih sakit aja, udah tuh semua yang kita punya seakan engga ada apa-apanya.
Kelar udah semuanya....
Cuma bisa diem aja, gerak dibatasin, makanan dibatasin, semua dibatasin.
Karena ternyata rezeki itu memang luas banget. Dikasih keluasan mencari rezeki aja, itu udah rezeki.
Padahal belum tentu dapet uangnya, tapi itu udah rezeki.
Kita dikasih gerak bebas, itu udah rezeki.
Kecil, teramat kecil memang menjadi manusia ini.
Bayangin nih, ada berapa banyak orang yang sedang terbaring dan hanya bisa memohon kesembuhan?
Yang mungkin uangnya memang bisa membiayai biaya rumah sakit, tapi belum tentu bisa membeli kesembuhannya.
Kadang memang kita terlalu jauh yah, terlampau tinggi memandang hidup dan harapan-harapan kita.
Padahal semua sudah kita punya, nikmat yang begitu besar untuk melakukan segala sesuatunya dengan mudah.
Kecil, kita ini kecil banget dan tidak ada apa-apa diantara begitu besar dan luasanya semesta ini.
Engga ada yang bisa kita sombongin.
Apa yang membuat kita besar kepala begitu mudah untuk dihancurin. Terlalu mudah dihilangin dan dibikin pergi.
Satu-satunya yang bisa membuat kita terlihat, hanyalah kebesaran hati.
Berbesar hati buat memaafkan ketika dibikin kecewa. Berbesar hati untuk membantu ketika kita sendiripun sebetulnya dalam kesusahan.
Susah ya, menjadi manusia yang bersyukur ternyata.
Karena kita sudah terlalu merasa sombong dengan semua yang sudah kita punya.
Padahal semua yang kita punya ini, cuma numpang aja. Bahkan tubuh kita sendiri pun cuma numpang aja.
Sementara....
—ibnufir
Apa aku nyerah aja?
Ternyata kepala kita bising banget yah. Cuma dari luarnya aja kelihatan tenang. Padahal isinya berisik, rame banget.
Kadang sampe bikin lelah. Semenakutkan itu, menemui diri sendiri.
Mungkin kalau dibolehin berteriak dan engga bikin malu. Ingin sekali rasanya berteriak sekencang-kencangnya.
Sepertinya puas memaki diri sendiri. Rasanya lega nyalahin diri sendiri.
Salah siapa udah bikin sedih. Salah siapa engga ngambil tanggung jawab. Salah siapa ngelewatin banyak kesempatan gitu aja.
Salah diri sendiri bukan?
Jadi kalau sekarang khawatir, sekarang takut menjalani berikutnya. Itu salah siapa? Salah orang lain?
Gimana, udah capek kan?
Kita gak bisa apa-apa. Engga lantas selesai juga cesmasnya dengan mengutuk diri sendiri.
Iya.....tetep bakalan capek. Kita bakal kewalahan mengendalikan pikiran kita sendiri.
Karana kita sudah terlalu terbiasa menghindar. Kita sudah terbiasa pergi cari pengalihan di luar.
Padahal ujungnya sama. Kita balik lagi ke semula. Ke sebuah ruangan kotak, berhadapan tembok dengan tembok.
Di kamar kita, beserta isi kepala yang bising dan berantakan.
Kita memang terlalu sulit untuk mengurainya gitu aja.
Tapi setidaknya, kita tau kan pikiran yang ramai itu letaknya di mana aja?
Seperti isi kamar ini, yang berantakan.
Barangkali kita hanya perlu mengenalinya satu persatu.
Kecemasan, ketakutan, dan penyesalan-penyesalan itu ke mana seharusnya di kembalikan.
Engga usah dilawan yah, cukup kenali aja dulu.
Atau kalau emang rasanya udah engga kuat banget, boleh kok minta bantuan orang lain buat beresin.
—ibnufir
Dalam dua puluh empat jam di setiap hari, ada hal-hal yang sederhana yang semestinya mendapatkan porsi lebih banyak disyukuri dari apa saja yang belum dapat dimiliki.
Self-talk
—Iwan Widi. @hardkryptoniteheart
Magelang, 19 September 2023 | 11:05 |
M E I
Daun-daun yang gugur tertiup angin tanpa perlawanan.
Awan-awan mendung yang kapan saja bisa datang menggulung menghadirkan hujan.
Seribu bintang-bintang dan rembulan yang selalu menggantung indah menghiasi kegelapan.
Matahari yang selalu terik menyinari kehidupan.
Ada banyak yang kita rencanakan, namun lebih banyak lagi keterbatasan dari rencana yang kita angankan, sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan dalam hidup kita.
Kalau kita tahu diri bahwa kita teramat lemah dan selalu bergantung pada-Nya setiap saat....Maka ikhtiar dan kesuksesan mana yang hendak kita sombong dan banggakan saat kita menyadari bahwa Dialah yang memberikan kita kekuatan dan daya untuk bergerak.
Kalau kita tahu diri bahwa sekejap saja Dia mengabaikan kita maka tersesatlah kita dalam arus dunia yang penuh godaan. Maka masihkah mengingat-Nya begitu sukar kita lakukan? Maka masihkah berdoa memohon petunjuk-Nya sering kita sepelekan?
Kalau kita sadar diri kita siapa, maka kita akan selalu bergantung pada-Nya setiap saat.
Kontemplasi, 28 2023 20.10
الحُزْنُ لَا يَرُدّ الغَائِب، والخَوفُ لا يُصلِح المُستَقبَل، والقَلَق لا يُحَقِّق النَّجَاح، بَل النَّفْس السَّوِيَّة والقَلْب الرَّاضِي هُمَا جَنَاحَا السَّعَادَة
"Sedih yang berlarut tidak akan mengembalikan apa yang hilang. Takut yang mendalam tidak akan memperbaiki masa depan. Rasa cemas yang berlebihan juga tidak bisa mengantarkan pada keberhasilan. Namun, jiwa yang lurus serta hati yang ridha-lah yang akan mampu menjadi dua sayap untuk menggapai kebahagian."
Saat ini jadilah tenang, kembalikan semua kepada Pemilik Semesta, tidak ada hal kecil apapun yang terlewat dari-Nya.
Setiap kali aku merasakan kebahagiaan, kusisakan sebuah ruang di hatiku untuk mengingat bahwa ada mereka yang disaat bersamaan tengah kehilangan, tengah berjuang, tengah menelan pahitnya kegagalan. Sebab aku harus selalu menyadarkan diriku, bahwa dunia sungguh tak hanya berputar di sekelilingku. Agar suara kebahagiaanku senantiasa menjadi lantunan syukur, tak berubah menjadi panggung nyanyian riya nan melengking yang menganggu tafakur.
Sedang merayu tuhan agar dikabulkan hajat-hajat duniawi yang katanya hanya seberat sayap nyamuk, kok rasanya susah.
Sedang merayu tuhan agar didekatkan dengan karunia hidup agar terhindar jauh dari kufur dan tetap bisa bersyukur.
—Gambar dari pinterest
Kita pikir, kita lebih banyak mengingat banyak hal, peristiwa dan orang-orang yang kita temui daripada melupakannya. Namun kenyataannya, kita lebih banyak melupakan.
Seringnya kita mengenang yang menyakitkan, dan melupakan yang mesti kita syukuri.
Seringnya kita merindukan yang tak terulang dan tak menghargai apa yang saat ini terjadi.
Seringnya kita meratapi yang keliru dan tak memaknai waktu yang terus berjalan untuk memperbaiki.
Ribuan hari yang telah dilalui, hanya sedikit kenangan yang mengendap dalam ingatan. Sisanya terlupakan, dengan atau tanpa sadar, dengan atau tanpa kerelaan. Kita adalah kenyataan, hidup adalah kefanaan dan ingatan adalah keterbatasan yang tak pernah bisa kita lampaui.
Ribuan hari yang akan dilalui, adalah tanda tanya besar, apakah akan kita jalani atau tak pernah sama sekali. Jadi mau sampai kapan kita menyia-nyiakan banyak hal yang berarti saat ini?
Terik, 7 Mei 2023 12.48 wita
“Kita seringkali mengkhawatirkan perihal-perihal yang bahkan belum tentu terlaksana. Kita tak jarang berprasangka buruk dengan Tuhan, kebaikan takdir yang sedang Dia rencanakan seolah tak menjadi kelegaan untuk kita nantikan.”
—Self Reflection, Venushara.
“Perjalanan membawa kita berada pada titik mengikhlaskan segala persoalan entah baik atau buruk. Pelipur lara berada di depan mata kita, sadar atau tidak lambat laun bersikap acuh atas keluh-keluh yang sempat bergemuruh di dada.
Kita terlahir kembali sebagai doa-doa dari Tuhan yang disampaikan langit.”
Tuhan gak pernah tidur, orang-orang gak harus dendam. Hatinya butuh lapang untuk menerima banyak kebaikan yang lainnya, satu persatu merelakan; tanpa kita suarakan yang buruk itu tanaman dan akan berakhir menjadi sepetik rasa sesal di kemudian.