Really sucks... #lifesucks #lifequotes #sucks #quote #quotes #shitquotes
No title available
sheepfilms
Three Goblin Art
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
almost home
cherry valley forever
Cosimo Galluzzi
h
official daine visual archive

JVL
No title available
Not today Justin
hello vonnie
Claire Keane
todays bird
$LAYYYTER
Mike Driver
Cosmic Funnies
Monterey Bay Aquarium
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from France

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States
seen from Malaysia

seen from China

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Kenya
@artienoel
Really sucks... #lifesucks #lifequotes #sucks #quote #quotes #shitquotes
BÁJOS Oleh: Immanuel R Tampubolon
Ya ampun. Tidak percaya rasanya bahwa satu minggu yang padat ini sudah berlalu. Jumat belum pernah terasa begitu melegakan. Apalagi setelah bekerja sama dengan user yang – apa ya? Berisiknya seperti kumpulan jangkrik berbunyi di malam hari. Pertama mendengar, saya oke saja. Selang beberapa lama, terus berbunyi seperti tidak akan berhenti. Risih. Mau bagaimana. User dari divisi lain untuk launching sebuah produk Rabu lalu, satu Departemen dengan saya.
“Mau kopi apa Pak?”
“Ah!?”, suara pelayan kedai kopi langganan saya mengembalikan saya dari lamunan kesibukan yang sudah berlalu tersebut. “Saya mau…apa ya? Ada yang bisa kamu rekomendasikan?”
Pelayan itu tersenyum mendengar kalimat saya. “Ada kopi Wamena Pak. Baru saja datang. Secangkir hangat kopi Wamena setelah beraktivitas?”
“Kopi Wamena? … Oke. Satu yang panas ya. Sama Pie Apel juga.”
“Siap Pak”, pelayan tersebut memang sudah hafal dengan saya. Pelanggan yang selalu datang saat wiken. Jumat jam tujuh malam setelah dari kantor adalah waktu yang paling pas untuk ngopi. Tak khawatir dengan besok karena libur. Pulangnya bisa bergadang melakukan apapun mulai dari nonton televisi, dengar musik atau main game. Saya kemudian beranjak ke bagian tempat duduk yang berada di luar kedai kopi ini. Malam ini agak padat dengan pengunjung lain, tapi untungnya saya masih tetap mendapatkan duduk.
Ada satu alasan kenapa kedai kopi ini menjadi favorit saya. Pertama, tidak dipenuhi oleh anak ABG yang suka nongkrong. Pengunjungnya kebanyakan adalah sepantaran saya. Nuansa dekorasinya juga sendu temaram. Cahaya lampu cukup banyak, tapi entah kenapa terasa temaram sekali. Tidak berat untuk mata yang lelah sehabis beraktifitas.
“Silahkan Pak”.
“Terima kasih.”
Akhirnya, kopi Wamena panas dan pie apel. Waw. Waktu untuk diri sendiri belum pernah terasa nikmat sekali. Melihat cara disajikannya yang rapih dan menarik saja sudah senang lihatnya. Kemudian saya menenggak beberapa kali kopi tersebut dan menikmati tenggorokan yang basah karenanya. Segar!
Lalu saya memutar mata saya ke arah sekeliling. Mengamati para pengunjung lain yang datang sendiri atau datang berdua dengan temannya. Melihat mereka menghabiskan waktu di tempat yang sama. Membayangkan hidup seperti apa yang mereka masing-masing miliki – yang kemudian menuntun ke satu tempat yang sama. Kedai kopi ini.
Percaya atau tidak, salah satu cara terbaik meminum kopi adalah menenggaknya sambil menikmati orang sekitar. Cara mereka berpakaian. Cara mereka berbicara. Cara mereka memilih topik obrolan. Cara mereka memandang satu sama lain. Seolah seperti satu bioskop besar dengan aktor paling natural yang pernah ada. Manusia. Sampai akhirnya, saya bertemu mata dengan seorang wanita yang duduk sendirian di hadapan saya. Dia mengamati saya yang sedang mengamati orang lain.
Wanita itu tersenyum sedikit. Saya pun tersenyum kecil membalasnya, sembari langsung menunduk menyantap pie apel. Malu juga kan kalau ternyata di belakang saya ada orang, dan sebenarnya wanita itu tersenyum ke orang lain.
Sembari membuka sosial media di ponsel dan menyantap makanan, saya lihat dari sudut mata bahwa wanita tersebut menulis beberapa kali di sebuah buku dengan cover Big Ben. Wanita tersebut menulis kemudian terlihat seperti mencoret beberapa hal di bukunya. Dari sudut mata saya, beberapa kali ia melirik ke arah saya. Berhubung ini adalah waktu untuk diri saya sendiri, saya tidak menggubris atau bereaksi terhadap lirikannya. Kemudian, setelah pie apel habis, saya menenggak lagi kopi saya. Entah kenapa saya mendadak merasa risih dengan wanita tersebut yang mengamati saya beberapa kali. Well, sebenarnya lebih dari beberapa kali. Seorang pengamat, berbalik diamati.
Saat sedang berpikir seperti itu, saya tanpa sengaja memalingkan muka memandang ke langit malam yang terlihat sedikit dari celah atap.
“Permisi”.
“Eh? Iya?” – wanita tersebut tiba-tiba mendatangi dan menyapa saya.
“Boleh gabung mas?”
Saya hanya terdiam beberapa saat mendengar permintaannya. This is not the flirty night for grown ups.
“Boleh. Boleh kok.” – tapi tetap saja saya mempersilahkannya.
Wanita tersebut duduk sambil memindahkan kopinya. Blended. Berwarna agak pink. Khas pesanan wanita di kedai kopi ada umumnya. “Maaf mengganggu ya Mas. Aku lagi pengen ngobrol aja. Lagi nyari bahan skripsi. Jenuh dari tadi tidak menemukan ide.”
Oh. Mahasiswi lagi skripsi rupanya. Masih muda berarti. “Hahaha. Tak apa. Memangnya kamu mahasiswi jurusan apa?”
Wanita tersebut agak menundukkan kepala begitu saya bertanya apa jurusan yang dia ambil. “Jurusan yang nggak populer Mas.”
“Jurusan apa yang tidak populer? Kimia?”
“Hahaha…aku gak secerdas reaksi kimia Mas. Aku jurusan seni rupa, menggambar”.
“Wuah…hebat…bisa menggambar dong kalau gitu.” - wanita tersebut tersenyum simpul mendengar perkataan saya.
“Sedikit bisa menggambar saja Mas. Mas sendiri habis pulang kerja ya?”
“Iya. Saya biasa sehabis kerja di hari Jumat, mampir kesini.” - mimpi apa semalam? Kok bisa tiba-tiba saya sekarang ditemani wanita yang…muda belia dan, cukup cantik meski hanya mengenakan sweater dan jeans.
“Kamu sendiri, belum pulang? Anak cewek malam-malam begini belum pulang”, bukan bermaksud sok baik. Tapi, sekarang sudah jam 8 malam lewat. Dari yang saya lihat, wanita ini juga sendiri.
“Aku belum bisa pulang Mas. Orang di rumah lagi pada pergi. Aku kelupaan bawa kunci rumah. Yaudah deh sekalian nyari bahan skripsi disini sambil ngopi.”
“Oh gitu. Hmmm. Saya Quillo”, saya langsung menyodorkan tangan untuk memperkenalkan diri.
Wanita tersebut agak ragu membalas jabat tangan perkenalan saya. Tapi akhirnya ia tetap menyambut salam tangan saya. “Aku Karina.”
“Karina? Wuah…nama yang cukup lama ya”, canda saya.
“Hahaha…iya. Nama jaman orang tua saya tuh. Karina. Nama Mas sendiri unik ya. Apa tadi?”
“Quillo”, sahut saya.
“Quillo?”
“Iya.”
Quillo nama yang tidak lazim memang. Entah darimana orang tua saya mendapatkan nama itu untuk kemudian diberikan anak tunggal pria mereka.
“Bájos”, wanita tersebut berkata dengan suara kecil.
“Apa? Kamu bilang apa tadi?” – saya mencoba memastikan apa yang Karina katakan tadi.
“Tidak Mas. Bukan apa-apa. Hehe”, Karina sepertinya tidak menghendaki mengulangi perkataannya. Kemudian, waktu bergulir cepat. Pembicaraan mengalir dengan alami. Karina membicarakan saat-saat jenaka ketika dia baru masuk kuliah, dan saya pun menceritakan bagaimana ospek masa saya kuliah dulu. Topik lain termasuk juga tentang usia saya yang sudah tiga puluh lima tapi belum menikah karena ingin fokus di kerjaan dahulu. Serta perjuangan Karina untuk bisa masuk ke jurusan yang memang ia impikan meski orang tuanya sempat menentang.
Karina, something is different with her.
“Karina.”
“Ya?”
“Kamu…” – tapi akhirnya saya batalkan untuk bertanya. Sesuatu yang agak mengganggu saya sedari tadi kita mengobrol. Something about the way she looks at me.
“Kenapa Mas?”
Tidak enak juga kalau memutuskan tiba-tiba sahutan saya tadi, jadi saya bertanya yang lain saja. “Kemana teman-teman kamu?” – aih, pertanyaan yang tidak bermutu. Namanya juga anak kuliahan. Bisa jadi kan ya kalau sudah semester akhir jadi berpencar dengan teman-teman. Setidaknya itu yang saya alami.
“Oh. Aku memang tidak punya banyak teman Mas. Aku lebih ke arah dekat dengan keluarga. Terutama kakak perempuan saya.” – jelas Karina.
“Oh, begitu”.
“Hahahaha. Mas, kamu suka banget ya kata kata ’oh begitu’? Dari tadi banyak banget kamu pakai kata-kata itu.” – Karina tertawa sembari menjelaskan hal tersebut.
“Yaaa….mau gimana. Faktor pekerjaan. Nanti juga kamu akan mengalami, begitu masuk dunia perkantoran. You’re favorite two-words.”
Tiba-tiba saja ponsel saya berbunyi. “Sebentar ya…”
Begitu saya lihat nama yang tertera di layar, langsung tidak saya gubris. Ampun deh, kenapa di weekend begini, masih saja harus memikirkan kerjaan. Bos oh Bos. You have a family, right?
“Dari siapa Mas?”
“Enggak. Bukan siapa-siapa. Fans.”
Karina tertawa mendengar jawaban saya. “Pasti orang kantor ya. Haha”.
“Ya begitu lah” – ya kali saya angkat telepon soal kerjaan kala saya sedang dihadapkan untuk kesempatan mendapatkan kencan. Siapa yang tahu soal jodoh kan? I like her. Karina, punya aura yang tenang dan polos. Ajakan dia untuk meminta duduk bergabung dengan meja saya pun tidak terkesan murahan atau centil. Dia sedang membutuhkan teman ngobrol karena sedang jenuh. Yasudah. Itu saja niatnya bergabung di meja saya. Saya juga baru sadar kalau Karina memiliki lesung pipit. Membuat senyumnya terlihat manis sekali. Matanya juga cukup besar dan berkaca. Cantik.
Baru kemudian saya tersadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat.
“Karina, saya pulang dulu ya?”
“Oh. Yah…mas sudah mau pulang ya…” – Karina terlihat agak sedih karena obrolan harus berakhir.
“Iya. Sudah malam.”
“Mas, kalau ketemu disini lagi, aku boleh gabung lagi kan ya Mas? Kita ngopi bareng.” – Karina meminta dengan nada polos.
“Bisa. Tapi nanti setelah dua minggu ke depan ya.”
“Hah?! Kenapa Mas?”
“Dua minggu ke depan, ada dinas kantor. Mau launching produk baru tapi di luar kota. Jadi, palingan sesudahnya ya.” – sebenarnya saya agak sedih juga mengatakan hal tersebut. Sebab, ada kalanya momen bagus seperti ini tidak terulang. Now or never.
“Oke deh Mas. Gapapa.” – Karina tersenyum kecil. Matanya terlihat agak sedikit kecewa.
“Tenang saja Karina, pasti ketemu lagi kok.” – meskipun saya berkata seperti itu, saya jujur agak skeptis dengan kenyataan ke depannya.“Saya pamit dulu ya.”
Kemudian saya berjalan keluar dari kedai kopi menuju arah pulang ke rumah. Sebenarnya, saya ingin menanyakan nomor ponselnya. Tapi hati kecil saya berkata waktunya belum tepat. Play it cool. Play it curious. Make her wonder.
***
“Kasuuuurrr…..nikmatnyaaaa….” – saya jatuhkan diri ini ke ranjang hotel yang empuk dan luas serta berwarna putih lembut. Senangnya bertemu kasur setelah turun dari pesawat. Meski luar kota, tetap saja datang ke bandara, naik pesawat, bagasi, koper, dan lain lain – membuat badan rontok. Belum lagi hotel yang dipesan kantor ternyata lumayan jauh dari bandara.
“Akhirnya, bisa rebahan. Untung acaranya lusa ya, Quillo. Jadi malam ini bisa tidur, tidur dan tidur.” – Rico adalah teman kantor saya. Dia juga ikut mengurus launching produk bersama saya. Satu-satunya orang di kantor yang nyaman dengan waktu tidur yang lama di kasur. Ngemil di kasur. Minum di kasur. Bahkan sewaktu saya terpaksa menginap semalam di kos-annya, dia memakai produk untuk menarik komedo di hidung, di kasur.
“Busyet. Udah di luar kota loh ini, masa sih kamu pengennya tidur doang?” – sahut saya.
“Kata siapa? Cari makan lah. Sehabis itu, baca buku. Di kasur.” – Rico dan saya tertawa mendengar kata terakhir. Kasur.
“Kau bisa ya baca buku kala dinas begini? Hebat.”
“Bisa dong. Apalagi kalau bukunya oke punya. Eh! Baru ingat aku. Udah baca buku ini belum?” – Rico menyodorkan sebuah novel. Covernya berwarna keunguan. Ada gambar pohon yang dilukis tangan. Judulnya Encantador. Saya ambil buku tersebut dan mengamati sekilas. “Belum. Bagus memang?” – tanya saya pada Rico.
“Bagus. Bukunya baru lusa kemarin keluar di toko buku. Aku belum selesai bacanya. Baru setengah. Tapi bagus.”
“Tentang apa ceritanya memang?”
“Tentang cewek yang gak hepi sama pernikahannya. Tepat saat suaminya memutuskan untuk memperbaiki hubungannya, cewek ini malah menemukan pengalihan lain. Dia kuliah lagi.” – sahut Rico yang mengganti kaosnya – di kasur.
“Edan. Berat amat ceritanya.” – Rico ini penggemar cerita novel yang bergenre drama tapi yang memiliki banyak unsur realistis terutama dalam hal karakter dan pengambilan keputusan. Bahkan film favoritnya saja adalah Marvin’s Room.
“Beneran bagus kok, om Quillo. Kesannya aja berat. Pas dibaca, mayan agak komedi di beberapa bagian.” – Rico menaruhnya di kasur saya. “Baiklah. Nanti saya baca.”
“Oh iya. Encantador ini, kayak buku jaman kita dulu. Novel tapi ada beberapa halaman yang ada gambar gitu.”
“Oh ya!?!? Jarang-jarang novel Indonesia seperti itu. Nanti saya baca malam. Cari makan yuk?” – saya berganti baju di kamar mandi dan mengajak Rico mencari makan malam. Sekalian wisata kuliner.
***
“Gila Quillo, kau makan banyak banget.” – Rico berkata seperti itu tapi tidak sadar yang menambah nasi adalah dia, bukan saya.
“Entah kenapa pengen ngopi. Ngopi di kafe di lobi bawah yuk, Rico” – saya mengajak Rico yang langsung menutup telinganya. ”Ah elu! Hidup lu masa di kasur doang sih…”
“Quillo,…gua tuh dulu insomnia parah. Baru sembuh setahun ini. Saatnya gua balas dendam.”
“Ah. Drama lu”, saya lempar bantal ke wajahnya sembari tertawa. “Yawis, ngopi sendiri saja. Saya pinjam bukunya ya”.
Setelah sampai di kafe hotel, dan memesan secangkir kopi Wamena yang jadi favorit saya sekarang, saya coba membuka buku berjudul Encantador tersebut. Saya mulai membaca dari halaman judul Perancisnya. Encantador. Dibawahnya ada nama pengarangnya. Ruby W. Susilo. Ruby sepertinya adalah nama penanya. Bukan nama aslinya.
Sebelum dimulai bab pertama, ada bagian ucapan terima kasih dari pengarang. Saya biasanya skip bagian tersebut. Karena biasanya isinya standar. Lalu, saya coba baca bab pertama dari Encantador ini. Setelah beberapa lembar, saya tidak sadar bahwa saya sudah ikut tertawa dan mulai agak sedikit sedih membaca kisah wanita yang jadi tokoh utamanya.Wanita dalam novel ini terjebak dalam situasi dimana kehidupan pernikahan mulai terasa menjenuhkan. Dia akhirnya memutuskan untuk kuliah kembali. Menikmati rasanya berkumpul bersama teman-teman kuliah tanpa khawatir harus pulang malam atau tugas paper yang harus dikumpulkan. Wanita ini membuat komitmen bahwa selama kuliah pendeknya tersebut, dia tidak akan jatuh cinta. Bahwa kuliah singkat yang dia ambil hanya semacam penyegaran dari kehidupan pernikahannya bertahun-tahun yang dingin. Belakangan terungkap bahwa tokoh utama wanita ini, ternyata mandul. Tiada anak, berarti tidak ada sesuatu yang memperkuat ikatan pernikahan. Sesuatu yang membuat pihak pria dan wanita sama-sama mempertahankan rumah tangga. Godaan terbesar dari kuliahnya adalah, ketika dia bertemu seorang dosen pria yang tahu kisah rumah tangganya dan tidak keberatan dengan ketidak sempurnaan wanita tersebut. Disinilah kemudian, saya mendapat kejutan yang tidak disangka. Apa yang saya temui membuat saya terkaget. Satu halaman penuh coretan tangan dari pena berwarna hitam di kertas putih, sesosok wajah yang mirip saya. Mata sayu. Alis tebal. Brewok halus. Bibir tipis. Hanya saja bajunya diganti.
Saya secara langsung tidak melanjutkan buku itu. Tidak ingin ke-GR-an, tapi berhubung penasaran, saya buka lagi halaman yang ada sketsa wajah tersebut. Maksud saya, kalau memang itu saya, mestinya ada tahi lalat di bawah mata kanan. Secepat mungkin saya lihat area bawah mata kanan karakter yang dibuat jadi sketsa tersebut. Ada. Ada tahi lalat di bawah mata kanan.
Mendadak, saya tidak bisa berpikir apa-apa. Tiba-tiba ada banyak puzzle dalam kepala saya. Maksudnya, kalau memang Karina yang menulis buku ini, kenapa bisa novel ini jadi dalam waktu singkat? Kan saya baru bertemu dia minggu lalu. Lalu, tiba-tiba terpikir juga kenapa saya merasa aneh dengan cara Karina melihat saya. She’s recording my appearance in her mind. Bukan hal yang sulit untuk seorang pelukis mengingat wajah orang – apalagi kalau sudah terbiasa. This is totally not what I’m expecting for. Jadi, saya terus membolak balik buku Encantador ini. Sampai akhirnya saya menemukan satu pencerahan. Yaitu di bagian ucapan terima kasih. Disitu tertulis bahwa Ruby – yang menulis buku ini – berterima kasih pada adiknya yang menyumbangkan karya sketsa wajah untuk novelnya. Bahwa sketsa pria yang adiknya gambar adalah gambaran pria yang sesuai dengan bayangannya untuk karakter dosen pria tersebut. Lalu, Ruby juga memberikan statement follow Instagram adik saya di @KarinaPencilArt, untuk informasi lebih lanjut mengenai karyanya.
Hanya hening yang tercipta di hadapan saya selama hampir lima belas menit. Disusul kemudian oleh saya yang tersenyum sendiri mengingat pertemuan saya pertama dengan Karina kemarin. Teringat bahwa Karina memang bercerita bahwa Ia dekat dengan kakaknya. Siapa sangka kakaknya menulis novel.
Keputusan kemarin salah untuk playing it cool. I was wrong. Semestinya saya tanya nomor ponselnya. Lalu, saya putuskan naik ke kamar. Sembari membuka Instagram Karina, saya lihat karya-karyanya disana. Saya terpesona melihat penggambaran dirinya tentang saya, pria yang baru pertama kali dijumpa. Ada satu lagi sketsa saya yang sedang memegang secangkir kopi namun sekaligus sedang menerima telepon. Ada caption tertulis bájos. Saya coba google kata tersebut. Lalu saya temukan bahwa artinya adalah charming dalam bahasa Hungaria. Saya agak berdebar saat mengklik tombol follow di IG Karina. But I finally did it. Tidak butuh waktu lama untuk muncul notifikasi bahwa Karina mem-follow balik akun IG saya. Saya kirim pesan ke dia.“Jadi, kamu gambar saya tanpa izin. Kenapa tidak bilang?”
Saya penasaran Karina akan membalas apa. Tidak lama kemudian ada pesan masuk. “Iya Mas. Maaf.” – sembari diikuti emoticon :(
“Untuk novel pula. Itu kan sesuatu yang komersil. You should notice me first.”. Karina kemudian membalas, “Maaf ya Mas. Nanti aku berikan honor deh.” Langsung saja saya ketik, “I don’t want a fee. I want a date. Minggu depan. Saya mau ngopi. Kamu… temani saya”. Saya tersenyum sendiri melihat pesan yang saya tulis. Debaran di dada terus bermunculan hingga akhirnya pesan dari Karina masuk ke inbox saya. “Iya Mas. Nanti kutemani kamu ngopi.”
Dan…saya tersenyum terus sampai saat saya tiba di kamar dan merebahkan diri. Rico melihat saya dengan tatapan penasaran soal buku rekomendasinya itu, “Gimana? Oke kan ceritanya?”. Saya hanya menjawab, “Untuk permulaan, ceritanya cukup….bájos”.Charming.
*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
I found this photo from Pinterest. A very beautiful photo....
– View on Path.
Find me on Path now! Go to: path.com!
Sometimes, the remains of the past - still follows ... No matter where we go ...
Haters, read this!!!
A place is only as good as the people you know in it ...
When it's about love, everyone has their own fear ...
So hard to win this game...
Love is the true happiness, the source of the ultimate joy...
Always holding on to the things that keeps us stronger, every time the storm come into our life...
For every time I feel tired, I raise my heads up and look at the stars ...
Recently, I've lost a friend and a sweet puppy age of 3 months. Last year, I lost my love and 5 of my favorite dogs. It's funny how we can't get used to something called 'lost'. Grieving is like never enough, but life keeps moving on. The world spins forward, but this time, without them...
Never ever trade the value of being yourself with money or fame. Money and fame are not forever. In the end we will only have our ownselves.
Artie Noel